Tentang Teori, Konsep dan Paradigma dalam Kajian Tentang Manusia, Masyarakat dan Hukumnya (1/4)

Kelas sosial (yang atas, yang tengah atau yang bawah, misalnya adalah konsep yang tak bisa dibataskan berdasarkan kerja “sekali amatan yang direk”, melainkan mesti dikerjakan dengan memperhatikan tengara-tengaranya (the signs) yang manifes di alam indrawi […].

Tentang Teori, Konsep dan Paradigma dalam Kajian Tentang Manusia, Masyarakat dan Hukumnya (1 dari 4)
Tentang Teori, Konsep dan Paradigma dalam Kajian Tentang Manusia, Masyarakat dan Hukumnya (1 dari 4)
Dalam bahasa sehari-hari, apa yang disebut ‘konsep’ itu tak lain daripada “kata."
Kelas sosial (yang atas, yang tengah atau yang bawah, misalnya adalah konsep yang tak bisa dibataskan berdasarkan kerja “sekali amatan yang direk”, melainkan mesti dikerjakan dengan memperhatikan tengara-tengaranya (the signs) yang manifes di alam indrawi [...].

Sesungguhnyalah tidak ada satu konsep semata wayang tentang apa yang disebut hukum itu. Maka pula, apabila diketahui bahwa apa yang disebut konsep itu sesungguhnya merupakan penentu suatu bangunan teori, seperti yang dikatakan dalam kepustakaan berbahasa Inggris bahwa “concepts is the building blocks of theories”, haruslah disimpulkan di sini bahwa “tiadanya kesamaan konsep akan berkonsekuansi pada akan tiadanya satu teori semata tentang apa yang disebut hukum itu”.

Hukum yang dikonsepkan sebagai “aturan-aturan undang-undang” tentulah akan diteorikan lain dari hukum yang dikonsepkan sebagai “seluruh hasil proses yudisial yang berujung pada putusan hakim”, dan akan lain pula apabila hukum dikonsepkan dalam wujud realitas atau realisasinya yang tertampak sebagai “keteraturan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakatnya”.

Tentang apa yang dimaksud dengan “konsep” dan “teori” yang lazim dirujuk dalam berbagai wacana akademik pada umumnya. Karena perbincangan tentang “teori” ini tak hanya akan menyangkut ihwal strukturnya saja, akan tetapi juga ihwal perkembangannya, yang tak selamanya lancar-lanacar saja melainkan acap benar banyak mengalami berbagai gejolak dan konflik pemikiran. Maka, persoalan “paradigma” sudah selayaknya kalau juga dipaparkan dan dijelaskan di bab pertama ini.

Relevansi perbincangan tentang “konsep, teori dan paradigma” dengan permasalahan dalam kajian hukum akan dibicarakan di bab-bab berikutnya.

Tentang Konsep

Dalam bahasa sehari-hari, apa yang disebut ‘konsep’ itu tak lain daripada “kata”. Disebut dalam batasan tertentu yang definitif, apa yang disebut konsep secara umum ini tak lain daripada apa yang disebut “terma” dalam logika dan apa yang disebut “istilah” dalam setiap perbincangan keilmuan.

Apapun sebutannya dalam berbagai perbincangan, secara umum dapatlah dikatakan per definisi bahwa konsep itu ialah simbol tertentu yang digunakan sebagai representasi objek yang diketahui dan/atau dialami oleh manusia dalam kehidupan bermsyarakatnya.

Sebagai simbol bermakna, setiap konsep bermukim di alam numenon, ialah alam ide yang imajinatif, sedangkan objek yang diwakili berada di alam phenomenon, ialah alam fakta-aktual yang indrawi.

Kucing sebagai hewan berkaki empat sebagaimana yang kita lihat sehari-hari di sekitar rumah kita dengan segala ulah lakunya, misalnya, adalah objek amatan mata kita. Sebagai objek, kucing berada di alam fenomenon yang sekaligus juga indrawi.

Tetapi kata kucing (dalam bahasa Indonesia) atau yang boleh juga diganti dengan kata cat (dalam bahasa Inggris) adalah suatu simbol representatif yang berada di alam nomenon yang sekaligus juga imajinatif. Sebagai simbol representatif yang berada di alam nomenon, dan yang sekaligus juga imajinatif itu, kata atau terma ‘kucing’ ini akan bersifat abstrak dan umum, yang akan tergambar secara berlain-lainan dalam imajinasi para pewacana, dan akan “terlukis” berbeda-beda di alam imajinasi dari orang ke orang.

Konsep dalam alam imajinasi yang abstrak ini sebenarnya masih berjenjang-jenjang, terkategorikan ke dalam kelas-kelas, dari yang relatif lebih kongkrit sampai pun ke yang lebih, atau bahkan bisa yang jauh lebih,  abstrak dan bermakna lebih umum atau luas.

Kucing, misalnya, adalah konsep yang abstrak, tetapi binatang adalah konsep yang lebih abstrak dan ‘makhluk’ adalah konsep yang jauh lebih abstrak lagi.

Makin abstrak, akan makin luas cakupan representasinya. Kata binatang sebagai konsep jelas tidak akan mencakup apa yang kita kenali lewat amatan sebagai ‘kucing’ saja, akan tetapi juga mencakupi hewan-hewan lain seperti harimau, anjing, kambing, ayam, buaya, ikan dan lain-lain ad infinitum.

Lebih abstrak daripada konsep binatang, tentu saja konsep “makhluk hidup”, dan masih lebih abstrak lagi adalah konsep “semua makhluk”. Sementara itu, ditingkat abstraksi manapun, sesuatu konsep bisa direduksi kembali agar lebih kongkrit dengan menambahkan kata sifat atau kata keterangan lain yang berefek mengkhususkan.

Kembali pada kata kucing sebagai contoh, “kucing hitam”, misalnya adalah terma atau konsep yang lebih kongkrit daripada kucing begitu saja. “Kucing hitam yang kakinya pincang dan yang kemarin saya beri makan” tak pelak lagi adalah terma yang jauh lebih kongkrit lagi.

Dalam kajian zoologi, segala macam hewan tersebut di muka, yang dicakup dalam konsep animal kingdom, bisa saja direduksi secara konseptual ke dalam dua divisi animalea yang bercakupan lebih sempit dan saling membedakan, misalnya ke dalam “hewan yang menyusui (mamalia) dan bertelur”; yang menyusui masih akan bisa dikongkritkan lagi secara konseptual ke dalam “yang pemakan daging (karnivora)” dan “yang pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora)”, dan seterusnya.

Begitulah kita dapati dalam perbincangan keilmuan, kali ini mengambil zoologi sebagai contoh, adanya berbagai konsep,  animalea, mamalia, herbivore, yang berbeda-beda tingkat abstraksinya, yang dengan demikian juga luas-sempit atau umum-khusus taraf cakupannya.

Dalam ilmu pengetahuan sosial, objek-objek yang terjumpai dalam kehidupan sosial pun harus dibataskan secara definitif kedalam konsep-konsep, dan persoalan yang berkenaan dengan taraf abstraksinya akan pula mesti diperhatikan.

Hanya saja, cukup berbeda dari kajian-kajian ilmu hayat dengan objek hewan atau tumbuh-tumbuhan yang lebih kasat mata, kajian-kajian ilmu pengetahuan sosial akan lebih banyak berkenaan dengan objek-objek yang tak secara langsung berkategori kasat mata.

Kelas sosial (yang atas, yang tengah atau yang bawah, misalnya adalah konsep yang tak bisa dibataskan berdasarkan kerja “sekali amatan yang direk”, melainkan mesti dikerjakan dengan memperhatikan tengara-tengaranya (the signs) yang manifes di alam indrawi, yang oleh sebab itu dapat didatakan; misalnya tingkat pendapatannya, tingkat pendidikan dan keterpelajarannya, tingkat kekayaannya, dan apapun lainnya lagi.

Berbeda dengan ilmu hayat atau ilmu alam kodrat lainnya, yang seabstrak apapun simbol-simbol yang dipakai sebagai konsep, selalu saja konsep-konsep itu gampang menunjukkan objek-objek rujukannya dengan sekali amatan, tidaklah demikian halnya dengan kajian ilmiah yang berobjek manusia berikut masyarakatnya.

Akan diketahui nanti bagaimana dalam kajian dengan objek manusia dan/atau masyarakatnya ini, baik yang dikenali sebagai ilmu pengetahuan sosial maupun yang dikenali sebagai ilmu hukum,  konsep-konsep yang dikembangkan akan condong lebih bersifat abstrak, imajinatif, dan merupakan konstruksi konstruksi rasional dalam alam pikiran daripada lebih bersifat hasil abstraksi yang berpadanan langsung dengan objek yang terjumpai sebagai fenomenon/na di alam indrawi ini.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu hukum itu boleh dikatakan lebih gampang dicenderungkan ke gambarannya yang ideal dengan blue-sky concepts-nya daripada kajian-kajian ilmu alam kodrat (natural and life sciences) yang nyata lebih down to earth, punya padanannya yang nyata dan direk di alam indrawi.


*Tulisan ini merupakan bagian dari bahan ajar dalam mata kuliah Metodelogi Penelitian Sosial dan Filsafat Ilmu Pengetahuan di FISIP UNAIR. Dimuat pula di Blog pribadi Soetandyo Wignjosoebroto dalam soetandyo.wordpress.com yang memperbolehkan untuk dikutip sebagian atau keseluruhan dengan tetap mencantumkan sumber tulisan.

TENTANG PENULIS

Prof. Soetandyo Wignjosoebroto (alm.) adalah Guru Besar Emeritus Universitas Airlangga. Beliau merupakan salah satu pendiri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post