Menelaah Disertasi Tito Karnavian tentang Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia (Bagian 1)

Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia dalam Bingkai Jamaah Islamiyah, Studi Kasus Poso (1)-Reza Hikam-Berpijar
HTIandPI-Osman

Judul Buku Hizbut Tahrir Indonesia and Political Islam

Penulis Mohamed Nawab Mohamed Osman

Penerbit Routledge

Tahun Terbit 2018

Tebal Buku xvii+220 halaman

ISBN 978-0-8153-7528-9

Konflik bernuansa agama telah lama menyelimuti Indonesia. Negara ini diketahui memiliki serentetan nama-nama teroris yang dikenal oleh mancanegara seperti Amrozi, dr. Azhari, dan Abu Sulaiman Aman Abdurrahman. Namun pembahasan secara mendalam mengenai insurgensi kelompok Islam ini belum pernah dibahas secara mendalam oleh anak bangsa yang berasal dari aparat penegak hukum se-komprehensif Pak Tito Karnavian dalam disertasi doktornya ini.

Beliau sebagai salah seorang Kapolri memiliki kemampuan analisa yang mendalam terkait gerakan-gerakan Islam yang ada di NKRI. Akan tetapi, karena lingkup gerakan tersebut sangatlah luas, beliau memfokuskan pembahasan kepada konflik di Poso pada tahun 2000-2007. Pada saat itu, ada kelompok Islam yang sangat kuat bernama Jamaah Islamiyah (JI) sebagai ujung tombak insurgensi. Ada proses-proses radikalisasi yang berusaha dikuak oleh Pak Tito. Prioritas utama dari disertasi doktor ini adalah mengkritik narasi ideologi yang dibawa oleh Jamaah Islamiyah.

Hampir semua pembahasan mengenai terorisme yang berkaitan dengan Islam selalu diawali dengan penyerangan 9/11 yang begitu mendunia itu, bahkan disertasi ini pun diawali dengan kisah yang sama. Isu-isu mengenai keamanan mulai gencar dibahas oleh para pakar yang berfokus kepada dua hal: low-intensity warfare, yang juga memperdebatkan mengenai insurgensi dan konter-insurgensi, yang kedua adalah irregular warfare yang dimaknai oleh penulis sebagai perhelatan dengan kekerasan antara pemerintah dan pihak lain atas legitimasi dan kontrol terhadap populasi yang ada di sebuah negara.

Semenjak munculnya bom bali pada tahun 2002, para pakar mulai melihat Asia Tenggara sebagai medan perang kedua setelah Timur Tengah. Jamaah Islamiyah merupakan sumber utamanya dan dikenal sebagai kelompok teroris yang memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindak terorisme. Beliau menyebutkan pula beberapa kasus lain yang diduga didalangi oleh JI. Menariknya lagi, dukungan finansial sudah mengalir dari Timur Tengah, lebih tepatnya Al-Qaeda, sebagai salah satu organisasi yang terafiliasi dengan JI.

Jamaah Islamiyah bukanlah kriminal yang picisan, mereka merupakan organisasi yang terstruktur dengan baik, menggunakan kekuatan dan kekerasan untuk mencapai tujuan yang sifatnya politis: mengganti pemerintah Indonesia dengan pemerintahan yang didasarkan atas Syariat Islam dan membentuk negara pan-Islamisme Asia Tenggara yang nantinya akan berujung kepada kekhalifahan yang mendunia. Hal ini dijelaskan dalam Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI) yang ditolak keberadaannya oleh ketua JI, Abu Bakar Ba’asyir, meskipun ia menyatakan bahwa ia sepakat dengan isi dari PUPJI, yakni mengambil alih kekuasaan agar dapat menegakkan Syariat Islam seutuhnya.

JI memiliki kemampuan yang luar biasa, yang menurut analisa penulis, meniru metode Mao Tse Tung, yakni membangun jejaring rahasia yang nantinya akan membentuk sebuah organisasi dengan dukungan yang luas dan kemampuan militeristik. Dalam jangka panjang, menurut Pak Tito, JI akan mampu merebut kekuasaan apabila mereka kuat secara politis dan militer. Para kader JI harus mampu mempropagandakan Islam dan berperang. Adapun dua organisasi lain yang pernah diketuai oleh Abu Bakar Ba’asyir yang berguna untuk mendukung perjuangan JI ialah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Ketika Mao membentuk organisasi didasarkan kepada ideologi komunisme, JI bertumpu kepada Syariat Islam yang mereka adopsi dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) dari Mesir. Perekrutan anggota pun dilakukan melalui ekstrakulikuler kerohanian Islam di pesantren dan kelompok Studi Islam. Perekrutan ini mengandung radikalisasi, dimana kata ini bermakna sebagai sebuah proses yang mengubah penduduk yang taat pada peraturan menjadi keras (violent) sebagai hasil indoktrinasi yang dilakukan oleh Jamaah Islamiyah.

Dalam buku ini, penulis berusaha mengejawantahkan kenapa dan bagaimana JI menjalankan taktiknya yang didasari atas paham Salafi-Jihadiyah. Beliau menggunakan analisis ala Louis Richardson mengenai keinginan para Jihadis: disaffected person, enabling group, dan legitimising ideology. Perspektif yang dicetuskan oleh Richardson ini dianggap cocok untuk menguak konflik yang terjadi di Poso, dimana JI sangatlah berperan dalam permasalahan yang benuansa agama tersebut.

Kenapa studi kasusnya Poso? Menurut Pak Tito, Poso merupakan wilayah NKRI yang paling berbahaya pada kurun waktu 1998 sampai 2001. Ada tiga fase yang membuat permasalahan ini meluas, diawali dengan pertengkaran antara pemuda Muslim dan Nasrani, yang berujung kepada pembantaian umat Islam oleh kelompok Nasrani pada akhir Mei tahun 2000. Tiga fase ini diakhiri dengan campur tangan pemerintah Indonesia melalui Malino I Accord pada desember 2001. Pembantaian pada Mei 2000 ini yang membuat kelompok Jihadis masuk ke arena pertarungan yang akan memperburuk keadaan pasca gencatan senjata dan masalah ini berlanjut hingga tujuh tahun kemudian.

Pada Bab 2 dari disertasi/buku ini, penulis mengulas mengenai akar sejarah dari JI. Beliau mengutarakan bahwasanya JI tidak dapat terlepas dari Darul Islam (DI) dengan tujuan akhirnya untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). DI sendiri pada awalnya hanyalah milisi di Indonesia yang berdasarkan Islam, mereka dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang bernama Tentara Islam Indonesia (TII), didirikan pada tahun 1948. Banyak anggota JI merupakan mantan anggota DI sebelumnya, dan cita-cita mendirikan NII tidak lekang oleh waktu.

Meskipun Kartosoewirjo tertangkap dan dihukum mati pada tahun 1962, namun keinginan untuk mendirikan NII tidak mati bersamanya. Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar masih bergerilya bahkan di era Orde Baru. Gerakan perlawanan DI mampu bertahan di masa kepemimpinan Soeharto yang dikenal semi-otoriter dan berusahan untuk menghancurkan kelompok oposisi dari Kiri (Komunis) dan Kanan (Islam Radikal). Namun, baik Ba’asyir maupun Abdullah Sungkar bukan merupakan generasi pertama Islam Radikal, mereka berdua direkrut oleh Haji Ismail Pranoto (Hispran) pada tahun 1976. Mereka berdua adalah pendiri Pondok Pesantren al-Mukmin di Ngruki. Keduanya pernah ditangkap dan di jebloskan kedalam penjara pada tahun 1979-1983, akan tetapi setelah bebas, mereka hampir tertangkap lagi pada tahun 1985 dan melarikan diri ke Malaysia sebagai bentuk Hijrah.

Selama di Malaysia inilah, Sungkar dan Ba’asyir membentuk JI pada tahun 1993. Pembentukan JI ini menandakan bahwa mereka mulai meninggalkan NII yang dianggap oleh Abdullah Sungkar tidak sesuai aqidah. Dia menganggap bahwa NII memasukkan ajaran mistis dan tidak berpegang teguh dengan pandangan salafi. Namun ketua NII pada saat itu, Ajengan Masduki berujar bahwa pecahnya kongsi antara NII dengan kedua orang itu lebih bermotif ekonomi.

Pak Tito mengulas pula mengenai ideologi JI yang berkutat kepada salafi yang menggaungkan jihad kepada seluruh umat Islam. Jihad sendiri dimaknai dalam buku ini sebagai peperangan fisik yang bertujuan untuk mengembalikan Islam kepada masa kejayaan seperti dibawah pimpinan Rasulullah Muhammad S.A.W beserta para sahabatnya. Konsepsi jihad yang dianut oleh Ba’asyir dan Sungkar ketika mendirikan JI terinspirasi oleh Hasan Al-Banna yang menggerakkan masyarakat Islam di Mesir dalam melawan pemerintah kolonial Belanda dan Saydyid Quthb yang menggaungkan kekhalifahan global setelah keruntuhan Turki Usmani.

Untuk mencapai tujuan-tujuannya, JI memiliki lima taktik: dakwah, tarbiyah, amar makrif nahi munkar, hijrah dan jihad fisabilillah. Strategi ini yang membuat disertasi doktor dari Pak Tito ini menarik, karena memperlihatkan cara JI bertahan dan berkembang. Beliau mengutarakan bahwasanya ada tiga tahapan yang harus dilalui guna mencapai tujuan dari JI.

Pertama, membentuk kelompok yang didalamnya berisi: mencari pemimpin yang tepat, membentuk personel utama (atasan), membentuk organisasi rahasia, menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, membentuk lembaga penegak disiplin. Kedua, mengembangkan kekuatan melalui: dakwah, hijrah, edukasi, mengembangkan daya tahan fisik yang berujung kepada kemampuan bertarung para kadernya, indoktrinasi jihad sebagai peperangan, membangun markas, pelatihan militer, mencari pendanaan, implementasi pendidikan militer, membangun intelijen dan berkolaborasi dengan kelompok lain. Ketiga, menggunakan kekuatan (pelaksanaan agenda) seperti peringatan kepada seluruh manusia untuk mengikuti ajaran Islam yang murni dan mengancam mereka yang menolaknya, melaksanakan peperangan apabila peringatannya tidak digubris.

Adapun propaganda yang dilakukan oleh JI guna menarik simpati publik ialah dengan memperlihatkan kebiadaban Barat di Irak, pertarungan Israel dan Palestina, korupsi dalam birokrasi yang semuanya merupakan ulah dari negara Barat. Mereka mengalokasikan seluruh sumberdaya yang ada, semisal jika berbicara mengenai sumberdaya manusia, mereka akan membuat demonstrasi yang menolak sistem demokrasi Barat dengan tidak menggunakan nama JI yang sudah dicap sebagai kelompok teroris, sedangkan sumberdaya lainnya dapat berbentu media sosial, surat kabar, majalah dan pamflet yang disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Dalam melakukan mobilisasi massa, Abu Bakar Ba’asyir menggunakan MMI yang bisa dibilang lebih lunak (tidak konfrontatif) dibandingkan JI.

Pastinya organisasi semacam JI juga memiliki sumber pendanaan yang dikumpulkan melalui iuran anggota, donasi/sumbangan, bisnis dari sekolah-sekolah yang mereka dirikan dan juga buku-buku yang mereka terbitkan dan sokongan dana dari Al-Qaeda. Para anggota tetap diwajibkan membayar iuran sebesar 2,5% dari pemasukan mereka. Ada juga sumber pendanaan dari bisnis obat-obatan herbal, madu dan komoditas lainnya yang dapat dijual melalui cara multi-level marketing.

Rekrutmen yang dilakukan oleh JI dapat melalui pertemanan, hubungan keluarga, hubungan murid-guru dan pengajian. Hubungan keluarga ini biasanya berasal dari ajaran-ajaran DI yang diturunkan kepada anaknya, seperti hubungan guru-murid yang menurunkan pemahaman-pemahaman dari guru kepada anak didiknya. Adapun rekrutmen bisa dilakukan melalui hubungan pernikahan dan hubungan darah.  Kepatuhan terhadap guru (apalagi dalam hal agama) merupakan hal yang bisa dieksploitasi oleh JI dalam memperbanyak anggotanya, karena sifat semi-feodal dari penduduk Indonesia. Beberapa mushola dan masjid yang diketuai oleh anggota JI juga menjadi lahan dalam merekrut anggota, apalagi mereka yang aktif dalam kelompok studi Islam akan mampu menarik sumberdaya manusia yang cukup banyak.

Perekrut biasanya melakukan kajian yang dihadiri oleh banyak orang, disana ia akan melihat siapa saja yang paling antusias dalam kajian tersebut dan berusaha mendekatinya. Metode ini disebut dengan taklim. Yang paling terkenal biasanya, para perekrut akan memberikan pamflet atau video dimana umat Islam dibantai dengan keji dan berusaha untuk menyentuh hati para calon anggota. Pada tingkatan selanjutnya, para calon anggota akan diberikan taklim khusus mengenai Jihad dan Salafi. Setelah menerima doktrin-doktrin yang diberikan, maka calon anggota akan berikrar untuk bergabung dan berjuang di dalam JI, prosesi ini disebut sebagai bai’at.

Dari lima taktik yang sebelumnya sudah dijelaskan dalam paragraf atas, JI menekankan kepada jihad fisabilillah sebagai senjata utama dalam melawan “ketidakadilan”. Mereka memperbolehkan penggunaan kekerasan sebagai cara untuk menegakkan kekuasaan bercorak Islam. Mereka akan mengembangkan potensi fisik dari kader-kadernya diawali dengan olah raga seperti bermain bola, lalu bela diri. Para anggotanya akan diajarkan mengenai persenjataan pada tingkat lanjut dari pengembangan sumberdaya manusianya, mereka akan diajari taktik perang secara terbuka maupun klandestin. Yang terakhir adalah pelatihan paramiliter menggunakan senjata asli.

Pak Tito menjelaskan bahwasanya sumbedaya utama dan paling berbahaya dari JI adalah manusianya yang terus-menerus merekrut dan memberikan pelatihan militer. Usaha mereka dalam menggulingkan negara yang tidak berdasarkan Syariat Islam kelihatan seperti tiada hentinya. Kegigihan dalam merebut kekuasaan juga menjadi penjelasan dalam resensi kali ini. Mungkin para pembaca akan bingung, mana studi kasus mengenai Poso? Hal tersebut akan dibahas dalam resensi buku bagian kedua dari disertasi Muhammad Tito Karnavian ini, jadi tetap pegang gawai kalian dan tunggulah bagian selanjutnya yang tidak kalah asik.


Baca bagian kedua dan bagian ketiga dari resensi ini →

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post