Rachmah Ida dkk-Budaya Populer Indonesia-Berpijar-Dian Dwi Jayanto
Gambar: BukaLapak

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Budaya Populer Indonesia

Penulis

Rachmah Ida dkk

Penerbit

Airlangga University Press

Tebal Buku

 vii+136 halaman

Tahun Terbit

 2017

Jenis Buku

 Kajian Media dan Budaya

Globalisasi, khususnya dalam dimensi ekonomi dan budaya, kerap kali menyimpan makna yang cenderung berkonotasi negatif. Globalisasi adalah westernisasi, homogenisasi, Amerikanisasi dan seterusnya. Pandangan tersebut menyimpan kesan sikap serba pasif masyarakat lokal, hanya sekedar menerima saja, atas penetrasi kebudayaan asing menuju sebuah universalisasi kebudayaan dunia yang menyingkirkan kultur partikular.

Atau bahkan sebaliknya, pemahaman semacam itu mengantarkan sebuah gambaran atas respon resistensi politik budaya masyarakat lokal terhadap maraknya budaya asing di lingkungan mereka. Seakan-akan budaya global begitu berjarak untuk dipertemukan atau dinegosiasikan ulang bagi budaya lokal seturut dengan ciri khas kebudayaannya.

Perlu untuk dicatat, istilah budaya lokal dan global sebenarnya masih sangat terbuka untuk diperdebatkan. Sebuah kebudayaan yang kita anggap sebagai budaya global pada dasarnya adalah budaya lokal. Atau, bisa disebut budaya lokal yang telah mengglobal. Sementara kita sisihkan dulu persoalan ini. Intinya, budaya global disini adalah sebuah kebudayaan lokal yang telah diterima secara luas di berbagai belahan dunia sebagai  selera yang dikonsumsi secara global.

Respon Media dan Masyarakat Lokal Terhadap Budaya Global di Indonesia

Buku berjudul “Budaya Populer Indonesia: Diskursus Global/Lokal dalam Budaya Populer Indonesia” (2017) yang ditulis oleh para dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR ini memberikan pemahaman yang berbeda ketika mengaitkan relasi budaya global dan lokal, khususnya dengan tinjauan akan keberagaman bentuk budaya populer yang berkembang di Indonesia. Budaya populer dipilih karena dapat dipakai sebagai gambaran gaya hidup dan kehidupan yang dialami masyarakat lokal setiap hari.

Secara garis besar, buku ini mencoba mengurai konsekuensi yang terjadi atas masuknya budaya populer global di Indonesia. Pada bagian awal akan lebih banyak mengupas pendekatan teoritis tentang budaya global, modernitas, identitas budaya, budaya populer dan seterusnya. Bagian-bagian selanjutnya akan menjelaskan beberapa studi kasus yang menjadi tema-tema budaya populer kontemporer belakangan ini di Indonesia, seperti budaya K-Pop, Selebgram, Islam di layar kaca dan seterusnya.

Dari berbagai penjelasan tentang isu-isu spesifik yang terpisah dalam beberapa bab tersebut, terdapat beberapa poin penting yang dapat diangkat sebagai hasil utama penyelidikan penelitian, khususnya bagaimana masyarakat lokal melakukan interaksi dan negosiasi yang bersifat dinamis untuk merespon budaya global seturut cita rasa lokalitas kebudayaan mereka.

Masyarakat lokal, kata Thussu (2010 dikutip dari Ratih Puspa, 2017), adalah masyarakat yang dinamis dan kreatif untuk menkonsumsi budaya global. Sebagai contoh misalnya Mc Donald yang membanjiri dunia tidak luput dari upaya masyarakat melakukan pelokalan cita rasa sesuai selera makanan masyarakat setempat. Di Indonesia, menu nasi dengan lauk ikan goreng lebih banyak diminati daripada produk asli restoran itu yang menjual burger.

Contoh lain misalnya adalah produk boneka Barbie yang sangat populer telah mengalami banyak modifikasi lokalitas tergantung dimana boneka itu dipasarkan. Sebagaimana Barbie versi Amina di Iran dan Barbie versi Leila di Mesir. Thussu juga menambahkan bahwa fenomena semacam itu tidak berarti wujud resistensi budaya, tapi memang karakter budaya lokal masih lebih diminati daripada budaya asing.

Upaya adaptasi produk budaya global menjadi budaya lokal dalam acara hiburan televisi di Indonesia juga sangat mudah kita jumpai. Sebagaimana berbagai saluran televisi di Indonesia berlomba-lomba menyiarkan program budaya global yang telah dimodifikasi menjadi milik budaya Indonesia. Sebut saja acara kuis Family 100 (adaptasi dari acara “Family Feud”) atau ajang kompetisi seperti Indonesian Idol, Master Chef Indonesia dan seterusnya.

Bab empat yang ditulis oleh Ratih Puspa dalam buku ini secara khusus juga mencermati majalah “Elle Indonesia”, sebuah majalah fashion dari Prancis yang kemudian mendapatkan sentuhan menu lokal dalam edisi di Indonesia.

Begitu pun dengan institusi media yang melakukan perkawinan antara budaya global dengan praktik yang ada di dalam masyarakat lokal. Pemaknaan konteks lokalitas dalam keseluruhan tulisan ini tidak hanya terbatas pada nilai-nilai etnisitas kultural  semata, namun juga melingkupi norma-norma agama yang menjadi bagian penting dari kesadaran lokal bangsa Indonesia. Akan kurang afdol jika tidak mengaitkan respon budaya populer ini dengan tema keagamaan.

Ulasan tentang hal tersebut dapat dijumpai dalam tulisan Kandi Aryani dan Yuyun W.I. Surya pada bab 5 (Praktik-praktik Media Indonesia Merespon Budaya Global). Aryani dan Surya sebelumnya mengingatkan bahwa prinsip utama media adalah industri bisnis, sehingga untuk menganalisis media menanggapi budaya Global harus memahami bagaimana sistem kerja kapital bekerja dengan orientasi semata-mata laba.

Berkaitan dengan media, salah satu upaya memadukan unsur global budaya populer semacam kontes kecantikan dengan nilai agama Islam yang menjadi kebudayaan mayoritas di Indonesia adalah diselenggarakannya “Kontes Spritualisme Identitas dalam Media Virtual”.

Perlu diketahui bahwa pada tahun 2006 Nadine Chandrawinata dilaporkan oleh Mujahidah (perempuan FPI) kepada Polda Metro Jaya karena keikutsertaannya dalam ajang Miss Universe. Bagi mereka, ajang pemilihan ratu tersebut nyata-nyata bertentangan dengan nilai agama dan sosial di Indonesia.

Kontes kecantikan dengan balutan nuansa religius sangat ampuh menghindari serangan publik yang mengecam kegiatan seperti itu. Ini menjadi menarik ketika mengingat substansi dari event sejenis sebenarnya tidak berbeda. Ajang seperti itu tetap akan melombakan unsur kecantikan fisik yang dibalut berbagai pernik-pernik yang mencirikan keislamaan.

Hal menarik lainnya yang patut ditulis bukan sekedar sumbangsih jilbab atas redefinisi kecantikan maupun oerdebatan klasik tentang isu agama dan gender, namun media sosial telah mampu melakukan peneguhan pengertian tertentu terhadap segala identitas sosial, serta mengaburkan nilai Islam menjadi hanya sekedar tampilan material belaka.

Ulasan yang masih relevan dengan bahasan ini dapat pula dibaca dalam bab 10 (Muslimah Selebgram: Bergaya Sambil Berdakwah) yang ditulis oleh Mayarani Nurul Islami dan Yul Rahmawati. Mengamati dua perempuan muslim selebgram, yakni Angelina dan Sarah, yang berhasil melakukan pembingkaian makna syar’i bukan apa yang senantiasa dilakukan mereka berdua, namun apa yang ditampilkan melalui fashion melalui media virtual. Akhirnya, syar’i erat kaitannya dengan aspek ketubuhan dan pendisiplinan.

Menanggapi penampilan budaya populer Islam yang serba kering, menjadi menarik bagaimana dalam buku tersebut juga menyampaikan penelitiannya terhadap komunitas sosial keagamaan yang tinggal di lingkungan pesantren menanggapi budaya populer. Para remaja pesantren tidak pernah benar-benar menganggap tayangan hiburan sebagai bagian dari paham keagamaan. Bagi mereka, hiburan adalah hiburan dan agama adalah urusan bersifat privat.

Sebuah keyakinan yang berseberangan dengan paham masyarakat urban bahwa esensi agama tidak menjadi masalah selama mereka menunjukkan karakter serba Islam, otomatis mereka adalah umat Islam yang kaffah.

Perbedaan sudut pandang di atas selaras dengan apa yang dikemukakan Joke Hermes (2005 dalam Ida, 2017) yang menyatakan, penerimaan masyarakat terhadap budaya populer itu sangat beragam. Ada yang hanya menganggapnya sebagai pelarian dari rutinitas keseharian, ada yang sekedar memenuhi keinginan, berarti mengalpakan diskusi cukup berat terkait kekuasaan, politik, power dan seterusnya.

Hal terpenting dalam menganalisis budaya populer terletak pada usaha mengungkap bagaimana makna budaya populer bagi kita. Apakah dia hanya sekedar hiburan, atau budaya populer yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan di dalamnya telah menjelma menjadi kesadaran identitas  agama diri kita yang sesungguhnya.

Alhasil, Rahma Ida dalam bagian penutup bukunya memberikan catatan akhir tentang bagaimana upaya menghadapi pengaruh global dalam konteks lokal melalui budaya populer yang laku keras di masyarakat.

Menurut Ida, “masyarakat melakukan proses adaptasi dan negosiasi dengan budaya global yang dikonsumsikan dan melakukan interaksi yang dinamis dengan budaya lokal yang dimiliki. Sementara di lain pihak, media mencoba untuk menyiasati trend budaya global dengan cara mengawinkan dengan trend local attitudes yang dipraktekkan dalam masyarakat”.

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?