Trump dan Optimisme yang Ditawarkannya

Trump dan Optimisme yang Ditawarkannya-Berpijar-Adhi Cahya Fahadayna
Trump dan Optimisme yang Ditawarkannya-Berpijar-Adhi Cahya Fahadayna
Dia [Trump] terobsesi bagaimana Amerika Serikat mendominasi seluruh aspek penting dalam kehidupan manusia. (Gambar: GoodFree Photos dengan beberapa perubahan)
Dominasi Trump dalam pemilu kali ini tidak bisa dilepaskan dari janji-janji kampanye Trump yang ingin mengembalikan kejayaan dan dominasi Amerika Serikat dalam aspek politik dan keamanan.

Perlu diakui bahwa isu-isu yang diangkat oleh Trump memang mengancam beberapa nilai fundamental kehidupan demokrasi di Amerika Serikat. Hak-hak sipil warga negara, hak kaum minoritas dan kesetaraan gender adalah isu yang paling populer pada masa kampanye Trump. Akan tetapi, perlu kita pertimbangkan bahwa pilihan warga AS tidak didasarkan pada perhitungan kosong belaka.

Dominasi Trump dalam pemilu kali ini tidak bisa dilepaskan dari janji-janji kampanye Trump yang ingin mengembalikan kejayaan dan dominasi Amerika Serikat dalam aspek politik dan keamanan. Perlu diketahui, tidak semua program prioritas Trump seluruhnya negatif, maka dalam tulisan ini, penulis akan membahas beberapa program yang bisa mendukung optimisme Amerika Serikat dalam empat tahun ke depan.

Donald Trump memenangkan pemilu AS, dan ini diluar prediksi hampir seluruh lembaga survey, prediksi dan harapan banyak orang. Donald Trump adalah sosok presiden yang menurut penulis adalah calon yang paling sederhana dalam berkampanye. Dia menunjukkan obsesi yang sangat tinggi terhadap ‘masa kejayaan’ Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu.

Dia terobsesi bagaimana Amerika Serikat mendominasi seluruh aspek penting dalam kehidupan manusia. Amerika Serikat unggul pada aspek politik, ekonomi, sosial, keamanan dan budaya dalam jangka waktu yang sangat lama, sebelum situasi berubah dan masuknya era penurunan terhadap dominasi Amerika Serikat. Donald Trump tidak pernah berusaha untuk meyakinkan kaum intelektual, kaum muda yang progresif atau bahkan para akademisi dan kaum elit di Amerika Serikat.

Sebaliknya, dia ingin memenangkan hati kaum marjinal, kelompok konservaif dan kelompok religius. Trump menggunakan kekuatan koservatif-religius di Amerika untuk memobilisasi massanya, karena memang ini adalah cara termudah untuk mewujudkan obsesinya tentang ‘Membuat Amerika Jaya Kembali’. Obsesi yang sangat sederhana dan sangat mewakili isu-isu fundamental yang ingin diangkat oleh sebagian besar warga Amerika Serikat.

Politik Luar Negeri

Trump memiliki orientasi yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, Presiden George W. Bush Jr. Dia akan berorientasi pada penanggulangan terorisme dan upaya intervensi militer dalam beberapa konflik besar di Timur Tengah. Sejak maraknya beberapa aksi teror di penghujung 2016, seperti aksi penembakan massal di Orlando, Florida dan teror bom di New York City beberapa saat yang lalu, kebijakan Trump mendapatkan perhatian dari warga Amerika Serikat.

Keberanian Trump untuk berkomitmen dalam memberantas radikalisme dan extremisme mampu merebut hati banyak pemilih pada pemilu terakhir. Bahkan Trump bersedia untuk mengambil langkah intervensi militer dan berkolaborasi bersama Rusia untuk memerangi ISIS di Suriah. Kebijakan untuk terlibat dalam konflik di Timur Tengah akan membuat kondisi geopolitik berubah dan tensi konflik dengan beberapa negara yang selama ini disinyalir renggang akan mengalami perbaikan yang sangat signifikan.

Rekonsiliasi hubungan dengan Rusia akan menjadi agenda sekunder Trump untuk menunjang keberhasilan program perlawanan terhadap ISIS di Suriah. Bahkan, ahli studi Rusia Profesor Stephen Cohen dari Princeton University, mengungkapkan kemungkinan terhindarnya konflik langsung antara Rusia dan Amerika akan membawa prospek yang positif terhadap hubungan bilateral kedua negara, walaupun tensi diplomatik keduanya sempat menguat beberapa pekan terakhir.

Hal ini juga dibuktikan dengan ucapan selamat yang di sampaikan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin beberapa jam setelah pidato kemenangan Trump dalam sebuah cara resmi di Kremlin, Moskow. Stabilitas hubungan bilateral kedua negara ini sangat penting dalam politik dunia, mengingat tensi tinggi antara kedua negara ini bisa mengganggu stabilitas regional maupun internasional.

Hubungan Rusia dan Amerika Serikat sempat memburuk karena ketidaksetujuan antara Amerika Serikat dan Rusia dalam isu Suriah pada bulan Oktober yang lalu. Namun, dengan komitmen Trump untuk terlibat aktif dalam memerangi ISIS, akan memberikan angin segar pada hubungan bilateral Rusia-Amerika Serikat, juga dalam usaha-usaha untuk memerangi ISIS. Tentu, ini menambah optimisme bahwa kemenangan Trump tidak serta merta memberikan efek negatif dalam politik luar negeri Amerika Serikat.

Dengan rekonsiliasi antara Amerika Serikat dan Rusia, usaha untuk melawan ISIS akan menemui masa-masa yang sangat menjanjikan. Keterlibatan Amerika Serikat sudah tentu akan menyatukan suatu koalisi besar negara Arab yang sebelumnya juga pernah bersatu dalam invasi Irak tahun 2003. Perlawanan terhadap ISIS akan berjalan sangat masif dan terstruktur karena kepemimpinan Amerika Serikat dalam koalisi melawan ISIS akan sangat membantu menyatukan harapan semua pihak.

Koalisi ini akan dengan cepat mampu mengembalikan stabilitas regional di Timur Tengah dan tentunya menghentikan eksistensi ISIS sebagai ancaman teror yang paling dominan bagi Amerika Serikat sendiri. Amerika Serikat juga akan mampu memberikan dukungan materiil dan data-data intelijen terkini bagi koalisi yang dipimpinnya sehingga sel-sel jaringan ISIS yang tersebar di seluruh Timur Tengah bisa diberantas dengan tuntas.

Keamanan

Salah satu program unggulan Trump adalah kebijakan yang fokus pada bidang keamanan, yaitu penguatan sektor cyber dan rejuvinasi industri strategis. Trump akan memprioritaskan program-programnya dalam menyiapkan Amerika Serikat dalam menghadapi tantangan perang cyber yang semakin menguat.

Trump menginginkan Amerika Serikat memiliki infrastruktur dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk menghadapi tantangan perang cyber yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Keamanan cyber merupakan hal yang sangat penting bagi Amerika Serikat yang mayoritas transaksi keuangan telah didominasi dengan model transaksi elektronik yang lebih ringkas dan mudah.

Trump ingin mengatasi seluruh kelemahan dalam keamanan cyber di Amerika. Dia juga ingin mengembangkan kekuatan cyber sebagai pertahanan dan menciptakan elemen kekuatan cyber yang bisa dipergunakan untuk menyerang. Sehingga, Amerika Serikat di bawah pimpinannya akan mampu melaksanakan perang cyber yang menjadi strategi perang termutakhir pada saat ini.

Dengan merevitalisasi industri strategis, Trump ingin menyinergikan modernisasi kekuatan militer Amerika Serikat dengan memanfaatkan industri strategis dalam negeri. Trump ingin memperbaharui seluruh alat utama dan sistem persenjataan Amerika Serikat yang dinilai sudah terlalu tua. Dia juga ingin memastikan bahwa militer Amerika serikat mampu menghadapi segala kemungkinan dengan disertai kemampuan terbaik dan peralatan termutakhir.

Trump menginginkan ke depan, militer Amerika Serikat harus kembali menjadi yang paling dominan di dunia dan tentunya mampu memberikan rasa aman bagi warga negaranya terhadap segala ancaman keamanan. Dengan modernisasi alutsista ini, Trump juga mengharapkan perlawanan terhadap ISIS bisa dilaksanakan dengan seoptimal mungkin sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama ancaman ISIS bisa diatasi oleh militer Amerika serikat.

Apa selanjutnya?

Obsesi Trump adalah hal yang paling realistis bagi sebagian besar warga Amerika Serikat yang tergabung dalam kekuatan konservatif-religius. Karena bagi mereka, Amerika Serikat seharusnya lebih berpihak dan memprioritaskan warga Amerika. Seluruh kebijakan pemerintah seharusnya menguntungkan warga Amerika Serikat, bukan sebaliknya.

Warga Amerika Serikat tentu bisa didikotomikan kedalam dua klasifikasi, kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas tentunya diwakili oleh kekuatan konservatif-relijius, yang memang merasa terancam dengan perkembangan ideologi liberal yang menjunjung tinggi banyak nilai positif, seperti kesetaraan, kebebasan, dan demokrasi. Dengan perkembangan liberalisme, banyak hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Amerika Serikat.

Ideologi liberal menjunjung tinggi hak-hak sipil, melindungi kaum minoritas dan memastikan adanya kebebasan serta kesetaraan bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi suku, ras dan agama. Sayangnya, semalam kelompok liberal telah dikalahkan secara telak oleh kelompok konservatif-religius.

“The less justified a man is in claiming excellence for his own self, the more ready is he to claim all excellence for his nation, his religion, his race or his holy cause.” – Eric Hoffer, The True Beliver.

Donald Trump telah diserang oleh berbagai isu negatif tentang dirinya, dan bahkan keragu-raguan akan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin memuncak di penghujung masa kampanye. Akan tetapi, respon yang ditunjukkan oleh Trump bukan malah berusaha untuk menghindar dan menunjukkan kenaifan.

Dia tetap dengan ‘gaya’nya berkampanye dan menyuarakan isu-isu konservatif. Dia tidak banyak menjanjikan hal-hal yang sistemik, karena dia tahu obsesinya adalah mengembalikan Amerika pada kejayaanya di masa lalu. Dia menyampaikan visi-misi semacam isu rasial, hak kaum minoritas, hak imigran, lapangan pekerjaan, pajak dan terrorisme. Donald Trump dimenangkan oleh isu-isu ini yang pada akhir masa kampanye menjadi sangat populer.

Kita tidak bisa menyalahkan obsesi Donlad Trump untuk memprioritaskan kaum mayoritas di Amerika. Ini adalah nature manusia yang akan selalu memprioritaskan golonganya sendiri. Trump memiliki obsesi yang mayoritas warga Amerika miliki, bahwa pemerintahan Obama belum mampu menjawab permasalahan fundamental di negara ini.

Persoalan mengenai stabilitas ekonomi, lapangan pekerjaan dan jaminan terhadap keamanan sosial serta kesehatan masih belum tersentuh secara signifikan. Sehingga dalam beberapa tahun kedepan setidaknya selama Trump memegang peranya sebagai Presiden, fokus kebijakannya akan berada pada hal-hal berikut.

Dengan memperhatikan dua aspek menonjol dalam program kerja Donald Trump tersebut, tentu sangat tergesa jika dinilai kemenangan Trump sebagai hal yang negatif. Penulis berpendapat, Amerika Serikat bukanlah negara otoriter yang bisa berbuat di luar kendali dan melanggar norma-norma universal serta komitmen ideologis Amerika Serikat untuk terus mengawal demokrasi adalah hal-hal yang penting untuk diperhitungkan.

Sebagai negara dengan sistem demokrasi yang maju, kehidupan rakyat Amerika Serikat tetap akan berjalan dengan normal-normal saja. Mekanisme pengawasan antara lembaga legislatif dan eksekutif talah berjalan dengan cukup komprehensif dan kompleks, sehingga segala kemungkinan abuse of power bisa diantisipasi dengan baik. Serta pemilihan anggota kabinet yang akan disusun oleh Trump akan menunjang optimisme kepemimpinan Trump empat tahun mendatang.

Trump sudah tentu akan memilih orang-orang terbaik dalam kabinetnya, untuk memastikan seluruh program kerjanya terlaksana dengan baik. Walaupun, Trump memang sering melontarkan argumen yang sangat kontroversial, utamanya yang berkaitan dengan kaum minoritas Islam dan hispanik, serta pendapat tentang kesetaraan gender di Amerika Serikat, namun, hal ini tidak boleh membuat kita khawatir yang berlebihan.

Berkaca dari program-program yang ditawarkan Trump, tidak sepatutnya kita secara sepihak over-judgemental terhadap kemenangan Trump. Dukungan melalui kritik dan pengawasan intensif terhadap kinerja pemerintahan Trump adalah solusi terbaik untuk memastikan kepemimpinan Presiden Trump pada masa mendatang akan berjalan sebaik-baiknya.

TENTANG PENULIS

Adhi Cahya Fahadayna adalah alumni Ilmu Politik dari Northeastern University, Boston.

BACA JUGA

Write a response to this post