Bom Bunuh Diri sebagai Metode Teror Psikologis yang Efektif

Bom Bunuh Diri Diri Sebagai Metode Teror Psikologis yang Efektif-Redaksi-Berpijar
Bom Bunuh Diri Diri Sebagai Metode Teror Psikologis yang Efektif-Redaksi-Berpijar
Seorang petugas Penjinak Bom (Jibom) melakukan identifikasi di lokasi ledakan yang terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018. (Foto: ANTARA via Tempo.co)
Namun hal paradoks berikutnya, ketika banyak aksi teroris dengan menggunakan cara bom bunuh diri semakin kerap kali dijumpai,....asumsi pertimbangan pikiran rasional untuk perbaikan hidup bagi para pelaku di masa mendatang telah gugur dengan sendirinya.

Seperti yang dijelaskan oleh Rafael Revueny dan William R. Thompson (2010), bahwasanya terorisme adalah sebuah tindakan atau taktik kekerasan politik yang dilakukan oleh berbagai macam aktor, baik dari negara maupun bukan, tergantung dengan kepentingan apa yang mereka bawa.

Adapun seorang ekonom yang skeptis bernama Alan B. Krueger (2018) berujar bahwa teroris hanyalah sebuah preferensi pekerjaan. Jika orang lain ingin menjadi dokter atau guru, ada beberapa yang mengejar karir sebagai teroris. Krueger disini menekankan bahwasanya tindak terorisme merupakan pekerjaan yang tidak lazim dan berhubungan erat dengan ekonomi.

Misalnya, tidak heran ketika sempat tersebar berita gaji yang cukup fantastis bagi para mujahidin yang rela bergabung dengan ISIS. Mengutip detik.com (31/05/2015), dikabarkan bahwa seorang ulama Suriah Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal membeberkan bahwa salah satu alasan para pemuda dari luar Suriah mau bergabung ISIS karena tergiur dengan uang atau gaji yang dijanjikan kepada mereka.

Syaikh Abdullah menyebut ISIS dapat memberikan gaji sebesar US$ 400-500 per bulan. Taruhlah kita ambil nilai tengah sebesar US$ 450 dolar dengan kurs rupiah yang sekarang mencapai Rp. 14.000, berarti gaji yang mereka peroleh mencapai 6,3 juta rupiah perbulan.

Sebelum bom bunuh diri populer sebagaimana yang dilakukan pasukan Hizbullah di Lebanon dan Tamil Tigers di Srilangka pada tahun 1980-an, memang dugaan yang banyak merebak menyatakan bahwa meskipun para pelaku aksi teror melakukan tindakan yang sangat beresiko tinggi, mereka tetap mempertimbangkan aspek rasional berupa bayaran yang setimpal dari perbuatannya yang berbahaya tersebut bagi keberlanjutan hidupnya (Case, 2011: 122).

Namun hal paradoks berikutnya, ketika banyak aksi teroris dengan menggunakan cara bom bunuh diri semakin kerap kali dijumpai, sebagaimana aksi bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan bersama dengan dua anaknya di Surabaya beberapa hari kemarin, asumsi pertimbangan pikiran rasional untuk perbaikan hidup bagi para pelaku di masa mendatang telah gugur dengan sendirinya.

Salah satu pendekatan yang mungkin bisa dipakai dalam membaca fenomena bom bunuh diri, dalam hal ini dalam kasus-kasus terorisme yang membajak Islam sebagai identitas perjuangan kelompoknya, adalah memahami motif mendasar bagi pelaku bom bunuh diri berdasarkan keyakinan tafsir agama yang ia anut. Baik imbalan berupa surga, derajat yang tinggi di akhirat dan seterusnya. 

Terlepas dari rangsangan yang mungkin bisa benar berlandaskan aspek teologis tersebut, mudah untuk menangkap kesan bahwa apa yang dilakukan oleh individu pelaku teror nampak tidak rasional dalam kaca mata rational choice. Tapi, perlu diingat bahwa aksi bom bunuh diri bisa sangat masuk akal bagi kelompok organisasi yang berada di belakangnya sebagai bagian dari strategi teror yang efektif.

Tulisan ini hendak menyatakan premis bahwa, sebuah aksi bom bunuh diri adalah perbuatan yang irasional bagi pelaku terror dalam skala individu dan keluarga, namun bisa sangat masuk akal dalam skala lebih luas melingkupi strategi kelompok teroris yang berada di belakangnya. 

Sebagaimana penjelasan Sprinzak (2010 dikutip dari Case, 2011) bahwa serangan bunuh diri adalah satu metode yang paling efektif secara psikologis, sebab hal tersebut menyampaikan sebuah pesan (baik kepada pemerintah maupun masyarakat) bahwa tidak ada penghalang apa pun yang dapat mencegah para teroris untuk melakukan serangan.

Ringkas kata, melalui aksi serangan bunuh diri, para pelaku teroris yang tergabung dalam suatu aliansi atau organisasi teroris tertentu (meskipun terkesan sporadis) hendak menegaskan bahwa, mereka benar-benar sangat serius untuk mencapai tujuan akhir dari serentetan teror mereka. Untuk menegakkan cita-cita tersebut, mereka rela untuk membayar dengan ongkos yang sangat mahal, bahkan kalau perlu mengorbankan nyawa sekali pun.

Jika kita kaitkan dengan jaringan teror internasional yang mengemban berideologi Islamisme (menegakkan Islam sebagai sebagai kendali tata kehidupan di dunia), maka sebelum berdiri kedaulatan Islam secara universal, aksi teror tersebut akan senantiasa berlangsung.

Case juga menyebutkan beberapa keuntungan secara psikologis bagi kelompok kejahatan ektrem tersebut dengan menggunakan aksi bunuh diri sebagai aksi terorisme. Diantaranya, pertimbangan biaya material. Melakukan bom bunuh diri itu cukup murah pembiayaannya karena biasanya peledakan bom membutuhkan semacam kendaraan seperti mobil untuk mengangkut bom tersebut.

Paling tidak untuk satu kali meletuskan bom menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta tergantung harga mobilnya. Jika bom dibawah oleh seseorang, maka sebuah aksi peledakan bom itu akan lebih murah biayanya. Meskipun hal ini bisa dipertentangkan sebab seperti kasus bom di Surabaya kemarin juga melakukan bom bunuh diri dengan menggunakan mobil.

Pertimbangan lainnya adalah efek kematian mengerikan dibanding bentuk terorisme lainnya. Bayangkan jika seseorang melakukan bom bunuh diri, maka mayatnya akan berhamburan. Secara psikis, aksi seperti ini akan semakin mencengangkan masyarakat secara luas. Bukan hanya orang-orang yang melihatnya di tempat kejadian, tapi juga melalui gambar-gambar yang sangat mudah disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat melalui media sosial yang bisa sangat cepat menjadi pesan berantai.

Case mengakhiri tulisannya dengan mengutip sebuah pendapat kontroversial dari Pape yang menyatakan keterikatan hubungan antara perbuatan bom bunuh diri dan negara demokratis. Bagi Pape, di negara demokrasi lebih rentan terjadi aksi terorisme bunuh diri dibanding negara otokrasi. Sebab, negara yang demokratis menyediakan jaminan untuk kebebasan dan keterbukaan media dibanding negara otokrasi. Akibatnya, sebuah aksi bom bunuh diri akan lebih cepat menyebar ke masyarakat demokratis.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, aksi bom bunuh diri akan ditoton banyak orang, terutama melalui media-media sosial yang sangat tidak terkontrol, yang menghasilkan efek keresahan dan ketakutan di masyarakat ketika melihat potongan mayat pelaku teror beserta korban yang terkena bom. Tepatlah kemudian jika ada pendapat yang menyatakan bahwa media memiliki peran besar menciptakan terorisme di masyarakat.

Terlepas dari berbagai uraian yang telah dikemukakan, dampak yang diharapkan dari terjadinya aksi teror, seperti melalui strategi bom bunuh diri, melingkupi kegelisahan yang menjangkiti masyarakat. Keadaan serba panik publik menjadi penting bagi salah satu tolok ukur keberhasilan aksi teror. Perasaan serba mencekam berimplikasi pada pengambilalihan kendali masyarakat oleh teroris, serta semakin menyudutkan atau mereduksi legitimasi peran aparat negara untuk melindungi warganya.

Alhasil, ada benarnya kemudian banyak yang menganjurkan untuk tidak membagi foto-foto bom yang kemarin terjadi di Surabaya dan menyerahkan penanganan aksi teror tersebut kepada pihak kepolisian. Hal ini menjadi upaya untuk mengurangi tensi was-was masyarakat yang diharapkan terorisme dan tetap menjaga keadaan tetap kondusif.

Rujukan

Case, Erick S. 2011. “Terrorism” dalam JohnT. Ishiyama & Marijke Breuning (ed). 21st Political Science: a Reference Handbook. Los Angeles: Sage Publication.

Reuven, Rafael & William R. Thompson. “Contemporary Terrorism” dalam Rafael Reuven & William R. Thompson. Coping With Terrorism. New York: SUNY.

Krueger, Alan B. 2018. What Makes a Terrorist: Economics and The Roots of Terrorism. New Jersey: Princeton University Press.

Segenap Redaksi Berpijar.co mengecam dan mengutuk tindakan aksi terorisme yang terjadi di Surabaya. Semoga Para Korban mendapatkan tempat yang layak disisi Tuhan.

BACA JUGA

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post