Kompleksnya Dampak Globalisasi Bagi Kehidupan Sehari-hari

Kompleksnya Dampak Globalisasi Bagi Kehidupan Sehari-hari-Faisal Javier Anwar-Berpijar
Isu-isu Globalisasi Kontemporer-Safril Mubah dkk-Berpijar
Gambar: BukaLapak

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Isu-isu Globalisasi Kontemporer

Penulis

Ahmad Safril Mubah

Penerbit

Graha Ilmu

Tebal Buku

xiv+90 halaman

Tahun Terbit

2015

Jenis Buku

Buku penunjang perkuliahan

Globalisasi nampaknya belum menjadi pembahasan yang ‘seksi’ di kalangan masyarakat Indonesia. Konsep globalisasi yang tidak banyak dipahami oleh masyarakat secara luas, ternyata berimplikasi pada kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadirkan oleh globalisasi. Seperti yang didapat oleh hasil survei LIPI tahun 2015, ternyata masyarakat Indonesia pun belum siap menghadapi globalisasi.

Di tengah kondisi seperti itu,  maka kemudian buku ‘Isu-Isu Globalisasi Kontemporer’ yang ditulis dosen HI Unair, Ahmad Safril, sepertinya dapat menjadi rujukan bagi mereka yang tertarik atau sedang mendalami globalisasi. Disinggung lebih lanjut oleh penulis, bahwa pasca Perang Dingin isu-isu yang berkembang tidak lagi berkutat pada keamanan negara, namun juga isu-isu seperti ketimpangan ekonomi, demokrasi, budaya dan identitas, keamanan individu, dan ancaman teroris, dan semua isu tersebut tidak hanya melibatkan aktor negara, namun juga aktor-aktor non negara (hal vii).

Lantaran globalisasi berdampak pada meningkatnya isu-isu yang juga melibatkan berbagai aktor non-negara, maka kemudian buku ini pun menjadi relevan untuk mendalami bagaimana globalisasi berdampak terhadap aktor-aktor lokal, nasional, dan internasional melalui isu-isu pilihan yang diangkat oleh penulis, dan terbagi dalam enam bab, antara lain: 1.) Globalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2.) Globalisasi dan Demokrasi 3.) Globalisasi dan Budaya Lokal 4.) Globalisasi dan Identitas Kultural 5.) Globalisasi dan Keamanan Manusia  6.) Globalisasi dan Terorisme.

Sebenarnya isu-isu yang muncul sebagai dampak dari globalisasi lebih kompleks dari sekedar enam isu yang dibahas dalam buku ini. Hal ini pula yang disinggung oleh penulis dalam bagian pengantar “Enam isu yang terdapat dalam buku ini hanyalah segelintir dari sekian banyak isu dalam globalisasi” (hal x). Tidak terdapat alasan jelas mengapa enam isu tersebut yang menjadi pilihan untuk dibahas, namun sepertinya dikarenakan enam isu tersebut memang yang paling dapat dirasakan dampaknya dalam kehidupan sosial.

Globalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Muncul perdebatan antara dua kaum, yakni kaum pendukung globalisasi dan kaum pengkritik globalisasi. Pendukung globalisasi berargumen bahwa kehadiran globalisasi meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara miskin yang didorong oleh meningkatnya integrasi ekonomi antar negara. Sedangkan pengkritik globalisasi berpendapat, bahwa globalisasi bukannya mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, justru malah meningkatkan keduanya.

Perdebatan yang muncul antar dua kubu bukannya tanpa sebab. Perdebatan dipicu oleh perbedaan metode pengukuran  tingkat pertumbuhan, ketimpangan, dan kemiskinan. Pendukung globalisasi menggunakan metode yang tidak hanya menghitung GDI suatu negara saja, namun juga populasi negara. Sehingga ketika negara-negara dengan jumlah penduduk besar mengalami tingkat pertumbuhan tinggi seperti Tiongkok dan India, maka muncul orang-orang kaya baru yang mengurangi ketimpangan dan kemiskinan. Sedangkan untuk mengukur kemiskinan, metode ini menggunakan standar Bank Dunia yang terpatok kurang dari 1 USD per hari.

Sedangkan pengkritik globalisasi menggunakan metode yang mengabaikan jumlah populasi suatu negara, dan menolak standar kemiskinan Bank Dunia yang terlalu rendah. Melalui kacamata metode yang digunakan, maka pengkritik globalisasi menunjukkan bahwa globalisasi sesungguhnya justru semakin meningkatkan kemiskinan dan juga ketimpangan antara negara kaya dan negara miskin.

Kemudian berdasarkan data-data yang didapatkan oleh penulis buku ini, nyatanya pandangan bahwa globalisasi meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanya ilusi yang melenakan negara-negara miskin dan berkembang. Memang pertumbuhan ekonomi negara-negara miskin dan berkembang kian meningkat, namun peningkatannya masih kalah jauh dibanding negara-negara maju, sehingga angka pertumbuhan pun tidak merata. Hasilnya, globalisasi bukannya mendorong pertumbuhan, malah justru melebarkan ketimpangan.

Globalisasi dan Demokrasi

Dampak globalisasi terhadap keberlangsungan demokrasi ibarat dua mata koin, terdapat sisi positif dan juga sisi negatif. Globalisasi dapat dinilai positif ketika ia mendorong proses demokratisasi negara-negara non-demokratis. Namun ketika pemerintahan demokratis telah terbentuk, justru globalisasi menampakkan pengaruh negatif yang menggganggu nilai-nilai substantif demokrasi itu sendiri.

Keberlangsungan demokrasi di era globalisasi tidak terlepas dari pengaruh liberalisasi besar-besaran ekonomi di seluruh dunia. Batas negara yang kini bukan lagi halangan bagi transakasi perdagangan membuat korporasi-korporasi pun mereguk keuntungan besar yang mendorong mereka semakin berpengaruh terhadap dinamika ekonomi politik suatu negara. Agenda-agenda pembangunan pun didominasi oleh korporasi-korporasi global, yang menghilangkan kesan pemerintahan demokratis.

Hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh penggunaan sistem yang dirasa lebih demokratis dalam transisi demokrasi suatu negara. Pemilihan yang melibatkan rakyat secara langsung menuntut modal besar bagi para kontestan politik untuk memenanginya, sedangkan modal besar hanya bisa disediakan para korporat. Dominasi korporat dalam kontestasi politik mendorong terjadinya aliansi penguasa dengan korporat yang kemudian membentuk korporatokrasi. Korporatokrasi mengalihkan tanggung jawab pemerintah dalam melayani rakyat dari tanggung jawab pemerintahan demokratis ke tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility), sehingga globalisasi pun telah mereduksi substansi demokrasi itu sendiri.

Globalisasi, Budaya Lokal, dan Identitas Kultural

Globalisasi sebagai sebuah fenomena yang tak terelakkan di sisi lain juga menghadirkan ancaman bagi eksistensi budaya lokal tiap daerah dan negara, termasuk salah satunya Indonesia. Budaya yang awalnya bersifat lokal, kemudian berkat globalisasi mengglobal ke segala arah melampaui batas-batas wilayah negara bangsa, dan kemudian dianut oleh masyarakat global, dan mengancam budaya-budaya lokal di wilayah lain, atau dengan kata lain telah terjadi homogenisasi budaya-budaya negara-negara maju menjadi sesuatu yang universal.

Indonesia pun menjadi salah satu negara yang menghadapi persoalan penetrasi budaya asing. Tradisi budaya turun-temurun pun perlahan meluntur dan tergeser oleh elemen-elemen budaya negara-negara maju. Oleh karenanya diperlukan strategi mempertahankan budaya lokal, bahkan kalau bisa mempromosikan budaya lokal ke tingkat global. Antara lain melalui pembangunan jati diri bangsa, pemahaman falsafah budaya, penerbitan peraturan daerah yang bertujuan melindungi budaya lokal, dan pemanfaatan teknologi informasi.

Globalisasi dan Keamanan Manusia 

Berakhirnya Perang Dingin banyak memunculkan berbagai kajian baru, termasuk globalisasi dan keamanan manusia. Istilah human security pertama kali dimunculkan oleh UNDP dalam laporan tahunan 1994. Battersby & Siracusa (2009, 3 di hal  61) menyebut bahwa pendekatan ini mengintegrasikan hubungan antara kemiskinan, HAM, kesehatan masyarakat, pendidikan, dan partisipasi politik.

Perlu ada pembedaan antara konsep keamanan manusia dengan konsep keamanan tradisional selama ini yang biasanya merujuk pada keamanan negara. Pendekatan ini lebih memfokuskan ancaman kemanusiaan yang dihadapi manusia daripada negara. Ancaman-ancaman tersebut meliputi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, keterbatasan sumber pangan, penyebaran penyakit, pencemaran lingkungan, dan konflik sosial politik.

Adanya universalisasi dan homogenisasi sistem Barat ala Amerika juga memunculkan ketidakpuasan dari kelompok tertentu yang kemudian melancarkan aksi teror. Sehingga kemudian, globalisasi dan keamanan manusia terhubung oleh fenomena-fenomena seperti peningkatan aksi terorisme, pengangguran dan kemiskinan akibat universalisasi neoliberalisme, homogenisasi budaya, jaringan teknologi dan informasi. dan ancaman psikologis.

Globalisasi dan Terorisme

Singkatnya, penulis buku membagi relasi antara globalisasi dan terorisme dalam dua bentuk simbiosis, yakni parasitisme (merugikan salah satu) dan mutualisme (sama-sama menguntungkan). Apabila globalisasi dipahami sebagai bentuk homogenisasi tatanan sosial, ekonomi, budaya,  dan politik, maka relasinya dengan terorisme akan bersifat parasitisme. Terorisme akan diuntungkan lantaran mereka memiliki justifikasi untuk melakukan aksinya sebagai korban ketidakadilan globalisasi, sedangkan masyarakat melihat globalisasi ancaman terhadap keamanan global tanpa menghiraukan efek positifnya sama sekali.

Sedangkan jika globalisasi bertindak sebagai instrumen media massa untuk mendapatkan serta memperluas informasi, maka hubungannya dengan terorisme akan bersifat mutualisme. Media massa dan teroris akan sama-sama diuntungkan, lantaran media massa memiliki bahan informasi yang dapat disebarluaskan, yakni kasus teror. Sedangkan para teroris akan mendapat keuntungan, karena dengan publikasi luas, maka tujuan mereka menyebarkan pesan sebagai ‘korban ketidakadilan’ dan menebar ancaman psikologis dapat terpenuhi. Tidak hanya itu, potensi untuk terjadinya cyberterrorism di masa mendatang pun sangat mungkin terjadi.

TENTANG PENULIS

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Muhammad Faisal Javier Anwar

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post