Amarah dan Radikalisme yang Menyimpan Narasi Kegelisahan

Amarah dan Radikalisme-Taufik Nandito-Berpijar
Amarah dan Radikalisme-Taufik Nandito-Berpijar
Api berkobar usai bom meledak di area Gereja Pantekosta Surabaya. (Foto: Antara via Okezone)
Umat Islam di seluruh penjuru dunia hari ini tengah merasakan stereotipe negatif dari peradaban Barat. Stereotipe ini tak lepas dari akibat maraknya aksi radikal yang dilakukan kaum revivalis.

Radikalisme selalu menyimpan narasi kegelisahan bagi segenap umat manusia. Mulai dari rasa trauma, darah bercucuran, hingga suara parau membela salah satu golongan adalah sepenggal potret buram dari aksi radikalisme. Tak pelak, dari hari ini dan esok hari akan selalu bermunculan upaya untuk membendung radikalisme agar ia tak sampai pada titik yang dominan dan mencemaskan bagi lingkungan.

Sayangnya, seringkali upaya-upaya menghadang radikalisme ini dilakukan dengan cara-cara yang cenderung populis. Seperti contohnya George W. Bush yang memproklamirkan perang melawan radikalisme dengan simbol perang salib era kontemporer pasca tragedi WTC. Jelas-jelas yang dilakukan Bush itu merupakan agitasi negatif yang malah semakin mempolarisasikan golongan-golongan yang sering berbenturan, dalam hal ini agama.

Upaya membendung radikalisme akan selalu menemui batu terjal jika terus dilakukan dalam balutan agenda politis. Radikalisme akan selalu mencuat mencari ruang hidup lantaran dalam pola pikir yang politis ia akan dianggap sebagai musuh yang harus ditumpas sampai ke akar-akarnya. Ujung-ujungnya, dengan alasan menumpas sampai ke akarnya itu, sesuatu yang dianggap dekat dengan radikalisme akan ikut dicurigai, seperti belakangan ini misalnya, jenggot, celana cingkrang, gamis serta cadar.

Kebanyakan, di pelbagai negara yang sedang giat memberantas aksi radikalisme, pemerintahannya cenderung memandang permasalahan ini secara formalistik. Dalam asumsi penulis, pemerintah-pemerintah terkait menggiring opini publik dengan selubung sentimen golongan. Sehingga yang berlangsung di masyarakat adalah praksis dari opini publik yang dicerna dengan penglihatan mereka atas realita di masyarakat, lantas merebaklah prasangka negatif.

Umat Islam di seluruh penjuru dunia hari ini tengah merasakan stereotipe negatif dari peradaban Barat. Stereotipe ini tak lepas dari akibat maraknya aksi radikal yang dilakukan kaum revivalis. Ironisnya, Barat tampaknya melupakan faktor penting bahwa kerapkali ia memiliki andil dalam terciptanya radikalisme ini. Umat Islam lah yang kemudian menjadi korban. Entah ia Islam yang rasionalis, tekstualis, ataupun sufistik, generalisir ala Barat ini benar-benar merugikan umat Islam.

Cara-cara Barat ini juga menjadi permasalahan di dalam benak beberapa akademisi. Peradaban Barat dianggap melawan radikalisme dengan amarah. Benturan-benturan pun tak terelakkan lagi. Libido tribalisme yang konfliktual itu mencuat kembali. Bedanya, kali ini tribalisme itu diterjemahkan dengan bahasa yang lebih lembut, yakni dengan framing media massa, atau melalui ilmu pengetahuan, ataupun lewat ekspansi kebudayaan tanpa kolonialisme fisik.

Risalah Habil dan Qabil di masa-masa awal kehidupan manusia bisa jadi cerminan mengapa tribalisme dan radikalisme mengemuka dalam peradaban dunia. Syahdan, Habil yang dianggap memiliki banyak kelebihan dibanding saudaranya Qabil, menjadi pusat perhatian bapaknya, Adam. Melihat itu Qabil jadi memendam rasa dengki terhadap saudaranya. Lalu terjadilah pangkal dari narasi kegelisahan radikalisme ini, yaitu amarah dan kekerasan. Habil pun tewas di tangan Qabil.

Apa yang terjadi pada Habil adalah pelajaran bagi umat Islam hari ini. Penindasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan satu pihak tidaklah dapat dibenarkan. Apalagi, jika usaha penindasan itu dihadapkan dengan sentimen keagamaan, umat Islam bagai mendapat ladang untuk mengaktualisasikan konsep martir dalam ajaran mereka. Aktualisasi nilai-nilai keagamaan dalam konteks ini memicu kebangkitan kaum revivalis yang selanjutnya dalam framing barat disebut dengan Radikal.

Hassan Hanafi (2001) dalam kumpulan pidatonya yang bertajuk, Agama, Kekerasan, dan Islam Kontemporer membagi dua jenis kekerasan, yakni kekerasan represif dan kekerasan pembebasan. Dalam kaitannya dengan radikalisme, penulis menganggap bahwa aksi radikalisme yang dilancarkan kaum Islam revivalis adalah sebuah aksi dari kekerasan pembebasan. Sebuah aksi yang berusaha melepaskan diri dari mental kejumudan umat dan keterbelakangan dari intimidasi Barat.

Hanafi juga menilai bahwa umat Islam khususnya di daerah Arab tak bisa disalahkan begitu saja atas kekerasan yang menimpa masyarakat di berbagai penjuru dunia. Karena kekerasan tak berlangsung di Arab belaka. Kekerasan juga terjadi beberapa benua, seperti Afrika dan Australia, serta terjadi di negara-negara yang mayoritas non-muslim, seperti India atau Nikaragua. Oleh karenanya pengkambinghitaman radikalisme terhadap umat Islam, sebenarnya hanya menimbulkan perlawanan-perlawanan saja.

Isu kekerasan agama atau radikalisme biasa difungsikan untuk menjatuhkan pihak yang lain. Maka, sebenarnya masalah anti-radikalisme yang didengung-dengungkan oleh bangsa-bangsa Barat seperti Amerika tak lain merupakan sebuah bentuk psy-war Barat terhadap eksistensi Timur dan umat Islam. Kekerasan adalah fenomena yang terjadi karena adanya konflik kepentingan. Tak ada asap bila tak ada api, dan tak ada konflik bila tak ada pemicu.

Argumentasi yang dikemukakan oleh Goenawan Moehammad (2018) tampaknya cukup baik menggambarkan bagaimana benturan-benturan antara yang dituding radikal dengan yang bersikap anti-radikal ini. Di benak GM –panggilan akrab Goenawan Moehammad- amarah adalah barang dagang paling ampuh untuk mengubah sejarah. Nafsu nomor sekian, dan amarah lah yang paling menjual. Orang seperti Lenin atau Osama bin Laden, disebut GM sebagai partikelir amarah yang mujarab.

Hampir sama seperti apa yang dicetuskan oleh Hassan Hanafi, GM berpendapat jika sebenarnya revolusi-revolusi dan kekerasan-kekerasan yang berdampak pada perubahan tatanan masyarakat juga bermula dari respon dari amarah. Namun bagi Hassan Hanafi amarah, kekerasan, dan radikalisme, serta dengan anti-anti nya sebenarnya tak sejalan karena kesemua hal tersebut bersimpangan dalam proses dialektika.

Gerakan anti-kekerasan yang dilakukan Gandhi sampai membuatnya meninggal tak lepas dari respon emosinya pada kekerasan. Ungkapan biadab dari Ahmad Syafii Ma’arif tatkala mengomentari kekerasan yang menimpa Romo Prier di Jogja beberapa waktu silam juga bisa disebut sebagai amarahnya pada aksi radikalisme. Siasat-siasat anti-radikalisme pada dasarnya adalah bentuk amarah yang berbeda. Cuman, begitulah amarah, ia terkadang menyilapkan pandangan dan bersifat simultan. Dan itu berlaku untuk semuanya, tak terkecuali bagi para anti-radikal maupun anti kekerasan.

TENTANG PENULIS

Muhammad Taufik Nandito adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, sekarang masih bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan UMS.

BACA JUGA

About Author

Muhammad Taufik Nandito

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, sekarang masih bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan UMS.


Related Posts

Write a response to this post