Menelaah Disertasi Tito Karnavian tentang Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia (Bagian 2)

Pak Tito sendiri mengakui bahwa Poso merupakan daerah yang toleran sebelum munculnya konflik pada tahun 1998.

Menelaah Disertasi Tito Karnavian tentang Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia (Bagian 2)-Reza Maulana Hikam-Berpijar
Explaining Islamist Insurgencies-Tito Karnavian-Berpijar
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Explaining Islamist Insurgencies

Penulis

Muhammad Tito Karnavian

Penerbit

Imperial College Press

Tebal Buku

xiii+288 halaman

Tahun Terbit

2014

Jenis Buku

Disertasi doktor

Jika pada resensi bagian sebelumnya, saya menjelaskan mengenai bab 1 dan bab 2 dari disertasi Pak Tito, sekarang saya akan mengulas dan meringkas bab 3 hingga bab 6.

Sebagaimana yang sudah saya utarakan, penjelasan Pak Tito lebih ditekankan kepada sejarah dari JI dan metode-metode yang mereka lakukan dalam melaksanakan perlawanan bernuansa ke-Islaman mereka. Pada bab selanjutnya, beliau akan lebih fokus kepada permasalahan di Poso.

Poso sebagai salah satu kota di Sulawesi Tengah merupakan daerah paling berdarah dalam kurun waktu 1998 sampai dengan 2007. Konflik atas dasar agama telah merajalela disana. Permasalahan ini telah menarik perhatian pemerintah daerah maupun pusat, bahkan hingga mancanegara karena ratusan korban jiwa sebagai dampak konflik berkepanjangan ini.

Konflik antara umat Islam dan Nasrani di wilayah ini telah berakhir dengan gencatan senjata di tahun 2001, namun muncul lagi setelah kelompok JI mulai masuk atmosfer Poso dan melakukan tindak terorisme melalui pemboman, penculikan dan pembunuhan.

Pak Tito sendiri mengakui bahwa Poso merupakan daerah yang toleran sebelum munculnya konflik pada tahun 1998. Daerah tersebut sangatlah kaya dan tempat peribadatan berdiri berdampingan. Relasi antara umat Islam dan Nasrani sangatlah baik tanpa ada gangguan yang begitu berarti.

Hal ini diakui oleh para pemuka lokal di wilayah Poso yang diwawancarai oleh Pak Tito. Toleransi ini bahkan sampai pada titik saling silaturahmi apabila ada hari raya dari tiap agama tersebut (Lebaran dan Natal). Penjelasan mengenai toleransi ini dikutip dari perkataan Daeng Raja dan Pendeta Tubondo.

Suasana damai ini mulai meluntur ketika ada pertengkaran antara pemuda Nasrani bernama Roy Buntu Bisalemba yang mabuk dan menusuk seorang pemuda muslim bernama Ahmad Ridwan di Masjid Soyo. Pada saat itu bertepatan Bulan Ramadhan dan umat Nasrani juga bersiap-siap untuk melaksanakan Natal.

Pak Tito tidak begitu menjelaskan kenapa isu mengenai permasalahan kedua pemuda tersebut justru ditekankan kepada perbedaan agama mereka. Hanya saja penekanan itu dilakukan dengan menyebarkan kasak-kusuk bahwa penusuknya adalah seorang Nasrani dan korbannya adalah seorang muslim dan tragedi tersebut terjadi di depan masjid.

Permasalahan ini mulai memanas ketika Natal, para pemuda dari Masjid Kayamanya melempar sebuah toko minuman keras dengan bebatuan. Semakin membesarnya kerumunan ini, lalu mereka bergerak menuju rumah Roy dan mulai merusak rumah umat Nasrani di sepanjang jalan. Meskipun pada akhirnya kerumunan ini berhenti, esok harinya mereka berkumpul lagi untuk menyerang toko-toko yang menjual minuman keras di Poso.

Kelompok ini dihadang oleh para pemuda Nasrani yang pada akhirnya perhelatan terjadi, banyak kelompok lain dari kedua belah pihak (Islam dan Nasrani) mulai berdatangan ke Poso untuk membantu saudara seimannya.

Permasalahan ini berusaha diredam oleh pemerintah daerah pada tanggal 27 Desember. Namun naas, usaha tersebut sia-sia ketika orang Nasrani bernama Herman Parimo masuk ke Poso dan mulai berulah dengan melempari batu ke rumah penduduk Muslim disana pada tanggal 28 Desember. Konflik ini memuncak ketika keesokan harinya, Herman Parimo kembali dan dihadang oleh massa dari umat Islam, pertarungan antara kedua belah pihak tidak terelakkan, kelompok yang dipimpin Parimo mundur dari Medan.

Pemerintah sekali lagi turun tangan untuk memfasilitasi penyelesaian konflik ini, dan pada tanggal 29 Desember 1998, Herman Parimo ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan masa tahanan 14 tahun.

Ada hari dimana pasca fase pertama konflik ini, Poso menemukan ketenangan tanpa ada bentrok fisik sama sekali. Kedamaian ini tidak berlangsung lama, konflik pada fase dua muncul setelah pemilihan bupati Poso yang dimenangkan oleh Abdul Muin Pusadan. Meskipun tidak ada bentrok, namun kondisi politik antara Islam dan Nasrani masihlah panas, maka dari itu ada permintaan untuk memisahkan representasi dalam pemerintah antara umat Islam dengan umat Nasrani.

Pada bulan april tahun 2000 inilah mulai kondisi antar agama semakin memanas dengan adanya pertengkaran antara dua pemuda muslim dengan dua pemuda Nasrani. Pertarungan ini memuculkan kembali konflik yang sudah hampir reda, bahkan memperparah kondisi hubungan antara umat Islam dan umat Nasrani.

Masih banyak kisah konflik Poso yang diutarakan oleh Tito dalam disertasi doktornya. Hal lain yang menarik ialah isi mengenai Malino I Accord yang berisikan sepuluh poin: mengakhiri segala bentuk perseteruan dan konflik, mematuhi usaha penegakan hukum dan pemberian sanksi terhadap mereka yang menjadi pelaku tindak kekerasan, meminta aparat pemerintah untuk bertindak secara bijak dan menegakkan keadilan, demi membuat atmosfir yang damai maka diharapkan tidak ada kelompok luar (Poso) yang ikut campur, Poso sebagai bagian dari Indonesia.

Selanjutnya, menolak adanya kebohongan dari berbagai pihak dan saling menghormati juga tenggang rasa untuk mewujudkan perdamaian, mengembalikan segala hak dan barang kepada pemilik semula seperti sebelum terjadinya konflik, memperbolehkan semua orang yang mengungsi kembali kepada rumahnya masing-masing, merehabilitasi infrastruktur ekonomi bersama pemerintah, dan saling menghormati antar agama atas dasar tenggang rasa.

Malino I Accord dengan cepat langsung dilaksanakan pasca disepakati dan terbukti efektif dalam mengurangi konflik sektarian yang terjadi di Poso. Meskipun ada beberapa konflik yang terjadi pada tahun 2002 dan 2003 yang menyebabkan personil kepolisian mati, namun para pelakunya dengan cepat ditangkap dan disanksi. Polisi pun menambah personilnya di Poso yang diambil dari Jawa dan Sulawesi Tengah. Adapun TNI juga membangun markas di Sintuwu Maroso untuk menjaga keamanan.

Pada awal 2002, polisi dan TNI meminta para penduduk untuk menyerahkan senjata-senjata yang mereka miliki demi terwujudnya ketentraman. Meskipun mendapatkan reaksi positif dari umat Islam maupun Nasrani, tidak sedikit pula yang menyimpan senjata-senjata mereka, walaupun mayoritas menyerahkan senjatanya lalu dihancurkan.

Usaha-usaha untuk memperbaiki tempat-tempat peribadatan pun dilakukan demi membaiknya infrastruktur di Poso. Negara selalu berusaha hadir untuk menetralisir permasalahan yang sekiranya akan timbul di Poso melalui forum-forum yang diadakan bersama keduabelah pihak (Islam-Nasrani).

Dengan menurunnya permasalahan sektarian, malah memunculkan serangan teroris di Poso, Tito mengakumulasikan ada 27 kasus terorisme di Poso yang berupa: 2 penyerangan massal, 6 pemboman, 2 penyerangan aparat kepolisian, 14 penembakan, 2 pemenggalan, dan 2 perampokan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Tito, kasus-kasus ini lebih ditujukan kepada umat Nasrani.

Dalam menghadapi aksi teror yang terjadi di Poso, Kepolisian membuat Satuan Tugas (Satgas) yang dikepalai oleh Tito sendiri dengan 60 personil gabungan dari Brimob dan Densus 88 pada tahun 2005. Tugas utama Satgas ini adalah mengumpulkan seluruh informasi yang berkaitan dengan tindak terorisme di Poso semenjak tahun 2002. Semua informasi ini bermuara kepada MKK (Mujahidin Kompak Kayamanya).

Adapun di tahun 2006, ditangkaplah seseorang yang merupakan bagian dari Pondok Pesantren Tanah Runtuh. Dari peristiwa ini terkuak pula bahwa ada jejaring mujahid bernama MTR (Mujahidi Tanah Runtuh) yang bertanggungjawab atas beberapa tindak terorisme yang terjadi di Poso. Kelompok ini dilatih oleh jaringan JI yang berasal dari Jawa.

Mujahidin KOMPAK sendiri didirikan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang pada awalnya bukan ditujukan untuk radikalisasi, melainkan sebuah korps untuk membantu umat Islam yang dilanda musibah. Akan tetapi mereka kerap terekspos pada permasalahan yang menggugah hati mereka untuk melakukan tindakan radikalisasi. Organisasi ini didirikan di Solo pada tahun 1998 oleh Aris Munandar yang notabene adalah mantan JI juga. Mereka memang berfokus menolong umat Islam di Poso dan Ambon.

Karena sering berhadapan langsung dengan permasalahan yang cukup berat, mereka mulai mengambil langkah untuk aktif didalam konflik di Poso dengan menyelundupkan senjata yang didapat dari Filipina Selatan ke Ambon dan Poso. Di Poso, Mujahidin KOMPAK merekrut pemuda di Kayamanya yang nanti membentuk MKK.

Disisi lain, MTR merupakan bentukan JI yang dilatih untuk merakit bom pula. Beberapa temuan Tito dalam disertasi ini menandakan bahwa JI sebenarnya akan membuat Poso menjadi pusat untuk membangun Negara Islam. Masyarakat Muslim di Poso menyambut hangat kedatangan para pendatang yang berusaha membela mereka menjadi salah satu alasan kenapa jaringan Islam Radikal dapat menyebar luas dengan cepat di Poso.

Tidak hanya JI dan Mujahidin KOMPAK yang turun tangan di Poso, namun Lasykar Jundullah dan Lasykar Jihad pun masuk kedalam arena pertarungan pada tahun 2000. Lasykar Jundullah muncul sebagai instrumen keamanan dari Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) yang merupakan hasil dari Kongres Umat Islam di Sulawesi Selatan, yang dipimpin oleh Abdul Azis Kahar Muzakkar yang merupakan anak Kahar Muzakkar, seorang mantan pemberontak DI/TII di Sulawesi.

Lasykar Jihad merupakan organisasi Islam yang dipimpin oleh mantan kombatan Afghanistan bernama Ja’far Umar Thalib yang beraliran Salafi. Kelompok inilah yang mengirimkan bala bantuan berupa sumberdaya manusia ke Ambon dan Poso dengan jumlah masif. Mereka menganggap diri mereka sebagai penegak hukum dan pelindung umat Islam di Poso dan Ambon, karena kegagalan aparat pemerintah dalam mengamankan umat Islam di kedua tempat tersebut.

Adapun analisis Tito mengenai konflik sektarian ini tidak dapat usai dengan cepat karena: (1) adanya segregasi tempat tinggal antara umat Islam dan umat Kristen, (2) kompetisi yang intensif diantara para organisasi keagamaan dalam memperluas lingkup pengaruh mereka dan memperbanyak anggotanya, (3) komposisi dan konfigurasi etnis yang hidup di Poso, dan (4) perilaku intoleran dari beberapa institusi keagamaan.

Tito pun menjelaskan beberapa konteks lain dalam hal konstelasi politik nasional, untuk konteks internasional, kelompok Islam yang bertarung ternyata berafiliasi kepada Al-Qaeda, dan isu yang menyebar dari umat Nasrani adalah bagaimana umat Islam melakukan pembantaian terhadap umat Nasrani.

Banyak kisah di Poso yang tidak dapat ditemukan dalam kisah-kisah yang kita temui dalam berbagai buku selain disertasi Tito ini. Penjelasan Pak Kapolri yang sangat kronologis membantu kita memahami lebih mendalam mengenai konflik sektarian terbesar dalam sejarah Negara Republik Indonesia.

Walaupun terlihat berakhir, namun masih ada beberapa bagian lain dari disertasi Pak Tito yang akan saya ulas dalam bagian ketiga. Nantikan resensi buku ini yang selanjutnya.

Write a response to this post