Pergeseran Aksi Teror: Catatan Tentang Bom Bunuh Diri di Surabaya

Pergeseran Aksi Teror, Catatan Tentang Bom Bunuh Diri di Surabaya-Agun Tri Putra-Berpijar
Pergeseran Aksi Teror, Catatan Tentang Bom Bunuh Diri di Surabaya-Agun Tri Putra-Berpijar
Tim Inafis melakukan olah TKP di lokasi ledakan di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). (Foto: ANTARA via CNN)
Tepat seminggu berlalu kejadian serangan bom di tiga gereja di Surabaya, penulis memiliki beberapa catatan mengenai persoalan terorisme secara umum yang nantinya menyinggung pula aksi terorisme di Surabaya.

Terorisme merupakan sebuah ancaman yang nyata dalam kehidupan manusia. Terlebih setelah masuknya era globalisasi yang menghilangkan sekat-sekat antar negara, termasuk di dalamnya adalah persebaran ideologi dan keyakinan. Terorisme terjadi, dalam pemahaman penulis, melalui transfer ideologi atau persebaran pemikiran ini yang berbenturan atau dibenturkan dengan kenampakan berbeda di wilayah lain, dianggap begitu berseberangan dengan ide dan pemikiran mereka.

Sehingga dalam perjalanannya mengalami intensifikasi, akhirnya sebisa mungkin memaksakan ide dan gagasan yang dimiliki melalui internalisasi nilai secara halus yang berujung pada tindakan teror.

Tepat seminggu berlalu kejadian serangan bom di tiga gereja di Surabaya, penulis memiliki beberapa catatan mengenai persoalan terorisme secara umum yang nantinya menyinggung pula aksi terorisme di Surabaya.

Karakter Utama Terorisme

Identifikasi yang terlihat di dalam roda teror ini jelas, seperti yang dipaparkan dalam tulisan berjudul “Attacking Terrorism: Elements of a Grand Strategy”, Kurth Cronin dan James M. Ludes (2004) menjelaskan bahwa penyerangan terhadap orang-orang tidak berdosa, penggunaan serangan yang tiba-tiba (element of surprise), dan tujuan spesifik seperti penegakan nilai-nilai dasar seperti ideologi dan keagamaan.

Jihad atas nama Agama adalah yang paling sering menjadi latar belakang teror. Aksi teror yang kemarin terjadi di Surabaya merupakan sebuah pola lama namun muncul dengan bentuk yang baru. Pola lama yang dimaksud di sini bersandar pada argumen Cronin di atas dan termasuk di dalamnya bom bunuh diri yang merupakan salah satu jalan utama pelaksanaan teror.

Peran Media

Faktor terpenting dari aksi teror adalah ancaman. Terorisme sangat bergantung pada jaringan dan penyebaran yang dilakukan oleh media. Lebih jauh lagi dapat dikatakan bahwa salah satu instrumen yang dapat melegitimasi tindakan teror adalah media. Oleh karena itu, biasanya setelah terjadinya teror, akan terdapat aktor-aktor yang melakukan konfirmasi atau klaim bahwa teror tersebut dilakukan oleh jaringannya.

Teror memang menjatuhkan banyak korban, namun yang terpenting adalah bagaimana ketakutan disebarkan dan stabilitas keamanan dihancurkan. Ulasan yang menyinggung hal ini dapat dibaca dalam tulisan dari Redaksi Berpijar, “Bom Bunuh Diri Sebagai Metode Teror Psikologis yang Efektif.”

Ketakutan adalah instrumen pertama tindakan teror, bukan senjata yang digunakan. Hal tersebut adalah alasan mengapa terorisme masa kini sangat berkawan baik dengan media dan menggunakannya menjadi salah satu instrumen terpenting dalam penyebaran ketakutan.

Teror Seratus Persen Ideologi

Kemudian ada beberapa fakta yang menarik dalam pergeseran bentuk aksi teror, jika kita melihat lebih cermat yang terjadi di Surabaya pada tanggal 15 Mei 2018. Terjadi pergeseran aksi teror dari analisis latar belakang ekonomi dan aktor yang melakukannya. Pencarian pengantin terorisme yang terjadi sebelumnya adalah menggunakan pendekatan ideologi dan iming-iming ekonomi (penjaminan keluarga yang ditinggalkan).

Pengantin yang bersedia untuk meledakkan diri dicuci otaknya sedemikian rupa sehingga dapat melakukan tindakan teror. Dalam tulisan berjudul “The Forth Wave of Modern Terrorism” (2004), D.C. Rapoport menjelaskan bahwa pada gelombang keempat sejak tahun 1979 hingga sekarang, yaitu keadaan kontemporer saat ini, terorisme menjelma sebagai sebuah tindakan yang cenderung didasari oleh semangat keagamaan atau religion dan mendapatkan pendanaan berasal dari mayoritas negara-negara yang ada di Teluk Persia.

Satu hal yang menarik adalah iming-iming ekonomi tidak terlalu menjadi dasar pelaku untuk melakukan aksi teror pada saat ini, khususnya yang dilakukan oleh pelaku berinisial D (ayah) dan P (ibu) serta keempat anaknya. Teror yang mereka lakukan seratus persen dilakukan atas landasan Ideologi.

Teroris Satu Keluarga

Perekrutan terhadap pengantin yang dilakukan oleh jaringan terorisme konvensional mengalami pergeseran dari perekrutan perorangan menuju satu keluarga. Salah satu contoh teror bom yang dikenal dalam dunia internasional adalah teror yang terjadi di Stockholm, berkategori “lone wolf terrorism”. Terorisme konvensional biasanya melakukan perekrutan terhadap anggotanya anonymously, bukan sekeluarga.

Meskipun antar jaringan teroris biasanya memiliki hubungan kekeluargaan, tapi terorisme satu keluarga di Surabaya dapat dikatakan sebagai bentuk baru yang harus diperhatikan lebih lanjut. Bentuk baru ini harus diwaspadai, karena jika dilihat jaringan dibelakang aksi teror ini memang memiliki afiliasi dengan ISIS, tetapi baru saja muncul kembali ke permukaan. Jaringan yang cukup rapat menjadi salah satu kendala pemberantasan tindak terorisme.

Implikasi ISLAMOPHOBIA dan Keamanan

Bagaimana jika nantinya Indonesia yang merupakan mayoritas masyarakat beragama Islam menjadi anti terhadap agamanya sendiri? Skenario ini bisa saja terjadi di Surabaya pasca teror, akhirnya berdampak pada individu-individu tertentu yang memang menggunakan style yang kemungkinan diidentifikasi sebagai identitas teroris oleh sebagian masyarakat. Misalnya kerudung lebar, pakaian syar’I bercadar, jubah muslim dan lain sebagainya.

Hal tersebut kemudian menjadi ranah yang sangat pas sebagai dasar tindakan persekusi oleh sebagian orang lainnya. Aksi peledakan bom yang dilakukan juga sangatlah berimplikasi terhadap keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Jalan-jalan di Surabaya setelah terjadinya bom bunuh diri di beberapa titik tersebut menjadi sangat sepi. Aksi teror telah menghancurkan banyak sekali mental dan keberanian masyarakat di Surabaya, berbagai macam instansi diliburkan, termasuk juga sekolah-sekolah.

 

Rujukan:

Cronin, Kurth dan James M. Ludes. 2004. Attacking Terrorism: Elements of a Grand Strategy. Washington, D.C: Georgetown University Press. ISBN-13: 9780878403479.

Rapoport, D.C. 2004. “The Four Waves of Modern Terrorism.” In Kurth, A. 2004. Attacking Terrorism: Elements of a Grand Strategy. Georgetown University Press.

TENTANG PENULIS

Agung Tri Putra adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Agung Tri Putra

Agung Tri Putra adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post