Paradigma Pertemuan Agama, Politik, dan Budaya: Dari Fenomena Pikiran Ganda Hingga Soal Persilangan Identitas

Paradigma Pertemuan Agama, Politik, dan Budaya-Irfan Al Ayat-Berpijar
Paradigma Pertemuan Agama, Politik, dan Budaya-Irfan Al Ayat-Berpijar
Konsep Islam Nusantara, misalnya, harus lebih dikenalkan sebagai proses dialektika lokal dan Agama, meski alih-alih mengusung konsep toleransi Islam ramah. Jangan sampai terbalik, alih-alih mengusung Islam Nusantara tapi prakteknya hanya dipenuhi nuansa politisasi Identitas.

Kegalauan Bima

Bima adalah seorang pria 30 tahunan, pemeluk Agama yang taat. Dia selalu berusaha menghadirkan eksistensi Tuhan dalam setiap dilematika kehidupannya. Dia banyak memberi nasehat kebaikan pada keluarga, teman atau lingkungan tempat dia tinggal untuk saling tolong menolong. Menurutnya, itu wajib dilakukan mengingat hal tersebut adalah perintah Agama. Bima merasa dirinya hidup dalam kondisi masyarakat yang pesimistis ketika berbicara kemanusiaan.

Mulai dari kemerosotan moral yang diwujudkan para remaja yang sudah kehilangan tata-kramanya, korupsi di tataran elit pusat sampai daerah, prostitusi subur tak terkendali, narkoba bebas sulit terdeteksi, pemerintah yang kurang kompeten dalam mengurusi hal-hal sepele, semisal kesehatan dan KTP untuk warganya, sampai media hiburan baik virtual maupun aktual yang lebih dekat kepada gaya hedonisme serta  berprespektif pasar daripada menghadirkan spirit pendidikannya moral.

Rubrik di TV maupun di media cetak selalu tidak pernah sepi dari permasalahan kriminal. Setiap pagi Bima selain rutin makan pecel buatan istrinya, dia juga rutin menikmati hidangan problematika negaranya melalui rubrik itu meski kadang mengharuskannya mengumpat dalam hati.

Suatu ketika di sela-sela paginya, dia melihat sosok Sakti, pria berumur 50 tahunan, di Koran dan TV yang setia menemaninya di samping kopi dan pecel buatan sang istri. Oleh TV dan media lainnya, Sakti diberitakan secara kontroversial. Berita TV memang selalu begini. Bad News is A Good News.

Sakti di rubrik-rubrik itu disimbolkan sebagai figur kolot dan sombong, tapi di sisi lain Bima menangkap bahwa dia adalah figur lantang, keras dan tegas yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala daerah di kota tempat dia tinggal.

Bima tertegun dengan Sakti karena dianggap melawan arus, banyak musuhnya. Sontak menurut Bima, Sakti memiliki first impression yang ideal untuk disebut pemimpin. Mulailah Bima mempelajari seluruh track record. Dalam penelusurannya itu, dia meyakini 100% kalau Sakti adalah sosok yang non-kompromistis dengan NEPOTISME. Sakti juga sosok yang kongkrit, selama menjabat di daerah lain, kinerjanya terukur, penyelesai masalah yang cepat dan mensejahterakan.

Berkat si Sakti, Bima teguh untuk mulai menyeriusi Pilkada yang akan berlangsung di daerahnya beserta isu-isu politiknya. Dia hendak memilih Sakti sebagai kepala daerah, bahkan dia berimajinasi andai kala Sakti mencalonkan jadi Presiden pun Bima siap mendukung. Sampai kemudian muncul petaka iman dalam benak Bima.

Ceritanya, pada suatu Jumat yang berkah, Seorang pemuka agama tempat dia menimba ilmu, mengabarkan kepadanya bahwa Sakti tidak se-Agama dengan dirinya, petuah orang alim itu diikuti dengan fatwa “haram” hukum memilih pemimpin yang tidak sama agamanya.

Setelah pulang ke rumah, Bima crossceck biografi si Sakti yang luput dari pandangannya. Dia kaget, heran, dan merasa kecewa, bahwa si Sakti yang ia dukung ternyata adalah termasuk salah satu orang kafir yang disebut dalam tafsirannya terhadap kitab suci.

Akhirnya, dia bingung menentukan posisinya. Kebingungan itu lambat laun segera terobati beralih menjadi pandangan apologi bahkan apriori, mengingat tempat lingkungan dia bergaul. Hati Bima benar-benar galau, di sisi lain dia paham bahwa si Sakti itu bagus kinerjanya, adil dan jujur, tapi di sisi lain dia tidak bisa memilih pemimpin yang tidak seagama.

Kira-kira apakah ada yang bias membantu Bima sebelum jauh tenggelam dalam pandangan aksiomatis?

Fenomena Doublethink (Pikiran Ganda)

Fakta tentang Bima ini sebenarnya juga dirasakan oleh banyak orang dalam musim Pilkada akhir-akhir ini. Tentu masih hangat memori kita tentang kontestasi Pak Ahok dan Pak Anis yang banyak menyatir soal ini. Faktanya memang sering kali agama dan politik dianggap, oleh sebagian orang, tidak bisa ditemukan dalam rumah intelektual yang logis-rasional.

Seorang Inggris kelahiran Bengal India George Orwell (1903) pernah mengusik fenomena ini dalam Novel berjudul “1984”miliknya dengan istilah Doublethink, pikiran ganda, (Orwell, 2014: 100-120). Manusia yang dekat dengan realitas tempat dia hidup, akan dipisahkan dari realitas ketika kebenaran yang dia yakini berseberangan dengan kebenaran versi otoritas, baik penguasa atau agama.

Sang pemilik otoritas akan mengeluarkan istilah “pikiran alternatif” di setiap realitas yang terjadi. Maka realitas yang sejatinya benar itu pun akan dicarikan alasannya supaya dianggap sebagai konsep pra-realitas atau “realitas alternatif”. Percabangan pikiran inilah yang menjadi senjata digunakan untuk meminimalisir fakta yang dianggap membahayakan otoritasnya (Orwell, 2014:100-127).

Kembali belajar dari Bima, artinya setiap pesan kebenaran yang masuk dalam benak itu tidak selalu sama dengan pemaknaan akan kebenaran. Realitas keberagamaan, politik bahkan kebudayaan manusia sebagai makhluk sosial, seringkali dihadapkan dalam situasi semacam ini. Agama yang diletakkan pada sisi sakral, ketika tidak bisa memberi jawaban terhadap fenomena politik maupun kebudayaan semacam ini –agama bersifat aksiomatis- lambat laun akan ditinggalkan oleh pemeluknya sebagai paradigma berpikir.

Ketika paradigma agama tidak diterima secara kritis, maka agama menjadi sarang apologi (pembelaan terhadap pandangan atau pendapat seseorang) terhadap seluruh kajian intelektual (Madjid, 2008: 180). Artinya, pendidikan agama akan menghasilkan para intelektual yang pikirannya bercabang, bahasa halusnya mungkin picik atau hipokrit. Para intelektual yang bercabang ini menurut saya dikemudian hari memproklamirkan diri sebagai agen-agen menghasilkan pemikiran liberal, sekuler, bahkan atheis.

Mereka mengusung isme-isme yang menempatkan agama berada pada ruang yang terpisah dengan kajian-kajian ilmu sosial dan ilmiah lainnya. Fenomena isme-isme ini sebenarnya sekaligus bukti kejujuran para intelektual bahwa memang menurut mereka tidak ada irisan logis. Adapun jika logis, seringkali itu bersifat analogis atau komparatif saja tanpa diketahui struktur ilmiahnya (Madjid 2008:180).

Untuk memahami munculnya fenomena doublethink lebih terperinci, kita bisa menggunakan telaah teori kultural dan media Stuart Hall (1932) dalam buku mashurnya yaitu “Media Massa dan Representasi”, juga di “Encoding / Decoding”.

Hall menjelaskan setiap informasi yang didapat masalah selalu terletak pada Negotiated Reading, yaitu proses memahami encoding (perumusan masalah). Proses pemaknaan Negotiated Reading ini seringkali tidak bisa dilepaskan dari struktur hegemoni dari kebudayaan, media, dan ideologi bawaan yang didapatkan dari tempat tinggalnya.

Ketika proses encoding tidak bisa melakukan negosiasi, maka mereka akan mengalami pergulatan dalam melakukan pemecahan. Decoding itu terletak pada kaitan politis, yaitu setiap ada isu selalu bisa dilihat anti-isunya. Disinilah muncul fenomena kontradiksi berpikir dikalangan masyarakat yang bisa difabrikasi oleh penguasa (Hall, 1982: 63-64).

Tantangan Teori Hibridisasi (Persilangan) Identitas

Selama ini arus mainstream dalam mengkaitkan Agama, Politik bahkan Kebudayaan terletak pada wacana cocologi tanpa dasar-dasar epistemik yang kuat. Yang mendaku diri sebagai promotor bahwa Agama itu memiliki kohesifitas dengan politik dan kebudayaan, harus memiliki formulasi yang tidak hanya sekedar mengusung konsep akulturasi atau hal-hal yang berbau peyoratif terhadap kaum-kaum yang dinilai radikalis.

Zainul Milal Bizawie (2018) penulis buku mashur di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) menjelaskan dalam bukunya “Masterpiece Islam Nusantara”, mengutip pemikiran Baso, bahwa Agama yang harusnya bersifat Universal untuk menjadi Rahmatan Lil Alamin.

Maka, dia harus bisa didekati melalui strategi akomodatif-integratif. Strategi yang meniscayakan adanya dialog peradaban antara Agama dan Kebudayaan sehingga menghasilkan suatu corak pandang hibrid atau baru berdasarkan local living contect (Zen, 2018:3).

Tantangan mensinergikan ini tentu tidak mudah. Selain berseliwerannya tulisan-tulisan kaum orientalis dalam hal ini kolonial yang sering menilai bahwa agama itu bersifat apokaliptik ketika dipertemukan dengan realitas, tantangan juga terjadi di kalangan internal Agamawan sendiri yang lebih cenderung mengusung emosi beragama ketimbang emosi intelektualnya.

Ilustrasi kisah Bima di atas adalah sebuah penggalan dimana Agama dipandang tidak memiliki perangkat hibrid ketika bersentuhan dengan realitas sosial. Jikalau demikian, maka penyatuan unsur kebudayaan lokal baik dari segi politik maupun agama, sampai kapanpun menjadi masalah.

Contoh ini sudah aktual muncul, bahkan terkonfirmasi oleh para ahli melalui fenomena konsep “Islam Nusantara” yang dianggap (hanya) sebagai jargon politik, bukan intelektual.

Jika Agama ingin berdiri kukuh dalam proses transformasi sosial, maka perlu digunakan pendekatan Agama yang lues dan luas. Konsep Islam Nusantara, misalnya, harus lebih dikenalkan sebagai proses dialektika lokal dan Agama, meski alih-alih mengusung konsep toleransi –Islam ramah-. Jangan sampai terbalik, alih-alih mengusung Islam Nusantara tapi prakteknya hanya dipenuhi nuansa politisasi Identitas.

Untuk lebih memberi gambaran jelas mengenai persinggungan hibridisasi antara Agama dan unsur kebudayaan, kita bisa meminjam konsep Ben Anderson tentang nasionalisme. Menurut Ben Anderson, karena kesadaran waktu, kesadaran ruang, orang memiliki fasilitas-fasilitas untuk meniscayakan dialog sehingga melahirkan konsep Nasionalisme yang hibrid (Anderson, 1992: 1-10). Saya kira kita juga harus mencari fasilitas-fasilitas yang ada dalam kasus Agama dan Kebudayaan yang sekiranya bisa dijadikan sebagai komunikan.

Saya kira kode tentang fasilitas-fasilitas komunikan itu sudah populer disebut oleh tokoh-tokoh pemikir modern kita. Sebut saja Gus Dur dengan konsep kosmopolitanismenya untuk meletakkan aspek dialog lintas Agama dan Ideologi berdasar pada gagasan tentang kemanusiaan sebelum berbicara ketuhanan. Atau Nurcholis Majid yang mengatakan ada persinggungan rasional yang harus dielaborasi dari pandangan dunia Agama dan Kebudayaan untuk dicari tahu banyak identiknya.

K.H. Imam Mawardi dalam ceramahnya di pelatihan metodologi penulisan Islam Nusantara bahkan meniscayakan sudah ada metodologi untuk meneliti sudut pandang ini melalui pendekatan Maqoshid Syariah. Kuntowijoyo melalui tafsir Islam Profetikanya, yang meninjau kontekstualisasi misi kenabian dari sudut pandang sosiologi dan antropoligis melalui tafsir falsafah kenabian. Saya kira masih banyak yang lain.

 

Refleksi

Menurut saya, yang dialami oleh Bima itu merupakan penderitaan intelektual. Ketika dia merasa tidak menemukan persinggungan logis antara Agama dan Politik. Penderitaan itu tidak sembuh hanya dengan berperilaku alih-alih sembuh, dia harus mendapatkan rujukan yang menyehatkan berupa treathment rasa sakit baik pergi ke dokter atau beli obat di apotik.

Jika pelarian Bima terhadap pilihannya didasarkan atas sikap alih-alih (mungkin bisa kita anggap apologos), maka penyakit itu akan semakin menggerogoti jiwanya, dan menjadi bibit berbahaya dikemudian hari (bisa disebut sebagai bibit radikalisme). Maka untuk menghilangkan tipe berpikir kontradiksi ini, selayaknya dialog harus dikembangkan tanpa unsur sentimen dan emosi semata.

Akal adalah dimensi yang penting dalam berdialog. Bahkan dalam pandangan Islam, itu menjadi syarat bagi seorang mukallaf untuk menjalankan Syariat Islam. Berdebat tanpa melibatkan patron akal hanya akan menghasilkan kesimpulan yang sepihak, bahkan tidak terjadi kesimpulan.

Kasus yang dialami Bima adalah kasus personal. Mungkin secara personal itu bisa disahkan sebagai ekspresi berkeyakinan. Tapi ketika itu sudah dibawa keluar dengan mindset politik dan pembudayaan, tidak bisa tidak itu harus dibawa kepada ruang dialog yang serba terbuka.

Psikologi masyarakat yang lahir dari percabangan pola pikir hanya akan menghasilkan intrik berpecah-belah, apabila hal ini terus dibiarkan tidak menutup kemungkinan perpecahan dan integritas nasional menjadi terganggu. Untuk meminimalisir hal ini, perlu adanya alat-alat metodologis sebagai jala hibridisasi identitas. Tentu ini hanya bisa diwujudkan ketika propaganda “akal sehat” dalam berdialog benar-benar menjadi topik utama.

Terakhir, Agama dalam satu sisi adalah keyakinan yang melekat dalam benak personal, Budaya juga selalu mewarnai laku kehidupan kita. Membenturkan keduanya tanpa pertimbangan epistemologi, hanya akan menyakiti salah satunya. Mari bersama mendialogkannya dan mencari ide sejati yang berkembang dari proses musyawarahnya.

 

Rujukan

Ben Anderson. 1992. Politik, Budaya dan Perubahan Sosial, Ben Anderson dalam Studi Politik Indonesia. Jogjakarta: Bentang

George Orwell. 2013. 1984. Yogyakarta: Titah Surga.

Nurcholis Madjid. 2008. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan

______________. 1984. Kazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Stuart Hall. 1997. Representation Cultural Representations And Signifying Practice. The Open University. Sage Publication. Ltd

Stuart Hall. 1986. Encoding/Decoding. dalam Stuart Hall (ed). Culture,

Media, Language. London: Hutchinhon &Co.

Zainul Milal Bizawie. 2018.  Artikel; MEMETAKAN ‘Historical Trajectory’ baru Islam Nusantara. Surabaya: LTTNU

TENTANG PENULIS

Irfan Al Ayat adalah alumni Ilmu Sejarah FIB Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Irfan

Irfan Al Ayat adalah alumni Ilmu Sejarah, FIB Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post