Menghindari Tiga Bentuk Maksiat Ekonomi di Bulan Suci

Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin lebih menjelaskan tentang maksiat yang sering tidak kita sadari dalam hal yang berkaitan dengan perilaku ekonomi di bulan suci. Paling tidak penulis ingin mengemukakan tiga jenis maksiat ekonomi yang sering dilakukan masyarakat terutama dalam bulan Ramadhan.​

Menghindari Tiga Bentuk Maksiat Ekonomi di Bulan Suci-Abdul Basit-Berpijar
Menghindari Tiga Bentuk Maksiat Ekonomi di Bulan Suci-Abdul Basit-Berpijar
Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin lebih menjelaskan tentang maksiat yang sering tidak kita sadari dalam hal yang berkaitan dengan perilaku ekonomi di bulan suci. Paling tidak penulis ingin mengemukakan tiga jenis maksiat ekonomi yang sering dilakukan masyarakat terutama dalam bulan Ramadhan.

Secara sederhana, maksiat merupakan tindakan yang melanggar hukum moral serta bertentangan dengan perintah Allah (Al-Jauziyah, 2003). Maksiat yang kita ketahui sebagai dosa besar diantaranya zina, syirik, dan juga murtad.

Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin lebih menjelaskan tentang maksiat yang sering tidak kita sadari dalam hal yang berkaitan dengan perilaku ekonomi di bulan suci. Paling tidak penulis ingin mengemukakan tiga jenis maksiat ekonomi yang sering dilakukan masyarakat terutama dalam bulan Ramadhan.

Maksiat yang pertama adalah perilaku konsumtif yang cenderung berlebihan atau mubazir. Yang kedua yaitu Ikhtikar (penimbunan barang dengan motif spekulasi). Yang ketiga yaitu lalai dalam membayar zakat fitrah maupun zakat maal (harta benda).

Secara bahasa, puasa adalah menahan diri dari sesuatu. Hakikat puasa menurut Yusuf Qhardawi (2011) dalam buku “Fiqih Shiyam” adalah “menahan dan mencegah diri dari memenuhi hal-hal yang meliputi keinginan perut dan keinginan kelamin dengan mendekatkan diri kepada Allah”.

Konsekuensi dari menahan diri berarti pula berkurangnya jumlah konsumsi. Namun fenomena yang terjadi permintaan bahan pangan semakin melonjak. Masyarakat cenderung semakin konsumtif dengan membeli makanan dan buah-buahan secara berlebihan dan mengarah kepada perbuatan yang mubazir. Jika stok bahan pangan mencukupi mungkin tidak jadi masalah. Namun, apabila faktor cuaca dan gagal panen, maka stok tidak cukup dan berakibat melonjaknya harga bahan pangan secara masif.

Yang perlu kita penuhi adalah kebutuhan bukan keinginan. Karena kebutuhan akan terasa cukup jika dipenuhi. Namun keinginan tidak akan pernah habis masanya. Padahal Tuhan sendiri sudah mengajarkan kepada hambanya untuk tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum (Al-A’raf 7:31). Upaya tersebut tergolong berat karena media memainkan peran utama dengan kelihaiannya mengiklankan produk yang begitu menggugah selera dan memicu perilaku konsumtif.

Perilaku konsumtif saat Ramadhan mengakibatkan beberapa kejadian yang tidak diinginkan. Ketika permintaan barang semakin naik memunculkan perilaku-perilaku yang kurang etis. Para pedagang yang nakal bisa menimbun barang sektor komoditas untuk meningkatkan keuntungan pribadi. Hal ini dapat mengganggu stabilitas perekonomian nasional. Penimbunan mengakibatkan kelangkaan, terputusnya rantai distribusi, rusaknya mekanisme pasar, dan kenaikan harga barang.

Kelangkaan sumber bahan pokok bukan hanya terjadi karena faktor alam menurunnya pasokan, namun dapat pula disebabkan perilaku nakal tersebut. Perilaku menimbun ini, atau dalam Islam disebut ikhtikar, sangat dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Berdasarkan Hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar, dalam buku Ihya’ Ulumiddin Rosululllah bersabda yang artinya “Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh malam sungguh ia telah terlepas dari Allah dan Allah berlepas dari padanya”.

Perilaku ini merupakan salah satu maksiat ekonomi yang sangat merugikan masyarakat secara luas. Bagi masyarakat yang mempunyai gaji tetap, mereka akan sangat terjerat dan kekurangan dalam menghadapi kebutuhan bulan Ramadhan dan persiapan lebaran. Bisa jadi keberkahan pun akan semakin berkurang bagi pedagang karena sama saja menikmati keuntungan diatas penderitaan masyarakat secara luas. Fenomena perilaku konsumtif dan ikhtikar memang sering terjadi dalam bulan Ramadhan dengan segala konsekuensi yang diakibatkan.

Perilaku maksiat ekonomi selanjutnya yang tidak kalah merugikan adalah permasalahan zakat. Ya, Ramadhan adalah momen kewajiban bagi seluruh muslim untuk melaksanakan rukun Islam yang ketiga, yaitu membayar zakat.

Zakat yang sebagian besar diketahui yaitu menyerahkan beras sekitar 2.5 kg atau makanan pokok lain kepada delapan golongan yang berhak menerima. Meskipun terlihat sepele, namun banyak pula yang tidak membayarkan zakat. Padahal zakat ini merupakan penyempurna ibadah puasa yang mensucikan seluruh harta benda.

Penulis tidak akan membahas lebih jauh mengenai zakat fitrah tersebut. Hal yang ingin diungkap penulis adalah jenis zakat lain yang memiliki potensi sangat besar baik secara mikro maupun makro, yaitu zakat maal (harta benda). Zakat ini wajib dibayarkan oleh muslim yang mempunyai harta benda wajib zakat yang telah mencapai nishabnya. Berlaku untuk para peternak kambing, sapi, kerbau, petani padi, jagung, gandum dan lain-lain.

Zakat maal lain yang wajib dibayarkan adalah zakat penghasilan kerja. Banyak yang belum sadar bahwa 2,5% dari jumlah harta penghasilan adalah hak orang yang kurang mampu dari 8 golongan. Sebagian besar umat muslim merasa bahwa dirinya tidak wajib membayar zakat. Padahal zakat dan sedekah tidak harus menunggu kaya.

Ketua Forum Zakat Bambang Suherman menyatakan bahwa tahun 2017 potensi zakat di Indonesia mendekati angka 300 Trilyun. Namun yang terserap hanya sebesar 13, 4 T saja. Fakta tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia wajib zakat yang belum membayarkannya. Padahal jika potensi zakat optimal bisa digunakan untuk membantu warga Indonesia sebanyak 26,8 juta jiwa yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Penyebab dari kurang optimalnya potensi zakat tersebut diakibatkan karena masih banyaknya orang yang membayarkan zakat harta benda secara langsung tanpa perantara lembaga penyalur. Hal ini berimplikasi bahwa zakat tersebut hanya berguna secara konsumtif bagi penerima zakat (mustahiq) dan tidak berkelanjutan.

Sebagai contoh orang yang membayar zakat atau sedekah secara langsung baru-baru ini, yaitu pembagian sembako oleh “Forum Untukmu Indonesia” di kawasan Monumen Nasional (Momas). Tejadi tragedi meninggalnya 2 anak adalah kejadian yang memilukan (meskipun disinyalir kematian tersebut bukan karena antrean sembako).

Terlepas dari kasus itu alangkah baiknya jika harta benda tersebut disalurkan melalui lembaga zakat yang akan lebih efektif pembagiannya. Padahal jika sudah terdapat lembaga amil zakat, Islam menganjurkan membayarkan zakat melalui amil tersebut. Hal ini dibuktikan dengan hadist Rasululloh dalan Bukhari muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rosulullah telah mengutus Umar Ibnu Lutbiah sebagai petugas pemungut zakat.

Dewasa ini LAZ (Lembaga Amil Zakat) keberadaannya sudah banyak menjamur di tengah-tengah masyarakat. Kemudahan dalam membayar zakat dan berbagai program pemberdayaan dari hasil zakat tersebut merupakan program-program yang ditawarkan. Pemberdayaan dan manfaatnya dapat diterima oleh para UMKM, fakir miskin, pembinaan pendidikan Al-Qur’an dan masih banyak lagi.

Keuntungan lain jika membayarkan melalui LAZ kita bisa dihitungkan berapa wajib zakat yang perlu kita bayarkan. Muzakki (pembayar zakat) juga dapat memantau memastikan kemana penggunaan dan pengelolaan harta zakat tersebut disalurkan. 

Selain karena belum sadarnya masyarakat dengan peran LAZ, para wajib zakat juga banyak yang merasa tidak wajib membayarnya. Banyak umat Islam sangat patuh dan keras dalam memerintahkan untuk syahadat dan sholat. Begitu pula dengan menganjurkan untuk puasa dan berlomba-lomba menabung untuk Umroh atau Haji. Namun pelaksanaan rukun Islam yang ketiga ini seperti disepelekan oleh sebagian besar umat muslim.

Hemar penulis, lebih baik kalau membayar zakat jika melalui LAZ. Selain membantu efektifitas pengelolaan zakat, kita juga bisa membantu optimalisasi potensi zakat demi pertumbuhan ekonomi dan kenaikan daya beli masyarakat yang kurang mampu. Alangkah baiknya jika kita melakukan pengakuan membayar pajak melalui tax amnesty, tidak ada salahnya juga kita semangat dalam menerapkan zakat amnesty dimulai dari diri kita sendiri.

Berdasarkan berbagai uraian diatas mengenai 3 kemaksiatan dalam ekonomi saat bulan Ramadhan, penulis menyatakan bahwa perbuatan konsumtif, ikhtikar, dan menghindari zakat adalah perilaku maksiat ekonomi, yang sebagiannya sangat berpotensi merugikan stabilitas perekonomian negara.

 

Rujukan

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. 2003. Penawar Hati yang sakit. Jakarta: Gema Insani Press.

Yusuf Qardhawi. 2011. Fiqih Puasa. Solo: Era Intermedia.

Syekh Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozaly Al-Thusy, Ihya’ Ulumiddin Juz 2, hlm. 370.

Kiblat.net. 2018. Forum Zakat: Potensi Zakat di Indonesia Capai Rp 217 Triliun. [Online] Tersedia di: https://www.kiblat.net/2018/03/05/forum-zakat-potensi-zakat-di-indonesia-capai-rp-217-triliun/. Diakses 14 Mei 2018, 11:20 WIB.

TENTANG PENULIS

Abdul Basit adalah mahasiswa S1 Ekonomi Islam di FEB, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Write a response to this post