Cambridge Analytica dan Politisasi Facebook Sebagai Media Pemasaran

Cambridge Analytica dalam mengartikulasikan Big Data menjadi data matang berhasil mengimplementasikan taktis politik bagi Trump dengan cara menjadikan Facebook sebagai lahan basah bagi pemasaran.

Cambridge Analytica dan Politisasi Facebook Sebagai Media Pemasaran-Dimas LF-Berpijar
Cambridge Analytica dan Politisasi Facebook Sebagai Media Pemasaran-Dimas LF-Berpijar
Ilustrasi Cambridge Analytica. (Foto: Flickr)
Cambridge Analytica dalam mengartikulasikan Big Data menjadi data matang berhasil mengimplementasikan taktis politik bagi Trump dengan cara menjadikan Facebook sebagai lahan basah bagi pemasaran.

Era digital kian lama menjadi kawasan baru bagi akselerasi praktik politik terutama soal kontestasi politik termasuk pemilu dalam bagian marketing dan ramalan politik (political forecasting). Hal ini boleh layak kita sebut sebagai bagian dari transformasi atau bahkan dalam kurun waktu tertentu ini menjadi sebuah revolusi atas pembaharuan dan perombakan sistem dalam menentukan kecenderungan politik.

Pasca  presidential election Amerika Serikat pada tahun 2016, acapkali terdengar kabar bahwa ada pihak dibalik Trump yang turut membantu akselerasi kampanyenya. Pihak atau institusi ini dikenal dengan Cambridge Analytica, sebuah badan yang bergerak pada data analyst termasuk collecting data untuk kepentingan komersial maupun politik, termasuk sebagai salah satu konsultan politik yang fokus pada strategi melalui Big Data.

Cambridge Analytica atau CA dikenal sebgai institusi yang menggeluti proses Big Data dalam membaca analisis psychographic untuk menentukan arah pemasaran dari suatu produk, dalam politik maka produk yang ditawarkan adalah kandidat.

Big Data merupakan kumpulan data yang tidak terkondisikan, dalam arti tidak terstruktur dan masih berbentuk data acak dari pelbagai sumber. Andrea Ceron, Luigi Curini dan Stefano Maria Lacus dalam “Politics and Big Data” (2017) memberikan petunjuk ringkas dalam menerjemahkan apa yang dimaksud dengan Big Data.

Merujuk dalam bukunya, Big Data merupakan akumulasi bukti (data) yang berukuran cukup besar dan berasal dari sumber-sumber yang varian. Kata ‘Big’ merujuk pada konsep bahwa hal ini merupakan suatu hal yang kompleks, belum terstruktur dan membutuhkan bagian penting dari analisa statistik yang komprehensif.

Sehingga, Big Data bukan melulu soal collecting data saja, namun lebih dari itu membutuhkan analisa terstruktur (Dalton, 2016). Big data biasa digunakan dalam melakukan analisis pasar, terutama soal politik, analisis ini diperlukan sebagai pemetaan terhadap pemilih dan menyusun strategi pemasaran.

Facebook Target Pemasaran

Strategi mutakhir yang pernah nampak dalam jagad perpolitikan baik ditingkat domestik maupun Internasional adalah tentang bagaimana Big Data mampu menciptakan iklim politik. Sebagai sebuah contoh, CA (Cambridge Analytica) membuat serangkaian cara dengan menciptakan opini publik berdasarkan hasil pemetaannya menurut data ruang publik yang tersebar media jejaring semacam Twiter, Facebook dan lainnya.

CA berhasil membuat Trump menang dalam proses marketing kampanyenya, walau CA terjerat dalam skandal pelanggaran data (Facebook) terbesar yang pernah terjadi (theguardian.com; 23/3/2018).

Dalam contoh kasus ini, pertanyaan serius adalah tentang bagaimana media sosial dalam hal ini Facebook menjadi bagian penting dalam kampanye politik yang membantu pergerakan swing pemilihan. Pada kasus ini, digitalisasi marketing adalah kuncinya, bahwa CA tidak perlu melakukan pemasaran secara luas oleh dirinya sendiri akan tetapi ia membentuk orang (berdasarkan akun) untuk memasarkan produknya.

Cambridge Analytica dalam mengartikulasikan Big Data menjadi data matang berhasil mengimplementasikan taktis politik bagi Trump dengan cara menjadikan Facebook sebagai lahan basah bagi pemasaran. Ringkasnya, CA membuat suatu survei digital dalam perangkat Facebook yang diakses oleh tiap akun dengan tahapan mengisi pertanyaan/kuis tertentu.

Sebelumnya Christoper Wylie mantan pekerja CA menyebutkan, jika ingin membentuk bangunan algoritma maka yang dibutuhkan adalah training setnya. Yakni jika ingin memprediksi likes pada Facebook untuk mengetahui karakteristik kepribadian dan psikologi seseorang, maka yang diperlukan adalah aktivitas pengamatan secara bersamaan. Salah satu cara yang dilakukan untuk hal ini adalah melalui survei/quiz semacam BuzzFeed yang berisikan kuis kepribadian dan psikologis (theguardian.com; Alex Hern; 6/5/2018).

Nasib Data Pengguna Facebook

Masih berlanjut pada kasus diatas, survei yang dilakukan melalui aplikasi yang disediakan oleh CA tidaklah gratis, melainkan mereka akan membayar akun atau responden yang mengisi survei itu dengan rentang upah sebesar $2 sampai $5. Proses yang terjadi adalah suatu user membuka aplikasi tersebut, mendaftar dan menerima voucher payment code.

Selanjutnya aplikasi tersebut melakukan penghisapan data user sebanyak-banyaknya termasuk soal teman, likes, lokasi, nama dan lain sebagainya. Lalu bagaimana menentukan apakah user tersebut merupakan pemilih dalam pemilu? Jawabannya adalah That’s Big Data!.

Data analyst CA akan mencocokan user tersebut dengan data daftar pemilih dari bank data yang mereka miliki. Seorang user yang terdaftarkan pada survei aplikasi tersebut secara tidaklangsung juga memungkinkan teman Facebooknya mendaftar survei tersebut sehingga data yang didapat oleh CA tentang profil dan karakteristik pengguna Facebook bernominal hingga jutaan.

Artikel oleh Alex Hern dalam The Guardian yang berjudul “Cambridge Analytica: How did It Turn Clicks Into Votes?” Dalam ilustrasi tentang bagaimana 50 juta data pengguna Facebook terbajak (Guardian Graphic; 2018). Alex menyertakan gambaran tentang bagaimana situasi dan tahapan seorang user Facebook yang menjadi ‘seller’ kampanye politik sekaligus sebagai ‘korban’ atas penggelapan data bagi CA.

Pertama, sekitar kurang lebih 300.000 pemilih AS (calon data) dibayar sekitar $2-5 agar mereka mengambil tes/survei/kuis kepribadian dan psikologi politik yang terperinci dan mengharuskan mereka untuk log in menggunakan akun Facebooknya. Kedua, aplikasi tersebut mengakumulasikan data pribadi termasuk data akun teman Facebook yang masuk dalam bentuk ‘data mentah’.

Ketiga, hasil kuis yang ada dipasangkan/dicocokan dengan profil karakteristik akun mereka untuk mencari pola psikologisnya. Keempat, sekali lagi algoritma bekerja dengan menggabungkan data dengan sumber lain semacam daftar pemilih di tiap negara bagian.

Kelima, setelah transformasi data diatas selesai, maka user tersebut diikuti oleh segala macam iklan sangat dipersonalisasikan berdasarkan karakteristik profil user. Artinya user tersebut secara sekuensial akan menerima informasi semacam kampanye politik yang disesuaikan dengan karakteristik profil mereka. That’s how big data works!

 

Rujukan:

Ceron, Andrea, dkk. 2017. Politics and Big Data: Nowcasting and Forecasting Elections with Social Media. New York: Routledge.

Alex Hern (6 May 2018) “Cambridge Analytica: How did it Turn Clicks into Votes ?” Dalam media The Guardian.

Guardian Graphics (6 May 2018) “Cambridge Analytica: How 50 Millions Facebook Records were Hijacked”

TENTANG PENULIS

Dimas Lazuardy Firdauz adalah alumni Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, PusDeHAM Surabaya.

BACA JUGA

Write a response to this post