Iqbaal Ramadhan Menjadi Minke dan Hancurnya Superioritas Novel Bumi Manusia

Iqbal Ramadhan Menjadi Minke dan Hancurnya Superioritas Novel Bumi Manusia-Redaksi-Berpijar
Iqbal Ramadhan Menjadi Minke dan Hancurnya Superioritas Novel Bumi Manusia-Redaksi-Berpijar
Dari kiri ke kanan: Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh, Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, dan Mawar Eva de Jongh sebagai Anneleis dalam konferensi pers film"Bumi Manusia" yang akan disutradarai Hanung Bramantyo dibawah naungan Falcon. (Foto: Bambang E Ros/Bintang.com)
Pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke sebenarnya masuk akal, tentu secara pertimbangan komersil.

Celoteh sinis begitu deras mengalir di dunia maya setelah mendengar film “Bumi Manusia”, sebuah film yang diangkat dari novel legendaris karya Pramodya Ananta Toer dengan judul yang sama, akan segera mulai dikerjakan. Pasalnya, Hanung Bramantyo selaku sutradara film tersebut mendapuk Iqbaal Ramadhan untuk memerankan sosok Minke, tokoh utama dalam novel tersebut.

Iqbaal menjadi materi ghibah utama karena dipandang kurang pantas untuk memerankan Minke, entah karena alasan fisik, pendalaman karakter hingga persepsi publik mengenal Iqbaal sebagai Dilan di film “Dilan 1990” dan mantan personil Coboy Junior.

Terlepas dari banyaknya komentar miring terhadap film ini, pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke sebenarnya masuk akal, tentu secara pertimbangan komersil. Nama Iqbaal tidak bisa terpisahkan dari debut film pertamanya yang meraih sukses besar di pasaran, yakni film Dilan 1990 yang mampu meraup 4,7 juta lebih penonton dan menjadikan film tersebut bertengger di posisi kedua dalam daftar film Indonesia terlaris (dibawah film DKI Reborn Part I).

Dia juga menjadi sosok yang membuat banyak para remaja perempuan terpukau dengan aktingnya. Iqbaal menjadi ikon yang mungkin dapat diharapkan mampu membawa penonton Dilan 1990 ke dalam film Bumi Manusia yang akan segera rilis.

Sekedar perbandingan, strategi serupa juga juga dapat ditemui dalam film “Gie” (2005), sebuah film yang menceritakan seorang aktifis mahasiswa berdarah Tionghoa yang dikenal sebagai demonstran dan juga pecinta alam. Film ini merupakan adopsi dari catatan harian Gie sendiri yang laris di pasaran berjudul “Catatan Seorang Demonstran” (1983).

Riri Riza sebagai sutradara film tersebut meminang Nicholas Saputra sebagai pemeran utama Soe Hok Gie. Nama Nicholas Saputra juga tidak bisa dilepaskan dari keberhasilannya memerankan aktor Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang berhasil mengumpulkan 2,7 juta penonton.

Bahkan, gaya Rangga yang diperankan Nicholas waktu itu menjadi role model bagi anak muda pada awal tahun 2000an: cowok pendiam, romantis dan kadang-kadang temperamen. Film ini tidak lepas dari banyak kritik karena menjadikan Nicholas yang berwajah Indo tidak cocok memerankan Gie yang berdarah Tionghoa.

Ada titik kesamaan antara film “Gie” dan “Bumi Manusia”, keduanya bersumber dari adaptasi dari karya sastra, baik berupa novel maupun prosa sastra lainnya yang kemudian difilmkan. Selain itu, keduanya merupakan karya yang sama-sama memiliki muatan “kiri”.

Novel “Bumi Manusia” memiliki kekuatan historis dan posisi tersendiri dalam blantika karya sastra di Indonesia. “Bumi Manusia” merupakan bagian pertama dari Tetratologi Buru yang merupakan produk penelitian Pramodya Ananta Toer pada awal tahun 1960-an untuk menelisik awal mula pembentukan bangsa Indonesia. Novel tersebut juga telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 33 bahasa.

Sayangnya, ketika Orde Baru, novel tersebut dilarang untuk beredar di pasaran. Baik Pram maupun karya-karyanya mengalami tindakan pengekangan luar biasa dari politik hukum Era Soeharto atas dalih menyingkirkan segala atribut atau sesuatu yang bermuatan komunis. Sampai pada awal reformasi, buku tersebut baru dapat dijumpai di berbagai toko buku.

Sedangkan dalam film “Gie” nampak jelas menjadikan peristiwa 65 sebagai latar belakang kisah dan memutar lagu “Genjer-genjer”, sebuah lagu yang identik dengan PKI.

Kesamaan lainnya yang bisa dimasukkan disini adalah penentuan sosok tokoh utama dalam film. Baik Gie dengan Nicholas Saputra, maupun Minke dengan Iqbaal Ramadhan sama-sama dapat dipahami sebagai salah satu strategi pemasaran film agar dapat menjangkau sebanyak mungkin penonton. Tentu penilaian demikian mengalpakan analisis seputar para pelaku lain yang ikut memproduksi film ini, baik dari segi sutradara maupun rumah produksinya. 

Berkaca dari film “Gie”, ternyata popularitas Nicholas Saputra kurang bisa menarik penonton sebagaimana dalam film AADC. Hal tersebut terbukti ternyata film “Gie” hanya mampu meraup sekitar 350 ribu penonton.

Lantas apakah dengan menggaet Iqbaal Ramadhan tidak pula akan dapat menarik banyak penonton? Terlalu tergesa-gesa untuk menyimpulkan demikian.

Hal yang harus diakui terlebih dahulu, “Bumi Manusia” adalah novel yang lebih dulu begitu populer dan pastinya memiliki cakupan fans yang jelas, sebagaimana novel Dilan karya Pidi Baiq. Namun, tentu pihak perusahaan film tersebut tidak mau mengambil resiko dengan hanya bersandar pada pemikiran tersebut.

Apalagi segmentasi penggemar “Bumi Manusia” pasti sangat ribet dan permintaannya terlalu banyak. Ketika sebuah novel legendaris yang berbicara tentang novel sejarah Hindia Belanda di awal abad 20 yang begitu luar biasa tersebut diadaptasi menjadi bentuk film, tentu bobot psikologis emosional bagi pembaca ini akan berbeda dengan penggemar novel cinta ala Pidi Baiq.

Seperti diketahui, salah satu hal yang menonjol dalam novel “Bumi Manusia” adalah pergolakan batin seorang terpelajar pribumi yang serba rumit, antara kemodernan dan tradisional, tentang realitas kolonial sebagai bangsa yang diagungkan tapi agak heran dengan apa yang mereka lakukan kepada pribumi di Hindia Belanda, tentang cinta dan cita-cita dan seterusnya dan sebagainya. Kompleksitas pergulatan batin dan penokohan yang kuat bagi masing-masing karakter dalam novel tersebut akan sangat susah untuk ditampilkan melalui gambar gerak.

Kembali ke soal Iqbaal sebagai Minke. Alasan Hanung sendiri memilih Iqbaal sebagai Minke karena menilai sedikit banyak karakternya hampir sama. Berikut ini kutipan ucapannya, “Pada saat itu Eropa kemajuannya luar biasa. Baik teknologi dan fashion, itu yang dilawan oleh Minke. Itu persis sama anak milenial itu. Menjadi global yang diidam-idamkan saat ini. Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat yah jadilah Minke,” (dikutip dari dream.co.id,25/05/2018).

Di sini Hanung hendak menegaskan karena Iqbaal mewakili generasi milenial modern yang bersekolah di luar negeri, maka ada titik perjumpaan karakter yang sama di dalam diri mereka. Sayangnya Hanung tidak memperhatikan aspek lain semisal fisik Minke dalam novel yang digambarkan tidak tampan bagi orang Eropa sehingga sampai dipanggil Minke (Monkey). Maupun soal yang lebih subtantif misalnya soal pendalaman karakter yang harus dipahami Iqbaal lebih jauh tentang Minke dan seterusnya.

Sehingga, dugaan menjadikan Iqbaal menjadi Minke tidak bergeser dari orientasi perluasan pasar film tersebut bagi anak remaja. 

Itu merupakan kritik dari berbagai kalangan pecinta novel “Bumi Manusia” dengan menjadikan Iqbaal sebagai Minke. Yang dikhawatirkan adalah, banyak aspek dalam novel akan benar-benar tergerus dengan konsekuensi rela meninggalkan para penggemar novel “Bumi Manusia”, dan beralih menjadikan hanya Iqbaal, kekuatan promosi (apalagi Falcon memiliki reputasi baik dalam hal marketing film, baca Marketer.com, 26/09/2016) dan kontroversialnya sebagai daya tarik untuk mendapatkan banyak penonton dari berbagai kalangan, terutama remaja urban.

Dan konsekuensinya, sebagaimana diungkapkan dan dikhawatirkan banyak orang, film Bumi Manusia hanya akan mengeksplorasi kisah cinta antara Minke dan Annelies. Karena ini yang paling mudah dipahami dan banyak memikat. Sejenis kisah cinta remaja di era penjajahan.    

Penutup

Penutup ini ditujukan untuk sedikit penghibur bagi pecinta “Bumi Manusia” agar tidak terlalu kecewa ke depannya tatkala filmnya tidak sesuai dengan ekspetasi ketika membaca novelnya.

Mengutip George Blustone (1956) dalam bukunya berjudul “Novels into Film” menyatakan, proses menjadikan sebuah novel menjadi bentuk film bukan hanya persoalan transformasi wujud material yang berbeda saja, dari hanya sekedar tulisan menjadi punya suara, gerak dan gambar yang hidup, tapi juga melingkupi aspek orisinilitas, perpindahan substansi karya dan para audiens yang menikmati itu juga berbeda.

Sebuah film yang mengadaptasi dari novel tidak akan mungkin mampu memindahkan keseluruhan isi dari novel tersebut. Adapatasi tersebut berlangsung menjadi parafrase dari novel yang kemudian disaksikan sebagai materi yang “mentah”. Lebih lanjut Blustone menjelaskan bahwa pembuat film bukan menjadi penerjemah bentuk bagi penulis novelnya, tapi sebagai penulis baru bagi film yang diproduksinya.

Menyepakati kutipan di atas, untuk sedikit mengurangi potensi rasa kecewa terhadap film Bumi Manusia mendatang, kita bisa berasumsi bahwa Bumi Manusia yang difilmkan tersebut merupakan karya Hanung, sedangkan Novelnya tetap karya Pramoedya.

Daripada kita dengan penuh kekhawatiran akan menemukan sebuah film yang dapat menghancurkan atau mereduksi superioritas sebuah novel. Namun bagaimana pun juga, novel hebat tetaplah menjadi novel hebat, seburuk apa pun adaptasi bentuk film dari novel tersebut mengikis sakralitasnya.

“Kita Kalah, Ma,” Bisik Minke.
Nyai Ontosoroh menjawab, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”


(Kutipan dialog penutup dalam Novel Bumi Manusia)

TERBARU DARI BERPIJAR

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post