Derasnya Gelora Revolusi Industri 4.0, Kilatnya Laju Pendidikan Nusantara

Derasnya Gelora Revolusi Industri 4.0, Kilatnya Laju Pendidikan Nusantara-Syekha Maulana-Berpijar
Derasnya Gelora Revolusi Industri 4.0, Kilatnya Laju Pendidikan Nusantara-Syekha Maulana-Berpijar
Basis Revolusi Industri 4.0 adalah digitalisasi, ilmu komputer dan analisis big data. Disebut revolusi karena kemungkinan dampak sangat besar bagi peradaban manusia.

Sejarah mencatat, revolusi industri adalah sebuah fase gemilang yang menghiasi kemajuan perekonomian dunia. Dimulai pada tahun 1700-an di Inggris, serangkaian penemuan memicu perubahan terbesar dalam kehidupan manusia, salah satunya penemuan mesin uap oleh James Watt (1736-1819) mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap laju perkembangan teknologi dan kesejahteraan masyarakat. Keseluruhan proses, inovasi teknis dan sosial perubahan diambil bersama-sama, disebut Revolusi Industri (Almanac, 1946).

Kini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0. Basis Revolusi Industri 4.0 adalah digitalisasi, ilmu komputer dan analisis big data. Disebut revolusi karena kemungkinan dampak sangat besar bagi peradaban manusia. Revolusi ini akan berjalan sangat cepat, dengan menekankan pada kemampuan artificial intelligence atau kecerdasan buatan.

Dalam hal ini perlu kesiapan peran pendidikan sebagai imbas peralihan kebutuhan tenaga kerja di industri. Misalnya pekerjaan mekanis atau yang membutuhkan keterampilan rendah akan digantikan oleh otomatisasi mesin. Sedangkan pekerjaan yang membuhkan kreativitas atau ketrampilan tinggi akan semakin banyak dan cuma bisa diisi oleh manusia.

Namun, revolusi ini tidak datang tanpa membawa masalah baru. Sebut saja ketidakmampuan pemerintah membuat regulasi terkait model bisnis dengan teknologi baru, fragmentasi sosial hingga berpotensi melebarkan ketimpangan ekonomi.  Revolusi industri 4.0 juga digadang-gadang akan menggerus tenaga kerja atau merayapnya permasalahan pengangguran.

Menjawab permasalahan diatas Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) mengatakan, pemerintah bakal membenahi sistem pendidikan berbasis keahlian, untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang sesuai tuntutan revolusi industri 4.0.

Sehingga, dibalik isu kesenjangan social-ekonomi yang menjangkit ketika gencarnya revolusi Industri 4.0, ada harapan baru akan pertumbuhan ekonomi yang pesat nantinya karena kemajuan teknologi (Internet of Think), peningkatan kualitas manusia melalui bidang pendidikan berkualitas serta berdampak pada tingkat kesejahteraan yang mumpuni dan merata. 

Berdasarkan teori pertumbuhan model Solow-swan, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi dan tingkat kemajuan teknologi. Dalam penelitiannya, Solow (1957) mengatakan bahwa peran dari kemajuan teknologi di dalam pertumbuhan ekonomi sangat tinggi.

Pandangan teori ini didasarkan kepada angapan yang mendasari analisis klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai dimana perekonomian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi.

Profesor Klaus Schwab sebagai penggagas World Economic Forum (WEF) melalui bukunya The Fourth Industrial Revolution menyatakan, revolusi ini secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain. Revolusi industri keempat digadang-gadang mampu meningkatkan laju mobilitas informasi, efisiensi organisasi industri, dan membantu meminimalisasi kerusakan lingkungan.

Pemerintah dirasa mampu melihat cahaya dalam kemajuan teknologi ini untuk kemakmuran masyarakat. Dibuktikan kesiapan tiap kementerian, salah satunya Menteri Nasir dalam forum pendidikan internasional mengemukakan bahwa Indonesia melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), mengundang Perguruan Tinggi terbaik di dunia untuk bekerja sama dalam meningkatkan mutu Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia, mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan tinggi, terutama yang sangat terkait erat dengan persiapan sumber daya manusia dalam menghadapi Revolusi Industri ke-4.

Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru dalam bidang pendidikan tinggi, dalam rangka membersiapkan sumber daya manusia yang kompeten di masa depan. Tiga literasi baru tersebut adalah ‘Data Literation’, ‘Technology Literation’ dan Human Literation.

Literasi Data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari Big Data dalam dunia digital. Literasi Teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mechanic dan teknologi dalam dunia kerja, seperti ‘Coding’, ‘Artifical Intellegence (AI)’, dan prinsip-prinsip teknik rekayasa (engineering principles). Sedangkan Literasi Manusia (Sumber Daya Manusia, SDM) adalah dalam bidang Kemanusiaan, Komunikasi dan Desain (Rancangan)  yang perlu dikuasai oleh semua lulusan Sarjana di Indonesia.

Alhasil, masyarakat tak perlu khawatir akan hilangnya pekerjaan mereka karena tergantikan teknologi. Pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi yang tepat untuk menyambut era digitalisasi ini. Kolaborasi dan sinergi manusia dan mesin ini menghasilkan nilai tambah, efektifitas, dan efisiensi yang merupakan kunci dalam menjalankan sebuah Industri.

Sehingga, Revolusi industri 4.0 menjadi harapan baru dalam mengoptimalkan potensi sumberdaya secara efisien. Apalagi disertai dengan peningkatan bidang pendidikan yang sesuai arus kebutuhan, akan menjadi tonggak pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi Indonesia yang merata

TENTANG PENULIS

Syekha Maulana adalah mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Syekha Maulana

Syekha Maulana adalah mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post