Film The Fox Exploits the Tiger’s might (2015): Sebuah Gambaran Representasi Identitas Etnis Tionghoa di Era Orde Baru (Bagian 1-2)

The Fox Exploits the Tiger's Might-AH Bas-Berpijar
Gambar: IMDB
Film ini menunjukkan bahwa pada konteks Orde Baru, hubungan negara terhadap etnis Tionghoa tidak serta merta berupa penindasan.

Tulisan ini berfokus untuk mendeskripsikan representasi identitas etnis Tionghoa pada konteks Orde Baru dalam film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015) melalui analisis semiotik. Penulis tertarik untuk membahas permasalahan ini karena etnis Tionghoa adalah etnis minoritas yang banyak mendapatkan diskriminasi dari bidang politik, sosial, dan budaya pada masa Orde Baru.

Namun di sisi lain, rezim Orde Baru memberikan keleluasaan bagi etnis Tionghoa dalam bidang ekonomi. Hal ini membuat posisi antara etnis Tionghoa dan pemerintah Orde Baru bersifat interdependensi (saling ketergantungan).

Interdependensi menurut Ikbar (2007 dalam Devita & Septriarini, 2016) merupakan saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing kriteria melalui keunggulan komparatif. Kepemilikan atas kekurangan serta kelebihan pada masing-masing pihak membuat ketergantungan antara etnis Tionghoa dan pemerintah Orde Baru dapat dimungkinkan.

Film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015) menjadi menarik karena tidak hanya bercerita pada diskriminasi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru pada etnis Tionghoa, namun juga berusaha memujudkan penggambaran atas relasi kuasa yang bersifat interdependensi antara rezim Orde Baru (dalam film ini diwakili militer) dan etnis Tionghoa.

Film ini menunjukkan bahwa pada konteks Orde Baru, hubungan negara terhadap etnis Tionghoa tidak serta merta berupa penindasan. Melalui film ini, etnis Tionghoa pada satu posisi juga dibutuhkan oleh negara atas kekuatan ekonomi yang dimilikinya. Kekuatan ekonomi ini membuat etnis Tionghoa juga dapat memberikan tekanan pada negara. Inilah ide besar yang menggulirkan cerita pada film ini.

Konteks peristiwa yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, membuat adanya keterbatasan dalam mengakses realita tersebut. Sehingga pemanfaatan media untuk mengakses ulang realita tersebut menjadi penting. “Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar” (Sobur 2004:126).

Ada dua unsur dalam film menurut Pratista (2008) yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif berkaitan dengan materi yang akan dibahas dalam film, aspek cerita atau tema film. Sedangkan unsur sinematik berkaitan dengan cara mengolahnya atau aspek-aspek teknis berkaitan dengan pembuatan film itu sendiri. Kedua unsur tersebut dapat menjadi kekuatan film untuk menjangkau segmen-segmen sosial. Dua unsur inilah yang nanti akan menghasilkan representasi yang disampaikan oleh film pada penontonnya.

Film The Fox Exploits the Tiger’s Might (2015) yang dirilis pada tahun 2015 tak terlepas dari peristiwa Pemilu Presiden 2014 yang menjadi inspirasi dari Sutradara film ini. Menurut data yang diperoleh dari (bbc.com, diakses pada tanggal 19 Desember 2016), Lucky Kuswandi membuat film ini ketika Indonesia selesai menggelar pemilihan presiden. Salah satu capres diduga terlibat dalam pelanggaran HAM pada masa Orde Baru, yaitu penculikan aktivis dan kerusuhan terhadap etnis Tionghoa pada mei 1998.

Namun menariknya, ternyata calon ini didukung oleh beberapa etnis Tionghoa kaya. Hal inilah yang membuat Lucky Kuswandi tertarik untuk membuat film ini. Melalui film ini, dapat diungkap bahwa terjadi hubungan interdependensi antara militer dan etnis Tionghoa.

Calon Presiden yang dimaksudkan adalah Prabowo Subianto. Capres ini adalah mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sejak 1 Desember 1995 sampai 20 Maret 1998, sebelum kemudian mengemban tugas sebagai Panglima Kostrad dan langsung dicopot usai Soeharto mundur (kumparan.com, diakses pada tanggal 21 Mei 2017).

Pencopotan jabatan ini adalah ujung dari tuduhan bahwa dia mengerahkan pasukan sepihak selama kerusuhan 1998. Ia juga dituduh sebagai dalang kekerasan atas etnis Tionghoa yang terjadi di beberapa kota di Indonesia pada peristiwa mei 1998. (kumparan.com, diakses pada tanggal 21 Mei 2017).

Pernyataan Lucky Kuswandi terkait film yang disutradarainya menjadi hal yang menarik perhatian penulis karena Ia juga merupakan seorang keturunan etnis Tionghoa yang pernah merasakan hidup pada rezim Orde Baru.

Lucky Kuswandi sebagai keturunan etnis Tionghoa banyak mengalami politik asimilasi di zaman tersebut, permainan kekuasaan pada saat itu diistilahkan oleh Lucky Kuswandi sebagai permainan kekuasaan yang “cair”. Hal ini tak terlepas dari kondisi keturunan etnis Tionghoa diberi keleluasaan dalam bidang ekonomi, namun dikekang secara politik dan budaya.

Kerusuhan terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998 adalah titik kulminasi dari sebuah rasa benci dan prasangka yang ditanam rezim Orde Baru sejak awal berdiri. Kebencian terhadap etnis Tionghoa tak dapat dilepaskan dari tuduhan Orde Baru bahwa etnis ini ikut terlibat dan mendukung gerakan 30 September 1965. Inilah permasalahan yang semakin memperumit posisi etnis Tionghoa di Indonesia.

Menurut Eriyanti (2006), pemerintah orde baru masih meragukan nasionalisme keturunan etnis Tionghoa. Hal ini karena mereka dicurigai masih beriontasi pada Republik Rakyat Cina (RRC) dan lebih spesifik pada Partai Komunis Cina (PKC). Kecurigaan ini berujung pada tuduhan bahwa etnis Tionghoa di Indonesia ikut serta dalam membesarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ikut serta dalam pemberontakan G-30-S/PKI.

Kembali kepada persoalan Prabowo Subianto yang didukung oleh beberapa kalangan etnis Tionghoa, hal ini merujuk pada beberapa nama dan organisasi seperti : Hary Tanoesoedibjo (Pemilik MNC Group), Persatuan Pengusaha Etnis Tionghoa, Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (PETIR), dan Suara Kebangsaan Tionghoa Indonesia (Sakti).

Film ini selain signifikan dari isu yang disampaikannya, juga berhasil menjadi statemen mengenai Identitas etnis Tionghoa pada konteks Orde Baru yang diutarakan di banyak negara lewat festival film yang diikutinya, seperti : Festival Film Cannes 2015 dan Singapore International Film Festival (SGIFF) ke-26. Film ini juga mendapatkan banyak apresiasi di dalam negeri dalam beberapa festival seperti :JAFF (Jogja Asian-Netpac Film Festival) ke-10 dan FFI (Festival Film Indonesia) 2015.

Identitas Etnis Tionghoa pada Konteks Orde Baru dalam Film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

Etnis Tionghoa secara umum digambarkan sebagai etnis yang sebagian besar bekerja sebagai pedagang. Sejak awal kedatangannya di Indonesia, etnis ini telah dikenal sebagai pedagang yang tangguh. Keberadaannya sebagai pedagang yang handal, membuat pemerintah yang berkuasa memanfaatkan hal tersebut untuk kebutuhan rezimnya.

Dalam film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015), etnis Tionghoa juga diceritakan sebagai pedagang. Diceritakan ada sebuah keluarga Tionghoa yang berjualan tembakau dan miras (minuman keras) ilegal. Keluarga ini terdiri dari Ci Amei (Pegadang tembakau dan miras ilegal) dan kedua anaknya yaitu Aseng dan Aling. Agar usaha dagangnya lancar (karena menjual miras ilegal), maka mereka memberikan setoran rutin kepada militer setempat.

Suatu ketika, datanglah David (teman Aseng yang juga anak pemimpin militer di kota tersebut) dan ajudannya ke rumah Ci Amei. David bertujuan untuk mendatangi Aseng sedangkan ajudannya bertujuan untuk meminta uang kepada Ci Amei. Ci Amei pun memberikan sejumlah uang untuk ajudan tersebut.

29-05-2018-AH Bas-Berpijar
Ci Amei memberikan sejumlah uang pada Ajudan ayah David. (Dok. Penulis)

Digambarkan dalam film bahwa David dan Ajudannya berkunjung ke rumah Aseng. Kunjungan ini kemudian dimanfaatkan oleh ajudan ayah David untuk memeras dan meminta uang keamanan dari Ci Amei. Ajudan ayah David mula-mula bercerita mengenai ayah David yang akan pergi ke Singapura untuk berobat.

Lalu dia mengucapkan sebuah kata yang bermakna meminta uang keamanan yaitu “Ci Amei, Ci Amei, Ci Amei gak pengen titip salam ke ayahnya si David?” Setelah mengucapkan itu, Ci Amei langsung menghentikan pekerjaan memotongi tembakaunya dan membanting pisaunya cukup keras dan mengambil beberapa uang bergambar Soeharto dari laci.

Pada menit 08.08, ditunjukkan sebuah adegan ketika tangan Ci Amei memberikan sejumlah uang kepada Ajudan Ayah David. Shot menggunakan medium shot namun hanya memperlihatkan tangan-tangan mereka yang memberi dan menerima uang tersebut. Tak lupa Ci Amei mengatakan “Titip salam buat papa Si David. Sampaiin biar cepet sembuh”.

Shot yang tidak menunjukkan wajah dan kata-kata yang bermakna kiasan tersebut menunjukkan bahwa kolusi ini tidak dilakukan terang-terangan dan sangat rahasia. Ada kesepakatan rahasia antara pengusaha etnis Tionghoa dan militer pada masa orde Baru.

29-05-2018-AH Bas-Berpijar(1)
Aseng memberikan sebotol miras pada David. (Dok. Penulis)

Praktek kolusi semacam itu juga tidak hanya terjadi ketika militer mendatangi etnis Tionghoa untuk menyetorkan sejumlah uang. Pada banyak kasus, etnis Tionghoa lah yang datang dan memberikan sejumlah bantuan untuk mempermudah bisnisnya.

Hal semacam ini pun juga ada dalam film pada menit 13.35 ketika Aseng datang ke rumah david dan membawakan sebotol miras untuk ayah David. Pada adegan ini kita dapat melihat bahwa etnis Tionghoa dalam mengamankan bisnisnya perlu bantuan dari pihak militer.

Bantuan tersebut didapat tentu bukan tanpa imbalan. Bantuan tersebut berupa jaminan keamanan dan kelancaran bisnis dari penguasaha-pengusaha Tionghoa tersebut. Inilah bentuk dari relasi antara militer dan etnis Tionghoa, yaitu bersifat Interdependensi.

Pengusaha etnis Tionghoa pada masa Orde Baru mendapatkan banyak keuntungan utamanya yang dekat dengan keluarga Cendana (keluarga Presiden Soeharto). Kekuatan ekonomi etnis Tionghoa yang telah terbangun sejak masa Kolonial membuat etnis Tionghoa diperhitungkan dan dengan mudah dekat dengan kekuasaan.

Etnis Tionghoa kemudian dianggap sebagai pilar penting dalam perekonomian Indonesia. Tokoh pengusaha Tionghoa yang dikenal dekat dengan penguasa Orde Baru adalah Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan The Kian Seng (Bob Hasan). Pengusaha-pengusaha ini adalah bagian dari kroni Suharto dalam bisnis.

Menurut Bunte & Ufen (2009) dalam Setyowati (2012) Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan The Kian Seng (Bob Hasan) mendapat banyak kemudahan dan perlindungan dari Suharto dalam menjalankan dan menguasai bisnis di Indonesia. Hal ini menciptakan yang disebut sebagai “kapitalisme kroni”.

Sudono Salim mendapat banyak keuntungan berkat kedekatannya dengan penguasa Orde Baru, Soeharto. Merangkum dari berita di detik.com (news.detik.com, diakses pada tanggal 29 Mei 2017), Sudono Salim berhasil membawa PT.Bogasari miliknya menjadi yang terbesar karena mendapat hak monopoli distribusi dari PT.Bulog.

Selain itu, hak monopoli impor cengkeh juga didapat oleh Sudono Salim melalui perusahannya yang lain yaitu PT.Waringin dan PT.Mega. Monopoli-monopoli ini membuat perusahan Sudono Salim membukukan pendapatan mencapai US$340.000 antara tahun 1968-1970.

Identitas Perempuan Etnis Tionghoa pada Konteks Orde Baru dalam Film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

Film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015) berbicara tidak hanya pada persoalan etnis Tionghoa secara general tetapi juga pada perempuan-perempuan Tionghoa yang dalam perjalanan sejarahnya sering mendapat perlakuan diskriminatif.

Perempuan Tionghoa mendapatkan porsi cukup banyak dalam film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015), utamanya pada cerita pelecehan yang terjadi pada mereka. Pelecehan yang terjadi pada Ci Amei adalah salah satu scene yang representatif untuk menunjukkan pelecehan yang terjadi pada etnis Tionghoa di masa Orde Baru.

Diceritakan bahwa ajudan ayah David meminta uang tambahan untuk dirinya sendiri setelah meminta setoran rutin uang “keamanan” dari Ci Amei. Namun Ci Amei menolak hal tersebut dan akhirnya mendapatkan pelecehan seksual dari ajudan ayah David.

29-05-2018-AH Bas-Berpijar(2)
Ajudan ayah David melecehkan Ci Amei. (Dok. Penulis)

Diceritakan setelah meminta uang setoran, ajudan ayah David meminta tambahan uang untuk dirinya sendiri. Namun permintaan tersebut mendapatkan penolakan dari Ci Amei. Ci Amei kemudian mendapatkan pelecehan seksual dari ajudan tanpa bisa melawan. Ajudan ayah David melakukan pelecehannya dengan cara mengelus-elus tubuh Ci Amei.

Hal ini menegaskan bahwa hal yang diinginkan oleh rezim harus ditaati tanpa dapat dilawan.Posisinya sebagai minoritas, membuat etnis ini rentan akan perlakuan diskriminatif. Dalam beberapa hal, perempuan selalu menjadi korban paling rawan.

Adegan pelecehan ini dimulai pada menit 09.26 dan dishot dalam medium close up. Komposisi yang dipakai memungkinkan wajah dari ajudan ayah David tidak ditunjukkan. Kamera hanya mengambil gerakan-gerakan tangan ajudan ayah David yang mengelus-elus tubuh Ci Amei.

Tidak diperlihatkannya wajah pelaku pelecehan tersebut sama dengan begitu banyak kasus pelecehan seksualitas yang terjadi dan menimpa etnis Tionghoa. Mereka beramai-ramai melecehkan dan tidak pernah jelas pelaku-pelakunya.

Pada saat itu, sebenarnya Ci Amei tidak sendirian. Aseng dari kejauhan mengamati pelecehan yang terjadi. Namun, Aseng hanya dapat melihat kejadian tersebut dengan ekspersi marah yang terpancar dari matanya. Ketika perlakuan ajudan ayah David semakin berlebihan, maka Aseng kemudian memanggil David dan meminta agar perbuatan ajudannya dihentikan.

Apabila hal ini dihubungkan dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998, tentu kondisi yang terjadi tak jauh berbeda (dengan skala yang tentu lebih besar). Perempuan-perempuan Tionghoa dilecehkan di depan suami atau anak-anak mereka. Namun, orang-orang tersebut tak dapat berbuat apapun.

Adegan lain yang menguatkan bahwa perempuan etnis Tionghoa di Indonesia rawan pelecehan adalah adegan di rumah David ketika david memamerkan Dingdong barunya pada Aseng. Pada menit 14.11, tangan David meraba gambar seorang karakter perempuan dalam games street fighter bernama Chun-Li. Ia meraba bagian payudara dari Chun-Li.

29-05-2018-AH Bas-Berpijar(3)
Gambar payudara Chun-Li dipegang David. (Dok. Penulis)

Gambar Chun-Li yang dipegang bagian payudaranya oleh David, meruapakan simbol bahwa perempuan etnis Tionghoa bahkan tidak pernah aman walau hanya dalam khayalan sebagian orang Indonesia (dalam hal ini militer). Mereka menjadi objek fantasi seksual tanpa dapat melawan.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema.

BACA JUGA

About Author

Agung Hari Baskoro

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. Redaktur Sosial-Budaya Berpijar.co dan Koordinator Inti Klub Seri Buku. Kini berprofesi sebagai wartawan di Suara Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post