Film The Fox Exploits the Tiger’s might (2015): Sebuah Gambaran Representasi Identitas Etnis Tionghoa di Era Orde Baru (Bagian 2-Habis)

The Fox Exploits the Tiger's Might-AH Bas-Berpijar
The Fox Exploits the Tiger's Might-AH Bas-Berpijar
Gambar: IMDB
Setelah Orde Baru berakhir, sebenarnya kebijakan diskriminatif terkait etnis Tionghoa perlahan-lahan dihilangkan.

Relasi antara Militer dan Etnis Tionghoa pada Konteks Orde Baru dalam Film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

David dan Aseng adalah sepasang teman yang memiliki latar belakang yang jauh berbeda. David adalah anak petinggi militer dan Aseng adalah anak pedagang Tionghoa yang menjual tembakau dan miras ilegal. Pertemanan mereka menggambarkan relasi antara militer dan etnis Tionghoa yang bersifat interdependensi.

Diceritakan bahwa David dan Aseng sedang berkelahi di sebuah tanah lapang. Mereka saling mendorong dan menjatuhkan satu sama lain. Namun, belum mengetahui siapa yang akan menjadi pemenang, adegan sudah dialihkan dengan teknik Cut to, ke adegan mereka sedang balapan sepeda. Dalam adegan ini, diperlihatkan terkadang David yang memimpin, tapi juga terkadang Aseng yang memimpin.

29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar
29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(6)
Aseng dan David berkelahi & balapan sepeda. (Dok. Penulis)

Film The Fox Exploits the Tiger’s Might (2015) bergulir atas relasi yang dibangun antara David yang mewakili militer dan Aseng yang mewakili etnis Tionghoa. Pada scene terakhir, digambarkan persaingan terus-menerus terjadi diantara Aseng dan David. Persaingan menurut KBBI (kbbi.web.id, diakses pada tanggal 16 Juli 2017) adalah “usaha memperlihatkan keunggulan masing-masing yang dilakukan oleh perseorangan (perusahaan, negara) pada bidang perdagangan, produksi, persenjataan, dan sebagainya”.

Merujuk pada definisi ini, maka terjadi upaya menunjukkan keunggulan antara David dan Aseng dalam hal perkelahian dan balap sepeda. Hal ini merupakan pilihan kreatif sutradara untuk menunjukkan persaingan antara militer dan etnis Tionghoa. Pergerakan kamera benar-benar dinamis mengikuti pergerakan tokoh yang berperan dalam film.

Pada scene perkelahian menit 22.36 sampai 22.51, pergerakan kamera menggunakan teknik handheld dan mengikuti semua pergerakan dari kedua tokoh yang sedang berkelahi. Pada scene balapan sepeda menit 22.52 sampai 22.59, pergerakan kamera menggunakan teknik crab dan shot long shot. Kamera mengikuti terus pergerakan kedua tokoh yang sedang bersepada.

Mereka digambarkan bersaing terus-menerus namun tidak ada satupun pemenang yang ditunjukkan dalam film ini. Persaingan mereka adalah persaingan yang sifatnya dinamis. Hal ini digambarkan dari pergerakan kamera yang begitu dinamis. Scene-scene ini menegaskan sebuah statemen bahwa tidak ada pemenang yang benar-benar mutlak dalam relasi antara militer dan etnis Tionghoa. Hal ini digambarkan dengan penutup film ini yang menunjukkan mereka out frame secara bersama-sama dan tidak dapat diidentifikasi siapa yang lebih dahulu out frame.

Kerjasama antara pemerintah Orde Baru dengan Etnis Tionghoa (spesifik pada pengusaha Tionghoa), didasarkan pada kebutuhan negara untuk melakukan pembangunan secara cepat. Orde Baru mengetahui bahwa meskipun etnis Tionghoa adalah minoritas, namun mereka memiliki dan menguasai sumber-sumber ekonomi yang berdampak pada investasi di Indonesia.

Sedangkan bagi etnis Tionghoa, kerjasama ini memberikan mereka perlindungan dan kemudahan dalam berbisnis. Tercatat banyak pengusaha Tionghoa yang memiliki kedekatan dengan Soeharto seperti Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan The Kian Seng (Bob Hasan).

Relasi yang tercipta antara Orde Baru dan Etnis Tionghoa menurut Richard Robinson (1986) ada dua hal besar yang perlu menjadi catatan, yaitu : Pertama, kuatnya akses keuangan dan jaringan korporasi yang dimiliki oleh Tionghoa perantauan yang tidak dimiliki oleh pengusaha pribumi. Mereka memiliki akses di Hongkong, Taiwan, Thailand Singapura, dan Malaysia.

Kedua, grup-grup bisnis Tionghoa memiliki kemampuan untuk berintegrasi langsung dengan pengusaha internasional.

Kondisi ini membuat posisi relasi Orde Baru dan etnis Tionghoa tidak berjalan secara statis, namun dinamis. Dalam hal ini, posisi antara Orde Baru (diwakili oleh militer) dan etnis Tionghoa bersifat interdependensi. Pada satu sisi etnis Tionghoa menjadi etnis yang didiskriminasi pada banyak hal, namun pada sisi lain etnis ini begitu dibutuhkan oleh negara dalam rangka percepatan pembangunan nasional.

Pesan yang Ingin disampaikan Sutradara dalam film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015)

Sutradara sebagai bagian dari faktor penting dalam sebuah produksi film tentu memiliki pengaruh besar dalam menentukan keberpihakan suatu karya dalam memandang isu tertentu. Film menjadi sebuah pernyataan sikap bagi seorang sutradara. Sutradara film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015) adalah Lucky Kuswandi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Lucky Kuswandi adalah salah satu sineas Indonesia keturunan Tionghoa.

Dia juga salah satu sineas yang ikut merasakan hidup dan tumbuh pada masa Orde Baru (Dia lahir di Jakarta, 29 Agustus 1980). Kondisi historis ini tentu sangat berpengaruh pada pandangan Lucky Kuswandi terhadap kondisi rezim saat itu.

29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(2)
Aseng menodong David dengan pistol di rumah David. (Dok. Penulis)

Pada scene di rumah David pada malam hari, digambarkan bahwa Aseng menguasai pistol milik ayah David dan menggunakannya untuk memerintah David. David yang seorang anak petinggi militer ternyata tidak berani melawan dan memilih untuk menuruti perintah dari Aseng.

Aseng terhitung memberi perintah beberapa kali, yaitu menyuruh David untuk push-up, membuka mulut, dan memasukkan pistol ke mulut David. Hal ini menunjukkan bahwa kuasa tidak akan pernah berada selamanya dalam posisi status quo.

Pada scene ini pula, diperlihatkan sebuah patung macan yang terlihat lemah dan tidak menakutkan. Hal ini terjadi karena pengambilan gambar (full shot) dan kondisi pencahayaan (gelap) yang membuat kesan tersebut. Hal ini berbeda ketika patung macan ini ditampilkan pertama kalinya ketika siang hari dimana Aseng mendatangi rumah David (close up dan pencahayaan terang).

Hal ini berbeda pada penampakan patung macan di siang hari. Pada menit 13.49 hingga 13. 57, ditunjukkan sebuah shot medium shoot dengan pergerakan track in yang kemudian membuat shot berubah menjadi close up. Pergerakan track in menunnjukkan ada sesuatu yang penting dan perlu menjadi sebuah perhatian oleh penonton.

29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(3)
29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(4)
Patung macan di rumah David. (Dok. Penulis)

Pilihan cara menampilkan patung macan antara di awal dan diakhir film menunjukkan kondisi kekuasaan militer yang sedang dibalik pada saat senjata telah berpindah tangan ke etnis Tionghoa. Etnis ini kemudian dengan leluasa dan percaya diri memerintah pihak militer.

Selain persoalan pistol dan patung macan, Lucky Kuswandi juga memasukkan pesan yang menunjukkan keberpihakannya dalam persoalan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.

29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(6)
29-05-2018-AH Baskoro-Berpijar(5)
Aseng belajar aksara mandairn. (Dok. Penulis)

Pada menit 4.50, terdapat adegan Aseng sedang menulis huruf mandarin di sebuah buku. Bagi sebuah film yang menceritakan tentang etnis Tionghoa di masa Orde Baru, adegan seorang anak keturunan Tionghoa belajar dan menulis aksara dan bahasa Mandarin adalah hal yang dapat dikatakan mustahil.

Hal ini karena ada peraturan pemerintah yang melarang hal tersebut. Suryadinata (2010) menyebutkan bahwa sejak tahun 1966 tidak satu pun sekolah Tionghoa yang diizinkan beroperasi, dan penggunaan bahasa Tionghoa pun selanjutnya dilarang dengan berbagai peraturan.

Penempatan adegan Aseng menulis bahasa Mandarin tentu bukan hanya perkara salah atau lemah riset. Hal ini karena Lucky Kuswandi sendiri adalah seorang keturunan Tionghoa yang pernah hidup dan tumbuh di zaman orde Baru. Dia sebagai seorang sutradara pasti sudah mengetahui adanya peraturan tersebut karena pernah mengalaminya. Penulis lebih percaya bahwa penempatan adegan ini adalah salah satu sikap Lucky Kuswandi sebagai seorang sutradara untuk menunjukkan kondisi ideal yang seharusnya terjadi pada masa itu.

The Fox Exploits The Tiger’s Might dan Etnis Tionghoa di Indonesia

Pemilihan latar waktu pada masa Orde Baru, menjadi setting waktu “sejarah” bagi film yang berbicara tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Film ini ingin menunjukkan perlakuan rezim Orde Baru terhadap warga-warga negara yang dianggap sebagai WNA (warga Negara Asing) keturunan Tionghoa yang diperlakukan secara diskriminatif oleh negara dan aparatusnya, termasuk militer. Hal ini tentu tak luput dari latar belakang sutradara yang merupakan keturunan etnis Tionghoa dan pernah merasakan lahir dan tumbuh di masa Orde Baru.

Film ini, sebagai film yang berbicara tentang etnis Tionghoa pada masa Orde Baru, penting dalam kaitannya sebagai bentuk refleksi atas penempatan posisi kemanusiaan pada persoalan etnis minoritas khususnya etnis Tionghoa. Diluar itu, film ini juga penting dalam kaitannya sebagai bentuk refleksi atas posisi pemerintah dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang bernada SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) khususnya etnis Tionghoa.

Melalui film ini, kita perlu kembali mengingat berbagai macam kebijakan diskriminatif yang dibuat oleh Orde Baru dan dampaknya bagi proses penerimaan etnis Tionghoa sebagai bagian penuh masyarakat Indonesia. Kita perlu juga kembali melihat bahwa gagalnya pemerintah dalam penanganan persoalan-persoalan SARA menjadikan gejolak dan dinamika di masyarakat dapat mengarah pada hal-hal yang dekstruktif.

Bagi masyarakat Indonesia kebanyakan, persoalan terutama terkait etnis Tionghoa belum juga terselesaikan. Setelah Orde Baru berakhir, sebenarnya kebijakan diskriminatif terkait etnis Tionghoa perlahan-lahan dihilangkan. Tepat ketika reformasi berjalan, partai-partai politik baru bermunculan.

Menurut Suryadinata (2003), muncul lebih dari 100 partai dan tiga diantaranya didominasi oleh etnis Tionghoa yaitu : Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Pembauran Indonesia dan Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (PBI).

Ketika memasuki era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), persoalan etnis Tionghoa tidak lagi dijadikan sebuah persoalan. Menurut Soebagjo (2016), Gus Dur mencabut Inpres 14/1967 dan memberi kembali hak-hak budaya dan kepercayaan orang Tionghoa di Tanah Air serta memberi pengakuan atas peran dan sumbangsih mereka dalam kehidupan berbangsa. 

Namun, kecurigaan dan stereotip yang dibangun oleh rezim Orde Baru sulit untuk terhapuskan. Kecurigaan ini, Menurut Ang dalam Minghua & Enny (2016), “China’s international reputation was transformed from one of the backwaters of history to the country that many onlookers consider the premier rising global superpower.”

Bagi Ang, masyarakat menganggap bahwa ada potensi untuk etnis Tionghoa menjadi bangsa yang superpower. Sehingga tidak dapat dibenarkan bagi masyarakat tersebut memberikan kesempatan bagi etnis ini.

Reformasi mungkin sudah berjalan dan peraturan-peraturan diskriminatif sudah dihapuskan. Namun seperti kasus Ahok, secara umum, masih terdapat perasaan anti-Tionghoa pada masyarakat Indonesia. Berdasarkan penelitian pada representasi film-film pasca 1998, menurut Budiman dalam Minghua & Enny (2016), dan Suryadinata dalam Minghua & Enny (2016), mereka melihat bahwa Etnis Tionghoa pasca orde baru, masih takut terhadap “perasaan anti-Tionghoa yang terpendam” karena adanya “social gap antara Tionghoa dan non-Tionghoa” dan sisa-sisa stereotip etnis.

Penutup

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, terlihat bahwa etnis Tionghoa dilekatkan dengan berbagai macam identitas pada konteks Orde Baru.

Pertama, mengenai identitas etnis Tionghoa pada konteks Orde Baru. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, etnis Tionghoa digambarkan sebagai seorang pedagang yang handal. Selain itu, etnis Tionghoa juga digambarkan sebagai etnis yang seringkali terlibat kolusi dengan pemerintah untuk mengamankan usaha mereka.

Kedua, mengenai pelecehan seksual terhadap perempuan-perempuan Tionghoa pada konteks Orde Baru. Pelecehan seksual terhadap perempuan Tionghoa tersebar di beberapa scene film ini. Pelecehan tersebut dapat berupa perlakuan yang merendahkan, kontak fisik, maupun fantasi seksual terhadap perempuan Tionghoa.

Ketiga, mengenai relasi yang terjadi antara militer dan Etnis Tionghoa pada konteks Orde Baru. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, relasi antara militer dan Etnis Tionghoa digambarkan dalam relasi berupa interdependensi.

Keempat, mengenai pesan yang ingin disampaikan Sutradara dalam film The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015). Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka sutradara ingin menyampaikan status quo kekuasaan tidak akan abadi tanpa perubahan sekalipun. Sebagai seorang sutradara keturunan etnis Tionghoa dan pernah bertumbuh pada masa Orde Baru, Lucky kuswandi ingin menunjukkan bahwa kekuasaan Orde Baru sudah seharusnya segera berakhir.

Selain perkara kuasa, Lucky Kuswandi sebagai sutradara ingin menunjukkan kondisi ideal yang seharusnya terjadi pada masa Orde Baru. Ia ingin menunjukkan bahwa diskriminasi (dalam film ini berbentuk diskriminasi untuk tidak mempelajari bahasa dan aksara mandarin) tidak seharusnya ada. Ia memilih untuk menampilkan hal ini dalam film walaupun dalam kenyataan historisnya tidak ada, sebagai bentuk sikapnya sebagai pembuat film.

Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa etnis Tionghoa pada konteks Orde tidak dapat serta merta digambarkan sebagai etnis yang tertindas dan terdiskriminasi saja, namun etnis ini harus diakui juga melakukan berbagai macam kolusi dengan pemerintah yang membuat posisinya dalam hal ekonomi menjadi sangat kuat.

 

Rujukan

Devita, L. R. N., & Septiarini, D. F. 2016. Analisis Kriteria Penetapan Nilai Bagi Hasil Pendanaan Dengan Menggunakan Teknik ANP (Studi Kasus Pada Bank JATIM Syariah). Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, 3(8) [diakses pada tanggal 8 Mei 2018] p.604. http://e-journal.unair.ac.id/.

Eriyanti, F. 2006. Dinamika Posisi Identitas Etnis Tionghoa dalam Tinjauan Teori Identitas Sosial. Jurnal Demokrasi, 5(1) [Diakses 06 Mei 2018] p.30. http://ejournal.unp.ac.id/.

Metz, Christian. 1991. Language : A Semiotics of the Cinema. Chicago: The University of Chigago Press.

Minghua Xu & Enny Ingketria. 2016 Chinese Indonesians at the Crossroads: Post-Suharto Identity Dilemma in the Rise of China in the New Era. Dalam The Asian Conference on Cultural Studies 2016, 2/5 Juni 2016, Kobe. Nagoya: The International Academic Forum.

Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.

Robinson, Richard. 1986. Indonesia: The Rise of Capital. New South Wales: Allen & Unwin Pty Ltd.

Setyowati Dwi. 2012. Dekonstruksi Korupsi dalam Demokratisasi Indonesia. Dalam International Conference on Business, International Relations and Diplomacy 2012, 7 November 2012, Jakarta. Jakarta : Department of International Relations Bina Nusantara University.

Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Soebagjo, N. 2016. Melampaui Sinologi Tradisional. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 3(1) [Diakses 27 Mei 2017] p.19-20. http://paradigma.ui.ac.id/.

Suryadinata, Leo. 2003. Kebijakan Negara Indonesia terhadap Etnik Tionghoa: Dari Asimilasi ke Multikulturalisme?, Antropologi Indonesia, 71 [Diakses 05 Mei 2018] p.3. http://journal.ui.ac.id/.

Suryadinata, Leo. 2010. Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema.

BACA JUGA

About Author

Agung Hari Baskoro

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. Redaktur Sosial-Budaya Berpijar.co dan Koordinator Inti Klub Seri Buku. Kini berprofesi sebagai wartawan di Suara Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post