Memahami Pembangunan, Membangun Pemahaman

Memahami Pembangunan, Membangun Pemahaman_Reza Maulana Hikam_Berpijar
UNDERSTANDING DEVELOPMENT
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Understanding Development

Penulis

Paul Hopper

Penerbit

Polity

Tebal Buku

xvi+412 halaman

Tahun Terbit

2018

Jenis Buku

Buku daras

Pembangunan merupakan diskursus yang tiada hentinya dibahas di abad keduapuluhsatu ini. Setelah selesai dengan program pembangunan bernama Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015, sekarang telah dikembangkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang kemungkinan akan berakhir pada 2030. Program-program ini keluar untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan di berbagai negara, terutama negara berkembang.

Adapun berbagai problema lain yang turut andil dalam pembangunan, seperti perdagangan internasional, kondisi geopolitik, bahkan konflik politik nasional dalam satu negara bisa berdampak pada permasalahan internasional.

Pembangunan muncul sebagai usaha untuk menanggulangi masalah-masalah sosial, politik, hukum dan ekonomi secara nasional maupun internasional. Banyak lembaga yang sekarang menggadang-gadang pembangunan, terutama finansial. Semuanya dibahas dalam buku setebal 412 halaman ini.

Guna memahami sebuah kata, terkadang penjelasan historis sangatlah diperlukan. Buku ini pun seperti itu. Pada bab Introductions, penulis memperkenalkan silang sejarah pembangunan semenjak tahun 1940an sampai 1950an dengan kemunculan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB merupakan usaha untuk mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.

Disamping itu juga lahir raksasa finansial dunia seperti International Monetary Fund (IMF), International Bank of Reconstruction and Development yang nantinya menjadi Bank Dunia dan General Agreement on Trade and Tariffs (GATT) yang merupakan embrio dari World Trade Organizaton (WTO).

Adapun pada dua dekade ini, masih ada negara-negara kolonial yang berusaha memerdekakan diri, meskipun mereka sudah berusaha dibantu dengan dibangun oleh negara-negara yang mengkoloni mereka. Pembangunan pada masa ini memfokuskan pada pembebasan dari negara-negara terbelakang ini.

Berlanjut pada tahap awal pembangunan pasca pembebasan, yakni dekade 1960an. Teori modernisasi telah menjadi trend pada gaya pembangunan dekade 60an. Hampir semua negara mengadopsi teori modernisasi, namun tidak jarang juga para pakar mengkritisinya, karena terlalu amerikasentris dan malah membawa westernisasi di negara-negara berkembang.

Nantinya muara dari teori modernisasi masuk kepada teori dependensi yang subur di tahun 1970an. Pertarungan ideologi pun dapat ditemukan dalam perkembangan model pembangunan di berbagai penjuru dunia, seperti Sosialisme dan Neoliberalisme. Akan tetapi, tahun 1980an, banyak negara sosialis runtuh dan menobatkan neoliberalisme sebagai satu-satunya ideologi yang bertahan dalam pembangunan dan mengantarkan banyak negara sukses mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Neoliberalisme ini mengalir dan memunculkan gerakan post-development, gerakan yang mempertanyakan tujuan utama dari pembangunan yang hanya berfokus pada budaya Eropa, sedangkan daerah atau negara yang sedang dibangun, yang kemungkinan memiliki budaya yang berbeda, untuk melakukan pembangunan eropasentris. Dekade 90an membawa perspektif budaya ke dalam studi pembangunan.

Setelah mengenal kisah mengenai pembangunan, penulis membawa kita pada “konseptualisasi” dari pembangunan atau arti pembangunan. Ia mengutip pakar seperti Brookfield yang mengartikan pembangunan sebagai perubahan, dan Robert Chambers yang mengatakan bahwa pembangunan adalah perubahan yang baik.

Cowen dan Shenton dalam Doctrines of Development lebih mengutamakan apa yang dituju dari pembangunan ketimbang bingung merumuskan arti pembangunan. Tidak mudah memaknai dan menetapkan tujuan dari pembangunan, karena sifatnya yang berubah-ubah.

Dulu pembangunan berfokus kepada pertumbuhan ekonomi, namun sekarang, lebih mengutamakan kualitas hidup manusia, hal ini ditandai dengan saran United Nations Development Programme (UNDP) yang menginginkan alternatif dari Produk Domestik Bruto (PDB) adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM). Paradigma pembangunan yang dibawa UNDP adalah mempeluas sudut pandang manusia dalam memilih jalan hidup dari hidup mereka yang berharga.

Pembangunan sendiri adalah sesuatu yang kompleks, ia bisa menjadi teori atau paradigma. Dalam pembangunan sendiri sangatlah interdisipliner dari ilmu sosial dan juga eksakta.  Kompleksitas ini ditunjang dengan banyaknya data yang harus dikumpulkan untuk melaksanakan program pembangunan, dan negara-negara yang menjadi sasaran program pembangunan justru susah didapat datanya.

Aktor pembangunan pun bisa bermacam-macam, bisa pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat (Ormas), lembaga donor internasional (contoh: USAID dan AUSAID), bahkan perusahaan swasta.

Penulis mengutip Allan Thomas bahwasanya ketika aktor pembangunan dipegang oleh LSM, organisasi multilateral, gerakan sosial dan pemerintah, maka pembangunan merupakan usaha untuk menghilangkan suatu permasalahan. Bagi mereka yang memang bekerja pada sektor pembangunan, maka tujuan utama pembangunan haruslah konkrit seperti mengentaskan kemiskinan dan menghilangkan disparitas.

Demi memahami pembangunan secara substantif, maka kita juga perlu memahami pembagian dunia dalam teori sistem dunia, misalnya. Para pembaca harus mengetahui apa itu negara maju dan negara dunia ketiga.

Negara dunia ketiga sendiri muncul pada dekade 40an saat proses dekolonialisasi pasca perang dunia kedua terjadi. Pada posisi awal lahirnya konsep negara dunia ketiga, mereka diharuskan memilih mengikuti mode pembangunan bergaya Amerika Serikat (AS) atau Uni Soviet.

Ada beberapa kriteria dari apa yang disebut sebagai negara dunia ketiga: rendahnya pendapatan per kapita, sistem ekonomi berbasis pertanian dengan perkembangan teknologi yang rendah dan hanya mengekspor sumberdaya alam, mobilitas sosial rendah dan sulit, biasanya bekas jajahan, ada pengaruh besar dari agama dan budaya, dan rendahnya pendidikan. Tujuh konsep diatas, diadaptasi oleh penulis dari karya Hoogvelt, Merriam dan Rapley.

Saat pembangunan ditujukan kepada negara dunia ketiga, terkadang konsep itu sendiri masih terlalu luas dan bersifat menyamaratakan. Belum lagi faktor determinannya hanyalah melalui ekonomi, sehingga tidak jarang pula ditemukan penduduk negara maju yang sebenarnya sama miskinnya dengan penduduk negara dunia ketiga.

Klasifikasi negara semacam ini membuat bantuan terlalu sering ditujukan ke luar negeri dari negara maju, sehingga terkadang mereka lupa bahwa di dalam negeri pun masih banyak orang yang membutuhkannya. Adapun yang mengutarakan bahwa kemunculan klasifikasi ini dan dijadikan rujukan oleh banyak negara maju di Eropa, hanyalah sebuah rasa bersalah dari sifat kolonial mereka di masa lalu.

Belum lagi pandangan bahwa negara dunia ketiga merupakan negara miskin dan tertinggal, dimana mereka bisa menghilangkan kondisi tersebut apabila meniru gaya pembangunan negara dunia pertama (Barat) malah membuat negara dunia ketiga antipati dengan konsep pembangunan. Akan tetapi dengan runtuhnya blok soviet pada tahun 1990an, membuat dunia kedua menghilang dan memunculkan klasifikasi baru, yakni negara Utara dan Selatan.

Ada pendekatan-pendekatan ekonomi dalam pembangunan, seperti teori pertumbuhan ekonomi yang digawangi oleh John Maynard Keynes pada tahun 1930-40an. Lalu teori lima tahap pertumbuhan ekonomi oleh Walt Whitman Rostow merupakan salah satu teori yang paling tenar pada zamannya.

Lima tahap pertumbuhan ekonomi biasanya disebut juga sebagai teori modernisasi. Inilah lima tahap yang dicetuskan oleh W.W. Rostow: masyarakat tradisional, prakondisi, lepas landas, menuju kematangan dan konsumsi massa. Kelimanya merupakan tahap yang bakal dilewati oleh negara berkembang yang ingin menjadi negara maju.

Teori strukturalisme muncul sebagai akibat dari penelitian Raul Prebisch dan Economic Commission for Latin America (ECLA) milik PBB. Teori dependensi yang dicetuskan oleh Ander Gunder Frank, pertama kali booming pada pertengahan tahun 1960an karena artikel The Development for Underdevelopment tulisan Ander Gunder Frank di majalah sosialis, Monthly Review. Yang paling mutakhir adalah neoliberalisme yang dibawa oleh Milton Friedman, Friedrich Hayek dan para Chicago Boys.

Penulis juga mengejawantahkan hubungan antara pembangunan dan budaya. Diawal munculnya pembangunan, budaya dianggap sebagai penghambat atas pertumbuhan ekonomi, teori modernisasi mengharapkan negara-negara berkembang mau melepaskan budayanya demi pertumbuhan ekonomi.

Mereka berharap bahwa penduduk negara berkembang mampu berubah menjadi seperti masyarakat Barat.  Ada tiga proses yang sempat terjadi: Amerikanisasi yang ditandai dengan meluasnya pasar barang dari AS, McDonalisasi yang dicetuskan oleh George Ritzer dan Westernisasi yang mempunyai akar sejarah pada kolonialisme.

Para antropolog pun yang tertarik pada budaya negara-negara berkembang seringkali mengkritik pembangunan sebagai sesuatu yang tidak berfaedah, bukan menyebarkan ilmu pengetahuan, namun menebar kerusakan pada budaya tradisional dari sebuah negara atau daerah.

Namun, tetap ada usaha untuk memahami budaya-budaya setempat guna merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran tanpa merusak adat dan tradisi dari daerah tersebut. Pembangunan sekarang, mulai kompromi dengan keberadaan agama, budaya, adat dan tradisi.

Dalam pembangunan pun tidak luput dari feminisme. Bentuknya adalah Gender and Development (GAD). GAD ini akan memunculkan lima pendekatan kebijakan: Welfare, Equity, Anti-Poverty, The Efficiency Approach, Empowerment dan Gender Mainstreaming. Pendekatan kebijakan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui Konferensi Perempuan Sedunia oleh PBB yang diadakan di Meksiko, Kopenhagen, Nairobi dan Beijing.

Pandangan yang filosofis mengenai keperempuanan dalam pembangunan diutarakan oleh Diane Elson, yang menganggap kata seperti petani dan pekerja selalu disematkan kepada lelaki, dan perempuan hanya mendapatkan bagian sebagai istri atau ibu rumah tangga.

Structural Adjustment Programs (SAPs) yang ditujukan untuk memotong pula pengeluaran berlebih dari negara berkembang malah membawa dampak yang destruktif terhadap perempuan. Kebanyakan yang di PHK adalah perempuan daripada lelaki, karena pandangan yang masih lazim di negara berkembang, bahwasanya lelaki adalah tulang punggung keluarga.

Akses terhadap edukasi, perempuan mendapat jatah yang lebih sedikit dibanding lelaki, maka dari itu, GAD mengutamakan keberadaan kebijakan yang memberikan edukasi terhadap perempuan sejak usia dini.  Karena banyaknya permasalahan mengenai gender di negara berkembang, maka gender telah menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pembangunan.

Melaksanakan pembangunan pastinya tidak gratis, bahkan biayanya bisa sangat mahal, baik pembangunan suprastruktur maupun infrastruktur. Tidak jarang negara berkembang berhutang kepada sebuah lembaga finansial atau negara lainnya (dalam bentuk investasi).

Krisis akibat hutang diakibatkan oleh beberapa hal: warisan penjajahan, perkembangan ekonomi internasional yang terlalu cepat, SAPs, dan kesalahan manajerial dalam negeri. Bagaimana dalam menyelesaikan hutang? Pada tahun 1996, Bank Dunia dan IMF memunculkan Heavily Indebted Poor Countries (HIPC) Initiatives

Hutang akan dikurangi secara berkala apabila negara berkembang berusaha mencapai tiap poin dari Good Governance. Selain HIPC, ada juga dana bantuan (aid) yang memunculkan banyak kontroversi. Dana bantuan sendiri mulai terlihat batang hidungnya pada tahun 1929 yang berbentuk British Colonial Development Act. Bentuk kontemporer dari dana bantuan di mulai pada 1948 yang bernama Marshall Plan yang bertujuan untuk membangun negara-negara pacar perang dunia kedua.

Dana bantuan luar negeri merupakan sebuah agenda globalisasi yang cukup erat kaitannya dengan kepentingan privat, penekanan utama dari dana bantuan ialah kepada Foreign Direct Investment (FDI)/ Nilai Valuta Asing dan Perusahaan Multinasional. Lembaga donor yang berusaha menyelesaikan permasalahan ekonomi tanpa membuat negara itu terpuruk adalah seperti Ogranisations for Economic Cooperation and Development (OECD).

Beberapa kritikan yang ditujukan kepada dana bantuan adalah posisi dana bantuan yang mereduksi kekuatan lokal, cenderung untuk mendikte, dan terkadang rawan untuk dikorupsi. Tidak jarang negara berkembang sekarang lebih memilih perdagangan ketimbang dana bantuan. Dana bantuan sudah menjadi sebuah imperialisme baru dalam pembangunan yang justru mengganggu kestabilan pemerintah negara berkembang, meskipun memiliki tujuan yang baik.

Masih banyak bab lain dalam buku daras yang besar ini. Bahkan dua bab khusus membahas mengenai MDGs dan SDGs beserta data-data dan persepektif mengenainya. Meskipun tergolong buku berukuran besar, namun tidak berat dan enak dibaca.

Penggunaan bahasa Inggris yang mudah dimengerti menjadikan buku ini sangat cocok untuk menjadi pegangan kuliah pembangunan di seluruh universitas di Indonesia yang memiliki program studi terkait. Dimana para pembaca bisa mendapatkan buku ini? Bisa di cek langsung di wesbsite Polity.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post