Memahami Kosmologi Islam, Dari Alif Lam Mim Hingga Transformasi Jiwa Manusia

Kosmologi saintifik dianggap gagal dalam menerjemahkan yang gaib, karena berusaha mengungkapnya di balik realitas, sementara kosmologi Islam menjelaskan bahwa yang gaib itu didalamnya.

Memahami Kosmologi Islam, Dari Alif Lam Mim Hingga Transformasi Jiwa Manusia-Irfan Al Ayat-Berprijar
Memahami Kosmologi Islam, Dari Alif Lam Mim Hingga Transformasi Jiwa Manusia-Irfan Al Ayat-Berprijar
Kosmologi saintifik dianggap gagal dalam menerjemahkan yang gaib, karena berusaha mengungkapnya di balik realitas, sementara kosmologi Islam menjelaskan bahwa yang gaib itu didalamnya.

Ketika kita membuka lembaran Al-Quran bagian pertama setelah Surat Al-Fatihah, mata kita akan disambut dengan bacaan Alif Lam Mim. Sebagian besar ahli tafsir mempercayai bahwa kata pertama itu merupakan nama yang ghaib (huruf muqathth’ah). Oleh mayoritas ahli tafsir pula, Alif Lam Mim dipercaya sepenuhnya bersifat Tanzih (transenden), hanya Allah sendiri yang mengetahui maknanya.

Saya tidak ingin terjun masuk dalam perdebatan tafsir tentang kata-kata itu, tapi bolehlah untuk sekedar tadabbur terhadap fenomena munculnya kata-kata tersebut. Tentu dalam rangka memperkaya kemungkinan yang bisa semakin menambah keteguhan iman kita.

Tentu pula perlu dijelaskan struktur logis dalam kosmologi Islam agar tulisan-tulisan ini tidak jatuh pada penilaian-penilaian, tapi sejak awal tulisan ini bukan bermaksud untuk mengarah pada hal yang detail tersebut. Hanya sedikit refleksi singkat dan terbatas untuk menambah iman dari kajian kosmologi Islam.

Alif Lam Mim dan Tentang yang Ghaib

Ketika mengucap Basmalah dalam mengawali hubungan kita terhadap Qur’an, Alif Lam Mim menyambut kita (setelah ummul kitab) seolah posisinya adalah proper name dari realitas Ilahiah yang pertama kali akan menyentuh jiwa kita dalam pemaknaan, meskipun kita masih tidak tahu maknanya.

Setelah kita melafalkan huruf muqathth’ah tersebut dengan lantunan khas (dibaca terpisah per huruf), kemudian Allah menyuruh kita untuk mengukuhkan Iman agar tidak ragu, keimanan kita itu menunjukkan bahwa kita termasuk orang yang bertakwa. Sebagai mana diterangkan dalam ayat selanjutnya; “Alif Lam Mim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah ayat 1 dan 2).

Tadabbur dari fenomena ini mengafirmasi bahwa Al-Quran pertama-tama diawali dengan yang gaib, lalu kepada yang gaib itu kita disuruh untuk mengimaninya (Al Baqoroh ayat 3). Makna “gaib” disini tentu harus di argumentasikan dengan rasional supaya kita tidak terjebak dalam pemaknaan-pemaknaan aksioma yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara intelektual.

Gaib sendiri dalam kosmologi Islam adalah tujuan yang harus di imani, maka menyingkapnya dalam pemaknaan sangat dibutuhkan agar iman semakin datang menjelaga dalam jiwa.

Gaib dalam pengertian etimologi diartikan sebagai “yang tersembunyi” atau “tidak tampak”. Gaib dalam bahasa Barat memenuhi ruang yang disebut kasat oleh mata (kasat mata). Dalam tradisi kosmologi Barat (Scientific), sesuatu yang kasat ini dianggap tidak ada hubungan langsung dengan kita. Barat mempercayai bahwa ada yang gaib tapi jatuh pada kerangka berpikir analitik.

Dalam filsafat, banyak tokoh-tokoh dari Barat yang melabeli argumentasi ini dengan menyebut ada realitas yang terpisah dengan diri kita sebagai sense of divine things. Cartesian misalnya, melalui Des Cartes, menyebutnya sebagai innate yang sejak awal sudah ada terpisah dengan realitas (dualitas) di alam ide tanpa diketahui darimana munculnya.

Sedangkan Kantian (Immanuel Kant) menyebutnya sebagai Imperative Categories, dimana terdiri dari kategori-kategori yang sudah ada secara aksioma dalam alam ide yang tidak bisa didapat dengan epistemologi (de-epistemologi). Maka penglihatan kosmologi saintifik (Barat) terhadap realitas dibangun atas dasar keterpisahan ontologis antara yang tampak (fisika) dan yang tidak tampak (metafisika/gaib).

Dalam kosmologi Islam, sejak awal optimis bahwa ada hubungan ontologis antara yang gaib dengan realitas. Maka kerangka berpikir kosmologi Islam itu berusaha mendudukkan struktur hubungan tersebut.

Kosmologi saintifik dianggap gagal dalam menerjemahkan yang gaib, karena berusaha mengungkapnya di balik realitas, sementara kosmologi Islam menjelaskan bahwa yang gaib itu didalamnya. Munculnya Alif Lam Mim (huruf Muqhatta’a) menunjukkan indikasi tersebut, bahwa yang gaib memiliki hubungan eksistensial dengan  manusia.

Dalam kosmologi Islam, sesuatu yang gaib itu bersentuhan dengan Jiwa manusia. Dia bersifat co-eksisten dengan realitas, maka untuk mendapat argumentasi logis terhadapnya, (menemukan) jiwa itu harus berhubungan dengan alam. Isolasi Barat terhadap alam (alam tidak terkait dengan jiwa secara metafisik) sudah menutup pembahasan korespondensial mengenai topik yang amat penting yaitu penyatuan antara fisik dan metafisik.

Untuk hal-hal yang metafisik, kosmologi Islam menerima realitas bahwa, realitas dianggap sebagai sesuatu yang melambari pertama-tama untuk berhubungan dengan yang tersembunyi. Maka sejatinya kosmologi Islam juga memiliki watak kosmologi saintifik dalam satu sisi yang bersifat ilmiah tapi tidak terjebak dalam saintisme.

Kembali ke Alif Lam Mim, menarik jika dicermati ayat selanjutnya setelah keterangan tentang yang gaib. Yang gaib menurut ayat-ayat pembuka setelah Alif Lam Mim bisa dikatakan di imani ketika ada pertautan kosmik dengan alam melalui aktifitas “shalat” dan “bersedekah” (menjalin hubungan sosial) dengan cara menginfakkan rejeki.

Dalam surah ke empat bahkan dijelaskan iman itu harus bersinggungan langsung dengan realitas Muhammad sebagai pemangku wahyu dari sang ghaib melalui kata “dan mereka yang beriman kepada yang diturunkan kepadamu….”; “mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat, menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (AL-Baqoroh ayat ke 3).

Makna Sholat dan menginfakkan rejeki disitu harus dimaknai dalam kaitannya dengan upaya penyingkapan terhadap Alif Lam Mim (nama yang gaib). Tentu ini memiliki kesan cocologi secara struktur, dan harus diargumentasikan lebih detail agar tidak jatuh dalam makna itu.

Tapi satu fakta yang dapat kita ketahui, bahwa Islam mengafirmasi secara kosmik ada hubungan ontologis antara alam, jiwa dan Tuhan (ghaib) itu ada, dan teraktualisasi di alam yang bisa kita temui dalam proses tadabbur melalui Al-Qur’an.

 

Transformasi Jiwa Manusia: Nama, Makna dan Kehadiran

Realitas transenden (gaib) dalam Kosmologi Islam oleh William C Chitiick bisa dipahami melalui pemahaman hubungan nama, makna dan kehadiran. Ketika Jiwa ingin menyentuh Tuhan, itu berhubungan dengan namanya yang komplek (tunggal). Nama itu menurut kosmologi Islam berasal dari diriNya. Maka posisi nama dalam hubungannya dengan jiwa adalah citra Tuhan.

Karena nama adalah citra Tuhan maka nama juga harus diletakkan pada posisi yang suci sesuai dengan citranya yang maha suci, maka logis bila dikatakan nama itu berasal dari diriNya semata.

Sementara yang berhubungan dengan manusia adalah nama-nama yang ada dalam pemaknaan manusia. Nama-nama itu bersinggungan langsung dengan benda-benda yang ada di alam. Nama-nama itu dianggap tidak hakiki sesuai dengan sifat-sifat alam yang selalui mengalami kebaruan dan transformasi.

Jadi yang bersentuhan pertama-tama dengan jiwa manusia secara imanensi adalah makna. Makna ini didapat dari abstraksi terhadap alam. Karena yang sampai kepada manusia adalah makna, maka dalam makna kita akan menemui banyak sekali nama sesuai dengan kadar makna yang tercerap oleh batin kita. Maka satu-satunya mendekati Sang Nama tidak lain harus melalui pemaknaan akan realitas.

Nama itu akan hadir sesuai dengan kadar usaha kita memaknai alam. Pemaknaan terhadap alam bisa ditempuh dengan jalan epistemologi (akal). Semakin kita memahami alam melalui hubungannya dengan jiwa kita, setapak demi setapak akan mengantarkan kita pada realitas tertinggi.

Istilah transformasi pada jiwa tidak lain dihubungan dengan realitas tertinggi, dalam hal ini adalah Nama sang pemilik kesucian. Terhadap alam kita menggunakan kerangka pikir epistemologi santifik, untuk memahami jiwa atau apa-apa yang hadir pada jiwa kita menggunakan kerangka pikir epistemologi huduri (kehadiran). Dia akan menampakkan dirinya, sesuai dengan transformasi Jiwa kita.

Bahasa-bahasa “transformasi” ini bisa kita pahami, bahwa ada tingkatan dalam jiwa kita. realitas tertinggi tentu hanya akan menyentuh transformasi jiwa yang paling layak dan yang paling dekat dengan diriNya.

Ada yang menarik jika kita kembali kepada pemaknaan Al-Baqarah pada ayat-ayat pembukanya. Dijelaskan bahwa setelah kita berhubungan dengan yang gaaib melalui aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan realitas (sholat dan bersedekah), dia akan memberi kita petunjuk. Posisi kita sebagai yang diberi petunjuk disitu ditempatkan sebagai “Muflikhun” atau berarti orang yang beruntung.

Jika kita bedah makna itu memenuhi aspek bahwa kehadiran (huduri) melalui sang Nama itu adalah hak prerogatifnya. Maka secara teologis, bahwa hak untuk menampakkan diri bukan terletak pada diri kita. Dia lah (Tuhan) yang memiliki pilihan.

Aktualisasi Kehadiran Nama-Nama Tuhan

Makna kehadiran (hudhuri) disini dalam batas pengertian bahwa Dialah yang hadir. Sesuai dengan penjelasan diatas, karena Dia itu suci maka dia pada dirinya itu harus didekati melalui sesuatu yang sepadan dengan dirinya. Maka satu-satunya yang bisa mewakili kesepadanan itu adalah citra dirinya melalui Nama.

Dalam tafsir “Al-Barru” tentang makna Basmalah, karya Rusli Kamal Malik, dijelaskan bahwa jiwa yang masih terjebak di dunia tidak akan pernah menyentuh realitas tertinggi jika tidak berhubungan dengan nama-nama sebagai citra diriNya. Kata Ba’(bi) dalam Bismillah yang dianggap kata hubung yang mewakili setiap aktifitas manusia baik, hanya bisa berhubungan nama, maka setelah Ba’ ada Ismi (Nama) baru setelahnya adalah kehadiran Allah.

K. H. Quraish Shihab dalam “Lentera Hati”, khususnya bab tentang “Awali Semua dengan Basmalah” menjelaskan, segala aktifitas kita di alam harus membawa namaNya. Maka dzikr adalah manifestasi dari perilaku logis manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. K.H Quraish Shihab lebih lanjut menerangkan hubungan jiwa dengan nama adalah hubungan kerinduan, maka nama ada dalam ruang penyebutan (dzikir).

Bismillahi bentuk praktis dari metoda aktualisasi kehadiran diriNya. Didalamnya ada keterangan tentang diri, nama sebagai perantara dan kehadiran sebagai sesuatu yang dituju.

Jiwa dan Integrasi Ilmu Alam

Telah diterangkan bahwa jiwa manusia hanya berhubungan dengan pemaknaan. Sedangkan tentang nama, kita dapatkan dari diriNya setelah terjadi penyingkapan melalui alam. Nama itu hadir melalui jiwa kita, sehingga untuk sampai kepadaNya diperlukan epistemologi Hudhuri atau kehadiran.

Berangkat dari sini menunjukkan jiwa adalah aspek penting sebagai sesuatu yang berhubungan dengan alam dan Tuhan. Maka apa-apa yang kita lakukan melalui pendekatan ilmiah itu selalu berhubungan dengan ketetapan jiwa kita.

Ada pepatah dari arab mengatakan “Man Arofa nafsahu faqod arofa robbahu”, menurut saya bait dari larik pepatah itu adalah sesuatu yang logis. Tuhan memang menyentuh kita melalui jiwa, maka tidak ada jalan lain untuk menempurh realitas tertinggi tentangNya selain mengenali jiwa kita lalu membentuknya sesuai dengan karakter yang diinginkan dengan Tuhan.

Pembentukan karakter jiwa kita hanya bisa ditempuh melalui hubungan dengan alam. Apa yang ada di alam itu secara tidak langsung memang berhubungan dengan jiwa kita. Kita bisa mengutip melalui banyak pendapat ahli ilmu alam untuk mengafirmasi pendapat terkait itu.

Misalnya dalam “The Emotion Theory” karya Jean Paul Sartre, dijelaskan merujuk pendapat William James, bahwa pembentukan aspek psikologi manusia salah satunya adalah melalui unsur ekologis terutama biologis tentang apa-apa yang masuk melalui perutnya.

William James menurut Sartre memaparkan bahwa psikologi itu juga melingkupi aspek alamiah. Bahkan secara radikal Freud menyebut karakter jiwa itu memang tidak bisa dilepaskan dari habit atau behavorial dari lingkungan manusia itu tinggal. Sungguh alam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan jiwa kita.

Integrasi ilmu alam menjadi hal niscaya diperlukan sebagai bahan pemaknaan kita terhadap semesta jiwa yang akan menampung namaNya. Dari sini muncul visi antropokosmik yang meletakkan jiwa sebagai pusat pertemuan antara kehadiranNya dengan Alam. Gampangannya, semakin kita mempelajari atau mengintegrasikan ilmu alam, semakin pula kita akan menemukan kehadiranNya.

Kosmologi saintik memposisikan alam sebagai objek. Jadi ilmu alam selalu ditafsir dalam kerangka isolasi terhadap kaitannya terhadap jiwa yang berhubungan sesuatu yang ghaib. Maka perkembangan integrasi ilmu alam dalam kacamata saintisme barat bersifat pasif terhadap hal-hal metafisika. Maka dapat dipahami jikalau visi kosmologi saintifik akan menghasilkan model filsafat antroposentri, yang meletakkan jiwa manusia terpisah dari unsur-unsur ghaib (metafisika).

Barat selalu memisahkan pembahasan tentang manusia dengan alam, maka tentang manusia dan alam tidak tinggal dalam kerangka ilmiah yang memiliki sifat-sifat yang sama.

Visi antropokosmik dalam kosmologi saintifik menjelaskan “kemanunggalan” antara alam, jiwa dan manusia. Maka integrasi ilmu alam itu juga harus dicari korespondensinya dengan ilmu manusia kaitannya dengan kehadiran.

Di alam kita tahu tidak hanya terdiri dari aktifitas ilmiah melalui pendekatan ilmu fisika atau kimia. Tapi juga ada aspek kesejarahan, antropologi dan budaya manusianya. Menurut kosmologi Islam kesemuanya itu merupakan satu kesatuan dan tidak terpisah. Pemisahan itu pasti terjadi dalam pemaknaan yang tidak sampai menyentuh nomena pada realitas.

Untuk mengambil satu hubungan dengan alam itu, bisa melalui pemeriksaan yang mendetail (tahqiq). Dalam kosmologi Islam, tahqiq itu berarti memeriksa untuk menjelaskan keterkaitan tentang apa yang ada di jiwa sebagai realitas huduri, dengan apa yang ada di alam yang tampil melalui makna untuk menyingkap nama.

TENTANG PENULIS

Irfan Al Ayat adalah alumni Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post