Menyadari dan Menyikapi Indonesia Sebagai Ladang Hoax

fake news-lutfiana-berpijar
fake news-lutfiana-berpijar
Penting bagi audiens untuk mengetahui, kebenaran dari suatu informasi. Diantaranya dengan menjadi audiens aktif, selektif dalam penerimaan informasi.

Perkembangan yang signifikan pada teknologi komunikasi dan informasi mampu menciptakan suatu budaya baru pada masyarakat, menjadikan sebuah informasi sebagai konsumsi sehari-hari. Perkembangan teknologi komunikasi juga diikuti oleh pekembangan pesat media massa, terutama pada media sosial.

Seperti yang dikemukakan oleh Howard dan Parks, media sosial merupakan infrastruktur informasi dan alat yang digunakan memproduksi dan memdistribusikan isi media. Isi media dapat berupa pesan pribadi, gagasan, berita, ataupun produk digital lainnya (Rahadi, 2017). Media sosial menjadi media yang paling digemari oleh masyarakat saat ini.

Siapapun dapat menjadi pembuat berita dan siapa pun bisa memproduksi informasi. Hal ini juga terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Seperti saat bangun tidur, kita terbiasa membuka gadget untuk mencari sebuah informasi. Namun informasi seperti apa yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, terutama masyarakat Indonesia?

Seperti yang telah kita ketahui masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh dengan informasi yang beredar pada media sosial tanpa menyaring, sehingga marak penyebaran berita palsu atau biasa disebut dengan hoax. Istilah ini sebenarnya sangat tidak asing di telinga kita.

Indonesia masih memerangi kasus ini, hoax menjadi kasus yang tidak ada hentinya dan menjadi tindak cyber crime pada media, khususnya media sosial. Jangan pernah memaknai hoax dengan remeh, hal ini dapat menjadi pisau yang mematikan.

“HOAX” dapat dimaknai sebagai tipuan. Masyarakat kita memaknai hoax sebagai pemberitaan palsu yang sengaja diedarkan untuk menebar kebencian. Beberapa kasus besar di Indonesia juga disebabkan oleh adanya hoax yang beredar di masyarakat. Salah satu contohnya kasus terbongkarnya kelompok SARACEN yang heboh di masyarakat pada tahun 2017 lalu.

Ternyata memang nyata sebuah situs besar yang sengaja diciptakan suatu kelompok untuk membuat konten berita yang berisi hoax, isu sara dan propaganda yang bertujuan untuk memecah belah ketenangan masyarakat.

Sebagaimana yang diungkapkan Detik.com, Kelompok Saracen ini menggunakan lebih dari 2000 akun media untuk menyebarkan konten kebencian. Rilis resmi dari Kepolisian Republik Indonesia lebih dari 800.000 akun aktif digunakan oleh kelompok ini (detiknews.com, 29/08/2017).

Terbongkarnya kasus Saracen, tidak menyudahi catatan Indonesia sebagai ladang penyebaran berita hoax. Hal ini juga masih berlaku, apalagi momentum pemilihan umum kepala daerah yang akan berlangsung mendatang. Berbagai isu mulai digemborkan, dan berita-berita hoax mulai disebarkan.

Namun kali ini bukan tentang konten berita yang akan kita bahas. Hal yang lebih penting adalah mengetahui mengapa hoax masih menjadi senjata mematikan di media sosial. Bagaimana menjadi audiens yang dapat mengetahui dan memilah berita, memastikan kebenarannya serta membasmi sendiri adanya hoax.

Menjawab beberapa pertanyaan tersebut sebenarnya hal yang mudah tapi juga dapat menjadi hal yang sulit. Hoax begitu dekat dengan kita, setiap hari dapat saja kita temui berita hoax di media, khususnya media sosial. Namun terkadang kita masih acuh tak acuh terhadap kebenaran sebuah berita, disamping itu sikap kurang bijaksana dalam menggunakan media mempengaruhi penyebaran hoax di masyarakat.

Pemberitan palsu masih sering kita jumpai dan terus beredar ditengah masyarakat. Beberapa orang menyadarinya, beberapa orang juga tidak tahu tentang hal tersebut. Peran media tentu sangat penting, karena media yang dianggap sebagai pencipta informasi oleh masyarakat.

Sebenarnya peran individu juga sangat penting. Menurut teori “Jarum Hipodermis”, media massa memiliki kekuatan yang perkasa untuk mengarahkan dan membentuk perilaku khalayak. Pendekatan ini menggunakan pendekatan behaviorisme, dalam studi ini manusia dianggap sebagai makhluk kosong yang siap menerima segala informasi yang masuk (Rakhmat, 2012).

Hal ini masih terjadi dibeberapa masyarakat kita, menganggap informasi yang diterima dari media sebagai sebuah kebenaran. Oleh karena itu media akan menjadi faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak. Sebuah realitas semu akan terbentuk dimasyarakat, dan pemberitaan palsu masih mudah diterima.

Masyarakat memberikan ruang kepada media untuk memproduksi berita yang tidak seharusnya, apa yang diciptakan oleh media disesuaikan untuk memenuhi kepuasan audiens. Respon yang diberikan oleh audiens akan menjadi input pesan yang akan diproduksi oleh media.

Hal tersebut sesuai dengan Uses and Gratifications theory, audiens menjadi penentu apa isi media tersebut. Seperti contohnya, program televisi yang tidak bermutu bisa menjadi berguna bagi audiens tertentu karena merasakan kepuasaan dengan menonton program tersebut (Morrisan, 2012).

Jika masyarakat sebagi audiens merespon hoax dengan perhatian tinggi, maka media yang tidak bertanggung jawab akan memciptakan hal yang dapat memenuhi kepuasaan audiens.

Penyebaran informasi hoax tidak akan ada hentinya, hal ini tentu akan terus diciptakan oleh media atau orang yang tidak bertanggung jawab. Dalam media sosial siapapun bisa menjadi komunikator dan memproduksi informasi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Penting bagi audiens untuk mengetahui, kebenaran dari suatu informasi. Diantaranya dengan menjadi audiens aktif, selektif dalam penerimaan informasi. Memiliki filterisasi dalam diri, dengan tidak mudah mempercayai berita yang beredar di media. Memastikan kebenaran informasi tersebut dengan rajin membandingkan satu berita dari media satu dengan yang lain. Menjadikan media yang telah memiliki integritas, biasanya media berskala nasional maupun internasional sebagai acuan validitas sebuah berita.

Hal terpenting yang juga harus dilakukan sebagai langkah preventif yaitu menerapkan literasi media. Literasi media yaitu kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Program ini harus diterapkan di semua kalangan. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum melek informasi, meskipun globalisasi telah melanda Indonesia sebenarnya hanyalah wilayah perkotaan yang terimbas proses tersebut (Mulyana, 2008).

Masih banyak masyarakat Indonesia yang menerima begitu saja informasi yang beredar dan meyakini hal tersebut sebagai sebuah realitas sosial. Masyarakat kelas menengah ke bawah dan anak-anak menjadi golongan yang rawan terhadap berita hoax. Untuk itu penerapan literasi media harus disosialisasikan dan distribusikan pada semua lapisan masyarakat.

Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga kita yang telah menyadari dan memahami program ini. Penyebaran berita hoax tidak dapat dikendalikan, namun kita dapat mengantisipasi dan menyikapi dengan bijak.

 

Rujukan

Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjajaran

Morrisan. 2010. Psikologi Komunikasi. Bogor: Galia Indonesia

Rakhmat, Jalaludin. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Rahadi, Rianto Dedi. 2017. “Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax Di Media Sosial”. Dalam Jurnal Managemen & Kewirausahaan. Vol. 5, No. 1, 2017. (jurnal.unmer.ac.id/index.php/jmdk/article/view/1342)

TENTANG PENULIS

Lutfiana adalah mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Lutfiana

Lutfiana adalah mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post