Menggali Kembali Pengaruh Rusia terhadap Terciptanya Perdamaian dalam Konflik di Kaukasus Selatan

Perdamaian sebisa mungkin tidak dihasilkan jika melalui tangan lainnya selain Rusia, dari sini sangat terlihat jelas bahwa Rusia ingin sekali mendominasi upaya perdamaian di Kaukasus Selatan.

Menggali Kembali Pengaruh Rusia terhadap Terciptanya Perdamaian dalam Konflik di Kaukasus Selatan-Agung TP-Berpijar
Menggali Kembali Pengaruh Rusia terhadap Terciptanya Perdamaian dalam Konflik di Kaukasus Selatan-Agung TP-Berpijar
Vladimir Putin dan Serzh Sargsyan (Foto: Kremlin Press Service via The Moscow Times)
Perdamaian sebisa mungkin tidak dihasilkan jika melalui tangan lainnya selain Rusia, dari sini sangat terlihat jelas bahwa Rusia ingin sekali mendominasi upaya perdamaian di Kaukasus Selatan.

Jika melihat dari judul yang akan penulis jabarkan di bawah ini, maka jelaslah jadinya jika posisi penting Rusia merupakan salah satu alasan terpenting dalam pemilihan negara tersebut menjadi mediator dalam konflik yang terjadi di kawasan Kaukasus Selatan. Di lain pihak, menurut pandangan penulis, Rusia memang memiliki peran khusus untuk tidak menciptakan perdamaian jika tidak melalui tangannya langsung.

Mengapa? Sebab Rusia menjadi dasar konflik tersebut, sehingga belum dapat selesai hingga saat ini. Penulis berasumsi bahwa Rusia sengaja membiarkan konflik tersebut everlasting agar pengaruhnya tidak hilang di kawasan Kaukasus Selatan.

Kaukasus Selatan merupakan sebuah wilayah yang terletak di selatan pegunungan Kaukasus, sebelah selatan Rusia. Wilayah ini disinyalir berbeda dengan wilayah post-soviet lainnya, karena tidak memiliki keterikatan yang bagus didalamnya. Wilayah ini berisikan tiga negara post-soviet era yaitu Georgia, Azerbaijan dan Armenia.

Dalam jurnal karya Tracey German (2012: 138) yang berjudul “Good neighbours or distant relatives? Regional identity and cooperation in the South Caucasus”, dijelaskan bahwa ketiga negara Kaukasus Selatan tidak memiliki tingkat kerja sama yang baik, tidak terikat dengan erat meskipun memiliki kedekatan secara geografis. Tidak pernah ada identitas bersama yang diusahakan untuk terbangun seperti di negara-negara kawasan Baltik.

Di Kaukasia Selatan tidak pernah ada identitas sebagai satu Kaukasus. Penyebabnya adalah perbedaan Identitas, sejarah yang berbeda, demografi wilayah yang sangat jauh kaitannya satu sama lain, perbedaan kepentingan serta tidak adanya kemunculan mush bersama yang dapat menimbulkan rasa satu peran dan satu sepenanggungan (German, 2012: 139).

Georgia adalah negara yang paling pro terhadap Barat, sedangkan Armenia memposisikan Rusia sebagai negara yang paling dapat dijadikan teman serta mitra dalam keamanan maupun perekonomian. Untuk Azerbaijan tidak keduanya, negara ini memiliki identitas sebagai negara yang netral dari pengaruh barat maupun Rusia (German, 2012:143 dan Yakobashvili, 2013:5-6).

Lebih lanjut ketiga negara ini memiliki perbedaan dalam hal visi, phobos (fear), self-interest, dan common belief (Yakobashvili, 2013:5). Perbedaan-perbedaan yang terjadi telah membuat ketiga negara tersebut berada dalam posisi yang sulit untuk berinteraksi satu sama lainnya, meskipun tidak mungkin dalam sebuah kawasan tidak terjalin hubungan apapun. Perbedaan kepentingan serta instrumen lainnya kemudian menimbulkan permasalahan-permasalahan seperti konflik di Nagorno-Karabakh dan di Georgia berkaitan dengan Abkhazia-South Ossetia.

Akan tetapi pada saat ini, penulis hanya ingin memfokuskan tulisan ini pada konflik yang terjadi di Nagorno-Karabakh, karena menurut pandangan penulis, terjadi hubungan yang kompleks antara Azerbaijan-Armenia sehingga dapat merepresentasikan pengaruh Rusia dan usahanya dalam memonopoli pengaruh di Kaukasus Selatan berkaitan dengan manajemen konflik.

Dari sekian banyak upaya untuk melakukan penyelesaian masalah di dalam konflik antara Armenia dan Azerbaijan terkait dengan wilayah Nagorno-Karabakh, hanyalah upaya resolusi konflik dari Rusia pada tahun 1994 yang dapat dikatakan berhasil dengan baik, meskipun hanya berwujud genjatan senjata (Mahmudlu dan Adilov, 2017: 1). Sebenarnya terdapat beberapa aktor lainnya yang berusaha untuk mewujudkan perdamaian di Nagorno-Karabakh, namun proses mediasi selalu menimbulkan permasalahan lain dan selalu mengarah kepada terjadinya konflik kembali.

Salah satu aktor yang berusaha untuk menjadi mediator dalam konflik ini adalah Iran, yang memiliki batas langsung dengan kedua negara yang bersengketa yaitu Armenia dan Azerbaijan. Pada tahun 1992 Iran berhasil mengadakan perjanjian genjatan senjata, diformulasikan di Tehran, namun segera setelah itu perjanjian tersebut hancur seiring penyerangan militer kelompok masyarakat Armenia yang menjadi mayoritas penduduk di Nagorno-Karabakh, mereka menyerang negara bagian Shusha (Mahmudlu dan Adilov, 2017: 2).

Sejak saat itu proses untuk mediasi oleh Iran dipandang tidak efektif dan terkesan berat sebelah, terutama dinilai oleh pemerintah Azerbaijan, sehingga proses mediasi tidak pernah lagi dipercayakan melalui pihak ketiga pemerintah Iran.

Mahmudlu dan Adilov (2017:5) menyebutkan dalam jurnalnya bahwa kemungkinan ketidakberhasilan dari mediasi konflik yang diprakarsai oleh Iran terhadap Armenia dan Azerbaijan salah satunya adalah ketidakinginan aktor kuat di regional untuk ikut campur atau mendukung peace talk yang diselenggarakan.

Menjadi sangat beralasan jika Rusia pada saat upaya mediasi dilakukan oleh Iran, aktor utama regional tersebut (Rusia) tidak ingin ikut campur didalamnya, karena pengaruh luar seperti Iran nantinya dapat berdampak besar dalam upaya-upaya perluasan pengaruh Rusia di wilayah Kaukasus Selatan ini.

Membantu upaya perdamaian yang diselenggarakan negara lain seperti bukan sifat Rusia, karena Rusia dikenal sebagai negara yang selalu ingin menjadi yang utama, bukan pembantu maupun yang biasa mengikuti arahan-arahan negara lainnya, apalagi sekelas Iran. Apalagi konflik yang terjadi di Nagorno-Karabakh merupakan sebuah konflik yang telah ada sejak periode Soviet, jadi sudah menjadi sebuah tanggung jawab bagi Rusia untuk ikut campur didalamnya, tapi tidak dengan bantuan negara lain seperti Iran.

Pernyataan bahwa asumsi kegagalan-kegagalan mediasi konflik Nagorno-Karabakh merupakan tanggung jawab Rusia, dengan kata lain Rusia berada di belakang kegagalan-kegagalan perjanjian damai yang diinisiasi jelas ada dalam jurnal yang ditulis oleh Mahmudlu dan Adilov (2017: 12).

Kejadian buruk sebelum perjanjian perdamaian 1999 di Istanbul adalah tertembaknya delapan politisi terkemuka parlemen Armenia termasuk didalamnya perdana menteri Armenia, Vazgen Sargsian, ketua parlemen serta mantan petinggi partai komunis oleh kelompok bersenjata Rusia (King, 2009:223, dalam Mahmudlu dan Adilov, 2017:12). Kejadian tersebut diasumsikan merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Rusia untuk menghentikan proses mediasi-negosiasi antara Azerbaijan dan Armenia.

Perdamaian sebisa mungkin tidak dihasilkan jika melalui tangan lainnya selain Rusia, dari sini sangat terlihat jelas bahwa Rusia ingin sekali mendominasi upaya perdamaian di Kaukasus Selatan. Rusia sengaja mencegah segala upaya dalam keberhasilan penciptaan perdamaian di Kaukasus Selatan oleh aktor lain. Rusia begitu takut jika kekuatan negara-negara lainnya seperti Turki dan Iran mengambil alih upaya perdamaian konflik Kaukasus Selatan.

Karena hal tersebut secara langsung akan menyebabkan penguatan pengaruh kedua negara tersebut dalam perpolitikan di kawasan. Padahal disisi lain, Iran memiliki inisiatif untuk melakukan mediasi konflik adalah dengan alasan bahwa ketika kedua negara tersebut (Armenia dan Azerbaijan) semakin jauh jatuh kepada konflik nantinya akan menguatkan posisi Rusia yang berusaha untuk memasukkan kedua negara tersebut kembali ke dalam teritorinya seperti pada masa Soviet. Ketika kedua negara tersebut masuk ke dalam federasi Rusia, maka keamanan dan stabilitas di Iran semakin sulit untuk dikendalikan.

 

Referensi

German, Tracey. 2012. “Good neighbours or distant relatives?” Regional identity and cooperation in the South Caucasus, Central Asian Survey, 31:2, 137-151, DOI: 10.1080/02634937.2012.671990.

Mahmudlu, Ceyhun & Shamkhal Abilov. 2017. “The peace-making process in the Nagorno-Karabakh conflict: why did Iran fail in its mediation effort?”, Journal of Contemporary Central and Eastern Europe, DOI: 10.1080/25739638.2017.1404259.

Yakobashvili, T. 2013. “Is the South Caucasus a Region?”, Caucasus Analytical Digest, No. 51-52.

TENTANG PENULIS

Agung Tri Putra adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post