Pembangunan yang Berfokus Kepada Manusia, Sebuah Gagasan dari Amartya Sen

Mahbub dan Sen mengajarkan kepada kita, bahwa yang terpenting dari pembangunan bukanlah angka-angka, tapi manusianya. Ekonomi tidak selalu harus berhitung, tapi terkadang perlu dirasakan.

Pembangunan yang berfokus pada manusia_Reza Hikam_Berpijar
Development As Freedom
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Development as Freedom

Penulis

Amartya Sen

Penerbit

Oxford University Press

Tebal Buku

xvi+366 halaman

Tahun Terbit

2001

Jenis Buku

Buku perkuliahan

 

Amartya Sen memang pantas mendapatkan Hadiah Nobel di bidang ekonomi karena karyanya yang satu ini telah menyuguhkan pandangan yang berbeda mengenai pembangunan. Bagi kita yang awam akan terkesima mengenai ide-ide yang beliau uraikan mengenai tujuan pembangunan yang selama ini hanya dipahami melalui pertumbuhan ekonomi dalam bentuk pendapatan per kapita dan pendapatan domestik bruto (PDB).

Hal-hal yang bersifat kuantitatif semacam itu memang penting, namun jangan sampai menjadi fokus bagi para pakar pembangunan. Ada serentetan permasalahan lain yang lebih nyata dan menjangkau khalayak umum, layaknya kebebasan. Apakah masih relevan ide abstrak seperti kebebasan dimasukkan dalam studi pembangunan? Bagi Sen, sangat relevan.

Sejak dari bagian introduction, Sen memberikan penjelasan bahwa pembangunan merupakan proses untuk mengembangkan kebebasan yang dinikmati oleh khalayak umum. Fokus kepada kebebasan manusia sangatlah bertolak belakang dengan pandangan sempit pembangunan yang hanya melihat pertumbuhan produk nasional bruto (PNB) dan terjadinya industrialisasi, perkembangan teknologi ataupun modernisasi sosial.

Pertumbuhan ekonomi hanyalah cara untuk mencapai kebebasan yang wajib dinikmati seluruh manusia. Akan tetapi, kebebasan tergantung pula pada determinan lainnya seperti hak sipilnya, kebebasan berpendapat dan hak berpolitik.

Ada beberapa permasalahan yang menghambat kebebasan yang memang harus ditanggulangi oleh pembangunan, seperti kemiskinan, kediktatoran dan deprivasi sosial. Problema tersebut menjadi hal-hal penghambat manusia berkembang, karena tidak memiliki kebebasan sama sekali. Adapula alasan melaksanakan pembangunan dengan dua alasan: evaluatif dan efektivitas.

Harus ada agen perubahan yang bersifat bebas (independen) dan berkelanjutan (sustainable) sebagai motor penggerak pembangunan. Apa yang dapat dicapai oleh seseorang terpengaruh oleh peluang ekonomi, kebebasan politik, kekuatan sosial, kondisi kesehatan, inisiatif dan pengetahuan.

Amartya Sen mengutarakan pula bahwa pendapatan per kepala sebenarnya tidak begitu berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat di sebuah negara. Ia melakukan perbandingan, dimana penduduk di Gabon, Afrika Selatan dan Brasil memiliki pendapatan yang lebih dibanding warga negara Sri Lanka dan Cina. Namun dua negara terakhir yang disebut, penduduknya memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi ketimbang negara-negara yang disebutkan sebelumnya.

Pemahaman terhadap angka harapan hidup ini sangatlah substansial guna memahami pembangunan dan keterbelakangan. Menjadi penduduk di negara maju bukan berarti umur kalian akan lebih panjang ketimbang yang hidup di negara dunia ketiga.

Pembahasan mengenai pasar bebas juga tidak lupu dari pandangan Amartya Sen. Beliau berargumen bahwasanya kita tidak dapat memungkiri sumbangsih pasar (market) dalam pembangunan cukup banyak. Terutama jika bicara transaksi maka akan ada interaksi sosial di dalamnya dan membantu manusia untuk menjadi negosiator yang baik.

Namun baginya, kebebasan di pasar harus dilandasi terlebih dahulu oleh kebebasan berbicara dan berinterkasi oleh negara. Ia berdalih bahwa melawan pasar sama saja melawan interaksi sesama manusia. Kebebasan berbicara dengan siapa saja merupakan sifat alamiah manusia. Jadi mekanisme pasar memiliki merupakan salah satu komponen yang membangun kehidupan manusia secara alamiah.

Dalam buku ini, kebebasan merupakan dua hal krusial bagi pembangunan: tujuan utama dan juga cara utama. Maka dari itu, kebebasan memiliki peran konstitutif, untuk mencapai kebebasan yang substansial, maka partisipasi politik dan kebebasan berekspresi agar manusia bisa mengembangkan kapabilitasnya dengan kemampuan mengakses kesehatan dan pendidikan dengan mudah.

Lalu ada peran instrumental yang bermaksud bahwa suatu kebebasan (kebebasan berbicara) yang akan didapatkan masyarakat (manusia) dapat menjalar kepada kebebasan yang lainnya (kebebasan berekspresi). Pembangunan harus menghilangkan segala macam deprivasi yang ada dalam diri manusia.

Akan tetapi, pandangan peran instrumental menekankan kepada pengembangan ekonomi, bahwa pembangunan harus memiliki peran sebagai alat untuk pertumbuhan ekonomi sebuah negara atau perseorangan.

Ada beberapa kebebasan instrumental yang disebutkan oleh Amartya Sen: kebebasan politik, fasilitas ekonomi, peluang sosial, transparansi, dan keamanan. (1) Kebebasan berpolitik ini menandakan pentingnya masyarakat untuk menentukan siapa yang akan mengelola kehidupan mereka dan dengan cara apa. Kebebasan ini melingkupi diperbolehkannya masyarakat untuk mengkritik pemimpin mereka, dengan cara ini, manusia akan berkembang secara perlahan. Kebebasan politik merupakan demokrasi yang sesungguhnya.

(2) Fasilitas ekonomi bermaksud agar setiap individu punya peluang yang sama dalam menggunakan sumber daya ekonomi untuk tujuan konsumsi, produksi maupun berdagang dengan bebas. Kebebasan dalam mengakses finansial merupakan permasalahan yang krusial, karena manusia hidup pastinya butuh modal (seperti Student Loan), namun peluang ini haruslah setara antara yang memiliki perusahaan besar maupun usaha kecil.

(3) Peluang sosial mengacu kepada peluang masyarakat dalam mengakses penghidupannya, terutama kesehatan dan pendidikan. Peningkatan mutu hajat hidup masyarakat penting untuk meningkatkan pula partisipasi masyarakat dalam aktivitas politik dan ekonomi (bagaimana seseorang bisa mencoblos apabila dia mati muda, belum sampai umur untuk bisa memilih-kasus kesehatan). Bagaimana pun juga, orang harus bisa membaca agar paham nominal angka dalam uang.

(4) Transparansi dibutuhkan karena masyarakat dimana kita hidup didasarkan kepada kepercayaan (trust) antara satu manusia dengan yang lain. Menggaransi transparansi akan menghindarkan pemerintah dari ketidakpercayaan yang akan berdampak pada konflik skala besar.

(5) yang terakhir, keamanan bukan bicara mengenai pertahanan saja, tapi melingkupi akuntabilitas pemerintah agar dapat menjaga kehidupan masyarakatnya dengan menyediakan empat poin sebelumnya.

Setelah kita berbicara panjang lebar mengenai kebebasan, apa sebenarnya pondasi dari pembangunan dan kebebasan? Keadilan! Penegakkan keadilan ini dapat dilaksanakan apabila ada kemauan untuk saling menolong dan mendapat informasi yang kredibel mengenai permasalahan yang akan diselesaikan, maka dari itu kembali kepada paragraf sebelumnya, bahwa transparansi berbicara mengenai informasi yang jelas.

Negara beserta pemerintahnya perlu memiliki informasi kredibel dan mengetahui kebutuhan hidup dari setiap warga negaranya guna membantu mereka. Jika berbicara pemenuhan kebutuhan, maka akan muncul rasa senang apabila kebutuhan tersebut dipenuhi, dan pastinya, rasa senang tidak dapat dikuantifikasi dengan metode ilmiah seperti apapun.

Tidak salah apabila Amartya Sen mendapatkan Hadiah Nobel dibidang Ekonomi pada tahun 1998 atas sumbangannya terhadap ekonomi kesejahteraan. Beliau merupakan teman dekat Mahbub ul Haq. Beliau menuliskan sebuah obituari bagi Haq di ”The Independent”. Sedihnya, tahun dimana Profesor Mahbub meninggal adalah tahun yang sama saat Amartya Sen mendapatkan Hadiah Nobelnya.

Mahbub dan Sen mengajarkan kepada kita, bahwa yang terpenting dari pembangunan bukanlah angka-angka, tapi manusianya. Ekonomi tidak selalu harus berhitung, tapi terkadang perlu dirasakan.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post