Potret Perempuan di Dunia Maya dan Simbol Perlawanan Via Vallen

Via Vallen mengganggap dirinya layak untuk dilihat sebagai sebuah individu yang utuh dengan segala karya yang dihasilkan oleh dirinya dan itu yang membuatnya terkenal.
Semangat ini yang harus ditularkan kepada warganet secara umum atau secara khusus seorang perempuan yang sedang merasa direndahkan.

Via Vallen_Rizky Bangun Wibisono_Berpijar
Via Vallen2_Rizky Bangun Wibisono_Berpijar
Via Vallen. (Foto: Okezone)
Via Vallen mengganggap dirinya layak untuk dilihat sebagai sebuah individu yang utuh dengan segala karya yang dihasilkan oleh dirinya dan itu yang membuatnya terkenal. Semangat ini yang harus ditularkan kepada warganet secara umum atau secara khusus seorang perempuan yang sedang merasa direndahkan.

Baru-baru sebuah kasus pelecehan menimpa seorang penyanyi dangdut yang sedang di puncak karirnya menyita perhatian khalayak warganet. Ya, dia adalah Maulidia Oktavia, penyanyi pop-dangdut yang yang dikenal luas nama Via Vallen.

Sebagaimana banyak diketahui, Via Vallen sempat mem-posting direct message (DM) tak senonoh yang dikirimkan pesepakbola pria lewat Instagram Story.

Layaknya fenomena media sosial dalam merespon berbagai peristiwa maupun fenomena pada umumnya, cerita ini menimbulkan pandangan yang sangat beragam dari netizen. Lebih jauh lagi, persoalan ini melingkupi sesuatu bahasan yang diliputi dua paradoks yang bersamaan. Isu semacam seksualitas satu sisi dianggap tabu, namun di sisi lain menjadi materi yang paling menarik diperbincangkan di jagat media sosial.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba sedikit memberikan gambaran dari sudut pandang akademis. Meskipun penulis harus mengakui sulit rasanya untuk tetap objektif karena status penulis yang juga sebagai Vianisty (penggemar Via Vallen). Namun, tetap mari kita telisik dan analisis kasus ini dari sudut pandang yang lebih luas serta komprehensif.

Sebenarnya, kasus serupa pasti sudah sering terjadi di lingkungan kita, atau bahkan salah satu dari pembaca juga pernah melakukannya. Itulah sebabnya penulis menganggap kasus ini bisa digunakan sebagai pengingat bahwa dunia kita (baik online ataupun nyata) sedang tidak baik-baik saja.

Penulis mencoba menggambarkan kasus ini dalam beberapa kata sederhana: Inilah potret perempuan di dunia maya. Tidak berlebihan, perempuan sedang mengalami kondisi ancaman akan kekerasan baik di dunia nyata atau pun maya.

Kekerasan yang dilakukan pada perempuan di internet jenisnya beragam. Willard (2007) menuturkan bahwa beberapa bentuk kekerasan yang umumnya dilakukan oleh individu ketika berinteraksi di dunia maya diantaranya: menyampaikan pesan penuh amarah dan kebencian (flaming).

Selain itu ada lagi pelecehan dengan mengunggah pesan-pesan tak pantas (harassment), pencemaran nama baik (denigration); melakukan pelecehan terhadap seseorang dengan menggunakan identitas palsu (impersonation); penyebaran informasi yang tidak dikehendaki (outing); melakukan tipu daya untuk keuntungan pribadi (trickery), mengeluarkan individu dari interaksi sosial (exclusion); dan menguntit dan mengawasi korban (cyberstalking).

Rentetan jenis kekerasan itu biasanya dialami oleh perempuan dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah laki-laki.

Di sisi lain, berdasarkan penelitiannya Price dan Dalgish (2009) menemukan bahwa beberapa bentuk kekerasan yang dapat dialami individu ketika berinteraksi di dunia maya. Kekerasan tersebut dapat berupa pemberian nama negatif, penyebaran isu atau rumor, atau mendapatkan komentar-komentar yang kasar.

Korban kadang juga mendapat ancaman yang akan membahayakan secara fisik, ditipu oleh pelaku dengan menggunakan identitas palsu, foto atau video korban disebarkan tanpa persetujuan darinya.

Mengaca dari pemaparan para ahli yang telah dikemukakan di atas, bentuk kekerasan yang dialami oleh Via Vallen adalah salah satu bentuk cyber harassment (pelecehan dengan mengunggah pesan-pesan tak pantas. Dimana menurut catatan tahunan milik Komnas Perempuan kekerasan ini menjadi urutan kedua menjadi kasus yang paling sering terjadi terhadap perempuan.

Di sisi lain, penulis melihat ada fenomena menarik ketika kita melihat Via Vallen diposisikan sebagai korban. Dalam unggahannya tersebut, Via Vallen dengan mengejutkan seolah memberikan perlawanan terhadap sang pelaku yang selama ini sepertinya jarang dilakukan oleh si korban pada umumnya.

Ketika kita melihat tujuan pelaku melakukan tindakan harassment, sepertinya ini biasanya dilakukan untuk menyerang kesadaran seorang perempuan tentang dirinya. Via Vallen mengganggap dirinya layak untuk dilihat sebagai sebuah individu yang utuh dengan segala karya yang dihasilkan oleh dirinya dan itu yang membuatnya terkenal.

Semangat ini yang harus ditularkan kepada warganet secara umum atau secara khusus seorang perempuan yang sedang merasa direndahkan. Fenomena ini harus dilihat sebagai alarm dukungan kepada korban dengan #SaveViaVallen yang sedang viral di media sosial kedepan agar tidak ada impunitas, dan korban segera mendapatkan pemulihan.

Walaupun tidak sedikit komentar miring yang menjelaskan bahwa sudah menjadi hal yang wajar seorang penyanyi dangdut menerima tindakan demikian, masih bersyukur tidak di “sentuh” dan mereka menyarankan Via Vallen agar tidak berlebihan.

Dengan adanya konstruksi sosial mengenai relasi yang demikian (ketidaksetaraan), serta power relation yang menempatkan perempuan pada posisi yang sangat tidak berdaya, perempuan kerap dijadikan objek seksual dan tidak mampu menolak ketika diminta melakukan sebuah tindakan.

Belum lagi sanksi sosial yang diberikan oleh warga masyarakat akibat pelanggaran yang sebenarnya dilakukan oleh penyebar yang biasanya adalah kaum laki-laki. Justru berbalik ketika semua tangan menunjuk kepada perempuan yang sebenarnya menjadi korban.

Relasi yang demikian harus segera diakhiri karena tidak sedikit perempuan di sekitar kita yang menjadi korban diskriminasi akibat undang-undang yang tidak tuntas seperti ini, dan tidak berlebihan banyak perempuan yang bahkan gagal mencapai identitas alamiahnya karena bentuk-bentuk diskriminasi akibat persoalan seperti ini. Tentang hal ini saya telah jabarkan panjang lebar dalam skripsi daya (lebih detailnya baca Wibisono, 2017).

Terakhir, ini adalah pertanda baik bagi kasus-kasus serupa yang ada di negeri kita yang selama ini hanya menjadi “Bongkahan Gunung Es”, yang terkungkung beku dan dingin dalam ketakutan masing-masing korban. Via Vallen telah menunjukan kepada kita semua bahwa, kesadaran akan kepemilikin diri yang utuh sebagai sebuah individu justru akan memperkenalkan diri kita dengan lebih baik daripada segala bentuk pelecehan dan kekerasan yang mereka buat.

Bagi siapapun yang pernah ataupun berniat melakukan tindakan serupa harap segera bertaubat, karena kesadaran ini akan segera tumbuh dan kita tidak akan tinggal diam untuk membela saudara kita. Via Vallen adalah Kita.

 

Rujukan

Price, M. dan Dalgeish 2009. “Cyberbullying: Experinces, Impacts and Coping Strategy as Described by Australian Young People”. Journal Youth Studies Australian, 29(2), 51-59.

Wibisono, R. Bangun. 2018. “Pencapaian Identitas Politik Perempuan di Indonesia dalam Kurun Waktu 2009-2017: Studi Tentang RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender”. Skripsi Ilmu Politik FISIP UNAIR 2018.

Willard, N. 2007. Cyberbullying and Cyberthreats : Responding to the Challenge of Online Social Aggression, Threats, and Distress. Mishawaka : Research Press.

TENTANG PENULIS

Rizky Bangun Wibisono adalah alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post