Tentang Dakwah dan Sikap Teladan Mo Salah

Dengan cukup bermain secara profesional dan berperilaku apik di luar lapangan, para penggemarnya dapat terpikat dengan latar belakang agama Mo Salah.

Mo Salah_A Ghulam Zaki_Berpijar
Mo Salah_A Ghulam Zaki_Berpijar
Mohamed Salah. (Foto: Daily Mail via Topskor.id)
Dengan cukup bermain secara profesional dan berperilaku apik di luar lapangan, para penggemarnya dapat terpikat dengan latar belakang agama Mo Salah.

Bagaimana seseorang dapat dikategorikan sedang berdakwah? Apakah dengan berpakaian serba putih, sarung terikat rapi, dan peci hitam pekat serta wewangian yang dapat dicium dari jarak lima meter? Jika hanya sebatas itu pemahaman kita tentang dakwah, kita sedang kehilangan bangunan utuh dari konsep dan makna kata “dakwah.”

Kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang mengandung makna panggilan atau seruan dan undangan. Jika kata dakwah dimasukkan dalam bingkai Islam, maka panggilan dan undangan itu memuat pesan-pesan keislaman yang berasal dari ayat-ayat Al-Quran.

Bila kita analisa, dakwah merupakan proses komunikasi. Ada seseorang yang bertindak sebagai pengirim pesan (komunikator) dan ada yang bertindak sebagai penerima (komunikan). Pesannya sendiri berisi tentang ajakan untuk dapat mencicipi lezatnya Islam dengan pemaparan ayat-ayatNya.

Berbicara tentang pesan, ada dua bentuk pesan yang dapat diungkapkan oleh manusia. Ada pesan verbal atau tertulis dan ada pesan nonverbal berupa isyarat atau perbuatan. Kalau meminjam ungkapan agama disebut sebagai dakwah bil lisan (dakwah dengan lisan) dan dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan). Jika dakwah dimaknai secara verbal itu terlampau mudah. Tinggal ngomong atau nulis apapun (buku, esai, kolom, dan lain-lain) yang mengandung pesan-pesan yang mengajak kepada Islam.

Akan tetapi jika dakwah dimaknai secara nonverbal, ia berwujud tindakan. Dakwah dengan pesan-pesan nonverbal memperlihatkan pengamalan dari nilai-nilai ke-Islaman. Ia merupakan produk material yang tampak secara lahir. Berbeda dengan pesan-pesan verbal yang hanya terdiri atas kata-kata yang hanya menawarkan aspek immaterial karena sebatas ide dan gagasan belaka. Pada akhirnya, tindakanlah yang berbicara!

Selaras dengan apa yang pernah dikemukakan Budayawan Kawakan Indonesia Emha Ainun Najib bahwa pada dasarnya orang yang berbuat baik itu pada dasarnya sedang menjalankan dakwah.

Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang sudah terekam sejak tahun 1736 berbunyi, “action speak louder than words” (dalam theidioms.com). Maksudnya, tindakan lebih bisa “terdengar” daripada kata-kata. Tindakan merupakan bukti yang lebih dipercaya daripada kata-kata.

Jika kata-kata hanyalah ungkapan ”I love you”, maka tindakan adalah ketersediaan seseorang untuk bersama pujaan hatinya melewati masa suka dan duka dan bersedia berkorban untuk sang pujaan hati.

Bagaimana jika ada yang mengucapkan hal serupa, tetapi tindakannya bertentangan dengan ucapannya itu? Mana yang lebih Anda percaya atau yakini?

Jadi, dakwah dengan tindakan ternyata lebih meyakinkan dan lebih bisa memikat hati daripada dakwah dengan lisan maupun tulisan. Salah satu contoh terbaik yang ada adalah dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau tetap berdakwah dengan menyerukan kebenaran kepada kaumnya begitu pula amal perbuatannya.

Sederhananya, dakwah Nabi Muhammad dengan lisan adalah dakwah secara terang-terangan, sedangkan dakwah dengan amalan perbuatan termasuk dalam bentuk yang tersembunyi. Jelas bahwa Nabi Muhammad menentang kepercayaan-kepercayaan paganisme, namun beliau tidak kehilangan adab ketika bersama-sama mereka.

Rasulullah saw tetap membantu para fakir miskin dan menyayangi pamannya yang belum masuk Islam sampai wafat! Beliau SAW sudah secara gamblang menyatakan dengan mengutip salah satu ayat dalam Alquran yang berbunyi “untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (Al-Kafirun 109:6). Tetapi hal itu tidak lantas menghalanginya untuk tetap bertetangga dengan mereka yang belum Islam.

Sekarang, mari lihat fakta yang ada secara langsung di lapangan dan masih dapat kita saksikan. Maksud saya memang di lapangan sungguhan, yaitu di lapangan sepak bola. Pemain-pemain Muslim turut mewarnai jagad persepakbolaan di Eropa dan dunia. Masih ingatkah kita tentang kehebatan Zinedine Zidane yang sekarang menjadi pelatih, Karim Benzema, Mesut Ozil, Yaya Toure, dan masih banyak lagi.

Kemudian, datanglah Mohamed Salah yang berkebangsaan Mesir. Sampai dengan dibuatnya tulisan ini, Mo Salah—sapaan akrabnya—bermain untuk klub Inggris Liverpool. Dia menjadi tokoh yang cukup mendapat sorotan media lantaran berhasil mengawal Liverpool dalam pertandingan final Champions League melawan Real Madrid.

Mengutip berita yang dimuat Africanews.com, mantan pemain AS Roma ini menjadi orang berkebangsaan Mesir pertama yang mendapatkan penghargaan Player of the Year dari Professional Footballer’s Association (PFA) milik Inggris. Penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap permainannya yang mampu mencetak gol sebanya 41 kali sejak tahun 2017.

Selain itu, beberapa penghargaan lain juga tidak luput dari performanya yang menawan seperti penghargaan sepatu emas oleh Liga Primer Inggris (soccer.sindonews.com, 14/05/2018). Oleh para penggemar Liverpool-nya, Salah mendapatkan julukan “Egyptian King” yang merupakan bagian dari lirik sebuah lagu persembahan khusus untuk dirinya!

Di lapangan, Salah tampil spektakuler. Tapi bagaimana dengan versi dirinya di luar lapangan? Mahmoud Fayez—asisten manager Mesir—memberikan cuplikan tentang kepribadian Salah dan kehidupannya saat di luar lapangan: “Dia melakukan pekerjaan yang luar biasa. Rahasia kehebatannya? Itulah  kerendahan hatinya. Dia seorang superstar tapi hidup sebagai orang sederhana. Dia menggunakan kemampuannya untuk melayani negaranya dan Anda bisa melihat seberapa berartinya hal itu untuk dirinya saat ia menyanyikan lagu kebangsaan. Dia bertarung setiap detik, setiap saat, setiap sprint, setiap tackle, setiap tendangan. Dia bertarung. Inilah Salah. Inilah mengapa dia merupakan pahlawan untuk setiap orang Mesir.” Demikianlah ulasan Mahmoud Fayez tentang Salah sebagaimana dikutip dalam thisisanfield.com (02/06/2018).

Mo Salah merupakan contoh yang patut diteladani. Kehidupannya seimbang, antara urusan dunianya sebagai pemain sepak bola dengan kehidupan spiritualnya yang nampak dalam kesederhaan dirinya. Sebagai seorang Muslim, ini salah satu lahan dakwah. Pastinya dakwah di sini dengan tindakan.

Salah menunjukkan permainan terbaiknya sehingga tidak mengecewakan penggermarnya dan menunjukkan kerendahan hati yang membuat orang lain makin terpikat olehnya. Mereka menyukainya tanpa melihat apakah dia di lapangan atau tidak.

Dalam salah satu lirik yang dipersembahkan oleh para penggemar The Reds, julukan Liverpool, ada bait yang berbunyi, “…if he scores another few, then I’ll be Muslim too”. Bait tersebut menegaskan betapa berpengaruhnya ke-Islaman yang dibawa oleh Salah. Dengan cukup bermain secara profesional dan berperilaku apik di luar lapangan, para penggemarnya dapat terpikat dengan latar belakang agama Salah.

Dengan demikian, dakwah menjadi lebih luas dan tidak terbatas kepada orang-orang yang faqih atau paham terhadap agama. Anda tidak harus mendapatkan gelar “ulama” atau “LC.” Cukup dengan menjadi ahli dengan suatu hal dan mewarnai hal itu dengan nilai-nilai Islam. Selalu berupaya untuk memperbaiki keahlian tersebut sehingga benar-benar menjadi profesional.

Orang-orang yang memiliki minat yang sama kemudian dapat menjadikan Anda sebagai rujukan. Akan menjadi nilai yang plus jika Anda dapat pula menghiasi perilaku Anda sehingga membuat mereka terpikat lebih secara emosional.

TENTANG PENULIS

A Ghulam Zaki adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post