Selamat Datang di Amerikanya Donald Trump: Ulasan Film “Fahrenheit 451” (2018)

Jika dulu, Bradbury (juga Truffaut di tahun 1966) menghadapi sebuah kekhawatiran akan akses negatif teknologi televisi, maka Bahrani mengubahnya menjadi kekhawatiran pada internet.

Fahrenheit 451_AH Bas_Berpijar
Fahrenheit 451_AH Bas_Berpijar
Dibintangi oleh Michael B. Jordan dan Michael Shannon, Fahrenheit 451 menggambarkan masa depan yang gelap di mana media adalah candu, sejarah ditulis ulang dan "firemen" membakar buku. (Foto: HBO)
Jika dulu, Bradbury (juga Truffaut di tahun 1966) menghadapi sebuah kekhawatiran akan ekses negatif teknologi televisi, maka Bahrani mengubahnya menjadi kekhawatiran pada internet.

Membicarakan karya berjudul “Fahrenheit 451” berarti membicarakan rezim otoriter dengan kebijakan utamanya: membakar buku. Tentu, membakar buku dalam karya ini dapat diartikan apapun, tergantung konteks dan semangat zaman yang mengikutinya.

Fahrenheit 451 adalah sebuah karya yang awalnya berupa novel ciptaan Ray Bradbury (kemudian disebut Bradbury) pada 1953, kemudian di filmkan pertama kali oleh François Truffaut (kemudian disebut Truffaut) pada 1966, dan termutakhir difilmkan ulang oleh Ramin Bahrani (kemudian disebut Bahrani) pada 2018.

Tulisan ini akan membahas spesifik pada Fahrenheit 451 yang rilis pada tahun 2018. Film ini disutradarai oleh Bahrani dan diproduksi oleh HBO Films.

Alih-alih melakukan adaptasi mentah atas novel Bradbury yang lahir jauh sebelum era digital, sutradara memilih untuk melakukan pemutakhiran bentuk. Sebagai upaya untuk mempertahankan kesesuaian zaman dan penyegaran, hal ini sah-sah saja untuk dilakukan. Terutama untuk menghindari pengulangan sia-sia dari karya film dengan judul sama yang diciptakan Truffaut pada tahun 1966.

Bagi para pembaca novelnya, adaptasi karya Bahrani tentu memunculkan banyak potensi kekecewaan, hujatan, dan celaan. Namun, kesetiaan pada sumber asli dalam sebuah karya adaptasi bukan sebuah keharusan. Lagi-lagi, apabila Bahrani melakukan pemindahan bentuk mentah-mentah, kemungkinan yang terjadi adalah film baru ini akan menjadi film Truffaut di tahun 1966 dengan format dan kualitas gambar yang lebih jernih saja.

Fahrenheit 451 memilih latar kejadian pada masa depan. Dapat dipahami, pada versi novel (1953) dan film karya Truffaut (1966), latar kejadian hampir-hampir mirip dengan tahun 2000-an hari ini. Mereka membayangkan bahwa di masa depan akan ada teknologi seperti televisi layar datar (lengkap dengan kemampuan interaksi dengan penggunanya), kereta api dengan satu rel (dan bergerak dalam posisi menggantung!), dan lain-lain.

Nubuat tentang masa depan pun dilakukan oleh Bahrani. Ia membayangkan dunia masa depan adalah dunia serba digital yang mengatur segala lini kehidupan manusia, termasuk bagaimana manusia harus berpikir. Masa depan ala Bahrani digambarkan terdapat robot asisten bernama Yexie yang membantu (atau mengatur) segala lini kehidupan, virtual reality (VR) yang dapat menjadi teman kencan, media massa yang dikendalikan oleh robot, dan lain-lain.

Film bercerita tentang tokoh utama bernama Guy Montag, seorang pemadam kebakaran yang bertugas untuk membakar buku. Ya! Pada masa depan, pemadam kebakaran tidak lagi bertugas untuk mematikan api, namun membakar buku. Hal ini dapat dipahami sebagai satire dari kata “Fireman” untuk menyebut petugas pemadam kebakaran dalam Bahasa Inggris.

Fireman secara tekstual dapat diartikan sebagai tukang api atau manusia yang menyalakan api. Guy Montag dan rekannya memiliki satu tugas utama yaitu memastikan tidak ada buku dan pembaca buku yang tersisa di negara tersebut.

Montag hidup di sebuah daerah bernama “The Nine” di Amerika Serikat. Disana, pemerintah otoriter memiliki kebijakan untuk menghancurkan semua yang berhubungan dengan buku. Fireman menjadi ujung tombak kebijakan ini. Mereka memiliki kuasa untuk menangkap para pemilik buku dan membakar habis buku-buku mereka di depan publik. Bahkan, pembakaran buku-buku ini selalu disiarkan secara langsung di media massa. Bagi pelanggar, mereka akan dihapus identitasnya dan menjalani hidup baru sebagai “Eels”.

Eels adalah sebutan untuk orang yang pernah terlibat kasus penyimpanan, produksi, maupun penggandaan buku. Mereka akan dihapus identitasnya dan berakibat pada dicabutnya semua akses terhadap fasilitas kota. Para Eels ini akhirnya akan tersingkir ke pinggiran kota yang kumuh dan jauh dari teknologi.

Di masa depan, buku yang dimaksud tidak selalu buku dalam bentuk fisik. Kebanyakan dari para pembangkang ini hanya memiliki buku dalam bentuk digital atau Ebook. Mendapatkan buku dalam bentuk fisik sudah sangat susah didapatkan karena penghancuran dan pembakaran yang telah dilakukan bertahun-tahun yang lalu. Bahkan, kertas dan pena pun dilarang peredarannya oleh rezim otoriter. Bagaimanapun bentuknya, para fireman ini akan menghancurkan dan membakarnya. 

Selain aktif mencari dan membakar buku, para fireman bertugas untuk melakukan propaganda anti buku. Propaganda fireman ini didukung penuh oleh media massa yang hanya ada satu dan dikontrol penuh oleh pemerintah. Disaat fireman bekerja, media massa aktif mencitrakan para fireman sebagai pahlawan dan para Eels sebagai sampah yang harus dihancurkan. Melalui metode ini, rezim dengan leluasa memasuki dan mengatur cara berpikir warganya.

Propaganda ini berhasil membuat warga The Nine mendukung para fireman dan turut serta membenci buku dan pembacanya. Slogan utama mereka adalah “Kebahagiaan adalah kebenaran, kebebasan adalah pilihan, diri sendiri adalah kekuatan.” Hiburan dan kemudahan yang diciptakan oleh kemajuan teknologi membuat manusia di masa depan hanya menghamba pada kebahagiaan. Tentu, kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak memiliki pemikiran kritis, tunduk pada rezim, dan bersenang-senang dengan diri mereka sendiri.

Rezim berusaha mengatakan bahwa buku adalah sumber dari ketidakbahagiaan. Bahwa para penulis dan pembaca buku adalah kumpulan orang-orang gila yang menulis secara sembarangan. Mereka membuat dunia menjadi tidak tenang karena pemikiran yang diciptakannnya. Maka, warga harus dijauhkan agar tetap bahagia.

Fahrenheit451_Infographics_Berpijar

Film Fahrenheit 451 (2018) menarik untuk dibahas karena meskipun merupakan adaptasi dari novel di tahun 50-an, namun Bahrani melakukan kontekstualisasi pada karyanya sehingga menjadi medium efektif menyampaikan kritiknya tentang Amerika hari ini.

Jika dulu, Bradbury (juga Truffaut di tahun 1966) menghadapi sebuah kekhawatiran akan akses negatif teknologi televisi, maka Bahrani mengubahnya menjadi kekhawatiran pada internet. Maka bentuk ceritanya pun berubah, warga The Nine diatur oleh media massa tunggal dan yexie yang mengatur cara kita berpikir.

Tentu hal ini mengingatkan kita pada kondisi hari ini tentang banyaknya fake news atau berita bohong yang membombardir AS. Fake news ini ternyata juga diproduksi oleh pihak pemerintah sendiri. Tentu kita ingat tentang pernyataan The Washington Post yang dikutip CNN Indonesia yang menyatakan bahwa Donald Trump (selanjutnya disebut Trump) telah mengeluarkan 1.950 klaim yang menyesatkan atau palsu sejak pelantikannya ditahun 2016 (“Presiden Trump Disebut Lontarkan 1950 Pernyataan Sesat”, cnnindonesia.com, 03/01/2018).

Hal ini bahkan telah berlangsung sejak masa pemilu Amerika Serikat di tahun 2016 silam. Mengutip Tempo.co (02/01/2017), hampir dua pertiga orang dewasa Amerika Serikat mengatakan berita-berita bohong (fake news) menimbulkan suatu kebingungan besar selama kampanye pilpres. Sekitar 64 % mengalami kebingungan besar dan 24% agak bingung, dan hanya 11% yang dapat membedakan berita bohong dan tidak bohong. Hal ini tentu sebagian pada akhirnya menyumbangkan kemenangan bagi Trump pada Pemilu AS.

Belum lagi, disaat Trump melontarkan banyak pernyataan palsu atau menyesatkan, pada bulan Januari 2018, dia mengumumkan 10 media pemenang “Fake News Awards”. Trump dengan yakin menyerang media-media Amerika Serikat yang tak sejalan dengannya sebagai sumber-sumber berita Bohong.

Dilansir oleh dw.com, 10 media diantara lain adalah The New York Times, CNN, NBC, ABC, dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung, ia juga menyebut bahwa media-media tersebut merupakan musuh rakyat Amerika  (dw.com, 18/01/ 2018).

Model propaganda semacam ini dapat ditelusuri pula pada film Fahrenheit 451. Pemerintah otoriter secara aktif memberikan pengetahuan dan informasi yang hanya bersumber dari media massa tunggal dan yexie, dan secara aktif memberangus sumber kebenaran lain dengan cara membakarnya. Pembakaran buku dalam film ini tentu dapat diartikan pelarangan dan pembredelan semua sumber informasi yang tidak sejalan dengan kehendak pemerintah.

Kemunculan film Fahrenheit 451 pada 2018 di Amerika Serikat tak pelak menimbulkan banyak spekulasi bahwa Bahrani sebagai sutradara hendak mengkritik kebijakan dan cara kepemimpinan Trump di Amerika Serikat. Namun, Bahrani dalam sebuah sesi wawancara mengatakan bahwa ia tidak ingin terlalu fokus pada Trump (deadline.com).

Meski begitu, kemunculan kembali film ini dan berbagai macam perombakan bentuk cerita yang tidak setia pada karya asli membuat publik sah mengaitkannya dengan Trump dan Amerikanya. Terutama karena posisi isu fake news dan pemberangusan berita yang kontra pemerintah menjadi isu sentral Amerika Serikat dibawah Trump.

Selain itu, slogan fireman sebelum membakar buku : Time to Burn for America Again (dalam versi novel tidak ada), tentu mengingatkan kita pada slogan kampanye Trump: Make America Great Again. Sebuah kemiripan yang terlalu kebetulan untuk menjadi kebetulan.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. 

BACA JUGA

Write a response to this post