Belajar dari Amien Rais yang Konsisten Beroposisi

Belajar dari Amien Rais yang Konsisten Beroposisi_Dimas LF_Berpijar
Belajar dari Amien Rais yang Konsisten Beroposisi_Dimas LF_Berpijar
Amien Rais. (Foto: Antara/M Agung Rajasa via Kumparan)
Yang dikhawatirkan adalah ketika nafsu kritik mengalahkan nalar jernih untuk berkompetisi secara adil dan bijak. Perubahan membutuhkan gagasan, bukan perubahan namun minus gagasan.

Seperti saat kita duduk dibangku sekolah dasar hingga perkuliahan, semua dari kita tentunya pernah mempelajari bentuk hingga karakteristik tokoh dunia (internasional) maupun nasional yang membawa gagasan luar biasa bagi keberlangsungan peradaban manusia. Hampir dari kita semua mencoba memahami bagaimana watak suatu tokoh dalam mengenyam pendidikan hingga mampu melahirkan pemikiran khusus.

Jika diantara anda adalah pemerhati atau yang sedang belajar studi Ilmu Politik, maka pola pemahaman atas tokoh itu berlangsung lebih kompleks dan analitik. Yang dapat kita ketahui, pemikiran tidak lepas dari ruang dan waktu dimana pemikir itu berada, hidup dan bernafas. Pemikiran, ide, dan gagasan, lahir dari perjumpaan antara nalar apriori hingga aposteriori yang didesain sedemikian rupa hingga membentuk sintesa khusus atas suatu kejadian.

Perhitungan saintifik dan penalaran yang matang adalah embrio utama merancang satu gagasan yang baik. Logika adalah soal kesepakatan, artinya segala konsekuensi atas ide merupakan hal yang wajib diterima dengan baik (konsisten), tidak manipulatif apalagi cenderung plin-plan.

Amien Rais

Tulisan ini saya tujukan untuk memahami tokoh yang dikenal reformis dan semangat geloranya yang tinggi sebagai kubu oposisi yang menguat di akhir masa periode kepresidenan Joko Widodo, menyongsong tahun Pilpres 2019, beliau adalah Amien Rais.

Saya kira Pak Amien merupakan pribadi yang cukup santai, tidak mudah terkejut dan lebih luwes menghadapi persoalan, khususnya politik. Pribadi yang cukup serius dan tentunya cukup aktif sikap maupun verbalnya atas kritik situasi politik yang sedang dihadapi oleh negeri ini.

Beberapa waktu terakhir kita menjumpai medium keviralan, dan Pak Amien tentunya banyak berkiprah didalamnya. Pertama pasca tercetusnya konsepsi baru atas partai Illahiah dan partai Setan yang digagas dengan tujuan entah bagaimana.

Kedua, pesan politik yang mesti disisipkan dalam ruang majelis dengan dalih mencerdaskan ummat dengan pengetahuan ‘politik’. Ketiga, ajakan dan seruan politik untuk berdoa bersama agar diberi pemimpin yang adil dan bijak (dalam versi khusus) serta upaya me-lobby Tuhan dengan dukungan suara mayoritas.

Diantara ketiga peristiwa pernyataan yang terucap dari Pak Amien itu, saya berupaya memahami bahwa ada maksud lain dalam benak beliau, sebuah maksud yang kadang sukar dipahami.

Sebagai sebuah figur, pribadi Pak Amien merupakan wujud asli seorang pejuang. Pasalnya, Pak Amien tiada lelah melakukan pengamatan, kritik dan evaluasi terhadap pemerintahan terutama Presiden Jokowi yang dia gencarkan dengan penuh taktik dan intrik. Hal ini memang saya rasa cukup bagi diri seorang Amien Rais yang notabenenya memiliki pedidikan ilmu politik, artinya secara skala analitik dan tiap evaluasi yang dia berikan kepada pemerintah merupakan ke-ajeg-an atas konsepsi-konsepsi politik didalam pikirannya.

Dan pendirian yang independen atas suatu pemikiran, membutuhkan tanggung jawab besar terhadap segala konsekuensi yang muncul. Dan kembali, Pak Amien sebagai entitas intelektual-akademis saya rasa memahami itu dengan baik.

Track Record beliau sebagai politisi adalah salah satu wujud praktik ‘empirisasi-konsep’ yang selama ini beliau kembangkan dan maknai. Antara intrik, viral maupun kontroversialnya itu adalah bentuk konsekuensi logis dari setiap pernyataan seorang tokoh besar, dan publik serta realitas saat ini sedang membuktikannya.

Sebagai Seorang Oposisi

Politik di Indonesia memang sarat dengan kepentingan dan praktik koalisi, namun dengan catatan, negara berkembang seperti Indonesia acapkali mengalami likuiditas koalisi yang membuatnya nampak cair dan tidak tentu arah. Hal ini serupa dengan pernyataan Scott dan Mainwaring (1995) saat mengulas soal bagaimana koalisi hidup dinegara berkembang, apalagi dengan pola multipartai yang relatif kompleks. Kecenderungan terjadinya instabilitas partai politik sangat dimungkikan, dan gejala yang muncul dalam sistem semacam ini adalah politik yang cenderung fluid, kompromis, dan soal adu kuat personalisasi figur politik saja. Tidak salah ketika dalam satu koalisi terjadi kegagalan komunikasi politik yang membuat koalisi tersebut cenderung rapuh, melemah dan kehilangan daya tarik dukungan.

Sebagai figur yang menarik, Pak Amien melakukan manuver politik yang luar biasa akhir-akhir ini. Tentunya tidak lepas dari agenda 2019 walau dalam kampanyenya terbalut semangat retoris berkesan perubahan. Politik adalah soal persepsi, pernyataan Pak Amien yang cenderung verbal-agresif menjadi komoditi utama permainan persepsi politik. Figur yang cukup terkenal dan track politik yang ‘malang-melintang’ membuat Pak Amien merasa percaya diri walau kadang nampak overdosis. Ketika seorang elit politik, tokoh (pejabat, figur partai, dll.) melakukan manuver politik yang ‘kebablasan’ disaat itulah perenungan atas sikap kedewasaan mulai luntur. Amanat demokrasi adalah soal pembentukan etika politik yang bermartabat, yakni kompetisi politik dengan melalui jalur perbincangan yang konstruktif dan memberi alternatif yang bijak. Menjadi oposisi adalah jalan tempuh yang dimiliki Pak Amien saat ini, namun apa jadinya jika seorang semakin terlena menjadi oposisi ? tentunya akan terlalu sibuk mencari kesalahan pemerintah dan lengah terhadap kualitas diri.

Yang Dibutuhkan adalah Menjadi Oposisi Demokratik

Saya memahami sikap Pak Amien sebagai oposisi pemerintahanan Jokowi saat ini, keresahan hati seorang Amien nyata dalam sikap dan pernyataanya. Menjadi oposisi bukanlah soal hasil kekalahan atas kompetisi elektoral sebelumnya. Justru menjadi oposisi adalah peluang membenahi pemerintahan dan peluang merebut pemerintahan.

Jika memang maksud seorang Amien Rais adalah pemerintahan pasca Jokowi, setidaknya beliau memahami bagaimana menjadi oposisi yang baik yakni oposisi demokratik. Model oposisi semacam ini merupakan bentuk oposisi yang tidak sekedar mencaci, kritik dan evaluasi akan tetapi oposisi yang pandai dan cekatan menawarkan alternatif kebiijakan terhadap pemerintahan.

Singkatnya, tidak semua permainan politik dapat dilakukan dengan mekanisme kontroversial yang justru dapat merusak tatanan, akan tetapi dapat dilakukan dengan adu gagasan. Gagasan yang justru membawa perubahan, bukan membawa perubahan tapi minus gagasan. Oposisi demokratik nampaknya bakal menjadi poros kesehatan demokrasi, keterbukaan pendapat dan kualitas gagasan yang konstruktif.

TENTANG PENULIS

Dimas Lazuardy Firdauz adalah alumni Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, PusDeHAM Surabaya.

BACA JUGA

About Author

Dimas Lazuardy Firdaus

Dimas Lazuardy Firdauz adalah alumni Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, PusDeHAM Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post