Mengungkap Makna Puasa sebagai Ibadah Privat dan Publik

Puasa sebagai wujud ketakwaan adalah ibadah yang bersifat privat dan sangat radikal secara internal, maka kurang dibenarkan kemudian adanya pemaksaan untuk menempatkan wilayah privat dalam domain publik

Mengungkap Makna Puasa sebagai Ibadah Privat dan Publik_Redaksi_Berpijar
Mengungkap Makna Puasa sebagai Ibadah Privat dan Publik_Redaksi_Berpijar
Puasa sebagai wujud ketakwaan adalah ibadah yang bersifat privat dan sangat radikal secara internal, maka kurang dibenarkan kemudian adanya pemaksaan untuk menempatkan wilayah privat dalam domain publik

Dibandingkan dengan jenis ibadah yang lain, rangkaian puasa termasuk ibadah yang radikal dan unik. Disebut radikal karena satu bulan penuh orang Islam harus rela (minimal) tidak makan dan minum semenjak adzan subuh hingga menjelang magrib. Belum lagi malamnya disunahkan Sholat Taraweh, entah dengan 8 maupun 20 rakaat, khataman Al-Quran, memperbanyakan sholat malam untuk menyongsong lailatul qodar dan seterusnya. Betapa beratnya! Mungkin kecuali bagi yang sudah terlatih.

Radikal dalam tulisan ini merujuk pada pengertian: sebuah praktek ibadah yang mendasar yang bersifat amat keras untuk berharap ada perubahan besar di dalam pribadi orang muslim dan sekitarnya

Sisi upaya radikal ini akan tidak lagi penting untuk dipersoalkan mengingat motivasi utama puasa adalah wujud memenuhi perintah Allah, untuk menuju ketakwaan pribadi seorang muslim yang sangat tersembunyi. Ini adalah perubahan radikal yang dikehendaki dalam menjalankan ibadah puasa.

Di samping itu, puasa menyimpan “keunikan” dalam sisi derajat nilai privasi ibadah yang tinggi. Bandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa berbentuk ibadah yang sangat rahasia. Syahadat sebagai ikrar masuk Islam, sholat yang berhukum wajib, zakat dan terlebih haji menjadi ibadah yang sangat mudah diketahui masyarakat.

Sedangkan puasa? Kita tidak tahu pasti apakah seharian orang itu benar-benar tidak makan atau tidak minum karena sangat sulit dilacak. Mungkin inilah yang melatarbelakangi sebuah hadist qudsy yang menyatakan bahwa, semua amal anak adam untuk dirinya sendiri, sedangkan ibadah puasa adalah ibadah untuk Allah, dan Allah sendiri yang akan memberikan ganjaran.

Makna unik bagi bulan puasa disini merujuk pada ibadah puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya. Meskipun harus diakui kemudian, banyak motivasi lain yang kadang mencampuri keunikan ibadah puasa, sebut saja niat diet, kesehatan dan sebagainya. Bukan atas dasar ketakwaan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Di antara berbagai motivasi selain sisi ketakwaan, hikmah lain dari ibadah puasa adalah memperluas wilayah perasaan bagi kemanusian. Sebagaimana sering kali dijelaskan, pelajaran penting dalam menahan lapar dan haus selama bulan puasa adalah meningkatkan empati dan keprihatinan kita kepada masyarakat miskin yang kerap kali merasa kelaparan.

Wajar kemudian, penyempurnaan puasa akhirnya dipungkasi dengan zakat sebagai mekanisme penyucian diri dan upaya menolong sesama. Rasa lapar dan haus juga bisa diresapi sebagai upaya pembersihan hati dari sifat sombong. Sebab, dalam keadaan prihatin, orang akan susah merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Di sini selain mengajarkan empati, puasa juga mengajarkan kita untuk rendah diri.

Sampai disini kemudian terdapat dua hal yang sekilas nampak berlawanan, padahal sebenarnya selaras dalam hal pemaknaan kita terhadap puasa. Satu sisi puasa adalah ibadah yang mengandung kerahasiaan yang tinggi (bersifat sangat privat), pada sisi yang lain puasa menjadi salah satu instrumen yang disediakan agama untuk semakin peka terhadap kehidupan sosial sekitar kita (memiliki dampak secara publik).

Dari uraian singkat terkait dimensi puasa sebagai ibadah privat dan publik, terdapat beberapa poin penting dalam yang hendak disampaikan dalam tulisan ini.

Pertama, puasa sebagai wujud ketakwaan adalah ibadah yang bersifat privat dan sangat radikal secara internal, maka kurang dibenarkan kemudian adanya pemaksaan untuk menempatkan wilayah privat dalam domain publik. Misalnya ada gerakan untuk menutup warung yang buka di siang bulan Ramadhan.

Jelas hal ini selain menunjukkan kecurigaan orang-orang yang memaksakan penutupan warung itu tidak kuat menahan godaan, ada upaya menjadikan puasa bukan lagi dalam domain ketakwaan dan kerahasiaan muslim secara personal, tapi pemaksaan yang jangan-jangan tidak dikehendaki Tuhan sendiri.

Juga spanduk yang terkesan saru tersebar di jalan-jalan dengan tulisan, “Hormatilah Orang yang Berpuasa”. Hal ini menunjukkan orang tersebut ingin dihormati dan telah melupakan derajat nilai keutamaan puasa sebagai ibadah yang bersifat privat.

Kedua, melalui puasa kita memahami bahwa, kurang tepat adanya dikotomi antara “saleh spiritual” (puasa sebagai privat) dan “saleh sosial” (puasa berdampak pada publik). Melalui puasa kita diajarkan bahwa Islam sesungguhnya tidak mengenal pemisahan tersebut untuk mencapai derajat manusia paripurna, yaitu keseimbangan saleh spiritual dan saleh sosial.

Ketiga, poin penting disini yang masih berhubungan dengan poin kedua, nilai ketakwaan dalam dimensi privat harus direfleksikan melalui pergaulan sosial di dalam kehidupan bersama. Ringkasnya, jika kita masih sulit untuk bergaul secara sosial dengan menjujung nilai-nilai keharmonisan, multikultural dan seterusnya, bisa jadi sebenarnya puasa kita tidak memiliki output publik yang diinginkan.

Akhir kata, jika kita masih mempersoalkan tetek bengek seperti menabur kebencian dan melempar batu dari kejauhan di media sosial, suka mengecam kelompok yang berseberangan, ribut persoalan penentuan satu syawal kapan, maka jangan-jangan kita tidak benar-benar merenungkan secara serius salah satu hikmah puasa, yaitu memperbesar dimensi kepekaan dan solidaritas sosial yang menjadi salah satu hikmah penting ibadah puasa.

BACA JUGA

Write a response to this post