Memaknai Idul Fitri Melalui Kisah Nabi Adam

Terdapat banyak pendapat oleh para ulama ketika membicarakan makna kondisi fitrah manusia. Ada yang mengaitkan dengan peristiwa Nabi Adam dalam kondisi yang menjauhkan diri manusia yang bergeser dari posisi awal.

Idul Fitri berasal dari dua suku kata Bahasa Arab, yakni ‘id dan Fitri. Merujuk pada buku “Wawasan Al-Quran” yang ditulis oleh Ahli Tafsir Prof. Quraish Shihab (2007), kata ‘id berakar dari kata yang bermakna kembali, artinya kembali ke dalam keadaan atau tempat semula. Pertanyannya kemudian, kembali keadaan atau tempat semula itu kondisi semacam apa? Penjelasan ini dapat ditemukan dalam kata berikutnya, yakni fitri.

Kata fitri sendiri paling tidak memiliki tiga arti, yaitu asal kejadian, agama yang benar, atau bermakna kesucian.

Secara sederhana, Idul Fitri dapat diartikan sebagai momentum bagi manusia untuk kembali dalam keadaan atau kondisi fitrah dirinya yang suci, mengimani agama yang benar serta menelusuri asal dari kejadian seseorang. Poin terakhir yang disebut akan lebih banyak diperbincangkan dalam tulisan ini.

Perlu segera dicatat, asal mula kejadian manusia berarti pula harus berusaha mencari penelusuran terhadap fitrah diri seseorang terhadap fitrahnya sebagai manusia. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, ada baiknya kita berguru pada sebagian dari sederetan kisah Nabi Adam, manusia pertama yang diceritakan dalam Al-Quran guna mencari pelajaran dari fitrah manusia. 

Kisah Nabi Adam

Sebagaimana yang disinggung di awal, Idul Fitri berarti kembali dalam kondisi sebelumnya, berarti ada pesan kuat yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia telah beralih dari kondisi sebelumnya, dan momentum kembali ke kondisi itu dirayakan melalui idul fitri.Terdapat banyak pendapat oleh para ulama ketika membicarakan makna kondisi fitrah manusia.

Ada yang mengaitkan dengan peristiwa Nabi Adam dalam kondisi yang menjauhkan diri manusia yang bergeser dari posisi awal. Sebagaimana diceritakan ketika Adam dan Hawa berada di surga, Allah SWT telah memperingatkan mereka berdua untuk “janganlah mendekati pohon ini” (QS Al-Baqarah ayat 35). Sayangnya, kedua nenek moyang manusia tersebut melanggar peringatan dari Allah hingga akhirnya muncul seruan Allah yang berkata, “bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu?” (QS Al-A’raf ayat 22).

Quraish Shihab dalam buku yang sama memberikan penjelasan luar biasa terhadap peristiwa yang diceritakan dalam Al-Quran tersebut. Quraish Shihab menggarisbawahi kata ganti isyarat yang digunakan Allah untuk memperingatkan dengan kata “ini” untuk menunjuk pohon yang dilarang, namun ketika perintah tersebut dilanggar, kata ganti isyaratnya berubah menjadi “itu”.

Menurut Quraish Shihab, sebelum terjadi pelanggaran, antara Allah, Adam dan Hawa di dalam kondisi yang berdekatan sehingga menyebut kata isyarat dengan kata “ini”. Namun, ketika Adam dan Hawa melanggar peringatan tersebut, secara otomatis Adam dan Hawa menjauhi posisi yang berdekatan dengan Allah, sehingga Allah menyeruh untuk pohon yang terlarang itu dengan dengan kata isyarat yang jauh yaitu “itu”.

Sehubungan dengan pembahasan idul fitri, kondisi Adam dan Hawa yang menjauh dari posisi semula bisa kembali lagi berdekatan dengan Allah jika mereka menempuh perjalanan untuk kembali mendekat kepada Allah.

Dari penjelasan ini dapat ditarik beberapa hikmah. Pertama, kondisi yang menyebabkan manusia menjauh dari posisi fitrah awal manusia adalah karena pembangkangan terhadap perintah maupun melakukan sesuatu yang dilarang. Ringkasnya, hal tersebut bisa disebut dosa. Dosa adalah sesuatu yang menjadikan manusia secara tidak sadar menjauh dari Tuhan.

Kedua, menjauh dari Tuhan berarti pula menjauh dari menjauh dari fitrah manusia itu sendiri yang harusnya tetap berdekatan dengan Tuhan. Seorang filsuf Abad Pertengahan pernah mengatakan, bagaimana cara kita mengetahui apa kita sedang bersama dengan Tuhan atau tidak? Menurutnya, perhatikan saja apa yang sedang kita lakukan, ketika kita melakukan sebuah dosa yang mengingkari Tuhan, otomatis waktu itu kita tidak sedang bersama Tuhan.

Terkait kesalahan yang dilakukan Adam, ada hal menarik lainnya yang dapat diambil hikmah tentang peristiwa Nabi Adam tersebut. Selain Adam, makhluk lain yang diceritakan melakukan kesalahan atau dosa pengingkaran terhadap perintah Allah adalah Iblis. Dikisahkan bahwa Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam karena telah terbukti memenangkan kompetisi menyebut nama-nama benda di seluruh dunia atas semua malaikat.

Namun waktu itu Iblis enggan untuk bersujud lantaran merasa dirinya lebih mulia daripada Adam, sebab dia tercipta dari api sedangkan Adam tercipta dari tanah. Baginya, api lebih mulia daripada tanah. Meskipun harus diakui dasar argumentasi Iblis tersebut tidak melalui runtutan logika dan langsung mencapai konklusi yang memaksa.

Bandingkan dua dosa dalam kisah-kisah yang sering kita dengar tersebut, Iblis melakukan dosa sombong atau merasa dirinya paling hebat, sedangkan dosa yang dilakukan Adam lantaran tergiur oleh nafsu keduniawian karena bisikan iblis melalui hawa mengatakan kalau makan buah itu akan bisa hidup selamanya, sebuah kecenderungan fitrah manusia yang selalu ingin hidup abadi. Ternyata, dosa akan hasrat nafsu lebih mudah diampuni daripada dosa yang berhubungan dengan sifat-sifat hati yang tercela, seperti sombong.

Dalam sebuah hadist qudsy dinyatakan bahwa Allah berkata, “sombong adalah selendangku, barang siapa yang merasa sombong, maka dia telah merampas selendangku”. Perbuatan sombong atau merasa lebih baik dari yang lain menjadi suatu dosa besar bagi Tuhan. Bahkan lebih jauh lagi sebuah hadist dalam kitab Ikhiya’ Ulumuddin mengatakan, “tidak akan masuk surga jika di dalam dirinya masih ada sebutir debu yang melekat di dalam hatinya”.

Mengingat begitu dasyatnya pengaruh sombong terhadap masa depan kita di akhirat, benar jika dikatakan bahwa salah satu hikmah menjalani bulan puasa adalah melatih diri untuk menjadi rendah diri. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di website ini dalam tulisan berjudul “Mengungkap Makna Puasa sebagai Ibadah Privat dan Publik”. Orang yang merasakan lapar dan haus selama menjalani puasa, selain untuk meningkatkan kepekaan sosial, juga bisa membuat manusia kehilangan rasa sombong dalam dirinya. Orang dalam keadaan lapar dan haus akan susah dibayangkan bersifat sombong.        

Poin terakhir yang ingin disampaikan yang masih berhubungan dengan poin di atas adalah, perayaan Idul Fitri tidak serta merta mampu menjadikan kita kembali ke dalam kondisi awal fitrah manusia setelah sebulan berpuasa. Ringkasnya, tidak semua dosa yang menjadi penghalang kedekatan kita dengan Tuhan tiba-tiba sirna melalui Idul Fitri. Mungkin, dosa-dosa yang berhubungan dengan Tuhan bisa segera diselesaikan karena Tuhan Maha Penerima Taubat, kecuali dosa sombong yang tak kunjung bertobat sungguh-sungguh.

Dosa lain yang tidak otomatis hilang juga adalah dosa manusia kepada manusia lain. Bersyukur di Indonesia, yang belakangan sudah diikuti oleh beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan lain-lain, tradisi Halal bi Halal menjadi kultur luar biasa dalam merayakan hari kemenangan dengan melakukan peleburan dosa masal, baik terhadap Tuhan maupun sesama manusia.

Segenap Redaksi Berpijar Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah
“Mohon maaf atas segala kesalahan, baik salah menulis dan terutama salah berpikir”

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah pemimpin redaksi Berpijar.co

BACA JUGA

About Author

Dian Dwi Jayanto

Dian Dwi Jayanto adalah Komisaris Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga. Kini menempuh studi S-2 Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.


Related Posts

Write a response to this post