Bom Bunuh Diri, Perempuan dan Ideologi Jihad

Bom Bunuh Diri, Perempuan dan Ideologi Jihad_Hamdani Mubarak_Berpijar
Bom Bunuh Diri, Perempuan dan Ideologi Jihad_Hamdani Mubarak_Berpijar
Foto: Flickr
Ajaran boleh saja mengatakan bahwa pahala jihad bisa diraih perempuan dengan cara pergi haji, namun juga perlu dipahami bahwa, sensasi haji tidak akan pernah sebanding dengan sensasi yang ditawarkan oleh jihad.

Harus diakui bahwa serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo yang baru saja terjadi beberapa hari menjelang bulan puasa kemarin sungguh sangat memilukan. Di tengah gegap gempita umat Islam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang seringkali dianggap sebagai bulan suci dan paling istimewa, masih ada beberapa umat Islam yang memaknai keistimewaan Ramadhan dengan cara yang berbeda. Melakukan serangan teror, membunuh, serta menebarkan rasa takut diantara saudara sendiri.

Jika kita cermati perihal waktu kejadian bom yang ada di Surabaya kemarin, sebenarnya hal itu tidak terlalu mengherankan. Pola serangan semacam itu sudah dapat diprediksi sebelumnya. Beberapa kasus semacam ini (teror bom) juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya menjelang masuknya bulan suci puasa.

Sekedar menyebut beberapa: kasus teror yang terjadi pada konser Ariana Grande di Manchester, serangan di Iraq pada 30 Mei 2017, juga serangan dari Omar Mateen pada 12 Juni 2016 di sebuah kelab malam di Orlando, Amerika Serikat. Kejadian-kejadian tersebut menggambarkan bahwa bulan puasa memang layak untuk dianggap sebagai bulan yang di satu sisi membawa berkah, namun di sisi lain juga mengancam keselamatan umat manusia.

Kedua, jika kita melihat dari sasaran teror yang terjadi di Surabaya, hal itu sebenarnya bukan hal baru. Beberapa hari sebelumnya rutan Mako Brimob juga diserang oleh para Napi teroris hingga menewaskan lima anggota kepolisian. Sebelumnya, Polresta Surakarta pada 5 Juli 2016 dan Polres Cirebon pada 15 April 2011 juga diserang oleh teroris.

Motifnya sama, ingin menghancurkan pihak keamanan Negara. Salain itu, juga ingin membuktikan kepada rekan jihadis bahwa polisi, yang dianggap sebagai satu diantara dua penjaga keamanan warga negara, bisa diserang dengan sangat mudah. Tujuanya jelas, memberi semangat pada rekan jihadis agar lebih aktif dalam melakukan aksinya.

Namun, dari semua yang terjadi kemarin, ada satu fakta yang cukup menarik dan ini mungkin akan berkembang untuk kasus teror berikutnya, yakni adanya perempuan yang terlibat dalam serangan bom. Jihadis, selama ini seringkali identik dengan kaum laki-laki. Tapi kejadian di Surabaya kemarin menyadarkan kepada kita bahwa bukan hanya kaum lelaki yang dianggap rentan dalam melakukan aksi teror, perempuan kini juga telah menemukan ruang serta keberanianya untuk melakukan hal serupa.

Meskipun secara ideologis, kaum jihadis sangat memuliakan “amaliah bum bunuh diri”, namun sebenarnya mereka selama ini dikenal sebagai kelompok yang memberi sedikit kesempatan bagi kaum perempuan untuk tampil di ruang publik. Ini artinya, perbuatan seperti bom bunuh diri, yang notabene adalah tindakan di ruang publik dilarang bagi perempuan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, jika memang perempuan, dalam kelompok jihadis itu terlarang melakukan kegiatan di ruang publik, apa yang sebenarnya terjadi dengan perempuan yang melakukan teror bom ?

Pertanyaan ini setidaknya memberikan pada kita beberapa jawaban diantaranya. Pertama, adalah faktor suami. Dalam kehiduan rumah tangga umat islam fundamental seperti keluarga kaum jihadis, perempuan seringkali dipandang sebagai makhluk nomor dua. Keberadaanya di rumah adalah pelengkap bagi suami, bukan sederajat.

Akibatnya, segala titah dari sang suami akan selalu menjadi hukum bagi istri, segala keputusanya adalah kewajiban. Saya tidak yakin  bahwa apa yang terjadi di Surabaya merupakan murni kehendak perempuan itu sendiri. Pasti ada campur tangan dari suami yang turut ikut campur atas keputusan istri untuk melakukan jihad.

Hal ini dapat dilacak dari waktu kejadian teror bom yang terjadi bersamaan, antara yang dilakukan istri dengan yang dilakukan sang suami. Disini kita melihat bahwa, si perempuan melakukan aksinya bukan hanya semata-mata untuk memuaskan hasratnya sebagai jihadis, ia melakukan jihad juga sebagai kapasitasnya sebagai istri seorang jihadis. Dengan kata lain, ini adalah bentuk pengabdian istri untuk suami.

Kedua, faktor ideologis. Meskipun sebenarnya, dalam tradisi keberagamaan mereka perempuan seringkali diletakkan dibelakang, namun iming-iming pahala yang ditawarkan oleh amaliyah jihad tentu cukup menggoda bagi kalangan perempuan. Ini yang kemudian membuat para perempuan ini iri sehingga mereka juga tergoda untuk segera melakukan hal yang sama (melakukan aksi bom bunuh diri) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh kaum lelaki mereka.

Ajaran boleh saja mengatakan bahwa pahala jihad bisa diraih perempuan dengan cara pergi haji, namun juga perlu dipahami bahwa, sensasi haji tidak akan pernah sebanding dengan sensasi yang ditawarkan oleh jihad.

Sensasi inilah yang kemudian membuat mereka berpaling pada kisah-kisah heroik seperti Siti Aisyah yang dikenal sebagai sahabat perempuan Nabi yang berani berperang ditengah-tengah kepungan laki-laki. Keberanian inilah yang coba diwarisi oleh jihadis perempuan masa kini. Mereka biasa menyebutnya sebagai semangat perang Siti Aisyah.

Pada akhirnya, tindakan mereka ini bukan hanya sekedar mengikuti sunnah sahabat, tetapi juga kebanggaan sebagai kaum perempuan. Bangga sebagai jihadis. Secara tidak langsung hal ini sebenarnya juga menjelaskan kepada kaum laki-laki mereka bahwa, jika perempuan saja bisa melakukannya, bagaimana dengan laki-laki? Inilah bahaya yang dtimbulkan jihadis perempuan.

Dari semua alasan yang diungkapkan diatas, ada satu hal yang menghubungkan antar satu dengan lainya. Yakni media sosial. Diakui atau tidak, pertemuan antara para penganut ideologi jihad seringkali terjadi di media sosial. Para perempuan di kalangan kaum jihadis yang berpenampilan anggun seringkali menjadi daya tarik yang menggiurkan bagi para calon penganut paham jihad.

Begitu pula sebaliknya, lelaki penganut paham jihad dengan berbagai retorika keislaman yang indah juga turut berpengaruh besar pada keputusan seorang perempuan untuk masuk pada aliran ini. Saya kira, ini telah menjadi rahasia umum. Media sosial, sekali lagi juga ikut memberi peran bagi terbentuknya paham “ikut suami seratus persen” yang biasa berkembang di kalangan kaum jihadis.

Contoh kasus yang terjadi pada Dian Yulia Novi misalnya, peremuan yang merencanakan pengeboman terhadap istana negara bersama sang suami (Nur Solikhin). Pemahamanya tentang Islam, juga  pertemuannya dengan suami  yang juga sama-sama berideologi jihadis merupakan hasil dari sebuah petualangan di dunia maya. Di media maya tersebut pula dia mengenal calon suaminya yang kemudian mempunyai tekad bersama untuk melakukan jihad.

Media sosial menjadi semakin memiliki pengaruh yang kuat saat kita melihat fenomena agama di media elektronik, serta media sosial kita sekarang ini yang banyak diisi bukan oleh orang yang pure agama, namun oleh orang yang agamawan motivator, ataupun motivator religius.

Tema-tema keagamaan yang laris dipasaran bukan lagi bagaimana mengenal rukun Islam yang lima. Ajaran agama di media kini berubah haluan menjadi bagaimana cara agama menangani kesedihan, bagaimana agama mengajarkan kita untuk meraih cita-cita dan lain sebagainya.

Anak-anak muda yang sedang butuh pencerahan spiritual pun dengan mudah digaet. Dan ironisnya, dari anak muda-anak muda yang aktif mencari pencerahan lewat media sosial, perempuan adalah yang paling mendominasi. Inilah yang menjadi awal keterlibatan perempuan dalam aksi teror. Dan jika melihat keaktifan perempuan di media sosial terutama dalam masalah keagamaan belakangan ini, bukan sangat tidak mungkin lima tahun ke depan akan ada banyak jihadis perempuan yang bermunculan. Ini harus segera diatasi.

TENTANG PENULIS

Hamdani Mubarak adalah mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

BACA JUGA

About Author

Hamdani Mubarak

Hamdani Mubarak adalah mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.


Related Posts

Write a response to this post