“League of Legends” dan Kualitas Kesatria Ideal dalam Perspektif Kode Etik Samurai

Game sendiri tidak pernah luput dengan gambaran Knight in a Shining Armor sebagai personifikasi dari kubu kebaikan

LOL dan Kualitas Ksatria Ideal dalam Perspektif Kode Etik Samurai
LOL dan Kualitas Ksatria Ideal dalam Perspektif Kode Etik Samurai
Kolase Berpijar (Ilustrasi: Ubisoft, For Honor dan League of Legends, Garen)
Game sendiri tidak pernah luput dengan gambaran Knight in a Shining Armor sebagai personifikasi dari kubu kebaikan.

Para pembaca yang budiman pasti ada yang pernah menjadi seorang pemain game. Game merupakan sebuah budaya yang kekal di dunia maya, bahkan tidak jarang game yang di film kan atau dibukukan. Hampir di setiap sudut sekarang kita dapat melihat orang bermain game melalui gawai mereka.

Namun, apakah ada amanah dari game yang kita mainkan? Pastinya ada, melalui kisah-kisah yang telah disuguhkan dalam game terkait.

Kisah dalam game biasanya kental dalam game yang berbentuk Real Time Strategy (RTS) atau Role Playing Game (RPG). Banyak perusahaan game internasional yang mengembangkan game dengan model seperti ini, layaknya Blizzard, Valve atau Garena. Penulis akan mengulas game dari perusahaan yang terakhir disebut, yakni Garena.

Di Asia, terutama Asia Tenggara, perusahaan ini cukup berjaya dengan beberapa game nya: Free Fire, Arena of Valor (AoV), Heroes of Newerth (HoN) dan League of Legends (LoL).

Permainan yang bermodel RPG, kental dengan berbagai macam karakter yang unik, mereka bisa dipilih dan dimainkan dalam satu kali pertandingan. Ada yang berperingai bengis, adapun yang merupakan mahluk-mahluk yang mulia. Akan tetapi, yang tidak pernah luput adalah konsep seorang kesatria berhati murni yang berjuang untuk keadilan. Hampir semua RPG memiliki karakter itu. Game sendiri tidak pernah luput dengan gambaran Knight in a Shining Armor sebagai personifikasi dari kubu kebaikan.

Pada game yang mana penulis akan mengulas? Sesuai dengan judulnya, penulis akan mengambil salah satu karakter dari LoL. Namanya adalah Garen. Ia merupakan kesatria berhati besar dari kerajaan yang bernama Demacia. Kerajaan ini berisikan manusia-manusia yang sudah muak dengan sihir yang ada dalam dunia Runeterra (dunia LoL).  Mereka berada dalam konflik yang berkepanjangan dengan Kerajaan Noxus yang merupakan tetangga mereka juga rival.

Menurut kisah mengenai Garen dalam website universe.leagueoflegends.com, kisah-kisah para karakter League of Legend, dia adalah salah satu dari pasukan elit Kerajaan Demacia yang bernama Dauntless Vanguard. Garen adalah anak pertama dari keluarga Crownguard yang bertugas untuk menjaga keamanan dari keluarga kerajaan.

Dia dan adiknya memiliki kekuatan yang berbeda, dimana Garena mendapatkan kemampuannya dari berlatih selama bertahun-tahun, sedangkan adiknya merupakan penyihir. Hal ini konon masih membuat Garen sedikit kecewa kepada adiknya, dia yang lahir di kerajaan yang menolak sihir, harus berkeluarga dengan penyihir.

Secara fisik, Garen merupakan personifikasi dari kesatria Barat yang penuh kebaikan. Sebuah manusia dambaan semenjak abad ketigabelas yang terlihat dari baju zirah maupun pedang yang dibawa olehnya. Belum lagi jubah yang melilit lehernya menggambarkan gaya ke-Barat-an dari karakter ini, hanya kesatria Barat yang memakai jubah di medan perang. Garen merupakan penggambaran kesatria berbudaya barat, yang juga memiliki kualitas dari kesatria Timur seperti Jepang.

Garen digambarkan sebagai kesatria berbadan tegap dengan pedang besar yang menjadi senjata utama. Ia adalah bentuk dari Chivalry, sebuah konsep dari abad pertengahan mengenai kesatria yang penuh kemuliaan dan acapkali merupakan personifikasi dari kesatria pada abad pertengahan (britanica.com). Sikapnya yang selalu menjadi panutan dari semua pasukannya dan rela berkorban mengilustrasikan pribadi yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Garen merupakan bentuk nyata dari harga diri lelaki pada umumnya.

Pada salah satu kisah yang ada di website LoL. Garen rela untuk bersusah payah menghadapi iblis yang suka memakan ingatan (Hag) hanya untuk menyelamatkan salah satu prajuritnya.

Dengan sopan ia memasuki gua iblis tersebut dan tidak serta merta memulai dengan unjuk kekuatan, tapi bernegosiasi dengan si Hag, meskipun pada akhirnya dicurangi dan Garen berhasil membunuh Hag tersebut, ia mengutarakan bahwa idealisme dia tidak memperbolehkannya untuk membunuh pemilik rumah dengan gegabah.

Kisah singkat diatas menandakan bagaimana sebetulnya seorang kesatria yang berjiwa pahlawan harus menghormati musuhnya, siapapun itu. Dalam buku The Code of Samurai (Cleary, 1999), diejawantahkan bahwasanya seorang samurai harus menghormati siapapun, dengan itu mereka akan membawa nama baik bagi keluarganya.

Adapun loyalitas terhadap tuannya harus dijunjung tinggi, kalau dalam buku tersebut, “Tuan” merujuk kepada Daimyo atau Shogun, sedangkan Garen menunjukkan loyalitas kepada keluarga kerajaan, terutama kepada ahli waris tahta Demacia yang bernama Jarvan IV.

Kualitas lain dari seorang kesatria yang patut dianut oleh pemain LoL dari Garen adalah kesopanan. Dalam kisah ia melawan Hag, Garen menunjukkan kesopanannya dengan tidak membunuh Tuan Rumah (si Hag) meskipun Hag tersebut adalah musuhnya. Dengan kesopanan dan sikap yang menghormati musuh, seorang kesatria akan menjadi unpredictable.

Adapun perkataan yang digunakan dalam percakapannya sopan tanpa tujuan untuk menghina si Hag. Ini adalah konsep Big Talk and Criticism, maksudnya adalah bagaimana seorang kesatria (atau berjiwa kesatria) tidak boleh berbicara serampangan dan keras kepala, agar mudah berbicara atau bernegosiasi dengan orang lain, baik lawan maupun kawan (Ibid).

Dalam dialog di Gua si Hag, iblis tersebut mempertanyakan apakah si Garen akan membunuh si iblis (Hag) itu? Dengan jujur ia menjawab bahwasanya ada kemungkinan bahwa baik dia ataupun si Hag akan terbunuh. Ia pun memulai perundingan dengan si Hag untuk mendapatkan salah satu prajuritnya kembali.

Kualitas kesatria paling mendasar yang dapat pembaca petik adalah kejujuran yang menjadi pondasi kepercayaan si Hag, sehingga ia mau berunding dengan Garen. Jika merujuk pada Code of Samurai, salah satu prinsip yang harus dipegang kesatria adalah memikirkan kematian dalam benaknya, seperti yang dilakukan Garen dalam cuplikan dialog diatas.

Dengan memikirkan kematian, maka seorang kesatria akan sigap. Agaknya prinsip ini berlebihan untuk kita yang bukan seorang prajurit, tapi agar tetap waspada, perlu rasanya kita meniru prinsip itu.

Masih banyak prinsip lainnya seperti: tidak lari dari pertarungan, ketangkasan, diskresi, kewaspadaan, dan murah hati. Garen merupakan contoh karakter game yang patut kita contoh pribadinya.

Meskipun terkadang kita hanya menganggap permainan sebagai permainan, dalam kisah yang tertuang di game tersebut akan banyak hikmah yang dapat dipetik dan membantu kehidupan sehari-hari.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post