Membicarakan Batas dalam Film “Territorial Pissings”, Tentang Rokok dan Pengemudi Mobil

Persoalan mengencingi wilayah, penulis teringat pada kebiasaan anjing untuk menandai batas kepemilikan suatu wilayah. Ya, dengan mengencinginya! Ada batas yang diciptakan dari kencing tersebut.

Membicarakan Batas dalam Film “Territorial Pissing”, Tentang Rokok dan Pengemudi Mobil_AH Bas_Berpijar
Membicarakan Batas dalam Film “Territorial Pissing”, Tentang Rokok dan Pengemudi Mobil_AH Bas_Berpijar
Territorial Pissings
Persoalan mengencingi wilayah, penulis teringat pada kebiasaan anjing untuk menandai batas kepemilikan suatu wilayah. Ya, dengan mengencinginya! Ada batas yang diciptakan dari kencing tersebut.

“Territorial Pissings” dalam arti bahasa Indonesia bermakna “mengencingi teritori atau wilayah”. Persoalan mengencingi wilayah, penulis teringat pada kebiasaan anjing untuk menandai batas kepemilikan suatu wilayah. Ya, dengan mengencinginya! Ada batas yang diciptakan dari kencing tersebut. Batas tersebut lalu dimitoskan tidak boleh dilanggar. Setidaknya judul film ini, memberi petunjuk kita tentang persoalan-persoalan batas dan yang tidak boleh dilanggar.

Tapi batas apakah yang dilanggar? Apakah memang ada batas yang dilanggar dalam film ini? Ataukah sebenarnya tidak ada batas apapun yang sedang dilanggar dalam film ini? Bisa saja kita menyebutnya demikian, jika kita sepakat bahwa batas diciptakan oleh sebagian orang dan sebagian yang lainnya tidak berkenan untuk mengiyakannya.

19-06-2018-AH Bas-Berpijar-1

Batas adalah terma yang diciptakan agar antar teritori dapat dikukuhkan penguasaanya. Batas negara, batas wilayah. batas wewenang, dan lain-lain misalnya. Batas dapat anda bayangkan seperti pagar yang diciptakan dari besi, bambu, atau batu bata. Tapi banyak batas diciptakan tidak dengan bahan-bahan tersebut. Terkadang batas hanya diciptakan dari rasa takut. Rasa takut untuk mempertanyakan batas yang diciptakan. Lalu batas apa yang hendak dibicarakan dalam film ini?

Film dimulai dengan kamera yang menyorot sebuah pemandangan gunung dan sekaligus judul dimunculkan pada shoot jauh. Judul yang dimunculkan di awal film memiliki fungsi untuk mengekang dan membatasi interpretasi penonton pada persoalan yang mendekati judul, seperti paragraf awal tulisan ini.

Adegan mengalir dan memunculkan seorang perempuan tertidur di bangku belakang setir mobil. Kamera lalu diarahkan pada hiasan mobil berupa mainan Mickey dan Minnie Mouse yang sedang naik mobil. Mainan ini menunjukkan Mickey Mouse yang sedang mengemudi dan Minnie Mouse disampingnya.

Menarik, karena sebelum shoot ini, adegan ditunjukkan bahwa ada seorang perempuan tertidur di belakang kendali mobil. Dan tepat, ada seorang lelaki yang juga tertidur di samping perempuan tersebut, di bangku penumpang.


Di awal film, kita telah disuguhkan sebuah kontradiksi. Wacana dominan tentang gender dihadapkan pada kenyataan yang diciptakan oleh sutradara. Inilah batas patriarki yang diterabas oleh si perempuan. Lelaki dalam pandangan patriarki digambarkan sebagai sosok pemimpin, pengayom, dan pelindung.

Sehingga dalam kasus ini, seharusnya lelaki yang mengendarai. Namun sutradara menghendaki kenyataan lain. Kita digiring pada pertanyaan, apa jadinya jika perempuan menyetir dan lelaki yang menjadi penumpang?

Perempuan itu kemudian keluar dari mobil. Walaupun perempuan diwujudkan memakai mini dress yang dipadu oleh kemeja terbuka, tak ada shoot maupun pergerakan kamera yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Hal ini menjadi menarik. Kamera tidak dilekatkan pada kelamin apapun. Hal ini berbeda dengan kebanyakan film yang menjadikan kamera sebagai perwujudan mata lelaki.

Kamera sebagai perwujudan mata lelaki, menurut Laura Mulvey, dinamakan sebagai “Male Gaze”. Konstruksi budaya patriarki yang begitu kuat, nyatanya membuat kamera sekalipun harus dapat memuaskan lelaki. Ini kenapa banyak film yang merekam perempuan dengan begitu eksploitatif.

Namun film ini tidak. Dia memposisikan kamera tak berkelamin. Tak ada shoot-shoot yang mewakili mata lelaki. Begitupun juga dengan Female Gaze. Tak ada tatapan kamera yang mewakili perempuan. Kamera benar-benar digambarkan netral dan menyuruh penonton fokus pada cerita dan penceritaan.

Perempuan mengeluarkan rokok dan hendak menyalakannya. Tapi rokok tersebut diambil oleh lelaki dan dibuangnya. Jangan pikir kalau si lelaki anti rokok, to nyatanya si lelaki juga merokok. Dia hanya tidak suka pacarnya merokok, dia hanya tidak suka perempuan merokok. Inilah salah satu wacana dominan yang selalu coba dikukuhkan oleh lelaki. Bahwa yang berhak merokok hanyalah laki-laki. Inilah juga yang oleh pengusaha dan pembuat iklan rokok coba dikukuhkan.

Rokok dilekatkan dengan nilai-nilai maskulinitas. Merokok adalah kegiatan yang maskulin, khusus lelaki. Sehingga apabila ada perempuan merokok, tentu ini melanggar batas. Untuk kedua kalinya, perempuan digambarkan melanggar batas yang ditentukan oleh lelaki. Namun, jika kita percaya bahwa batas hanya akan ada karena rasa takut, berarti perempuan ini tidak melanggar apapun.

Perempuan setelah dilarang merokok, masuk ke dalam mobil. Dia membuka kaca mobil dan mulai menyalahkan rokok lagi. Si laki-laki memarahinya tapi perempuan tidak mau berhenti. Dia keluar dan berjalan menjauhi mobil sembari menyalahkan rokoknya. Ekspresi lelaki menjadi kesal. Dia lalu berada di belakang setir mobil.

Untuk kedua kalinya, mainan Mickey dan Minnie Mouse naik mobil dihadirkan. Munculnya mainan ini diikuti oleh lekaki yang berusaha menyalahkan mesin dan menjalankan mobil. Mobil tak mau bergerak, malah yang ada sesekali mobil berjalan mundur.

Lelaki keluar dari mobil dan mulai menyalahkan rokok. Wajahnya terlihat kesal. Untuk kedua kalinya dia masuk mobil dan berusaha mengendarai mobil. Keinginan lelaki untuk mengendarai mobil tentu tidak didasarkan oleh kebutuhannya sebagai manusia, tapi kebutuhannya sebagai lelaki. Dia kesal jika harus berada pada bangku penumpang dengan pengemudi perempuan.

Dalam pandangan patriarki, inilah konsekuensi yang harus diterima lelaki. Lelaki dibebankan harus bisa dalam banyak hal. Tidak boleh lelaki tidak menguasai sesuatu yang dilekatkan pada gendernya. Apalagi bila ternyata malah si perempuan yang menguasai hal tertentu tersebut. Ada beban yang tidak dapat dikuasai maka akan menjadi petaka. Rasa malu yang tak berujung, misalkan.

Kali ini perempuan dari jauh menoleh dan memperhatikan. Seperti dugaan, lelaki gagal menjalankan mobil untuk kedua kalinya. Wajah kesal makin terlihat di wajahnya. Perempuan kembali dan menghampiri lelaki. Perempuan lalu berkata “Kenapa?” Seperti dugaan, jawaban lelakinya adalah “Gak.”

Percakapan singkat ini menunjukkan bahwa dalam budaya patriarki, kekalahan seorang lelaki atas perempuan tidak dapat dibenarkan. Rasanya memalukan harus menjadi penumpang dari seorang pengemudi perempuan, begitu kiranya yang dirasakan lelaki penganut patriarki. Menjadi lebih rumit apabila perempuannya menolak menerima budaya patriarki.

Tanpa penghormatan ala budaya patriarki, si perempuan mengatakan “minggir, minggir!” dan menggantikan posisi duduk si lelaki. Lelaki pun dengan tanpa daya minggir dan duduk di bangku penumpang. Ekspresi lelaki menunjukkan rasa malunya yang besar.

Lagi-lagi, untuk ketiga kalinya mainan Mickey dan Minnie Mouse mengendarai mobil dimunculkan. Munculnya mainan ini secara berulang dan pada momen-momen menentukan dalam film, mengartikan sesuatu, bahwa wacana dominan tentang mengemudikan mobil hanya terjadi pada mainan. Dalam dunia nyata film ini, wacana itu tak berlaku.

Film ini menunjukkan bahwa perempuan berhasil melewati batas yang telah ditandai oleh lelaki. Batas yang diciptakan oleh rasa takut, seketika tak berdaya jika rasa takut itu dihilangkan. Tapi tentu, film ini dengan sangat jitu hanya menunjukkan persoalan-persoalan yang sederhana, soal rokok dan mengemudi mobil.

Namun, tentu bukan hanya itu yang dibuat batas dalam budaya patriarki. Tentu bukan itu saja batas yang diciptakan oleh rasa takut perempuan. Kita sebagai penonton, sama-sama belum tau, apakah lelaki dalam film ini dikalahkan dalam banyak batas. Jangan-jangan, memang hanya soal rokok dan mengemudi mobil saja batas yang berhasil dibongkar.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. 

BACA JUGA

Write a response to this post