Kunjungan Yahya Staquf ke Israel, Mengapa Memperjuangkan Palestina Sangat Penting Bagi PKS?

Yahya-Cholil-Staquf-Israel-Telegraf-Redaksi-Berpijar
Yahya-Cholil-Staquf-Israel-Telegraf-Redaksi-Berpijar
Yahya Cholil Staquf diundang sebagai pembicara di Israel dalam forum American Jewish Committee (AJC). (Foto: Telegraf)
Bisa jadi alasan PKS sangat tidak suka dengan kunjungan Yahya Staquf ke Israel tersebut lantaran komoditas politik mereka (isu memperjuangkan Palestina) bisa direbut oleh kelompok lain.

Kunjungan Yahya Cholil Staquf, anggota Watimpres sekaligus Katib PBNU, yang berangkat ke Israel saat bulan puasa kemarin masih menjadi topik yang tak habis-habisnya diperbincangkan. Heboh di dunia maya semakin menjadi-jadi setelah Salman al-Farisi, Ketua PKS Kota Medan, melontarkan hinaan kepada Yahya. Kemudian Salman meminta maaf atas perbuatannya tersebut.

Tak berseling lama, tokoh PKS lainnya, Tifatul Sembiring setelah menulis di Twitter-nya yang mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui kalau Yahya Cholil adalah seorang kiai.

Jika dilacak lebih jauh ke belakang, perseteruan antara PKS dan NU bukan barang baru. Beberapa hari ini di media sosial banyak bertaburan para netizen menyebarkan rekam jejak digital bagaimana umpatan tokoh-tokoh PKS kepada NU atau tokoh-tokoh NU. 

Tulisan ini tidak akan membahas tentang perjalanan hubungan partai dan Ormas tersebut, tapi lebih melihat mengapa kunjungan Kiai Yahya ke Israel bisa menjadi persoalan besar bagi PKS. Hal ini akan coba ditinjau dari segi betapa berharganya isu Palestina bagi PKS. Sebelumnya akan dikemukakan bukti bahwa isu Palestina memang benar-benar prioritas bagi PKS.

Palestina sebagai Isu Utama Perjuangan PKS

Burhanuddin Muhtadi (2012) dalam salah satu pembahasan bukunya berjudul “Dilema PKS: Suara dan Syariah” mengemukakan hasil penelitian mengenai aksi-aksi kolektif yang dilakukan PKS (meliputi pula PK, FSLDK dan KAMMI) dari tahun 1980 sampai 2007.

Data yang terkumpul sebagian bersumber dari pemberitaan dua harian nasional terkemuka di Indonesia, yaitu Kompas dan Republika beserta portal media onlinenya. Penelitian tersebut dimaksudkan untuk memahami aplikasi nyata ideologi Islamisme yang dipegang oleh PKS.

Hasilnya, demonstrasi menjadi aksi yang paling getol dilakukan PKS (51,6%), sisanya pernyataan sikap (16,9%), dakwah (6,2%), penanggulangan bencana alam (4,9%) dan seterusnya.  Tentang demonstrasi atau aksi protes paling banyak dilakukan PKS berkisar pada tema anti-Israel yang hampir mencapai dua pertiga (29,9%). Hal ini tidak lepas dari efek sentiment anti-Amerika yang menjadi isu dominan dalam aksi-aksi protes PKS (17,3%).

Presentasi untuk menggarap isu internasional (anti-Israel, anti-Amerika yang disebut sebagai musuh jauh) lebih mengungguli persoalan-persoalan sosial-politik dalam negeri seperti korupsi (4%), politik uang (1,8%) keberlanjutan reformasi (1,3%) dan lain-lain. 

Salah satu hal menarik dari temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada partai Islam seperti PPP maupun PBB, atau partai yang lekat dengan kultur Islam seperti PKB dan PAN, yang menjadikan isu anti-Amerika, anti-Israel, anti-Zionis dan membela Palestina melebihi apa yang telah dilakukan oleh PKS.

Kecenderungan demikian menjadikan PKS lebih menaruh kepedulian kepada persoalan transnasional, namun perlu diingat bahwa isu itu memiliki kandungan religius yang sangat kuat. PKS lebih memperdulikan persoalan jarah jauh yang menandakan lekatnya nilai Islamisme daripada hal-hal yang langsung menyangkut kepentingan nasional.

Selain melalui aksi demonstrasi, PKS bahkan pernah mengeluarkan pernyataan siap mengirim para mujahidin ke Timur Tengah. Beberapa cabang PKS juga membuka posko pendaftaran, seperti di di Kediri yang menyatakan siap membantu tentara Hizbullah melawan invasi Israel tahun 2006. Menurut catatan Muhtadi, kesiapan mengirim mujahidin hanyalah sebuah bentuk retorika solidaritas sesama umat Islam semata. Nyatanya, belum pernah ada relawan yang benar-benar dikirim ke Timur Tengah.

Kenapa demikian? Karena metode gerakan yang digunakan oleh PKS memang berbeda jauh dengan Jamaah Islamiyah (JI). PKS, terlepas dengan ketertarikan mereka dengan isu-isu transnasional, tetap memikirkan keuntungan dan keterkaitan seluruh tindakannya dengan urusan “pemilu”, karena mereka adalah Partai. Mengirimkan kader ke Palestina belum tentu mendongkrak nilai jual PKS di mata publik Indonesia.

Temuan lain yang diutarakan Muhtadi juga melihat bahwa PKS menunggangi peristiwa-peristiwa domestik untuk menarik perhatian bagi isu-isu internasional. Sebagaimana ketika terjadi perayaan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung tanggal 22-24 April 2005. Mereka menuntut kepada pemerintah Indonesia untuk memberikan perhatian serius terhadap Palestina.

Contoh lain misalnya, pada tahun 2001, ketika kondisi politik sedang kacau, PK (sebelum berubah jadi PKS) dan KAMMI secara aktif memobilisasi para kader dan simpatisannya untuk melakukan unjuk rasa mendesak agar Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mundur dari jabatannya karena dugaan kasus korupsi. Di sisi lain, kecaman yang turut disuarakan secara lantang juga menyangkut protes mereka terhadap rencana Gus Dur untuk membuka kerjasama ekonomi dengan Israel.

PKS sukses melakukan sebuah transformasi dari isu Palestina, anti-Amerika dan anti-Israel menjadi sebuah bentuk kongkrit aksi kolektif melebihi partai maupun organisasi Islam lainnya, baik NU maupun Muhammadiyah.  

Dari berbagai uraian yang telah dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa isu Palestina memang menjadi konsen bagi perjuangan PKS, bahkan isu tersebut mengungguli berbagai topik atau permasalahan-permasalahan lain dalam negeri.

Lantas, pertanyaannya kemudian, mengapa Palestina menjadi isu utama yang dikerjakan PKS?

Berikut ini beberapa alasan diantaranya, yakni alasan “ideologis” dan alasan “politis”

Alasan Ideologis

Burhanuddin Muhtadi dalam buku yang sama juga menyebutkan tiga pembingkaian kolektif transnasionalis Islam, atau doktrin seperti apa yang menjadikan dasar gerakan tersebut mencuat kuat. Pertama, keyakinan bahwa Islam sedang dikepung atau diserang musuh. Perasaan semacam rindu akan kejayaan masa lalu Islam yang telah runtuh akibat serangan kolonialisme Barat. Mental terjajah atau bahkan secara nyata dalam kondisi dijajah sedang dialami hampir semua negara muslim di dunia.

Hal tersebut tidak lepas karena faktor kedua yaitu adanya konspirasi Yahudi yang menghancurkan umat Islam. Akibatnya, poin ketiga, sentimen kuat anti-Amerika dan anti-Yahudi beserta memperjuangkan nasib Palestina atas dorongan kesamaan agama menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.

Aksi memperjuangkan Palestina, sebagai negara yang diyakini dihuni oleh saudara sesama Islam tidak lepas dari alasan ideologis. Mereka berharap dapat merubah kondisi keterpurukan umat Islam dengan menjadikan solidaritas Islam dan ajaran Islam sebagai solusi.

Apalagi jika keyakinan tersebut berangkat dari keterpurukan umat Islam secara universal, Palestina bisa menjadi sebuah simbol penting yang mengintegrasikan makna Islam bagi seluruh dunia. Tentu hal ini tidak lepas dari faktor kesejarahan bangunan penting Masjidil Aqsha bagi umat Islam.

Ringkasnya, dengan memahami tiga wacana yang terus bergulir yang sudah disebutkan sebelumnya, kita dapat menangkap alasan mengapa Palestina menjadi penting bagi PKS secara ideologis. 

(Harus pula diingat, PKS merupakan partai yang menjadikan Islam sebagai basis bagi ideologinya. Hal ini tidak terlepas dari embrio partai ini lahir yang berawal dari gerakan tarbiyah) 

Berbicara mengenai Ideologi, ada hal menarik lainnya yang sekiranya perlu dikemukakan. Ketegangan Amerika dengan Iran atau rencana program nuklir Iran tidak menjadi prioritas dari gerakan PKS. Padahal Iran adalah negara Islam. Alasannya bisa jadi adalah ideologis.

PKS mengklaim bahwa Islam yang mereka perjuangan adalah Islam Sunni, sedangkan Iran lekat kaitannya dengan Syiah. Hal ini tidak lepas dari pertarungan ideologi di ranah internasional tentang aliran Islam. Belum lagi landasan yang acapkali digunakan oleh PKS adalah kelompok Ikhwanul Muslimin, yang notabennya memang berseberangan dengan Syiahnya Iran.

Isu Palestina Sebagai Barang Dagangan

Sebagai sebuah partai politik, ada alasan yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan, yakni faktor menarik dukungan untuk pemilihan umum seperti sudah disinggung sebelumnya. Meskipun dengan landasan yang paham keagamaan begitu kuat, PKS sebagai sebuah partai politik tidak bisa melepaskan hakikat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan melalui mekanisme Pemilu.

Artinya, isu Palestina harus tetap diletakkan sebagai sebuah barang dagangan partai tersebut untuk meraup dukungan. Apalagi isu ini berkaitan erat dengan sentimen keagamaan yang sebenarnya selaras dengan citra partai tersebut.

Meskipun harus diakui, belakangan PKS telah berusaha keras menampilkan dirinya sebagai partai politik yang inklusif, bukan melulu memoles citranya dengan partai Islam, tapi lebih ke partai “Bersih, Peduli dan Profesional”. Meskipun banyak pihak menyatakan ideologi partai tidak bisa menjadi barang dagangan partai lagi, PKS harus tetap menggunakan identitas Islamnya sebagai diferensiasi.

Apalagi ketika partai bercirikan nasionalis telah merangsak masuk dalam segmentasi masyarakat muslim melalui program-progam atau lembaga-lembaga keagamaannya. Jika PKS menanggalkan identitas Islamnya secara keseluruhan, masa depan partai ini bisa jadi lebih buruk lagi (Darmawan, 2016).

Semakin susah ketika PKS harus melakukan serangan balik dengan menggarap segmentasi pemilih nasionalis. Lebih realistis kalau PKS tetap bergulat dengan identitas Islam dan menjadikan Pelestina sebagai isu perjuangan untuk menarik simpati luas bagi umat Islam di Indonesia.

Tentang bagaimana Palestina menjadi komoditas politik dikemukakan lebih panjang oleh Ray Rangkuti (dikutip dari Qodir, 2013). Ia menyatakan isu Palestina yang digadang-gadang PKS sebenarnya adalah isu usang sebagai modal kampanye. Ray mempertanyakan mengapa demonstrasi yang dilakukan PKS selalu berpusat di tiga tempat, Kedubes Amerika, Istana Merdeka dan PBB.

Menurut Rangkuti, jika PKS tidak mau dianggap cari muka dan hanya ingin dukungan Pemilu, seharusnya demonstrasi juga dilakukan di Dubes Arab Saudi. Sebab, permasalahan Palestina adalah permasalahan wilayah muslim, harusnya negara-negara Islam ikut bertanggung jawab secara serempak. Tidak ada gunanya mendemo Dubes Amerika, harusnya yang turut didesak itu negara-negara Arab lainnya, khususnya Arab Saudi sebagai pusat Islam.

Zuly Qodir (2013) memberikan penjelasan yang lebih menohok lagi tentang alasan mengapa PKS tidak pernah melakukan demo di depan Dubes Arab Saudi. Dia mengatakan, banyak aktivis PKS adalah lulusan sekolah bentukan Arab Saudi. Yang paling terkenal adalah LIPIA (Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab). Maka yang selalu didemo ya simbol Amerika, PBB, Istana Merdeka, tidak berani menyerang Arab Saudi.

Mengingat belakangan Islam menjadi trend yang begitu digandrungi, persoalan Palestina juga semakin mendapatkan perhatian yang semakin luas, tidak salah ketika PKS tetap mempertahankan Palestina sebagai unit kerja utama fokus tema perjuangan.

Di luar dua alasan besar tersebut, masih banyak alasan lain yang bisa dikemukakan mengapa Palestina begitu penting bagi PKS.

Dari alasan politis, bisa jadi alasan PKS sangat tidak suka dengan kunjungan Yahya Staquf  ke Israel tersebut lantaran komoditas politik itu bisa direbut oleh kelompok lain. Apalagi menurut penuturan dari beberapa tokoh NU sendiri menyatakan apa yang dilakukan Katib PBNU tersebut merupakan upaya diplomasi untuk memperjuangkan Palestina, meskipun belum dikatakan dapat berbuah apa-apa.

Tentu ini bisa berbahaya bagi PKS yang telah lama mengambil fokus ini. Apalagi figur yang tampil dari NU, organisasi Islam yang sejak awal kurang kondusif bagi kantong suara PKS dan selalu memiliki jarak secara ideologis dan kultural.

Bisa juga PKS benar-benar murka karena alasan ideologis yang tidak terjelaskan, mereka marah karena tokoh agama lain terlihat bergitu dekat dengan Israel, negara yang paling mereka benci.

 

Rujukan

Darmawan, Devi. 2016.  “Volatilitas Elektoral Partai Keadilan Sejahtera (PKS)”. Dalam Nurhasim (Ed). Masa Depan Partai Islam di Indonesia: Studi Tentang Volatilitas Elektoral dan Faktor-faktor Penyebabnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhtadi, Burhanuddin. 2012. Dilema PKS: Suara dan Syariah. Jakarta: KPG Kepustakaan Populer Gramedia.

Qodir, Zuly. 2013. HTI dan PKS Menuai Kritik: Perilaku Gerakan Islam Politik Indonesia. Bantul: Jusuf Kalla School of Government.

BACA JUGA

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post