Mempertanyakan Perang (Nuklir) Dunia Ketiga, Melunaknya Kim Jong Un

Terdapat dua indikasi melihat tindakan Kim yang melunak akhir-akhir ini, yaitu Korea Utara memang berusaha untuk membuka dirinya dan melakukan denuklirisasi, atau sebaliknya yang dilakukan hanyalah sebagian dari upaya untuk mengendalikan kemiskinan yang ada di negaranya.

Mempertanyakan Perang (Nuklir) Dunia Ketiga, Melunaknya Kim Jong Un_Agung TP_Berpijar
Mempertanyakan Perang (Nuklir) Dunia Ketiga, Melunaknya Kim Jong Un_Agung TP_Berpijar
Donald Trump dan Kim Jong Un berjabat tangan pada pembukaan Democratic People's Republik of Korea-United States Summit di Singapura, 12 Juni 2018. (Foto: Dan Scavino Jr via Wikipedia)
Terdapat dua indikasi melihat tindakan Kim yang melunak akhir-akhir ini, yaitu Korea Utara memang berusaha untuk membuka dirinya dan melakukan denuklirisasi, atau sebaliknya yang dilakukan hanyalah sebagian dari upaya untuk mengendalikan kemiskinan yang ada di negaranya.

Beberapa hari yang lalu telah terjadi sebuah pertemuan besar abad ini. Trump memutuskan untuk bertemu dengan Kim Jong Un setelah serangkaian penolakan dari warga Amerika Serikat dan ancaman penggagalan pertemuan tersebut.

Kim adalah North Korean Supreme Leader, pemimpin tertinggi di Korea Utara, negara yang cukup tidak stabil dalam lingkaran keamanan global. Pada tahun 2017, Korea Utara melaksanakan percobaan roket yang melintasi perbatasan wilayah Jepang dua kali, masing masing pada tanggal 29 Mei dan 29 Agustus.

Selanjutnya, hingga sebelum pertemuan dengan Trump pada tahun 2018, Kim terus berseteru dengan Trump melalui media sosial.

Sikap Plin-Plan Kim Jong Un

Berkali-kali Korea Utara melaksanakan percobaan nuklirnya, membuat negara lain di dunia khususnya Asia Timur seperti Korea Selatan dan Jepang tidak tenang, begitu juga dengan Amerika Serikat.

Pasalnya, Korea Utara mengklaim bahwa percobaan untuk roket antar benua atau ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) yang dimilikinya telah memasuki tahap final. Pihak Korea Selatan bahkan telah mengatakan bahwa roket tersebut sudah dapat mencapai pangkalan terdekat Amerika Serikat.

Menjadi tidak masuk akal dengan segala provokasi yang dibuatnya belakangan ini, Kim Jong Un melunak dengan melakukan pertemuan dengan Moon Jae In pada tanggal 27 April 2018. Pada pertemuan tersebut, Kim memecahkan rekor dengan menjadi satu-satunya pemimpin tertinggi Korea Utara yang melakukan kunjungan ke wilayah Korea Selatan sejak berakhirnya perang Korea pada tahun 1953.

Fenomena selanjutnya jauh mengafirmasi semakin melunaknya sang Supreme Leader ketika memutuskan untuk bertemu dengan Donald Trump (Presiden Amerika Serikat), bertempat di Singapura yang dinilai sebagai zona netral.

Model Pemerintahan di Korea Utara

Model pemerintahan yang dijalankan di Korea Utara disandarkan pada pembatasan dan ketakutan, semakin masyarakatnya terbatas dalam melakukan sesuatu dan terbatas dari pengaruh dunia luar, maka semakin tidak berkembang pemikiran mereka. Pemerintah menjadi satu-satunya instrumen yang harus ditaati dengan serangkaian peraturannya yang mengikat.

Akses terhadap dunia luar semuanya ditutup rapat agar perspektif dan kebebasan tidak terdengar oleh masyarakatnya. Pelanggaran terhadap aturan yang berlaku berarti bersiap untuk dihukum seberat-beratnya, bahkan hingga hukuman mati.

Dengan serangkaian keterbatasan yang dimiliki, akses ekonomi, pengetahuan dan lain sebagainya, membuat masyarakat Korea Utara menjadi begitu miskin. Hal tersebut tentu berimbas kepada pemerintahan yang ada, namun tak apa, karena kemiskinan merupakan salah satu instrumen pembatas bagi kebebasan masyarakat Korea Utara.

Melalui pengaturan tingkat kemiskinan tersebut berpengaruh pada perlawanan yang akan dibuat oleh mereka terhadap struktur yang ada, semakin kecil perlawanan yang akan dilakukan.

Akan tetapi, jika kemiskinan makin merajalela, bukan stabilitas yang akan tercapai, sebaliknya dapat menimbulkan revolusi. Oleh karena itu, pemerintah Korea Utara pasti akan melakukan pengaturan terhadap tingkat kemiskinan tersebut, namun tidak sampai ke titik nadir, karena revolusi akan terjadi kapan saja jika hal tersebut terjadi.

Korea Utara Semakin Miskin

Terdapat dua indikasi melihat tindakan Kim yang melunak akhir-akhir ini, yaitu Korea Utara memang berusaha untuk membuka dirinya dan melakukan denuklirisasi, atau sebaliknya yang dilakukan hanyalah sebagian dari upaya untuk mengendalikan kemiskinan yang ada di negaranya.

Kim Jong Un tentunya sangat tidak menginginkan kehilangan posisinya sebagai Supreme Leader, sehingga baginya, melakukan apapun untuk mengendalikan perekonomian negaranya yang saat ini semakin kacau adalah hal yang wajar. Termasuk dengan melakukan serangkaian perjanjian luar negeri dengan negara-negara lainnya, melunak merupakan salah satu instrumen yang logis dalam upaya mendapatkan bantuan.

Konsep yang dilakukan adalah seperti yang biasa digunakan oleh segerombolan anak dalam peringatan Halloween, “Trick or treat”, “aku tidak akan berbuat onar selama kau memberiku manisan”. Begitu yang dilakukan oleh Korea Utara, melakukan serangkaian upaya provokasi, mengancam untuk meluncurkan nuklir. Tetapi tidak dilakukannya dengan nyata, karena hanya bertujuan menggertak untuk mendapatkan perjanjian internasional agar mendapatkan bantuan perekonomian.

Instrumen Ancaman Nuklir

Butuh dari sekedar ancaman untuk perang dalam upaya melakukan gertakan seperti yang diinginkan oleh Korea Utara, karena tidak mudah memobilisasi banyak pasukan, artileri dan senjata berat lainnya untuk berangkat berperang. Dibutuhkan instrumen yang strategis dan praktis, nuklir adalah jawabannya. Inilah yang menjadi alasan Korea Utara melakukan serangkaian percobaan untuk membangun senjata pemusnah masal nuklir.

Jika dirunut lebih dalam melalui konsep balance of power, senjata nuklir adalah alat pertahanan sekaligus ancaman, sangatlah mematikan. Korea Utara akan selalu dan terus menerus melakukan provokasi melalui senjata nuklir yang dimilikinya untuk mendapatkan perjanjian internasional yang dapat memberikannya bantuan.

Pertanyaannya pada saat ini hanya berujung pada kapan ujungnya?

Negara penyerang maupun yang diserang dalam perang nuklir akan sama-sama mengalami kehancuran, oleh karena itu nuklir dalam studi tata kelola strategis dikategorikan sebagai deadlock atau stalemate. Selama nuklir Korea Utara tetap ada, tidak ada alasan dunia internasional untuk tenang dari negara perompak bersenjata nuklir ini. Satu-satunya jalan adalah melakukan pelucutan terhadap senjata nuklir Korea Utara.

Namun, kemudian timbul kembali pertanyaan, bagaimana stabilitas keluarga Kim bisa dipertahankan tanpa adanya nuklir? Akankah perang dunia ketiga akan tumbuh dengan ketidakinginan dunia internasional untuk bernegosiasi kembali dengan Korea Utara?

Berdasarkan logika yang telah disebutkan di atas, tidak akan mungkin muncul perang dunia ketiga yang menggunakan nuklir sebagai instrumennya. Karena bukan hanya nasib satu dua negara saja yang menjadi taruhan, tetapi keseluruhan dari kemanusiaan.

Tidak ada pertahanan yang mampu melawan dahsyatnya nuklir, kecuali nuklir itu sendiri.

TENTANG PENULIS

Agung Tri Putra adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post