Menelaah Disertasi Tito Karnavian tentang Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia (Bagian 3-Habis)

Saat individu-individu yang terpapar oleh konflik sektarian ini kehilangan keluarganya, maka enabling groups menjadi faktor lain yang menarik individu tersebut menjadi radikal dan rela melakukan apa saja untuk membela umat Islam.

Menelaah Disertasi Tito Karnavian tentang Konflik, Teror dan Radikalisasi di Indonesia (Bagian 3-Habis)_Reza MH_Berpijar
Explaining Islamist Insurgencies-Tito Karnavian-Berpijar
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Explaining Islamist Insurgency

Penulis

Muhammad Tito Karnavian

Penerbit

Imperial College Press

Tebal Buku

xiii+288 halaman

Tahun Terbit

2014

Jenis Buku

Disertasi Doktor

Sekarang kita memasuki bagian ketiga dan yang terakhir dari usaha saya dalam mengulas disertasi Tito Karnavian. Apabila sebelumnya pembahasan difokuskan kepada sejarah gerakan Islam radikal di Indonesia dan kronologi konflik Poso, maka pada bagian tiga ini akan dipusatkan mengenai faktor-faktor penyebab seseorang mengikuti gerakan Islam radikal. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, silakan simak resensinya sebagai berikut.

Metode rekrutmen yang digunakan oleh gerakan Islam radikal merupakan faktor eksternal dan penarik, namun saya belum mengulas faktor maupun alasan seseorang mengikuti sebuah gerakan radikal. Akan tetapi, sebelum memasuki pembahasan tersebut, ada hal menarik yang diulas Tito: latarbelakang anggota kelompok radikal di Poso.

Kita mungkin mengira bahwasanya kelompok radikal ini berasal dari pesantren atau sekolah berbasis madrasah, Tito membuktikan bahwa hanya ada 2 dari 40 respondennya yang berasal dari pesantren. Beberapa dari kelompok radikal ini juga merupakan bekas peminum alkohol yang sudah berpindah halauan. Mereka menjelaskan ketika sebelum konflik, Poso merupakan kota 24 jam yang gemilang, segala macam hiburan dapat ditemukan disini, karena Poso merupakan kota transit.

Adapun salah satu mujahid yang menjadi responden disertasi Tito ini adalah seorang memimpin grup band Rock yang dulunya dimana vokalisnya adalah orang Nasrani. Melihat dari latarbelakangnya, kenapa mereka bisa menjadi anggota kelompok radikal?

Alasan pertama sangatlah mendasar: Balas Dendam. Banyak dari mereka yang keluarganya menjadi korban konflik sektarian di Poso. Selain itu, adapun solidaritas sesama muslim menjadi sebuah panggilan bagi kelompok radikal. Mereka melihat kekejaman yang didapatkan saudara seimannya, sehingga pada akhirnya mereka mengambil jalan untuk membela umat Islam di Poso.

Beberapa informan pun sebenarnya tidak merasakan fase pertama dari konflik Poso pada tahun 1998-2000. Mereka terekspos dengan kekejaman yang terjadi di Poso (dalam hal ini umat Islam menjadi obyeknya), maka mereka menentukan untuk turun tangan dalam konflik ini, karena merupakan sebuah amaliyah apabila menolong sesama muslim yang tersakiti. Banyak anggota JI dari Jawa yang turut serta dalam konflik Poso merupakan muslim biasa yang menjadi radikal akibat melihat video konflik Poso.

Disertasi Tito ini tergolong rigid karena membeberkan berbagai macam jawaban yang didapat melalui wawancara dengan terdakwa kasus konflik Poso. Banyak dari terdakwa atau tahanan ini adalah umat Islam. Penangkapan umat Islam ini yang sebenarnya memicu pihak muslim untuk terus melakukan perlawanan karena aparat dianggap tidak adil dengan hanya menangkap kubu muslim saja.

Motif pembalasan dendam dari kelompok garis keras ini ialah akibat kata teroris juga hanya disandingkan kepada kelompok Islam. Salah satu informan bernama Farid Podungge menjelaskan bahwasanya kata teroris hanya disematkan kepada umat Islam di Poso dan Aceh, tidak seperti kasus lainnya seperti Republik Maluku Selatan (RMS) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang hanya digolongkan sebagai kriminalitas biasa.

Ia (Farid) menganggap bahwa negara harus adil dan non-diskriminatif dalam menentukan permasalahan konflik sektarian layaknya di Poso. Tindakan terorisme tidak hanya dari umat Islam. Begitulah pesan yang ingin disampaikan oleh Farid. Dalam buku ini sendiri, memang gerakan radikal yang sampai pada titik melakukan tindakan teror disandingkan dengan Islam, tidak seperti karya Gus Martin mengenai terorisme.

Mengamuknya kelompok Islam radikal juga karena berebut properti. Sebelum konflik Poso, banyak muslim yang tinggal di perumahan umat Nasrani. Ketika konflik pecah, banyak umat Islam ini melarikan diri dari rumahnya yang luluh lantah akibat dibakar. Hal yang sama juga terjadi kepada umat Nasrani, dan perebutan untuk tempat tinggal juga menjadi faktor pemicu konflik sektarian terus berlanjut di Poso.

Kelompok radikal ini dapat memiliki saluran dalam menghadapi umat Nasrani. Gerakan-gerakan radikal mulai bergerak dan masuk ke dalam Tanah Runtuh dan Kayamanya sekaligus merekrut anggota untuk melakukan perlawanan. Perekrutan ini dilakukan melalui kelompok studi Islam (taklim).

Mujahidin Tanah Runtuh (MTR) menawarkan untuk mempertahankan Islam daripada melarikan diri dari Poso menjadi faktor penarik yang besar sehingga banyak umat Islam yang bergabung dengannya.

Ada juga informan lainnya yang menganggap tidak penting mereka bergabung dengan kelompok mana, yang terpenting ialah mereka siap untuk mempertahankan dan membela umat Islam. Baik kelompok radikal maupu bukan, merasakan solidaritas yang kuat terhadap sesama umat Islam yang terkena dampak negatif konflik Poso. Gerakan “teroris” masuk dengan menawarkan untuk mengubah rasa empati mereka menjadi sebuah aksi nyata.

Saat individu-individu yang terpapar oleh konflik sektarian ini kehilangan keluarganya, maka enabling groups menjadi faktor lain yang menarik individu tersebut menjadi radikal dan rela melakukan apa saja untuk membela umat Islam. Banyak individu ini merasakan bahwa MKK dan MTR sebagai sebuah keluarga baru dan rela membela keluarganya mati-matian. Belum lagi MKK dan MTR memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat lokal sehingga terkadang mereka mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat.

MKK maupun MTR ini memang bentukan dari pihak luar Poso. Gerakan semacam ini dicontoh dari kelompok etno-nasionalis yang hadir di tempat-tempat yang hancur setelah konflik dan memiliki musuh yang jelas. Dalam konflik Poso, Kayamanya dan Tanah Runtuh termasuk wilayah yang rusak akibat konflik dan umat Islam memiliki musuh yang jelas: umat Nasrani. Akan tetapi afiliasi dua kelompok ini berbeda, dimana MTR terhubung dengan JI, sedangkan MKK adalah binaan Mujahidin KOMPAK.

JI memasuki medan Poso masih tidak jelas menurut Tito, informan mengatakan tahun 2001. Namun kelompok eksternal yang pertama kali masuk kedalam Poso adalah Partai Keadilan (sekarang PKS) yang membangun Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) yang dipimpin oleh Haji Adnan.

Pada posisi lain, kelompok JI asal Jawa mulai memfokuskan pandangannya ke Poso di tahun 2000. Mereka mengirimkan Achmad Roihan alias Saad untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan Poso, dan menawarkan untuk bantuan dakwah dan jihad.

JI sendiri, melalui Saad, masuk ke Poso atas nama Yayasan Darussalam yang ada di Surabaya. Saad dikirim untuk bertemu Adnan Arsal dan setelah itu JI secara aktif bergerak di Poso dengan mengirimkan banyak ustad sekaligus mantan mujahidin Afghanistan. Awalnya hanya sedikit yang datang, dan Haji Adnan berharap lebih banyak lagi yang akan hadir ke Poso untuk mempertahankan wilayah ini dari musuh. JI di Poso tidak hanya berbicara mengenai pertarungan, tapi memperluas jaringan mereka dan merekrut pemuda sebanyak-banyaknya.

Adapun kelompok MTR memulai tidak dengan berperang atau bertarung, namun mengajarkan Islam di sana secara komprehensif dan substansial. Di MKK sendiri lebih mudah orang mendapatkan senapan, sedangkan di MTR, seseorang harus mengikuti taklim yang cukup lama agar dapat diberi senapan. Para pengajar dari JI ini sangatlah dihormati oleh orang-orang Tanah Runtuh, karena mau datang jauh-jauh ke tempat yang membahayakan nyawa mereka, tanpa gaji sepeser pun.

Metode taklim (pengajaran agama) yang teratur, diterapkan oleh JI dalam membentuk MTR, mulai dari taklim umum sampai taklim bulanan.Taklim ini kerap dihadiri oleh penduduk karena tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan pasca konflik Poso. Kebanyakan dari mereka sudah kehilangan pekerjaan, sehingga mendatangi taklim adalah hal yang berguna menurut mereka.

Kedatangan para pengajar dari JI ini diikuti dengan bantuan logistik seperti makanan, sehingga umat Islam yang tersisa di Poso, lebih fokusnya Tanah Runtuh, sangatlah berterimakasih dan merasa berhutang budi dengan JI.

Pendidikan keagamaan yang dilakukan oleh JI di Tanah Runtuh membuat JI menjadi kelompok yang mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan membuat mereka loyal terhadap JI. Buku-buku yang juga digunakan dalam pengajaran di taklim ini adalah karya Sayyid Quthb dan Abdullah Azzam.

Tito pun menjelaskan perbedaan dakwah dengan tarbiyah, dimana dakwah sifatnya informal dan tidak terstruktur sedangkan tarbiyah dicontohkan seperti sekolah-sekolah Islam yang dibangun JI di Poso.

Selain edukasi, militer datang setelah dakwah yang diperluas di daerah Poso. Pelatihan Jihad di Poso dilakukan oleh mantan petarung Afghanistan seperti Abu Tholut dan Herlambang. Mereka mencari pemuda yang kuat secara fisik.

Program pelatihan ini dinamakan Muqoyamah dan berfokus kepada taktik peperangan. Dan harus diingat bahwa tidak semua yang bergabung dengan MTR diberikan pelatihan untuk berperang. Sehingga penyerangan yang terjadi dalam kurun 2001-2002 dilakukan oleh MKK.

Secara organisasi, MTR lebih tertarik kepada keorganisasian dan pengorganisasian (manajemen organisasi) dibanding MKK, karena MTR berada dibawah JI yang rigid secara organisasi. Dalam bergabung pun, seseorang harus rela melakukan bai’at atau janji setia kepada organisasi tersebut (JI). Dalam pergerakannya, JI wakalah Khaibar (wilayah Tanah Runtuh) memiliki tiga seksi tematik: asykari atau militer yang dipimpin oleh Hasanuddin, dakwah yang dipimpin oleh Ustad Sahal dibawah Yayasan Ulil Albab, dan pesantren Al-Amanah.

Pendanaan MTR pun didapatkan tidak dari luar negeri. Pendanaan berasal dari donasi masyarakat umum, iuran bagi anggota yang sudah bekerja dan perampokan yang ditujukan kepada kelompok non-muslim. Pendanaan ini digunakan untuk membayar ustaz yang bekerja di pesantren sebesar 200.000 rupiah per bulan dengan total tiga sampai lima juta per bulan. Sedangkan senjata yang didapatkan oleh JI dikirimkan dari Jawa ataupun Mindanao, adapun senjata yang didapat melalui perampokan gudang senjata Brimob di Tantui, Ambon.

Faktor terakhir dari keberadaan insurgensi umat Islam di Poso ialah usaha untuk melegitimasi ideologi, yakni salafi-jihadi. JI maupun KOMPAK berusaha melakukan purifikasi Islam di Poso melalui Jihad. Doktrin semacam ini mengikuti pandangan Ibnu Taymiyyah yang menekankan kepada ketauhidan dan menjauhi syirik. Target-target dari kelompok Salafi-Jihadi ini adalah pemimpin atau kaum yang menindas umat Islam yang biasanya diasosiasikan dengan kata Thaghut.

Pemikiran salafi-jihadi sendiri menurut Tito, dengan mengutip buku Solahuddin Dari NII sampai JI, sudah ada semenjak tahun 1940an dimana ulama’ nasionalis mengobarkan kepada kaum kafirin (para penjajah). Gerakan ini terus berkembang hingga Kartosoewiryo bersama DI/TII nya.

Allah merupakan dasar dari segalanya, barangsiapa membuat sesuatu (termasuh pemerintahan) selain berdasarkan kepada ketauhidan maka orang tersebut adalah thaghut, begitulah dalil yang acapkali digunakan oleh kelompok Salafi-Jihadi.

Kedatangan orang-orang Jawa ke Poso dianggap sebagai titik balik penduduk Poso untuk menjadi umat Islam yang taat. MKK dan MTR pun berbeda dalam taktiknya, MKK tidak memiliki hirarki yang rigid sehingga tidak akan bertahan lama apabila konflik komunal di Poso mulai mereda, lain hal nya dengan MTR yang membentuk struktur dengan rapi, begitu pula pendidikan agama yang mendalam sehingga masih bisa bertahan meskipun konflik komunal mulai mereda di Poso.

Dalam penyajian datanya, Tito menggunakan hasil wawancaranya dengan orang MKK maupun MTR untuk membandingkan ajaran mengenai jihad di masing-masing kelompok. Hasilnya adalah kelompok MTR lebih paham secara komprehensif mengenai makna jihad dibandingkan MKK yang seringkali mengarahkan kata jihad kepada peperangan. Namun tidak jarang juga kata jihad, baik dari MTR maupun MKK mengarah kepada kekerasan, karena ada informan yang berlatarbelakang preman.

Bisa dibilang buku ini adalah masterpiece anak bangsa berkenaan dengan terorisme dan radikalisasi yang ada di Indonesia dengan studi kasus di Poso. Karena studi kasus itu, maka acapkali berfokus kepada umat Islamnya.

Namun harus diakui bahwa Tito menggunakan pandangan yang, menurut saya, cukup obyektif dalam melihat permasalahan ini, dan orang yang paham betul insurgensi umat Islam di Indonesia.

Buku ini memang sulit didapatkan karena memuat banyak kunci dalam menghadapi bahaya laten radikalisasi, saya pun hanya bisa menguak sebagian kecil dari buku tebal ini. Semoga bermanfaat dan terpenuhi sudah janji saya kepada pembaca sekalian.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post