Modernitas, Pendakwah Baru, dan Fatwa Internet serta Ancamannya Bagi Otoritas Keagamaan Tradisional

ustadz-evie-effendi-ddj-berpijar
ustadz-evie-effendi-ddj-berpijar
Ustaz Evie Effendi dikenal sebagai ustaz gaul dari Bandung (Foto: Instagram Ustaz Evie Effendi via iyaa.com)
Pendakwah generasi baru tersebut benar-benar telah menjadi ancaman bagi organisasi-organisasi yang memegang otoritas keagamaan tradisional, baik MUI, Muhammadiyah dan NU.

Sebagian pendapat menyatakan, modernitas dianggap sebagai sebuah zaman yang mengakibatkan lunturnya semangat keagamaan bagi masyarakat. Hal tersebut tidak lepas dari prespektif yang memandang agama merupakan masa lalu dan agak kurang kondisif bagi perkembangan teknologi, rasionalitas dan konsumsi budaya populer sebagai ciri umum modernitas.

Namun, sepertinya anggapan demikian telah gagal memprediksi realitas sosial yang terjadi. Meskipun era modernitas semakin meningkat, urusan keagamaan tetap menjadi hal yang tidak bisa surut bagi masyarakat. Agama tetap menjadi unsur yang tidak bisa hilang dari kehidupan seseorang semodern apa pun sebuah jaman.

Lebih jauh lagi, persoalan modernitas dan agama bukan hanya saling meniadakan sebagaimana disinggung sebelumnya, namun agama sangat bisa melakukan penyesuaian diri terhadap modernitas. Pernyataan ini sekaligus menandaskan pandangan bahwa agama menjadi semacam “satpam moral” yang menjadi penghalang masyarakat menikmati perkembangan trend modern. 

Salah satu aktor kunci yang dapat mempertemukan antara modernitas dan agama adalah para pendakwah generasi baru. Mereka adalah pemain yang berjasa besar menjadikan agama tidak selalu nampak mengerikan dan jauh dari persoalan-persoalan keseharian. Agama dan modernitas adalah dua bagian integral yang bisa ditemui dalam pribadi muslim modern.

Kedatangan Pendakwah Generasi Baru

Ariel Heryanto (2018) melalui buku “Identitas dan Kenikmatan” menyatakan, “Bagi sebagian besar orang di negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, terutama bagi kaum mudahnya, ketaatan beragama dan modernitas sama menariknya dan tak selalu keduanya saling bertentangan (Heryanto, 2018: 47). Masyarakat modern, khususnya pemuda urban, mengalami semacam dilema antara dua hal, mereka tetap ingin berpartisipasi penuh dalam dunia modern, namun tetap ingin tidak menanggalkan identitas keagamaan mereka.

Mereka tetap ingin menikmati gairah konsumsi kapitalisme global yang modern, maka agama berperan menjadi basis bagi legitimasi mereka merayakan gengsi dan kenyamanan yang mereka dapatkan.

Untuk menjembati dua identitas tersebut, muncullah para pendakwah baru bagi masyarakat urban. Mereka adalah makhluk luar biasa yang sebagian tidak mengalami proses pembelajaran keagamaan di pondok pesantren maupun institusi sekolah formal keagamaan.   

Mengingat segmentasi para pendakwah baru adalah kaum muda perkotaan, persoalan-persoalan yang sering muncul dalam dakwah berpusat sekitar problematika kehidupan remaja, seperti soal pacaran, hukum bermain game, diet, kosmetik, menjadi penggemar K-Pop dan seterusnya. Intinya mereka memberikan jawaban atas segala persoalan yang lagi trend bagi kalangan pemuda urban.

Penampilan mereka pun kadang layaknya artis yang fashionable. mereka senantiasa mengikuti apa saja yang sedang trend dan terkesan menghapus jarak mereka dengan para audiens. Tentu hal ini berkebalikan dengan gaya dakwah konvensional yang seakan-kan memberikan batasan yang cukup jauh antara pendakwah dengan pendengarnya. Ditambah lagi gaya mereka dalam mengkomunikasikan dakwah dengan santai dan kadang sering disisipi humor.

Jelas selain itu kehadiran mereka menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin mendapatkan pemahaman agama secara instan. Para pendakwah baru tersebut telah berhasil mengatasi dilema hasrat modernitas dengan identitas keagamaan yang telah menyatu begitu erat.

Mereka memiliki keunggulan dalam hal berkomunikasi dan memanfaatkan media baru, yang juga menandai era interaksi modernitas global, yaitu internet. Internet menjadi teknologi yang tidak bisa dibendung memberikan fasilitas bagi para pendakwah generasi baru tersebut untuk muncul sebagai pemandu atas berbagai persoalan keagamaan.  

Internet dan Fatwa Online

Nadirsyah Hosen (2008) dalam tulisannya berjudul “Online Fatwa in Indonesia: From Fatwa Shopping to Googling Kiai” menjelaskan, perkembangan internet di Indonesia telah merubah pola bagaimana cara mensosialisasikan fatwa dan bagaimana seorang individu mencari jawaban atas pertanyaan agama.

Fatwa merupakan pandangan hukum Islam yang dikeluarkan oleh para ilmuwan agama atas pertanyaan yang diajukan oleh kebutuhan seseorang, hakim, pemerintah maupun badan tertentu.  Tiga organisasi yang dianggap memiliki otoritas untuk menerbitkan fatwa bagi masyarakat adalah NU, Muhammadiyah dan MUI.

Ketiga organisasi tersebut menyebarkan fatwa-fatwa mereka kepada komunitas muslim lebih luas melalui kertas atau buku. Misalnya NU dengan buku kompilasi berjudul “Masalah Keagamaan Hasil Mukhtamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama 1926-1994” (1997), Muhammadiyah dengan “Himpunan Putusan Tarjih”.

Perkembangan teknologi terutama melalui internet telah membuka ruang lebar bagi para penggiat dakwah keagamaan menyediakan alternatif fatwa di luar pihak yang memiliki otoritas tradisional yang telah dijelaskan sebelumnya.

Meskipun harus dicatat kemudian, menurut Hosen, pola semacam ini tidak berlaku bagi keseluruhan umat Islam di Indonesia. Maraknya fatwa online tentu masih menyasar kalangan urban, terpelajar dan kelas menengah di Indonesia. Di kampung-kampung, masyarakat masih banyak yang setia untuk tetap mengikuti panduan fatwa dari organisasi keagamaan yang mereka ikuti atau tokoh ulama atau yang menjadi panutan.

Pertanyaan yang kemudian muncul terkait perdebatan fenomena fatwa online adalah kredibilitas pemberi fatwa tersebut yang masih bisa dipersoalkan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, sebagian besar para pendakwah baru tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan keagamaan.  

Fenomena internet membuat diskusi yang lebih menarik terkait kebenaran agama bersifat menyebar atau memusat. Terlepas dari hal tersebut, kehadiran internet telah membuat realitas bahwa para pendakwah generasi baru bisa memasuki arena diskusi dan fatwa keagamaan sekaligus dapat menjadi ancaman bagi pemegang otoritas keagamaan tradisional. 

Para pendakwah generasi baru menjadi sangat populer di Indonesia tidak lepas dari internet, mereka bisa memberikan seruan fatwa atau jawaban keagamaan kepada masyarakat secara umum. Mereka bisa menjadi penuntun keagamaan melalui semangat kebenaran bersifat menyebar. Mereka bahkan tidak perlu berafiliasi dengan organisasi keagamaan apa pun untuk bisa menyatakan pendapat tentang berbagai persoalan yang muncul.

Secara otomatis pula, pendakwah generasi baru tersebut benar-benar telah menjadi ancaman bagi organisasi-organisasi yang memiliki otoritas keagamaan tradisional, baik MUI, Muhammadiyah dan NU.  

Mungkin upaya Kementerian Agama yang pada bulan puasa kemarin merilis “Daftar Nama Mubaligh/Penceramah Islam di Indonesia” menjadi sebuah upaya untuk berusaha menjaga status quo atas otoritas keagamaan tradisional. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penjaringan nama tersebut berasal dari usulan masyarakat dan organisasi-organisasi keagamaan.

Selain itu, dalam kolom daftar penceramah tersebut menyertakan jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh dan kemampuan bahasa. Alpanya ustaz yang populer di media maya juga semakin menguatkan dugaan itu, sebut saja Felix Siaw, Abdul Somad, Gus Nur dan lain-lain. 

 

Rujukan

Heryanto, Ariel. 2018. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, khususnya Bab Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hosen, Nadirsyah. 2008. “Online Fatwa in Indonesia: From Fatwa Shopping to Googling a kiai”. Dalam Fealy & White (Ed). Expressing Islam : Religious Life and Politics in Indonesia. Pasir Panjang, Singapura: ISEAS Publishing.   

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Dian Dwi Jayanto

Dian Dwi Jayanto adalah Komisaris Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga. Kini menempuh studi S-2 Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.


Related Posts

1 Comment

  • Tazqiatun Nisa

    Semoga bermanfaat bagi sesama dan lebih baik untuk kedepannya..

Write a response to this post