Indonesia’s Struggle, Selayang Pandang Radikalisme di Indonesia

Fundamentalisme dan Islamisme memiliki makna yang berbeda. Islamisme muncul sebagai reaksi Islam terhadap modernitas, dimana agama ini telah menjadi sebuah ideologi politik.

Abu Bakar Baasyir-Reza MH-Berpijar
INDONESIA STRUGGLE
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Indonesia’s Struggle

Penulis

Greg Barton

Penerbit

New South Wales Press

Tebal Buku

118 halaman

Tahun Terbit

2004

Jenis Buku

Kajian tentang Radikalisme

Berbicara mengenai radikalisme dan radikalisasi, antara dunia Internasional dan Indonesia memiliki awalnya masing-masing. Radikalisme umat Islam, terutama yang menjurus kepada terorisme, mulai dipandang oleh dunia semenjak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, sedangkan Indonesia mulai mendapati “darurat” terorisme setelah kasus Bom Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Bom Bali adalah tonggak dimana Indonesia mulai mengawali “penanggulangan tindak pidana terorisme”.

Kasus Bom Bali tidak hanya menyita perhatian dalam negeri, bahkan investigasi untuk permasalahan ini juga melibatkan investigator asing yang kebanyakan berasal dari Australia, tidak luput Scotland Yard dari Inggris dan FBI dari AS pun ikut turun tangan.

Di saat kekuatan anti-teror difokuskan di Timur Tengah, ternyata Asia Tenggara tidak lepas dari terorisme pula. Peperangan global terhadap “radikalisme” umat Islam pun dimulai. Otak dibalik pemboman tersebut adalah Jamaah Islamiyah, yang pada saat itu masih belum terkuak secara menyeluruh.

Dua orang yang menjadi komandan dalam investigasi kasus terorisme ini adalah I Made Mangku Pastika dan Graham Ashton. Mereka berdua beserta tim gabungannya mampu membuka tipe bom yang digunakan dalam jangka waktu tiga minggu, dan memulai tes DNA dan sidik jari untuk menentukan siapa yang bakal ditangkap dan bertanggungjawab atas kasus pemboman ini.

Untuk menentukan hal tersebut, tim gabungan ini juga mengidentifikasi plat nomer dari mobil yang digunakan. Dua orang dari Mitsubishi pun ikut turun tangan, meskipun pada akhirnya hanya setengah bagian dari plat nomer yang dapat ditemukan.

Meskipun belum terselesaikan, keduanya hampir putus asa sampai saat salah satu anak buah Pastika menemukan petunjuk berupa nomer serial dari kerangka mobil pemboman. Setelah di cek nomer serial tersebut ternyata telah diregistrasikan dan merupakan mobil yang berpindah tangan selama enam kali dan berakhir pada Amrozi, salah satu terpidana kasus terorisme yang berasal dari Lamongan. Semenjak tertangkapnya Amrozi, penyelidikan berjalan cukup cepat dan beberapa jaringan lain beserta Jamaah Islamiyah mulai terungkap.

Islamisme

Greg merasa bahwa komentar berkenaan dengan terorisme yang berkaitan dengan Islam telah terlalu disederhanakan oleh media, dan kebenaran sangat jarang berbentuk sederhana. Banyak pakar pun sejatinya gagal memahami kompleksnya Islam. Adapun pandangan yang berbeda-beda dikalangan penganut agama Islam juga menjadi faktor yang mempersulit pihak lain untuk memahami agama ini. Dari sinilah muncul kata “Islamisme”.

Islamisme sendiri merupakan sebuah kata yang biasanya digunakan oleh pihak selain Islam untuk menggarisbawahi mereka yang menganggap Islam harus menjadi pondasi ideologis sebuah negara.  Kata ini lebih kompleks namun tidak ambigu dibandingkan dengan fundamentalisme dan radikalisme.

Namun Islamisme di sini memiliki ruang lingkup yang cukup luas: mereka yang hanya menginginkan Islam masuk kedalam kehidupan bernegara dalam bentuk simbol, dan mereka yang ingin teokrasi secara absolut, dimana kelompok kedua ini yang benar-benar dianggap mengakar dan disebut sebagai kelompok radikal (dari Bahasa Latin radix).

Fundamentalisme dan Islamisme memiliki makna yang berbeda. Islamisme muncul sebagai reaksi Islam terhadap modernitas, dimana agama ini telah menjadi sebuah ideologi politik.

Mereka yang menganut paham ini selalu berusaha mengubah masyarakat dan lembaga yang berada di dekat mereka untuk membawa keduanya kepada pembahaman yang komprehensif mengenai Islam, atau bahkan menganut Islam sepenuhnya. Yang diperjuangkan secara mendasar oleh kelompok ini adalah perubahan atas dasar negara dan hukum-hukumnya yang harus menganut syariat Islam.

Cara-cara yang digunakan oleh penganut Islamisme ini justru membuat mereka dipandang sebagai diktator yang memaksakan kehendaknya sebagai mayoritas (karena penduduk Indonesia mayoritas Islam) kepada kaum minoritas untuk menerima syariat Islam sebagai dasar negara. Namun kelompok Islamis ini menolak bahwa mereka adalah tiran, mereka hanyalah menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan oleh umat Islam.

Pandangan mereka acapkali bertabrakan dengan kelompok Islam progresif yang menganggap bahwa nilai-nilai demokrasi memang sesuai dengan Islam, sedangkan kelompok Islamis lebih memilih bentuk teokrasi (meskipun mereka tidak menyebutnya demikian).

Ada kelompok Islamisme yang radikal, mereka menolak pandangan-pandangan liberal di dunia dan menganggapnya sebagai batu penghalang Islam. Pastinya mereka anti-demokrasi juga, namun tidak ragu-ragu untuk menggunakan demokrasi guna keuntungan mereka.

Akan tetapi, kita harus mampu membedakan antara Islamisme radikal dan terorisme. Greg berargumen bahwasanya terorisme hanyalah sebuah cara untuk mencapai sebuah tujuan ideologis.

Menurut penulis, kita perlu membedakan antara Islamisme radikal dengan terorisme ini, agar tidak ada diskriminasi terhadap Islam dan umat Islam dengan memukul rata bahwasanya umat Islam adalah teroris. Efek buruk dari generalisasi tersebut adalah semakin mudahnya melakukan radikalisasi dengan mengeksploitasi pandangan bahwa Indonesia selalu memusuhi Islam.

Semakin memburuknya wajah Islam merupakan alat bagi beberapa politisi Islam yang menggunakan isu tersebut guna mendapatkan dukungan suara dan menjadi DPR, setelah jadi, mereka akan berusaha untuk me-restrukturisasi dasar negara menjadi Islam (Syariat Islam).

Beberapa partai yang disebutkan ialah PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang dianggap sebagai wadah kelompok Islam moderat. Lalu ada PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PBB (Partai Bulan Bintang) yang lebih condong kepada kelompok Islam radikal.

Greg Barton juga menjelaskan sedikit mengenai perilaku politik dari pemilih di Indonesia yang hampir sama dengan di Turki. Rata-rata pencoblos berasal dari kelompok Islam moderat dibandingkan Islam radikal. Ia mengutip Jenny White bahwasanya meskipun sesama muslim, namun para pemilih ini melihat tradisi dan budaya Islam yang mana yang cocok dengan mereka.

Mungkin pandangan ini masih menggunggulkan PPP sebagai partai Islam yang moderat. Namun setelah 14 tahun silam semenjak penerbitan buku ini, PKS telah menjadi salah satu partai Islam “radikal” yang besar di Indonesia.

Kelompok Islam radikal yang tidak berpolitik ialah para jihadis yang mengikuti Abu Bakar Ba’asyir. Penulis menganggap bahwa kelompok Jihadis ini terlalu tekstual mengikuti pandangan sempit dari aliran Wahabi. Mereka menganggap bahwa kesucian Islam telah ternodai dengan masuknya pandangan-pandangan non-Qur’an yang ada dalam Islam seperti yang dibawa oleh aliran Mu’tazilah.

Maka mereka melakukan purifikasi Islam dengan hanya berfokus kepada Al-Qur’an dan Hadis. Menariknya, pandangan Muhammad Abdul Wahab (pembawa Wahabi) didasarkan kepada pemikiran Ibnu Taimiyyah yang juga dikutip oleh Nurcholish Madjid, salah satu pemikir Islam yang dilabeli Liberal di Indonesia.

Mengenai kisah Jamaah Islamiyah dalam buku ini layaknya kisah-kisah sejarah yang sudah dituliskan diberbagai sumber yang lain, diawali dengan Kartosoewirjo dengan DI/TII nya sampai dengan permasalahan 9/11 yang juga membuat mancanegara mengawasi kelompok Jihadis global yang kembali ke tanah airnya, salah satunya adalah Indonesia.

Radikalisasi ini terus berjalan pasca kematian Kartosoewirjo dan mulai berkembang di era Soeharto terutama dari pondok pesantren Ngruki dan insiden Tanjung Priok pada tahun 1984. Banyak umat Islam yang mati tertembak atas perintah Jenderal Benny Moerdani yang notabene Katolik, membuat amarah umat Islam semakin menjadi-jadi dan negara juga semakin represif.

Meskipun merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Islam di Indonesia tidak terlalu kaku seperti di Arab dan merupakan produk dari sinkretisasi budaya. Walaupun begitu, usaha untuk melakukan islamisasi di Indonesia tak pernah usai.

Kelompok moderat mungkin akan menolak ide tersebut, namun kaum radikal justru mendukungnya sepenuh hati, bahkan mereka, digawangi oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melahirkan Piagam Yogyakarta yang mendeklarasikan penggunaan hukum syariah, menolak ideologi palsu, membangun kekuatan mujahidin dalam taraf nasional maupun lokal, berusaha mendirikan kekhalifahan dalam taraf nasional maupun global, dan memanggil seluruh umat Islam untuk berdakwah dan berjihad bersama.

MMI sendiri walaupun tergolong radikal, namun mereka tidak sekeras JI. Dalam buku ini dijelaskan bahwa JI sendiri sebenarnya produk luar negeri, sebuah perkumpulan mantan petarung Afghanistan yang terekspos pandangan-pandangan ekstrim yang ada di medan perang dan cenderung hanya berjumlah sedikit dan agak suit diterima sepenuhnya oleh penduduk Indonesia. Namun produk ini menjadi menakutkan karena juga terhubung dengan akar sejarah pemberontakan di Indonesia seperti DI/TII.

Buku ini sangat menarik untuk melihat pandangan-pandangan orang Barat pasca kejadian Bom Bali dan kemunculan Jamaah Islamiyah. Namun penulis masih meng-antagoniskan umat Islam, meskipun hanya kelompok radikal.

Dalam buku ini seringkali kejadian pembunuhan dan teror selalu dihubungkan dengan kelompok Islam radikal tanpa lebih dalam menganalisis sebab awal dari kejadian tersebut, terutama permasalahan Poso dan Maluku.

Akan tetapi untuk memahami radikalisme Islam dan radikalisasi di Indonesia, buku ini dapat menjadi pengantar yang cukup baik, meskipun tidak begitu lengkap penjelasannya.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

Write a response to this post