Mengungkap Pesan Tentang Kehidupan Posrealitas dalam Film Ready Player One

Adapun Ready Player One merupakan film yang memunculkan simulakra dengan cara mengilustrasikan OASIS sebagai dunia virtual yang sebenarnya duplikat dari dunia kita, akan tetapi dengan beberapa fitur tambahan yang sangat banyak.

Mengungkap Pesan Tentang Kehidupan Posrealitas dalam Film Ready Player One_Redaksi_Berpijar
Mengungkap Pesan Tentang Kehidupan Posrealitas dalam Film Ready Player One_Redaksi_Berpijar
Adapun Ready Player One merupakan film yang memunculkan simulakra dengan cara mengilustrasikan OASIS sebagai dunia virtual yang sebenarnya duplikat dari dunia kita, akan tetapi dengan beberapa fitur tambahan yang sangat banyak.

Sebagai salah satu film yang disutradarai oleh begawan visual effect, “Ready Player One” masuk kedalam box office selama beberapa bulan. Film ini menggeser posisi “Pacific Rim: Uprising” dan menjadi film favorit pada minggu awal rilis. Seperti yang dilansir Republika.co.id (2/4/2018) bahwa film ini sudah meraup sekitar 128 juta dollar AS secara global. Salah satu film yang mampu menggeser dominasi Black Panther.

Lalu apa sebenarnya keistimewaan film ini sehingga banyak yang mau meluangkan waktu untuk menontonnya?

Film ini merupakan karya sutradara yang paling handal di bidang visual effect, Steven Spielberg. Kemunculan namanya sudah menjadi nilai tawar tersendiri. Beberapa film lain karya Spielberg memang menekankan pada visual effect seperti “Big Friendly Giant”, “E.T, Jurassic Park”, “The Adventures of Tintin”, dan “War of the Worlds”.

Film-film ini pun juga box office ketika keluar di bioskop karena diawali oleh reputasi Steven Spielberg. Sutradara merupakan bagian pertama yang perlu diperhatikan saat ingin menonton film.

Ready Player One mungkin salah satu film yang berkisah mengenai peristiwa di masa depan. Ready Player One Merupakan film yang mengikuti aliran “genre”. Apa itu genre?

Menurut Sarief Arief (2009), Film beraliran genre berasal dari Amerika Serikat yang acapkali memunculkan adegan-adegan yang menggambarkan perilaku menyimpang dari kelompok kulit putih (apabila konteksnya adalah kolonialisme). Namun, sekarang dunia sudah tidak menemui lagi kolonialisme, maka genre yang dimaksudkan adalah film ini produksi Amerika Serikat.

Film ini menceritakan mengenai seorang pemuda yang hidup di dunia dimana sebuah dunia virtual bernama OASIS telah diciptakan. Kita bisa menjadi siapa saja dan apa saja dalam dunia virtual tersebut. Pencipta dunia tersebut telah meletakkan sebuah sayembara ketika akan meninggal, bahwa siapa saja yang menemukan barang yang sudah dia tentukan akan mendapatkan hadiah yang tidak ternilai harganya.

Tanpa berpikir panjang, banyak orang berusaha menemukan barang-barang ini, namun beberapa tahun berlalu setelah kematian si pencipta OASIS, belum ada yang mampu menemukannya, hingga si pemeran utama memecahkan teka-teki yang disisakan oleh si pencipta.

Dalam sayembara ini, sang protagonis tidak hanya berhadapan dengan musuh individu, namun juga sebuah perusahaan game yang memiliki banyak massa. Perusahaan ini memiliki berbagai sumber daya yang hanya dialokasikan untuk menemukan barang-barang si pencipta OASIS. Mereka ingin mengendalikan dunia virtual yang seharusnya merupakan tempat kebebasan bagi masyarakat untuk melepas waktu luangnya.

Si protagonis pun memicu peperangan antara perusahaan ini dengan seluruh rakyat dunia maya. Inilah revolusi dunia maya antara kelompok Borjuis dan kaum Proletar yang terjadi secara tidak langsung.

Kisah dalam “Ready Player One” sangat sesuai dengan konsep Posrealitas. Menurut Yasraf Amir Piliang (2004), konsep posrealitas erat hubungannya dengan simulakra dan simulasi. Yasfraf memaknai simulakra dengan mengutip Oxford’s Advance Learners yang maknanya adalah sesuatu yang tampak atau dibuat tampak seperti sesuatu yang lain dan juga salinan dari sesuatu.

Begitupula beliau mengutip Umberto Eco, bahwasanya konsep posrealitas juga berhubungan dengan hiper-realitas dimana manusia menduplikasi unsur-unsur masa lalu sebagai sebuah usaha nostalgia. Kita akan merasakan dua hal ini karena banyak unsur yang memperlihatkan gaya-gaya tahun 1980an.

Adapun Ready Player One merupakan film yang memunculkan simulakra dengan cara mengilustrasikan OASIS sebagai dunia virtual yang sebenarnya duplikat dari dunia kita, akan tetapi dengan beberapa fitur tambahan yang sangat banyak. Manusia tidak lagi hidup dalam realitas yang seperti kita kenal biasanya, namun mereka sudah sangat ketagihan dengan dunia virtual tersebut, seperti permainan tiada henti.

Pada akhirnya, penjelasan mengenai kehidupan di Ready Player One lebih cocok dengan definisi simulasi dalam buku Posrealitas karya Yasraf, yakni sebuah simulasi, dimana ada penciptaan sebuah kondisi tertentu dengan menggunakan teknologi tertentu hingga kita dapat merasakan layaknya kondisi tersebut adalah sesuatu yang nyata.

Padahal hanyalah sebuah rekaan artifisial dari teknologi mutakhir tersebut (OASIS). Manusia di era Ready Player One hidup dalam sebuah imajinasi yang mereka bentuk sendiri dengan bantuan teknologi.

Selain visual effect dan gagasan menarik yang diangkat dalam film ini, plot cerita pun tidak kalah menegangkan dan rumit. Meskipun alurnya maju, namun akan ada beberapa adegan yang akan sulit dipahami apabila kita tidak melihat adegan-adegan sebelumnya. Terutama jika berkenaan dengan teka-teki yang ditinggalkan oleh pencipta OASIS.

Namun ada beberapa adegan yang terkesan terpotong di bagian akhir film ini tanpa ada penjelasan sebelumnya. Ide mengenai revolusi akan kalian temui juga pada adegan perang akbar, dimana simbol revolusi dunia maya bisa dibilang “edgy”, bukan lagi tangan kiri mengepal seperti pada era revolusi konvensional yang masih dianut hingga sekarang.

Tidak lupa juga, film ini adalah film keluarga dengan nuansa 1980an. Nuansa ini didapat melalui musik-musik (Official Soundtrack) seperti “We’re Not Gonna Take It” karya Twisted Sister yang rilis pada 1984, “Everybody Wants to Rule the World” karya Tears for Fears yang keluar pada tahun 1985 dan “Jump karya Eddie Van Halen” (1984) yang menjadi soundtrack berbagai film lain.

Dengan alur cerita yang asik, gagasan yang menarik dan musik yang enak, Ready Player One cocok untuk ditonton para kawula muda, mulai dari yang old-fashioned hingga yang #JamanNow, mulai dari yang akademis hingga yang aktivis sekalipun.

 

Rujukan

Arief, M. Sarief. 2009. Politik Film di Hindia Belanda. Depok: Komunitas Bambu.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra.

TERBARU DARI BERPIJAR

Write a response to this post