Pengertian Fundamentalisme dan Pola Pikir Kolonial, Kita Semua (Bisa) Menjadi Fundamental_Berpijar_DDJ
Sholat Eid di Masjid Lakemba. Masjid Lakemba disebut sebagai masjid terbesar di Australia yang umumnya mampu menampung sekitar 40,000 jamaah. (Foto: Wikipedia)
Pemetaan semacam Islam liberal, Islam tradisional, Islam fundamental dan seterusnya dapat mengasumsikan adanya pengkotakkan bagi superioritas aliran keagamaan.

Istilah “fundamentalisme” di Indonesia mulai marak diperbincangkan pasca peristiwa 11 September 2001 di gedung World Trade Centre (WTC) dan juga peristiwa Bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2012. Kejadian tersebut tak luput memporak-porandakan pula nama Islam karena ulah kelompok tertentu yang dianggap dicap fundamentalis. Tak ayal lagi istilah fundamentalisme lekat kaitannya dengan agama Islam.

Selain kata fundamental, ada istilah lain yang sering disamakan (meskipun tidak sepenuhnya benar) dengan term Islam fundamental, diantaranya adalah ekstremis, radikal, Islam garis keras dan seterusnya.

Tulisan ini lebih berfokus pada menggali pengertian fundamental sebagai pokok bahasan sebelum nanti meluas pada persoalan lain yang berkaitan, yakni soal pola pikir kolonial dan kecenderungan setiap orang bersikap fundamental.

Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna fundamentalis sebelum beranjak lebih jauh lagi dengan pembahasan tema-tema terkait.

Pengertian Fundamentalisme dan Penggolongan Kebudayaan

Jika ditelisik lebih jauh ke belakang, istilah fundamental tidak ditemukan dalam kosa kata Islam, namun lebih merujuk pada konteks sejarah Kristen di Amerika Serikat.  Merujuk pada buku “Politik Identitas: Tantangan Terhadap Fundamentalisme Modern”, Meyer (2004) menjelaskan bahwa istilah istilah fundamental pertama kali digunakan dalam tulisan berjudul “The Fundamentals” pada tahun 1910 hingga 1915 di Amerika Serikat. Rangkaian tulisan tersebut menggunakan judul yang amat terkenal, yakni “A Testimony to Truth”.

Menginjak tahun 1919, kaum protestan mempublikasikan kumpulan tulisan-tulisan tersebut dan mendirikan organisasi sedunia dengan nama “Word Christian Fundamentals Association”. Akhirnya, istilah fundamentalisme lekat dengan keyakinan Kristiani yang berusaha menepatkan diri dalam kepentingan umum dan akademik.

Meyer juga menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu, fundamentalisme bukan hanya merujuk pada agama Kristiani saja, namun lebih melingkupi pada pola sebuah kebudayaan yang memiliki karakter sejenis. Dia menyebut karakter yang dimaksud dengan “impuls ideal typical”, artinya mereka merasa memiliki hak istimewah dibanding kelompok kebudayaan lain, merasa paling benar untuk menegakkan apa yang berlaku di kebudayaan mereka di dalam cakupan kebudayaan yang lebih luas.

Karakteristik lain yang melekat pada aliran fundamental selain yang disebut di atas adalah rigid dan literalis. Dua ciri tersebut memiliki turunan sikap-sikap seperti tidak toleran, radikal, militan, berpikiran sempit, dan bersemangat yang berlebihan (Anwar, 2006). Hal demikian dalam agama disebut ta’ashub, sikap membela mati-matian tanpa menggunakan nalar.

Pada akhirnya Meyer menyatakan fundamentalisme tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan agama atau budaya tertentu, namun lebih merujuk pada “gaya” sebuah kebudayaan.

Dari ulasan yang sudah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa fundamental mengarah pada kebudayaan apa saja, meliputi pula agama maupun berbagai aliran di dalamnya, yang merasa memiliki posisi unggul di atas kebudayaan yang lain. Kemudian apa yang diyakini atau prinsip apa yang dipegang kebudayaan tersebut dipaksa untuk berlaku secara umum bagi kebudayaan lain.

Ulasan tersebut sekaligus mamahtakan tesis “Benturan Peradaban” Samuel Hutington yang memposisikan setiap kebudayaan masing-masing berdiri sendiri dan saling bertabrakan satu sama lain. Klasifikasi berbagai kebudayaan yang seakan-akan saling terpisah dan berpotensi besar mengalami benturan menjadikan sebuah kebudayaan fundamental lebih mengarah pada bentuk kebudayaan, bukan gaya dari sebuah kebudayaan.

Nur Cholish Madjid (2009) menyebut apa yang dilakukan Samuel Hutington dengan membuat penggolongan tipologi antar berbagai kebudayaan tersebut sebagai “colonial mindset”, sebuah pola pikir kolonial yang mengkotak-kotakkan berbagai kebudayaan dan mengunggulkan kebudayaan tertentu. Hal serupa dapat ditemui dalam pola pikir di Indonesia, dikotomi semacam Jawa dan Luar Jawa atau orang Jawa dan bukan orang Jawa juga mengandung implikasi bagi colonial mindset, dimana kebudayaan Jawa menjadi superior dibanding kebudayaan lain.

Hal serupa juga dapat berlaku di agama. Pemetaan semacam Islam liberal, Islam tradisional, Islam fundamental dan seterusnya dapat mengasumsikan adanya pengkotakkan bagi superioritas aliran keagamaan. Mungkin terkadang ada benarnya ketika ada seruan dari kelompok Islam tertentu untuk tidak melakukan pembagian Islam di dalam berbagai bentuk, alasannya yang digunakan biasanya mengatakan Islam ya Islam, titik! Tidak ada Islam Arab, Islam Nusantara dan seterusnya.

Namun di sisi lain, kampanye semacam itu bisa jadi adalah bagian dari peleburan semua pemeluk agama Islam menjadi satu kebudayaan tunggal yang dipraktekan dalam kebudayaan itu. Misalnya, ungkapan kita semua bersaudara sesama Islam, dan tidak berjarak atas alasan mazhab maupun aliran apa saja, menjadikan sebuah kebudayaan yang mengatasnamakan “seluruh umat Islam” sekaligus menyerang sebuah kebudayaan Islam lainnya yang memegang teguh tradisi bermazhab, sebuah kebudayaan yang menghimpun beberapa paham keagamaan yang menjadikannya berbeda dari yang lain.

Terkadang penggolongan itu terlalu berlebihan dan tidak dibutuhkan, namun terkadang pembagian kelompok kebudayaan itu penting sebagai bentuk pembeda dan eksistensi sebuah kebudayaan, sebagaimana Islam Arab, Islam Nusantara dan seterunya.

Setiap Agama dan Aliran Berpotensi Menjadi Fundamental

Jika dicermati lebih dalam, dengan menyepati bahwa fundamentalisme sebagai “gaya” sebuah kebudayaan daripada “bentuk” sebuah kebudayaan, maka sebenarnya setiap kebudayaan apa saja mengandung potensi di dalam dirinya sebagai fundamentalisme, meyakini dia paling benar dan memaksakan apa yang dia yakini kepada budaya lain. Kecenderungan semacam ini disebut sebagai totalitarianisme.

Jika diperkenankan untuk dipertanyakan, memang pemeluk agama (maupun berbagai aliran di dalamnya) yang mana tidak merasa paling benar? Jangankan soal yang sangat prinsipil semacam keagamaan, dalam urusan politik pun susah. Memang kader partai mana atau relawan politik mana yang tidak merasa kalau partai atau sosok yang dia dukung paling benar dan baik bagi semuanya?

(Istilah kerennya belakangan ini disebut sebagai post-truth, yang dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai Relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief”. Istilah yang pada awalnya lebih bernuansa fenomena politik)

Hampir semua orang memiliki afiliasi emosional bagi kecenderungan sosiologis yang merambah psikologis untuk merasa paling benar. Sehingga, menurut saya, kecenderungan untuk bersikap menjadi fundamental adalah habitat kebudayaan apa saja.

Jadi, merasa paling benar dalam hal tertentu dapat ditolerir. Namun, agar tidak mencapai derajat sikap fundamentalis, kita harus menjauhi karakter fundamentalisme yang kedua, yakni memaksakan apa yang kita yakini kepada orang lain atau kebudayaan lain. Atau tetap melakukan promosi atas apa yang kita yakini dalam taraf kewajaran dan tidak membelanya secara membabi buta.

Rujukan

Anwar, M. Syafi’i. 2006.Membingkai Potret Pemikiran Politik KH Abdurrahman Wahid”. dalam Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute.

Madjid, Nurcholish. 2009. Atas Nama Pengalaman dan Berbangsa di Masa Transisi (Kumpulan Dialog Jumat di Paramadina). Jakarta: Paramadina.

Meyer, Tomas. 2004. Politik Identitas Tantangan Terhadap Fundamentalisme Modern. Jakarta: Pemuda Muhammadiyah &Friedrich Ebert Stiftung.

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Tags: , , ,

Bagaimana menurut pembaca?