Narasi Geopolitik Pasca Perang Dingin, Pertarungan Identitas dan Perdagangan Sebagai Pengganti Pertarungan Ideologi?

Konflik horizontal yang dilatarbelakangi identitas memang marak ditemui, namun juga patut diingat bahwa penyebab konflik tidak pernah tunggal.

Ilustrasi: REUTERS/Jason Lee
Konflik horizontal yang dilatarbelakangi identitas memang marak ditemui, namun juga patut diingat bahwa penyebab konflik tidak pernah tunggal.

Era Perang Dingin yang kental dengan pertarungan ideologi antara liberalisme-kapitalisme dengan sosialisme-komunisme berakhir dengan ditandai beberapa peristiwa geopolitik yang sekilas dilihat merupakan awalan dari sebuah era baru. Salah satu peristiwa geopolitik penting  yang menandai berakhirnya Perang Dingin ialah keruntuhan Tembok Berlin pada 1989, yang  kemudian disusul reunifikasi Jerman pada tahun 1990 (Goldstein, 2005). Peristiwa penting lainnya yang juga turut menandai akhir Perang Dingin ialah keruntuhan Uni Soviet beserta paham komunis di Eropa Timur (Crockatt, 2001).

Kedua peristiwa tersebut jika sekilas dilihat menandai bahwa kini pertarungan yang bersifat bipolar tak lagi relevan di pasca Perang Dingin. Bahkan menurut Cox (2001), pasca Perang Dingin adalah sebuah era kemenangan kapitalisme. Keruntuhan Uni Soviet serta paham komunisme yang diusungnya membuat seluruh dunia pasca Perang Dingin menerima sistem kapitalisme yang disebarkan oleh Amerika Serikat.

Sehingga selain tidak relevannya pertarungan bersifat bipolar (dua kutub), terlihat pula bahwa dunia pasca Perang Dingin menjadi cenderung homogen. Tentu ini merupakan konsekuensi logis dari kekalahan blok sosialis-komunis, yang secara otomatis mengantarkan blok liberalisme-kapitalisme sebagai pemenang tunggal dari pertarungan ideologi di era Perang Dingin.

Perubahan karakteristik geopolitik pasca Perang Dingin dibanding era sebelumnya diamini oleh Francis Fukuyama (1989) dalam karyanya yang berjudul “The End of History?”. Kemenangan ide-ide Barat adalah bukti utama bahwa tidak adanya penantang kuat bagi nilai-nilai liberalisme yang berasal dari dan disebarkan oleh Barat. Budaya konsumtif ala Barat pun menyebar ke berbagai negara yang notabene beberapa diantaranya ialah negara-negara yang pernah atau saat itu dikategorikan sebagai penantang Barat, dalam hal ini ialah Amerika Serikat.

Fukuyama (1989) pun mencontohkan penyebaran berbagai budaya Barat tersebut antara lain pasar petani dan televisi berwarna yang ada dimana-mana di seluruh China, dibukanya koperasi restoran dan toko baju di Moskow, musik Beethoven yang disetel di berbagai department store di Jepang, dan berkembangnya musik rock di Praha (Ceko), Yangon (Myanmar) dan Teheran (Iran).

Ceko, Myanmar, dan Iran merupakan negara-negara yang saat itu tertutup, dan cenderung bermusuhan dengan Barat (khususnya Amerika). Ketika musik rock sebagai representasi budaya Barat berkembang di tiga negara tersebut, maka hal tersebut menunjukkan sekat-sekat ideologi dan budaya kini telah hilang.

Fukuyama (1989) juga menegaskan bahwa berakhirnya Perang Dingin tidak hanya sekedar berlalunya suatu peristiwa khusus begitu saja, tetapi juga menjadi sebuah akhir sejarah, dimana hal tersebut merupakan titik akhir dari evolusi ideologi dan universalisasi demokrasi liberal ala Barat sebagai bentuk final dari berbagai pemerintahan di seluruh dunia. Adanya universalisasi ideologi dan nilai-nilai Barat membuat penulis melihatnya sebagai upaya ‘homogenisasi’ dunia.

Ide-ide baru pasca Perang Dingin juga terlihat dari pemikiran Luttwak (1990). Dalam karyanya yang berjudul “From Geopolitics to Geo-Economics: Logic of Conflict, Grammar of Commerce”. Luttwak berpendapat bahwa geo-ekonomi selalu menjadi aspek penting dalam kehidupan internasional. Pada masa lalu, berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan dibayangi oleh prioritas strategis dan modalitas strategis.

Dari Konflik Ideologi Menuju Logika Ekonomi dan Politik Identitas?

Dari permukaan terlihat bahwa jika logika konflik mendikte kebutuhan akan kerja sama melawan musuh bersama, namun secara kontras justru sesungguhnya logika perdagangan yang mendikte persaingan. Seperti contoh, dibalik konfrontasi Barat-Soviet sebenarnya dalam internal kubu Barat sendiri terdapat sengketa perdagangan antara Eropa Barat dengan Amerika Serikat dan juga Amerika Serikat dengan Jepang. Namun kemudian sengketa tersebut segera diselesaikan sebelum kemudian menimbulkan dampak politik yang dapat mengganggu.

Namun Luttwak (1990) menambahkan, dengan berkurangnya ancaman militer dan aliansi militer, prioritas dan modalitas geoekonomi pun kini mendominasi aksi-aksi negara. Sehingga dapat dipahami bahwa persaingan antar berbagai negara pasca Perang Dingin tidak lagi didasari pada persaingan ideologi seperti Perang Dingin.

Apabila sebelumnya perubahan fundamental pada kajian geopolitik pasca Perang Dingin menurut Luttwak (1990) adalah pergeseran persaingan dari semula dilatari oleh ideologi menjadi motif ekonomi, maka perubahan fundamental yang terdapat pada pendapat Samuel P. Huntington (1993). Menurut Huntington, sumber yang mendasari konflik dalam dunia tidak lagi secara primer oleh ideologi ataupun ekonomi. Manusia yang terbagi-bagi ke dalam banyak identitas menyebabkan konflik akan lebih didominasi oleh masalah kultural.

Negara bangsa akan tetap menjadi aktor terkuat dalam kontestasi dunia, tetapi  prinsip-prinsip dasar dari konflik dalam perpolitikan global akan terjadi antara bangsa dan kelompok dari peradaban berbeda. Garis patah-patah yang memisahkan peradaban akan menjadi garis pertempuran di masa depan menurut Huntington.

Kerja sama negara-negara pasca Perang Dingin pun tidak lagi didasari pada ideologi seperti era sebelumnya, tetapi menurut Huntington (1993) didasari pada asas kekeluargaan atau kin-country syndrome. Kin-country syndrome merupakan kerja sama yang dilatari pada asas-asas kekeluargaan, dimana aliansi kerja sama negara-negara di dalamnya terhimpun dari negara-negara yang serumpun secara kultur.

Himpunan negara-negara yang secara kultur serumpun ini merupakan bentuk upaya dalam menghadapi negara-negara lain yang menantang mereka. Aliansi yang didasari kin-country syndrome juga ditujukan untuk meraih tujuan-tujuan politik dan ekonomi. Salah satu contoh aliansi kin-country syndrome, yang penulis tunjukkan ialah aliansi negara-negara Pasifik Selatan yang tergabung dalam SPF (South Pacific Forum) yang pada era 1980-an berhasil mengagalkan rencana Jepang untuk membuang limbah reaktor nuklir ke lautan Pasifik (Fiji Times, 1985 dalam Ogashiwa, 2002).

Sehingga kemudian menurut Susanne Peters (1999), geopolitik pasca Perang Dingin bergeser dari semula pertarungan ‘West’ vs ‘East’, yang merujuk pada Amerika Serikat melawan Uni Soviet, menjadi ‘West’ vs ‘Rest’. Pergeseran tersebut kemudian yang memunculkan diskursus baru terkait keamanan. Diskursus baru tersebut terkait adanya dugaan terkait hubungan tak terpisahkan antara keamanan negara-negara Barat dan instabilitas yang terdapat di negara-negara Dunia Ketiga.

Sehingga hal tersebut yang kemudian melegitimasi negara-negara Barat untuk merancang geostrategi yang dimaksudkan untuk mengontrol negara-negara Dunia Ketiga secara politik dan ekonomi, apabila keduanya gagal, maka jika perlu lewat cara-cara militer. Geostrategi ini tidak dilatarbelakangi oleh kepentingan ideologi, namun atas dasar kepentingan ekonomi.

Peters (1999) pun menyebut bahwa berbagai motif yang mendasari geostrategi negara-negara Barat terhadap negara-negara Dunia Ketiga ialah untuk melindungi peningkatan investasi  beberapa negara Barat di wilayah negara-negara Dunia Ketiga, dan juga ketergantungan negara-negara Barat terhadap negara-negara Dunia Ketiga, khususnya negara-negara Timur Tengah, terkait cadangan minyak.

Ketika musuh ideologis telah mati, maka tak heran pembeda antara ‘kita’ dengan ‘mereka’ kini digantikan oleh politik identitas. Musuh Barat kini telah berganti, dari Uni Soviet dan negara-negara satelitnya menjadi orang-orang Arab dan Muslim, dalam upayanya ‘mengatasi’ krisis yang meluas dari Pakistan sampai Afrika Utara (Peters, 1999).

Namun apakah narasi-narasi baru di atas tersebut sepenuhnya benar dan dapat diterima? Rasanya terlalu naif juga jika kemudian mengiyakan sepenuhnya. Jika berbicara mengenai kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal yang ditulis oleh Fukuyama, rasanya saya tidak akan dapat menolak fakta bahwa banyak negara Barat sebagai pengusung utama perdagangan bebas sedang mengalami kelesuan ekonomi, terutama pasca Resesi Besar 2008, yang kemudian kini disusul dengan munculnya politisi-politisi ekstrem kanan populer di negara-negara Barat, yang dilatarbelakangi ketidakpuasan masyarakat, salah satunya akibat kelesuan ekonomi.

Konflik horizontal yang dilatarbelakangi identitas memang marak ditemui, namun juga patut diingat bahwa penyebab konflik tidak pernah tunggal. Sehingga kemudian, apa yang dapat dipahami bahwa pertarungan identitas dan perdagangan memang merupakan narasi mayoritas, namun ia tidaklah bersifat mutlak menggambarkan narasi geopolitik hari ini. Namun kedepannya, pertarungan identitas sepertinya masih mendominasi narasi geopolitik kontemporer, mengingat pertarungan ideologi telah mati total.

 

Referensi

Cox, Michael, 2001. “International History”, dalam Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The

Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press.

Crockatt, Richard, 2001. “The End of the Cold War”, dalam Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press.

Fukuyama, F., 1989. “The End of History?”, dalam The National Interest, No 16, Summer           1989.

Goldstein, Joshua S., 2005. International Relations, Pearson/Longman.

Huntington, S., 1993. “The Clash of Civilizations?”, dalam Foreign Affairs 72(3): 22-49.

Luttwak, E., 1990. “From Geopolitics to Geo-Economics: Logic of Conflict, Grammar of Commerce”,  dalam The National Interest.

Ogashiwa, Yoko, 2002, “South Pacific Forum: Survival Under External Pressure” in New

Regionalisms in the Global Political Economy, by Shaun Breslin, Christopher W. Hughes, Nicola Phillips and Ben Rosamond (eds). London: Routledge. 

Peters, S., 1999, “The ‘West’ against the ‘Rest’: Geopolitics after the end of the cold war”, dalam Geopolitics 4(3): 29-46

TENTANG PENULIS

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Write a response to this post