Semesta (Tidak) Mendukung Messi Untuk Raih Trofi Piala Dunia Tahun Ini

Namun ada satu yang sampai saat ini belum ia raih dan menjadi beban besar yang harus ditanggung oleh Messi. Terlepas apakah ini dapat juga dikategorikan sebagai ambisi pribadi, namun ia melampaui dari sekedar raihan individu, yakni kontribusi bagi negara, alias gelar tim nasional.

Semesta (Tidak) Mendukung Messi Untuk Raih Trofi Piala Dunia Tahun Ini_M Faisal JA_Berpijar
Semesta (Tidak) Mendukung Messi Untuk Raih Trofi Piala Dunia Tahun Ini_M Faisal JA_Berpijar
Lionel Messi (Foto: Informador)
Namun ada satu yang sampai saat ini belum ia raih dan menjadi beban besar yang harus ditanggung oleh Messi. Terlepas apakah ini dapat juga dikategorikan sebagai ambisi pribadi, namun ia melampaui dari sekedar raihan individu, yakni kontribusi bagi negara, alias gelar tim nasional.

Raut wajah fans Argentina yang sumringah ketika unggul 2-1 mendadak sirna setelah dalam kurun waktu 11 menit, Perancis melesakkan tiga gol tambahan, dua diantaranya dicetak bintang muda Kylian Mbappe.

Sergio Aguero menciptakan satu gol untuk memperkecil kedudukan sekaligus memupuk kembali harapan Argentina tapi sayang, gol itu baru tercipta ketika waktu pertandingan hanya tersisa satu menit lagi.

Pertandingan pun usai. Pemain Perancis bersuka cita merayakan lolosnya mereka ke babak perempat final, sedangkan pemain Argentina tertunduk lesu karena harus pulang ke negara mereka. Raut wajah Messi yang meratapi kegagalan Argentina pun menjadi sasaran utama kamera televisi.

Sepanjang pertandingan, Messi memang menjadi sorotan utama kamera televisi. Sadisnya, setiap kali Argentina kebobolan, hampir pasti Messi selalu disorot kamera. Puncaknya, ketika pertandingan berakhir dan Argentina memastikan diri tersingkir, kamera televisi pun kembali menyorot raut wajah Messi seakan menjadi ajang penghakiman Messi.

Komentator televisi pun tak mau kalah untuk menghakimi Messi. Seakan-akan memasuki waktu pembacaan vonis hakim dalam persidangan, komentator pun memvonis “Maybe this is his final game for his country.”

Messi memang menyumbang dua assist dan Argentina pun mencetak tiga gol, pertama kalinya Argentina mencetak lebih dari dua gol dalam satu pertandingan di Piala Dunia 2018. Tapi itu semua tak cukup untuk menyelamatkan Argentina lolos ke fase perempat final sekaligus menunda penghakiman Messi.

Ambisi Besar Messi

Usianya sudah 31 tahun, tapi capaiannya melebihi impian normal orang lain di umur yang sama: bekerja dengan gaji tinggi, punya rumah, dan menjalin rumah tangga.

Messi ialah seorang pesepakbola, tapi ia bukan pesepakbola sembarangan. Torehan gelar individu yang ia raih sangat mengagumkan. Ballon d’Or dan Sepatu Emas Eropa sudah sebanyak lima kali ia raih. Bahkan ia pun mencatatkan rekor dunia Guiness Book of World Record sebagai pencetak gol terbanyak di level klub dalam semusim pada musim 2011-2012.

Gelar di level klub? Bersama Barcelona pun banyak pula gelar yang ia torehkan, mulai level domestik hingga Eropa, total hingga 32 piala ia raih bersama Barcelona. Treble gelar yang menjadi bukti kedigdayaan suatu klub dalam semusim sudah dua kali ia raih di Barcelona.

Dengan torehan prestasi yang mengagumkan tersebut, maka tak heran apabila kemudian Messi pun ditahbiskan sebagai GOAT (Greatest of All Time). Bahkan majalah Paper pun sampai membuat sampul khusus berupa foto Messi dengan kambing untuk menyimbolkan status GOAT yang ia dapat.

Messi_PaperMag
Messi berfoto bersama kambing untuk majalah Paper (Foto: Paper Magazine)

Namun ada satu yang sampai saat ini belum ia raih dan menjadi beban besar yang harus ditanggung oleh Messi. Terlepas apakah ini dapat juga dikategorikan sebagai ambisi pribadi, namun ia melampaui dari sekedar raihan individu, yakni kontribusi bagi negara, alias gelar tim nasional.

Ia seperti terbebani oleh ucapan mantan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang negara dapat berikan padamu, tapi tanyakan apa yang dapat kamu lakukan pada negara.”

Sejatinya Messi sudah pernah meraih gelar bersama tim nasional. Messi pernah mengantarkan Argentina meraih emas cabang sepak bola Olimpiade 2008 dan juara Piala Dunia U-20 2005. 

Tapi media memang kejam. Bagi media, dua ajang tersebut hanyalah sekelas level junior, dan gelar bersama timnas senior lebih prestisius. Maka tak heran, dua gelar Messi di level tim nasional tersebut bak angin kentut saja, ada bau dan suara, tapi dengan cepat terlupakan.

Messi tidak seperti Buffon dan Totti yang tidak pernah meraih Ballon d’Or atau bahkan Liga Champions, tapi mereka sudah pernah menikmati gelar Piala Dunia 2006 bersama Italia. Bahkan Ronaldo sebagai rival Messi sebagai pemain terbaik abad ini pun sudah menikmati manisnya torehan gelar internasional bersama timnas Portugal di Euro 2016.

Sejatinya, Messi punya tiga kesempatan beruntun untuk mewujudkan ambisinya meraih gelar di level timnas. Di Piala Dunia 2014, ia bermain moncer dan meraih Golden Ball, tapi apesnya Argentina kalah 0-1 di final dari Jerman.

Ia pun hanya bisa membantu fotografer asal Tiongkok, Bao Tailiang memenangi World Press Photo Contest 2015 kategori olahraga berkat foto wajahnya memandangi trofi Piala Dunia.

Messi watching World Cup 2014 trophy_Berpijar_Reuters_Mirror.co. uk
Foto ikonik Messi memandangi trofi Piala Dunia 2014 karya Bao Tailiang yang memenangi World Press Photo Contest 2015 kategori olahraga (Foto: Reuters via Mirror.co.uk)

Di Copa America 2015, ia mengantarkan Argentina ke final. Namun sayang, kesempatan kedua untuk meraih gelar timnas senior pupus setelah Argentina kalah adu penalti dari tuan rumah Chile.

Di Copa America Centenario 2016, ia bermain moncer dengan mencetak lima gol dan mengantarkan Argentina ke final. Namun sayang, kesempatan ketiga musnah setelah kalah adu penalti untuk kedua kalinya dari Chile, dan tendangan penalti Messi juga melambung tinggi di atas mistar gawang. Frustasi, ia pun mengumumkan pensiun dari timnas walaupun kemudian ia membatalkan rencana tersebut.

Maka tak heran kemudian ia begitu berharap di Piala Dunia 2018, mengingat usianya sudah menginjak 31 tahun, dan mungkin ini adalah Piala Dunia terakhirnya. Sayang impian tersebut kembali pupus setelah semalam Argentina menyerah 3-4 dari Perancis, dan tak salah jika komentator pun memvonis bahwa pertandingan semalam mungkin pertandingan terakhirnya bagi Argentina.

Kondisi Tim Argentina yang Tidak Mendukung

Banyak yang beranggapan bahwa tidak maksimalnya Messi di timnas Argentina dikarenakan komposisi pemain Argentina yang tidak dapat mendukung bakat Messi. Bahkan hal tersebut juga ditegaskan oleh Jorge Sampaoli usai kekalahan dari Perancis semalam, bahwa timnya memang tidak mampu memaksimalkan bakat Messi.

Dalam empat pertandingan di Piala Dunia 2018, ada empat formasi awal yang diturunkan Sampaoli, menandakan bahwa Sampaoli tidak mempunyai taktik pakem bagi Argentina. Posisi Messi yang selalu berubah-ubah dalam empat pertandingan juga menunjukkan bahwa Sampaoli pun kebingungan untuk memaksimalkan Messi.

Argentina memang bukan Barcelona. Skuat Barcelona memang sangat mewah ketika Messi meniti karier di Barcelona.

Ada Busquets yang dengan tenang menjaga keseimbangan di tengah, lalu ada dukungan suplai-suplai bola yang memanjakan Messi dari Xavi-Iniesta, kemudian setelah Xavi pindah tahun 2015, ada Rakitic yang menggantikannya.

Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran kemudian Messi dapat dengan tenang mengobrak-abrik pertahanan lawan. Inilah yang tidak didapatkan Messi di timnas Argentina.

Secara kualitas, Maximiliano Meza, Enzo Perez, Ever Banega, dan gelandang Argentina lain memang tidak akan pernah menyamai level Xavi-Iniesta atau Rakitic-Iniesta dalam melayani Messi. Nampaknya Argentina memang belum mempunyai seorang gelandang hebat sekelas Juan Roman Riquelme, Juan Veron, atau Pablo Aimar.

Lebih dari itu, Argentina memang bukan Perancis yang semalam mengalahkan mereka. Skuat Perancis semalam yang bisa dikategorikan sebagai Generasi Emas merata di semua lini. Sedangkan Argentina punya stok penyerang melimpah, namun seakan-akan krisis pemain di tengah, belakang, dan kiper.

Maka dari itu, jangankan memikirkan komposisi yang pas untuk melayani Messi, sejatinya Argentina pun masih kewalahan untuk meramu komposisi terbaik pemain di luar lini serang.

Bukan hanya soal komposisi pemain, prediksi pun tidak terlalu memfavoritkan Argentina untuk menjadi juara Piala Dunia. Analisis Ian Darke di ESPN terkait favorit juara memang menempatkan Argentina sebagai favorit, tapi hanya lantaran Argentina ialah kekuatan tradisional di Piala Dunia, bukan kondisi yang memang mendukung mereka untuk melaju mulus.

Toh penampilan mereka di kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan juga tidak meyakinkan. Argentina baru memastikan lolos setelah menang 3-1 atas Ekuador di pertandingan terakhir.

Penampilan buruk ini pun mereka tampilkan di babak penyisihan. Hanya imbang 1-1 melawan Islandia, kalah telak 0-3 dari Kroasia, dan menang 2-1 melawan Nigeria melalui gol Marcos Rojo di menit 86. Mereka pun lolos sebagai runner-up grup, dan bertemu Perancis di perdelapan final. Mungkin anda akan beranggapan bahwa pertandingan Perancis vs Argentina adalah final kepagian lantaran keduanya adalah favorit juara, tapi melihat penampilan Argentina yang buruk, saya pikir anda harus berpikir sekali lagi untuk menyebut Argentina sebagai favorit juara.

Sebelum menutup tulisan ini, saya akan mengutip pernyataan menarik dalam sebuah artikel yang menganalisis peluang Argentina di Rusia 2018. “Dalam kondisi 100 persen, Messi hanya bisa maksimal jika pemain yang lain dapat bermain layaknya pemain di Liga Minggu”. Dengan kata lain: sepak bola ialah pertandingan antara 11 pemain melawan 11 pemain, bukan 1 pemain melawan 11 pemain.

TENTANG PENULIS

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

Write a response to this post