Memahami Tiga Jalur Penyebaran Paham Salafi (Radikal) di Indonesia dalam “Jejak Kafilah”

Memahami Tiga Jalur Penyebaran Paham Salafi (Radikal) di Indonesia dalam “Jejak Kafilah”_Reza MH_Berpijar
Jejak Kafilah - Greg Fealy
Gambar: Dok. Pribadi

Spesifikasi Buku

Judul Buku

Jejak Kafilah

Penulis

Greg Fealy dan Anthony Bubalo

Penerbit

Mizan

Tebal Buku

202 halaman

Tahun Terbit

2007

Jenis Buku

Sejarah Islam

Jika melihat jejak yang ditinggalkan oleh aksi teror di Indonesia, banyak peneliti yang berusaha membuka kisah dibalik puing-puing pasca tragedi. Kita bisa saja secara sempit mempelajari tindakan terorisme melalui jurnal-jurnal internasional atau laporan penelitian yang dilakukan berbagai organisasi keamanan dunia, tapi rasanya tak elok apabila tidak menyertakan nama Greg Fealy dan Anthony Bubalo dalam referensi penelitian mengenai terorisme di Indonesia.

Buku ini dibuka dengan sebuah kutipan dari Panglima Jihad Global, Ustad Abdullah Azzam. Beliau, seperti yang dikutip, menjelaskan bahwa dunia melihat Jihad Global ini layaknya sekelompok orang dalam karavan fundamentalis yang sedang berjalan.

Tujuan dari dituliskannya buku ini adalah menguji persepsi dari Abdullah Azzam di Indonesia. Adapun pemahaman-pemahaman yang “radikal” menjadi pondasi kemunculan kelompok mujahidin di Indonesia.

Pemikiran-pemikiran radikal ini dibawa oleh warga negara Indonesia sendiri yang pernah belajar di Timur Tengah. Mereka mendirikan beberapa organisasi, diantaranya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Irsyad dan Persatuan Islam (Persis) yang mendapatkan dana dari Arab Saudi. Kedua penulis juga mengutarakan secara eksplisit bahwasanya LIPIA maupun DDII merupakan penyebar paham Salafisme (meskipun menurut Said Ramadhan Al-Buthi, salafi bukanlah mazhab, melainkan hanya sebuah fase sejarah).

Kembali kepada figur Abdullah Azzam. Beliau merupakan orang pertama yang berusaha membuat perjuangan yang dilakukan oleh mujahidin di Afghanistan mendapatkan bantuan berupa senjata, dana maupun manusia untuk mengusir Uni Soviet. Maka dari itu beliau menggagas Jihad Global. Azzam mengharapkan seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia yang mampu bertarung, mau berjuang untuk mempertahankan Afghanistan.

Propaganda untuk menarik para pejuang Islam ke Afghanistan sangatlah gencar sehingga Abdullah Azzam mendapat julukan bapak jihad modern. Gerakan sosial untuk mempertahankan diri yang terjadi di Afghanistan menjadi sebuah peperangan yang diikuti oleh berbagai negara (secara tidak langsung, melalui para kombatannya). Kekalahan Soviet di Afghanistan bukanlah sebuah akhir, namun permulaan dari perhelatan panjang di Timur Tengah, yang merambah ke Asia Tenggara.

Karena Jihad yang diserukan Azzam bersifat global, maka Indonesia pun tidak luput untuk mengirimkan mujahidinnya untuk membebaskan Afghanistan dari belenggu komunisme Soviet. Indonesia merupakan bagian dari “kafilah” yang berusaha untuk mengusir penjajah. Petarung dari Indonesia ini dikirimkan dari anggota Jamaah Islamiyah (organisasi keislaman yang berbasis di Asia Tenggara). Fealy dan Bubalo pun mengutarakan bahwa anggota senior dari JI adalah veteran dari perang Afghanistan.

Kedua penulis menyatakan bahwa ada corak yang cukup berbeda antara Timur Tengah yang lumayan keras dengan ke-Islamannya dengan Asia Tenggara yang cenderung lunak. Hal ini terjadi karena adanya “modifikasi” dari praktik Islam di Asia Tenggara untuk menarik simpati dari penduduk asli (pribumi).  

Akan tetapi pemikiran salafi tetap berusaha masuk ke dalam Indonesia melalui tiga jalur: Gerakan sosial melalui para veteran perang Afghanistan, Penyebaran pemikiran Islam Timur Tengah di Indonesia oleh Arab Saudi, dan internet.

Jalur pertama, gerakan sosial yang dijelaskan oleh kedua penulis, masuk ke Indonesia pada awalnya melalui jalur perdagangan (seperti pada buku sejarah sekolah pada umumnya). Penyaluran gerakan sosial Islam yang paling besar andilnya adalah para pelajar. Mereka lah yang membawa ide-ide islamis dari Timur Tengah ke Indonesia.

Prestise dari pendidikan di Timur Tengah berada di Mesir, Universitas Al-Azhar lebih tepatnya. Adapun semakin tinggi guru mereka, semakin tinggi pula derajat para mahasiswa yang belajar ilmu agama di Mesir ketika kembali ke Indonesia.

Tidak jarang bahwa mahasiswa yang belajar ini juga bergabung dalam peperangan di Afghanistan pada tahun 1980an. Organisasi penyedia beasiswa seperti Rabhitah Al-Islami yang berbasis di Arab Saudi pun turut andil dalam perekrutan mujahidin Afghanistan ini.

Alasan mereka bergabung dalam kafilah ini (yang digarisbawahi oleh para penulis) nampaknya adalah alasan praktis, dimana pelatihan militer yang didapat di Afghanistan dapat diterapkan pada negaranya masing-masing ketika para mujahid ini kembali.

Penyumbang tenaga mujahid terbesar dari Indonesia nampaknya masih dipegang oleh Jamaah Islamiyah. Organisasi ini menggunakan jaringan Darul Islam juga untuk berperan aktif mengirimkan mujahid ke Timur Tengah.

Karena pengiriman mujahid ini, banyak orang Indonesia juga berkumpul dengan umat Islam dari belahan dunia lain, dari sinilah terbentuk jaringan Jamaah Islamiyah dengan Al-Qaeda yang waktu itu menjadi organisasi yang mewadahi konsep Jihad Global milik Abdullah Azzam. Otak dibalik pengiriman para mujahid Indonesia ini adalah Ustad Abdullah Sungkar, salah satu pucuk pimpinan JI.

Tempat pertama yang akan didatangi oleh para mujahid ini adalah Pakistan, dimana mereka direkrut melalui kantor Makhtab Al-Khidmat (kantor perekrutan) yang nantinya akan di latih di Kamp latihan Abdul Rashid Sayyaf, salah satu instruktur di Afghanistan. Sang instruktur ini memiliki hubungan yang erat dengan pendonor terbesar dari perang Afghanistan: Osama bin Laden. Menurut kedua penulis, Indonesia mengirimkan kisaran 200-300 orang untuk berperang di Afghanistan.

Yang menjadi berbahaya tidak hanya pelatihan perang saja, tapi adanya pendidikan keagamaan dan ideologi yang mendalam di Afghanistan. Para penulis mengutip John Burke bahwasanya keradikalan kamp-kamp ini menjadi alasan utama kenapa mereka rela melakukan jihad bersenjata.

Di dalam kamp sendiri, pengajaran yang ditekankan pada aliran Salafi dan dekat kepada konsep Jihad membentuk pola pikir para kombatan ini menjadi radikal dan sangat setia pada pandangan yang dibawa oleh perjuangan di Afghanistan.

Jalur kedua persebaran pemikiran radikal di Indonesia adalah pendidikan dan dakwah. Fealy maupun Bubalo mengutarakan secara implisit bahwasanya penyebaran pemikiran Salafi ada hubungannya dengan para pelajar yang menimba ilmu di Al-Azhar maupun Universitas lain di Arab Saudi.  Dengan beberapa penjelasan yang diutarakan oleh kedua penulis, mereka berdua cenderung untuk berburuk sangka terhadap segalam macam pendanaan yang diberikan oleh Arab Saudi semasa peperangan di Afghanistan terjadi.

Para penulis mengutarakan bahwa tujuan bantuan-bantuan ini ialah untuk menyebarkan aliran Wahabi kepada penganut Islam di Indonesia, guna memurnikan ajaran-ajaran Islam. Namun Arab Saudi lebih menekankan kepada pendalaman materi keislaman ketimbang permasalahan politiknya, meskipun kedua penulis kelihatannya masih berburuk sangka terhadap Arab Saudi.  Adapun jika bicara penyebaran aliran Wahabi atau Salafi di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) tidak akan luput untuk disebutkan.

Jalur ketiga dalam penyebaran pemikiran radikal adalah Publikasi dan internet. Buku menjadi sarana utama dalam penyebaran pemikiran Salafi atau Wahabi, yang salah satunya adalah karya Yusuf Qordhowi. Pembelajaran melalui internet pun dieksploitasi untuk menyebarkan ajaran-ajaran dari kedua aliran yang dianggap radikal oleh para penulis. Banyak website yang juga menyuguhkan konflik-konflik yang sedang berkecamuk di Timur Tengah.

Kedua penulis layaknya melihat kelompok salafi yang menggunakan internet berusaha mendeligitimasi otoritas keagamaan tradisional (lokal) yang ada di Indonesia. Namun dalam tulisan yang cukup panjang, buku ini juga diselingi gambar yang memperlihatkan kelompok yang diduga menyebarkan paham radikal seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Laskar Jihad (LJ), dan Ikhwanul Muslimin yang menginspirasi gerakan-gerakan radikal di Indonesia.

Buku ini memang memuat penjelasan yang memadai mengenai sejarah masuknya pemikiran radikal ke Indonesia, namun para penulis masih belum obyektif dengan beberapa data yang sumbernya kurang jelas. Adapun banyak asumsi-asumsi yang menyesatkan dan penyeragaman pandangan terhadap kelompok-kelompok yang berasal dari Timur Tengah. Buku ini hanyalah pembuka terhadap horison luas mengenai radikalisme yang ada di Indonesia, layaknya karya dari Greg Barton yang saya tulis sebelumnya.

TENTANG PENULIS

Reza Maulana Hikam adalah mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Reza Maulana Hikam

Reza Maulana Hikam adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Pegiat literasi yang mendirikan situs web resensi Kedai Resensi Surabaya dan Penulis Lepas Opini di Geotimes.


Related Posts

Write a response to this post