Relasi Tak Setara Antara Manusia dan Mesin dalam Film “True Skin” (Bagian 1)

Manusia di masa depan, tidak lagi perlu membutuhkan manusia lainnya, bahkan untuk urusan seks sekalipun. Tokoh utama misalnya, dari sekian banyak pilihan yang ada di tempat prostitusi (manusia dan cyborg), nyatanya dia lebih memilih membayar untuk berhubungan seks dengan cyborg.
Manusia di masa depan, tidak lagi perlu membutuhkan manusia lainnya, bahkan untuk urusan seks sekalipun. Tokoh utama misalnya, dari sekian banyak pilihan yang ada di tempat prostitusi (manusia dan cyborg), nyatanya dia lebih memilih membayar untuk berhubungan seks dengan cyborg.
Ilustrasi Cyborg (Foto: Unsplash)
Post-humanisme menekankan artikulasi manusia dengan mesin ’pintar’. Tidak ada demarkasi absolut antara jasmani, simulasi komputer, mekanisme sibernetik dan organisme biologis, teleologi robot dan cita-cita hidup manusia. Post-humanisme tidak menolak eksistensi manusia melainkan menolak eksistensi versi modern dari konsep ’manusia’.

Film, pada dasarnya merupakan medium yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi. Film sebagai seni dapat dilihat dari segala macam bentuk penceritaan, gaya pengambilan gambar, tata artistik dalam setting kejadian, dan bahkan tahap penyuntingannya. Film sebagai sebuah teknologi jelas dapat dilihat dari penggunaan kamera sebagai alat pengambil gambar dan komputer beserta aplikasi penyuntingannya sebagai alat penyunting gambar.

Film sebagai perpaduan dari keduanya membawa seni ini kemudian menjadi seni yang populer di dunia dan Indonesia. Film berperan sebagai sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum.

Film pada dasarnya dapat digunakan untuk menceritakan kejadian yang pernah ada dan sedang ada secara nyata (dokumenter) dan menceritakan ulang sebuah cerita dalam bentuk rekonstruksi cerita yang dibuat (fiksi). Pada dasarnya film-film ini, entah dokumenter atau fiksi, selalu berpijak pada realitas.

Realitas ini, berkat perkembangan seni film yang semakin berkembang, dapat dikembangkan menjadi cerita-cerita yang mengarah pada interpretasi realitas dan pengandaian. Film “Science Fiction” adalah contoh nyata dari bentuk yang demikian.

Film “Science Fiction” dapat dikatakan sebagai salah satu genre yang paling baik untuk menunjukkan bahwa film dapat diciptakan melalui penggabungan khayalan dan kenyataan. Karena pada dasarnya, khayalan merupakan hasil reproduksi dari sebuah kenyataan.

Film sci-fi klasik Le Voyage dans la Lune (A Trip to the Moon) karya Georges Melies yang dirilis pada tahun 1902 bisa menjadi contoh. Melies membayangkan bahwa manusia harusnya bisa pergi ke bulan. Ternyata pada tahun 1969, ternyata mimpi Melier menjadi kenyataan. Astronaut asal Amerika Serikat (AS) Neil Armstrong benar-benar menginjakkan kakinya di bulan.

Hal serupa juga terjadi pada film sci-fi yang melibatkan cyborg didalamnya. Menurut Donna Haraway, cyborg adalah sebuah mekanisme sibernetik, suatu perpaduan antara mesin dan organisme, ciptaan dari realitas sosial dan juga rekaan fiksi. Cyborg (cybernetic Organism) merupakan khayalan manusia yang seringkali muncul pada film-film sci-fi. Sebut saja film Star Wars, Robocop, Terminator, dan lain-lain. Cyborg memang semacam menjadi khayalan tersendiri yang ingin dicapai oleh manusia.

Isu atau konflik pembangun cerita yang seringkali sama dalam formula penciptaan film sci-fi cyborg adalah pada 3 persoalan : a) keinginan manusia untuk memiliki kemampuan lebih, b) ketakutan akan penguasaan cyborg di bumi, c) hilangnya rasa kemuanusiaan pada manusia di masa cyborg. Film-film cyborg seperti robocop dan terminator misalnya, membahas hal-hal tersebut.

Dalam perspektif post humanisme misalnya, Post-humanisme menekankan artikulasi manusia dengan mesin ’pintar’. Tidak ada demarkasi absolut antara jasmani, simulasi komputer, mekanisme sibernetik dan organisme biologis, teleologi robot dan cita-cita hidup manusia. Post-humanisme tidak menolak eksistensi manusia melainkan menolak eksistensi versi modern dari konsep ’manusia’.

Post-humanisme meyakini bahwa konsep manusia itu sendiri merupakan produk kapitalisme pasar. Subyek post-humanisme merupakan sekumpulan komponen heterogen, yang terbentuk di atas landasan kognitif dan kesadaran.

Ada semacam dilema kemanusiaan yang lahir akibat perkembangan cyborg ini. Meskipun cyborg canggih yang kita bayangkan masih pada tahapan khayalan di film-film sci-fi, namun ketakutan itu jelas-jelas nyata. Hal ini dapat dibuktikan, seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa ada isu sentral ketika seorang pembuat film memproduksi film cyborg.

Katherine Hayles menunjukkan bahwa cyborg pada dasarnya telah ada di dunia nyata non film. Dalam sebuah tulisan, ia menyebutkan :

“Cyborgs actually do exist; about 10% of the current U.S. population are estimated to be cyborgs in the technical sense, including people with electronic pacemakers, artificial joints, drug implant systems, implanted corneal lenses, and artificial skin. A much higher percentage participates in occupations that make them into metaphoric cyborgs, including the computer keyboarder joined in a cybernetic circuit with the screen, the neurosurgeon guided by fiber optic microscopy during an operation, and the teen gameplayer in the local videogame arcarde. "Terminal identity" Scott Bukatman has named this condition, calling it an "unmistakably doubled articulation" that signals the end of traditional concepts of identity even as it points toward the cybernetic loop that generates a new kind of subjectivity”

Kemanusiaan menjadi isu penting dalam mempersoalkan cyborg. Ada tiga pembagian dalam persoalan kemanusiaan ini, yaitu Human, Inhuman, dan Nonhuman. Human adalah manusia yang seutuhnya, artinya adalah dia hidup utuh sebagai manusia dan memiliki kemanusiaan. Inhuman adalah manusia atau cyborg yang menyerupai manusia namun tanpa memiliki kemanusiaan. Sedangkan Nonhuman adalah sesuatu yang bukan manusia dan juga tidak memiliki kemanusiaan.

Manusia harusnya tetap menjadi human, entitas yang utuh sebagai manusia dan memiliki kemanusiaan. Namun, dalam masa cyborg, ketakutan terbesar adalah mengenai kehilangan kemanusiaan. Ketika manusia dicangkokkan dengan mesin dan berjalan secara mekanistis, tidak menutup kemungkinan bahwa kemanusiaan dari manusia akan makin menghilang.

Film sci-fi cyborg biasanya memiliki formula penceritaan berupa adanya perusahaan yang memproduksi mesin-mesin cyborg tersebut. Alih-alih ingin membawa perubahan yang lebih baik, perusahaan-perusahaan tersebut sebenarnya memiliki motif yang sederhana saja, yaitu ekonomi. Perusahaan ini ingin agar semuanya menjadi tergantung pada mesin-mesin yang diciptakannya. Pada akhirnya, perusahaan ini akan menjadi penguasa dari manusia-manusia tersebut.

Selanjutnya tulisan ini akan mengangkat permasalahan dilema-dilema yang terjadi pada masa datangnya cyborg. Cyborg pada satu sisi memudahkan kehidupan manusia, namun pada sisi lain membawa ancaman bagi kemanusiaan dan manusia itu sendiri.

Film sci-fi pendek karya Stephan Zlotescu berjudul True Skin akan menjadi sample dari makalah ini. Film ini dirasa menarik karena mampu menunjukkan dilema yang sangat besar antara manusia, kemanusian, dan cyborg.

Film ini walaupun film pendek, namun telah ditonton oleh banyak orang. Penyebarannya yang melalui internet menjadikannya film yang berpengaruh setidaknya bagi perkembangan film pendek di Asia.

Film True Skin

True Skin, adalah film pendek sci-fi (science fiction) yang dibuat oleh sutradara Stephan Zlotescu dari Thailand. Film ini menemukan kekuatannya karena menawarkan sesuatu yang jarang dibahas dan dibuat oleh sutradara film pendek di Asia. True Skin adalah sebuah film yang tidak hanya menonjolkan efek-efek yang berhasil menggiring penonton untuk merasakan masa depan, namun dia juga berhasil menjadikan cerita yang diusung penuh dilema.

Dilema, karena dalam True Skin kita diajak melihat berbagai macam permasalahan di dunia yang penuh kecanggihan. Film bercerita tentang kehidupan di kota Bangkok, Thailand yang penuh kecanggihan. Manusia yang dicangkok dengan mesin, mesin-mesin yang bergerak dan bertingkah seperti manusia (cyborg/cybernetic organism), dan teknologi cyber yang memukau.

Namun, dibalik segala kecanggihan itu, nyatanya masih ada manusia-manusia yang “tidak berhasil” mencapai kecanggihan tersebut. Mereka adalah kaum miskin yang digambarkan oleh tokoh pengemis dan gelandangan.

Pengemis dan gelandangan ini digambarkan sebagai kaum yang sangat lemah, tidak berdaya, dan tidak normal. Dalam sebuah monitor di sebuah gedung bahkan dituliskan “Seriously, not hiring naturals.” Sebuah kalimat yang menggambarkan bahwa di masa depan, orang-orang normal yang tidak memakai cangkokan mesin dan mengikuti kemajuan teknologi adalah orang-orang yang tidak layak.

True Skin menggiring kita mengalami kehidupan ala masa depan melalui tokoh utama yang berjalan-jalan berkeliling kota. Tokoh utama digambarkan telah melakukan cangkok dengan mesin. Menarik, ketika sutradara dengan apik menunjukkan awal permasalahan dengan menunjukkan adegan si tokoh utama memilih kaki untuk mengelilingi kota.

Ya, Kaki! Di masa depan, bagian tubuh ternyata bisa dipilih dan diganti sesuka hati, asalkan ada uang pastinya. Setelah selesai memilih kaki, tokoh utama keluar mengelilingi kota.

Adegan pembuka ini menjadi sangat kuat karena hal itu sangat bertentangan dengan yang terjadi hari ini, dimana keberadaan dokter menjadi sentral dalam dunia kesehatan. Secanggih apapun alat-alat kedokteran yang diciptakan hari ini, dokter masih mengambil peran penting, setidaknya sebagai pihak yang paham dan mampu mengoperasikannya.

Namun, pengandaian dalam film ini membantah hal tersebut. Di masa depan, warga biasa bisa dengan mudah dan sesuka hati memilih bagian tubuh mereka tanpa campur tangan dokter. Manusia diarahkan menjadi semakin mandiri dan otonom.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema.

BACA JUGA

About Author

Agung Hari Baskoro

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. Redaktur Sosial-Budaya Berpijar.co dan Koordinator Inti Klub Seri Buku. Kini berprofesi sebagai wartawan di Suara Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post