Isu Transgender Lucinta Luna yang Merugikan Gerakan LGBT

Isu Transgender Lucinta Luna yang Merugikan Gerakan LGBT_Redaksi_Berpijar
Isu Transgender Lucinta Luna yang Merugikan Gerakan LGBT_Redaksi_Berpijar
Lucinta Luna (Foto: Viva)
Nampaknya kajian tentang LGBT, khususnya transgender harus memperluas cakupan kajian terkait bahwa persoalan LGBT tidak melulu dalam bingkai politik identitas untuk meminta perlakuan yang adil di masyarakat, namun isu semacam ini bisa menjadi satu hal yang berharga ketika masuk dalam suasana di luar namun beririsan dengan dunia hiburan.

Setelah sempat tenggelam dalam perbincangan publik, sosok Lucinta Luna kini kembali lagi menjadi sorotan. Hal tersebut lantaran aksi pemecatan yang diumumkan Ratna Pandita, mantan rekan duetnya, terhadap Lucinta Luna dari Duo Bunga minggu kemarin. Seperti dilansir Okezone (22/06/2018), salah satu alasan utama pemecatan Luna karena isu transgender yang begitu kencang menerpa dirinya.

Menurut Ratna, isu tersebut merugikan grup Duo Bunga karena sering mendapatkan persekusi dan juga bullying dari netizen. Apalagi ada larangan KPI untuk menayangkan konten pria bergaya wanita maupun sebaliknya untuk tampil di televisi. Tentu hal ini semakin merugikan Duo Ratu. Dalam kesempatan tersebut pula, Ratna menegaskan ke publik bahwa memang benar Lucinta Luna adalah seorang laki-laki.

Pernyataan Ratna itu semakin memperkuat persepsi publik di media sosial yang rajin mengatakan bahwa Lucinta Luna dulunya adalah laki-laki yang bernama asli Muhammad Fatah. Tentang sangkaan itu, hingga hari ini Lucinta masih tidak mengakui tudingan beserta bukti-bukti yang dibeber netizen di media sosial yang menyatakan bahwa dirinya adalah transgender.

Meskipun harus dikatakan, apa yang dilakukan oleh penggiat media sosial dengan terus menerus menyerang Luna tidak bisa dibenarkan. Namun bagamaina lagi, terlalu banyak orang di Indonesia yang memiliki waktu luang untuk sekedar wara-wiri dunia maya hanya untuk menjatuhkan orang lain.

Alasan privasi, seperti sering dikatakan Luna, bisa dibenarkan ketika tidak berkenan merespon para haters di Medsos. Apalagi hal yang diungkap oleh warganet menyangkut masa lalu Luna yang sangat berpotensi membuat dirinya tidak nyaman ketika dokumen-dokumen pribadinya dibeber ke publik.

Di sisi lain, ada hal yang patut disorot dalam mendiskusikan isu transgender Luna, yakni berkaitan dengan bagaimana dirinya terkesan sangat menikmati pro-kontra yang meliputi dirinya yang berdampak kurang baik bagi gerakan LGBT. Memang ketika privasi seseorang terganggu, dia tidak nyaman, namun ketika persoalan privasi dapat menjadi kapital untuk mendapatkan banyak keuntungan, rasa terganggu bisa jadi tidak terlalu bermasalah.

Diakui atau tidak, nama Luna semakin menggema ketika isu transgender kencang menerpa dirinya. Beberapa pernyataannya yang menambah kedongkolan banyak orang ketika dia mengatakan bahwa dirinya bersama Duo Bunga sudah menjadi go international dan menyindir penyanyi-penyanyi lain yang belum go international dan sudah dikalahkan mereka.

Di tengah popularitasnya yang (sempat) naik, penegasan dirinya yang berulang-ulang membantah seorang transgender menjadi dilema dalam diskusi lebih luas menyangkut gerakan LGBT di Indonesia.

Taruhlah memang benar bahwa penyanyi lagu “Lain di Mulut, Lain di Hati” memang benar-benar transgender, maka sosok Luna benar-benar tidak menguntungkan bagi penggiat gerakan LGBT, khususnya komunitas transgender atau Waria.

Ketika sebagian kelompok penggiat LGBT, khususnya yang bergerak dalam isu-isu gender, berusaha menepis anggapan miring tentang persoalan identitas mereka, dan terus diburu oleh justifikasi negatif publik terhadap mereka, Luna malah nampak sangat menikmati isu tersebut sebagai sensasi untuk menaikkan pamor dirinya.

Sebagaimana berita dilansir tabloidbintang.com (07/04/2018), beberapa rekan transgender Lucinta Luna mulai bermunculan. Hal tersebut lantaran kekesalan mereka kepada Luna yang tetap tegak pada pendiriannya bahwa dia bukanlah transgender. Mereka berharap Lucinta Luna segera menghentikan sandiwara untuk mendongkrak popularitas Duo Ratu.

Mereka juga mengiyakan bahwa sentimen negatif masyarakat terhadap Luna juga berdampak pada komunitas LGBT secara luas. Transgender semakin menjadi olokan yang menyasar mereka lantaran Luna yang sering membuat hal-hal kontroversi, semacam isu bahwa dirinya hamil.     

Seperti diketahui, LGBT belakangan menjadi problem santer yang menjadi isu sensitif di Indonesia. Mulai dari isu kecaman kelompok agama, hingga niat anggota dewan untuk memasukkan persoalan LGBT dalam KUHP.

Para aktifis LGBT tidak lupa untuk selalu menggiatkan kampanye bahwa urusan identitas pribadi dan orientasi gender serta seksual adalah urusan privat, bukan seharusnya negara ikut campur dan masyarakat turut memandangnya sebelah mata. Mereka juga selalu berusaha mencari legitimasi masyarakat bahwa identitas mereka tidak terlalu bisa dipersoalkan dan mereka harusnya bisa diterima layaknya orang normal dalam masyarakat.

Namun, kehadiran Lucinta Luna dengan sensasinya menjadi semacam duri dalam daging usaha mendapatkan pengakuan tersebut. Sekali lagi, anggapan ini berangkat ketika kita meletakkan Lucinta Luna memang benar-benar transgender dan pernah menjadi bagian dari komunitas transgender.

Sikap Luna yang terus-menerus membantah tudingan bahwa dirinya transgender, meskipun agak susah mengelak dari bukti dokumen dan seterusnya, menjadikan Luna terkesan malu dan berusaha menutupi identitasnya tersebut.

Bisa jadi kalau memang benar dia dulunya laki-laki dan kemudian dia mengakui, itu kurang baik bagi karirnya. Apalagi ada larangan dari KPI untuk mempromosikan LGBT di media. Maka yang bisa dilakukan adalah memainkan isu tersebut untuk semakin memperkuat popularitas dirinya. 

Soal transgender yang dalam alam budaya kebanyakan masyarakat Indonesia sangat tabuh dan sensitif untuk diobrolkan menjadi sangat prestise ketika dijadikan sebagai komoditas dunia hiburan. Nampaknya kajian tentang LGBT, khususnya transgender harus memperluas cakupan kajian terkait bahwa persoalan LGBT tidak melulu dalam bingkai politik identitas untuk meminta perlakuan yang adil di masyarakat, namun isu semacam ini bisa menjadi satu hal yang berharga ketika masuk dalam suasana di luar namun beririsan dengan dunia hiburan.

Seandainya Lucinta Luna bisa bersikap elegan seperti Dorce yang tidak malu mengakui bahwa dirinya adalah transgender, serta menampilkan diri rendah hati dan banyak berbuat baik secara sosial, nampaknya citra Luna maupun transgender akan lebih bagus di mata publik. Namun, nampaknya Luna tetap memelihara kontroversi itu dan memang tidak berniat untuk memperjuangkan identitas transgendernya jika memang ia benar-benar dulunya laki-laki.

Agaknya juga Luna sudah hijrah dengan menjauh beberapa rekan transgendernya ketika memutuskan untuk masuk dunia hiburan. Jadi memang tidak ada ikhtiar untuk memperjuangankan LGBT, semata-mata murni komersialisasi.

TERBARU DARI BERPIJAR

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post