Gambus Sabyan, Dari Musik Pop Hingga Hilangnya Dzauq Sholawat

Sabyan Gambus_Berpijar_Redaksi
Sabyan Gambus_Berpijar_Redaksi
Personil Sabyan Gambus (Foto: HitsBanget.com)
Nuansa musik islami dengan balutan pop merupakan faktor utama mengapa Sabyan bisa diterima begitu luas di masyarakat. Genre musik pop harus diakui merupakan genre musik yang paling mudah menghilangkan sekat-sekat bentuk musik islami lainnya yang terkesan tersegmentasi.

Sebuah grup musik Islami belakangan sangat populer di masyarakat, khususnya pengguna internet via media YouTube. Ya, mereka adalah Gambus Sabyan. Grup musik bernuansa islami yang beranggotakan Nisa (vokalis), Ayus (keybord), Wawan (perkusi), Kamal (darbuka), Tebe (gambus) dan Anisa Rahman (backing vocal).  

Ketika artikel ini ditulis, kehadiran Sabyan melalui YouTube dengan lagu “Ya Habibal Qolbi (Sabyan version)” telah menembus 173 juta kali ditonton. Lagu-lagu yang lain juga tak kalah fantastis dari segi jumlah viewer, seperti lagu “Ya Asyiqol by Sabyan” telah menembus 83 juta, “Rohman Ya Rohman” menembus 71 juta dan masih banyak yang lain lagi. Jumlah ini mungkin akan semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan semakin terkenalnya grup musik yang digawangi para remaja dari Jakarta tersebut.

Selain karena faktor pintar memanfaatkan media internet, salah satu daya tarik Sabyan adalah kelihaian mereka untuk melakukan berbagai perpaduan musik, terutama bagaimana menggabungkan nuansa Timur Tengah dengan cita rasa musik pop.

Sebagaimana diulas dalam beritatagar.id, konsep yang dibawah oleh grup musik ini terbilang unik. Dari segi alat musik yang digunakan, biasanya kelompok musik kasidah bergelut pada alat semacam gambus dan rebana. Sedangkan Sabyan dilengkapi alat musik yang cenderung sangat nge-pop. Misalnya, keybord, perkusi hingga biola.

Kemasan tampil visual dalam video clip yang di-upload dalam Sabyan Chanel juga menunjukkan kesan pop kekinian yang begitu kuat, tidak seperti lagu kasidah pada umumnya. Faktor paras cantik dan suara yang indah Khoirun Nisa atau akrab disapa Nisa, vokalis Sabyan, juga tidak bisa ditinggalkan sebagai daya tarik grup musik ini. Penampilan Nisa yang menyenandungkan syair-syair Arab dengan penampilan ala perempuan muslim modis semakin memperkuat kesan pop pada grup band ini.

Hal tersebut selaras dengan penuturan Wawan Novianto, seorang teman yang sudah lama berkecimpung di dunia musik Sholawat, yang menyatakan nuansa musik islami dengan balutan pop merupakan faktor utama mengapa Sabyan bisa diterima begitu luas di masyarakat. Genre musik pop harus diakui merupakan genre musik yang paling mudah menghilangkan sekat-sekat bentuk musik islami lainnya yang terkesan tersegmentasi.

Wawan mencontohkan bagaimana kesenian Hadrah al-Banjari (seni musik islami yang menggunakan rebana) atau Ishari (seni musik islami yang terdiri dari pemimpin, perawi/orang yang bercerita, penabuh rebana dan puluhan hingga ratusan penari) yang kebanyakan para penikmat musik tersebut berjumlah relatif terbatas pada kalangan tertentu yang memang menggemari dua kesenian itu.

Penampilan Sabyan bak musisi pop yang menerabas berbagai sekat di antara beragam jenis musik islami lainnya menjadikan mereka memiliki ceruk penggemar dari bermacam kalangan. Mahasiswa Lingustik UGM tersebut juga mengakui eksistensi dari Sabyan dapat mengancam seni tradisional islami lainnya. Satu hal lain yang tidak luput dari pengamantannya adalah banyaknya pelafadan dalam bahasa Arab yang kurang tepat dalam grup musik Sabyan ketika mencover beberapa sholawat.

 

Dzauq

Salah satu istilah yang cukup dikenal bagi penggiat seni sholawat adalah dzauq, kondisi hati menggapai nilai spiritual dalam melakukan perjalanan rohani melalui dzikir maupun sholawat. Mengingat beberapa cover lagu yang disajikan Sabyan adalah Sholawat (perlu dicatat, sebagian cover lagu berisi syair dalam bahasa Arab, bukan berisi sholawat yang berarti pujian atau doa kepada Nabi Muhammad), maka esensi di dalam pujian kepada Nabi pun turut tereduksi.

Hal tersebut disebabkan karena lantunan Sholawat diperlakukan sebagai budaya pop, tepatnya musik pop yang berarti diproduksi secara massal dengan tujuan menjangkau beragam selera khalayak umum. Berkurangnya kadar dzauq sebuah sholawat merupakan konsekuensi bersifat otomatis ketika sholawat didistribusikan kepada masyarakat dengan acuan standar musik dan penampilan yang cenderung populer. 

Kita bisa begitu mudah untuk menyepakati bahwa suara vokalis dan alunan musik Sabyan sangat indah. Begitu pun dengan visual video yang memperkuat kesan yang sangat menarik. Nilai positif poin tersebut menjadikan Sholawat sangat digemari masyarakat luas. Bahkan yang sebelumnya tidak mengenal sholawat, menjadi rajin karena pengaruh Sabyan. Di beberapa media malah memberitakan bahwa beberapa orang non-Islam pun turut menyukai Sabyan karena menampilkan lagu yang teduh (salah satunya di sini).

Persoalannya terletak bagaimana kita memperlakukan Sholawat tersebut. Seperti sudah disinggung sebelumnya, kesan pop yang lebih menonjol dengan “balutan” lantunan religi menjadikan penampilan Sholawat akan dinikmati sebagai sebuah lagu pop pada umumnya. Penyanyi yang cantik dan modis, iringan musik yang asyik dan dukungan gambar gerak yang kekinian sekali membuat pesan dan kesan utama tentang sholawat jadi kurang sampai. Atau paling tidak esensi sholawat telah tercampur begitu rupa sehingga sudah benar-benar bukan merupakan sholawat yang murni.

Jika ada yang berpendapat bahwa Gambus Sabyan menandai bahwa musik religi tidak akan surut peminat, pernyataan tersebut kiranya perlu dikoreksi. Persoalannya bukan pada aktualisasi nilai religi dalam musik, tapi bagaimana keselarasan nuansa religi harus menyesuaikan diri dengan tuntutan musik yang populer bagi masyarakat umum. Hal ini lah yang membuat dia nampak aktual.

Meskipun harus diakui, pemaknaan religi dalam musik harus pula tergantung subjek personal setiap orang, bisa saja sebuah lagu yang tidak menampilkan identitas religiusitas bisa mengandung makna keagamaan, maupun kadang sebuah genre yang sudah mengidentifikasikan dirinya sebagai musik religi malah tidak terasa hal tersebut. Tergantung bagaimana sebuah makna dipahami setiap orang.

Pilihannya, apakah kita menikmati bentuk musik Sholawat tradisonal yang bisa jadi lebih punya dzauq bagi yang mendengarkan, namun mulai ditinggalkan para remaja, atau mengkompromikan Sholawat dengan keinginan dan kekinian budaya pop namun kadang mereduksi makna sholawat itu sendiri?

TERBARU DARI BERPIJAR

About Author

Redaksi

Pandangan redaksi mengenai peristiwa yang dianggap penting dan aktual.


Related Posts

Write a response to this post