Relasi Tak Setara Antara Manusia dan Mesin dalam Film “True Skin” (Bagian 2)

Cyborg_AH Baskoro_Berpijar
Cyborg_AH Baskoro_Berpijar
Ilustrasi automasi/cyborg
Manusia di masa depan, tidak lagi perlu membutuhkan manusia lainnya, bahkan untuk urusan seks sekalipun. Tokoh utama misalnya, dari sekian banyak pilihan yang ada di tempat prostitusi (manusia dan cyborg), nyatanya dia lebih memilih membayar untuk berhubungan seks dengan cyborg.

Sutradara Stephan Zlotescu tidak mengandaikan film ini berada pada masa dimana semua orang telah berada pada kemajuan teknologi yang sama. Namun, film ini dengan sangat cerdas memilih mengandaikan film ini berada pada masa transisi dari masyarakat yang kita kenal hari ini menuju masyarakat cyborg.

Hal ini ditunjukkan pada saat tokoh utama melewati trotoar di sebuah jalan besar, setting lokasi masih menunjukkan bekas-bekas kota Bangkok hari ini, yaitu : padat dan ramai. Namun, hal-hal yang dijual adalah mesin-mesin cangkokan dan berbagai macam kecanggihan yang tidak ada di dunia hari ini.

Di saat itulah juga ditunjukkan para pengemis dan gelandangan yang tidak memakai mesin cangkokan apapun terpinggirkan dan terlupakan dari arus kehidupan yang berlangsung. Bahkan begitu emosional, sutradara Zlotescu menunjukkan adegan seorang gelandangan yang tidur di trotoar sedang dikerubungi oleh robot-robot kecil berbentuk serangga. Orang-orang berlalu lalang dan tidak ada yang memperhatikan.

Detik ke-56 mengawali dilema kemanusiaan di masa depan. Pada detik ini digambarkan seorang gelandangan yang terpaksa harus tergeletak tak berdaya karena kakinya buntung. Setelah itu, ditunjukkan juga seorang pengemis yang harus duduk dikursi roda karena kakinya juga tidak dapat berfungsi.

Di tengah kemajuan teknologi dan maraknya cangkok tubuh dengan mesin di masa depan, ternyata masih ada orang-orang yang harus pasrah dengan kondisi tubuhnya yang tidak menguntungkan. Bagaimana bisa? jawabannya sederhana, teknologi canggih tersebut hanya untuk kaum berpunya.

Ada sebuah perusahaan besar yang menguasai segala macam kecanggihan yang ada. Dalam film ini, perusahaan tersebut adalah G-Corps. G-Corps adalah salah satu dari perusahaan besar yang mengusai kecanggihan-kecanggihan tersebut. G-Corps dengan segala kepemilikan atas barang-barang canggih tersebut memiliki tagline : Producing the world’s best. Namun, secara bersamaan pula kaum-kaum miskin ini tidak merasakan kebermanfaatan G-Corps sama sekali.

Inilah watak korporasi bangsat. Mereka hanya melayani orang-orang yang memiliki uang. Pada sisi yang lain, selain melayani masyarakat yang memiliki uang, G-Corps secara tidak langsung juga menipu mereka. Persoalan ini akan dibahas kemudian.

Prostitusi juga tidak luput dari tangkapan sang sutradara. Sebagai permasalahan yang telah ada sejak jaman kuno, prostitusi memang selalu berkembang seiring jaman. True Skin menggambarkan bahwa prostitusi di masa depan tidak hanya menjajahkan manusia (perempuan, laki-laki, maupun ladyboy), namun juga cyborg.

Pada pandangan etika hari ini, tentu hal ini bertentangan. Jangankan berhubungan sex dengan mesin, berhubungan sex dengan sesama jenis saja sudah menjadi masalah. Hingga kini homoseksual masih digambarkan oleh media dan masyarakat sebagai kejahatan dan karenanya tidak boleh diberi ruang untuk berkembang. Pada masa depan, menurut film ini, hal itu terbantahkan.

Cyborg di masa depan juga dimanfaatkan untuk bisnis prostitusi. Dalam beberapa hal, bahkan Cyborg dapat mengalahkan sensasi yang didapat dari manusia (entah itu perempuan, laki-laki, ladyboy). Hal ini karena, pelanggan dapat menentukan sendiri bentuk cyborg yang diinginkan, termasuk kemampuan apa saja yang dimiliki. Build your own sex bot today. Hal ini tentu menjadi terobosan baru bagi orang-orang yang memiliki fantasi berlebih maupun yang telah bosan dengan sex yang biasa saja.

Persoalan gender akhirnya makin rumit. Orientasi seksual tidak hanya terbatas pada hubungan manusia dan manusia lainnya (entah homo atau hetero) namun lebih rumit karena melibatkan mesin. Tidak menutup kemungkinan, akhirnya hubungan semacam perkawinan dan keluarga bukan lagi hal yang sakral dan bahkan kehilangan keharusannya. Manusia di masa depan, tidak lagi perlu membutuhkan manusia lainnya, bahkan untuk urusan seks sekalipun. Tokoh utama misalnya, dari sekian banyak pilihan yang ada di tempat prostitusi (manusia dan cyborg), nyatanya dia lebih memilih membayar untuk berhubungan seks dengan cyborg.

Tokoh utama, adalah simbol dari masyarakat di masa depan. Tokoh utama diawal film  digambarkan sedang memilih kaki, dan kemudian berjalan-jalan dan lalu membeli mata. Ya,  mata! Seperti yang dijelaskan sebelumnya, semua bagian tubuh dapat dibeli, asal ada uang. Sesampai di rumah, tokoh utama lalu memasang mata barunya.

Apabila semua hal dapat dibeli, dibongkar pasang, ditambah dan dikurangi, seberapa besar manusia di masa depan menghargai dirinya? Seberapa besar pula, seseorang dapat berbeda dari yang lainnya? Pada akhirnya, Korporasilah yang menentukan segalanya.

Di akhir film, tokoh utama digambarkan sedang dikejar dan hendak dibunuh oleh beberapa agen. Dengan berbagai macam kecanggihan mesin yang ditanam pada tubuh tokoh utama, dia dapat melihat keberadaan agen-agen tersebut. Bahkan, jarak musuh dan kemungkinan waktu kematian si tokoh utama dapat dihitung. Namun, akibat dari berbagai kecanggihan tersebut, logika dan kemampuan alamiah otak dalam berpikir seolah dimatikan.

Segala sesuatunya diatur dan disediakan oleh mesin. Bahkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh tokoh utama untuk menyelamatkan diri. Segalanya dilakukan oleh mesin. Lebih parah lagi, manusia seolah tidak dapat membantah atau membuat kemungkinan lain dari yang telah disediakan oleh mesin.

Tokoh utama akhirnya memilih untuk melakukan kemungkinan terkuat yang dipilihkan oleh mesin, yaitu dengan cara mengupload memori. Upload memori mendapatkan kemungkinan 97,3 %. Inilah kecerdasan sutradara dalam memberikan statemen pada akhir filmnya. Upload memori adalah sebuah mekanisme asuransi untuk bertahan hidup. Di masa depan, asuransi jiwa dilakukan dengan cara mengupload memori hidupnya pada sebuah perusahaan asuransi.

Perusahaan ini akan menyimpan memori tersebut dan ketika pemiliknya telah mati, dia dapat menanamkan memori tersebut lagi dan si orang tersebut dapat merasa hidup kembali. Namun, resiko yang didapat adalah, tidak ada privasi yang dimiliki oleh orang yang telah melakukan asuransi. Segala hal dalam hidupnya telah dimiliki dan diketahui oleh perusaaan asuransi. Dengan mengklik tombol upload memori tersebut, maka manusia akan kehilangan esensi kemanusiaannya. Inilah kenapa, ketika tokoh utama mengklik tombol tersebut, layar menjadi gelap dan film selesai.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema

BACA JUGA

About Author

Agung Hari Baskoro

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema. Redaktur Sosial-Budaya Berpijar.co dan Koordinator Inti Klub Seri Buku. Kini berprofesi sebagai wartawan di Suara Surabaya.


Related Posts

Write a response to this post