Mengenal Bahaya “Digital Dementia”, Musuh Generasi Digital

Mengenal Bahaya “Digital Dementia”, Musuh Generasi Digital_AG Zaki_Berpijar
Mengenal Bahaya “Digital Dementia”, Musuh Generasi Digital_AG Zaki_Berpijar
Byun Gi-Won, seorang dokter asal Korea Selatan, mengatakan “Penggunaan perangkat smartphone dan game secara berlebihan memperlambat perkembangan otak yang seimbang”. Anak-anak harus diseimbangkan aktivitasnya dengan kegiatan yang menggerakkan anggota badan seperti olahraga.

Laporan dari e-Marketer memperkirakan jumlah pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2018 mencapai lebih dari 100 juta dari penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta orang. Sebelumnya, yaitu pada tahun 2015, pengguna smartphone hanya mencapai 55 juta orang (okezone 17 Februari 2018). Laporan tersebut mengindikasikan besarnya pasar smartphone di Indonesia.

Sesuai dengan namanya, yakni “ponsel pintar,” rasanya tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh benda ini. Sebagai salah satu penggunanya, satu hari pun tidak terlewat tanpa berinteraksi dengan perangkat ini. Ia telah banyak membantu penggunanya dalam urusan menghitung, narsisme, hiburan, penyajian berita, komunikasi, dan seterusnya.

Manusia sangat dimanjakan oleh kecerdasan smartphone ini sehingga tidak jarang mengabaikan kehidupan sosialnya. Mengutip dari laman Fidalgo Island Health Center (t.t.), rata-rata pengguna melihat/membuka smartphone mereka adalah 150 kali dalam sehari. Tiap kali membuka perangkat tersebut, lantas tidak membuat mereka langsung menutupnya kembali.

Dalam beberapa kesempatan, mereka dapat menggunakan perangkat tersebut untuk, misalnya, memberikan komentar di sosial media, menonton episode terbaru dari serial film favorit, membaca dan mengirim Surel (surat elektronik), dan lain sebagainya.

Kalau begitu, berapa waktu yang disediakan untuk keluarga, teman, maupun tetangga?

Semakin anda bergantung kepada smartphone, peluang terkena gejala “digital dementia” semakin melebar. Digital dementia merupakan sebuah penyakit mental (mental illness) yang memiliki cikal bakal di Korea Selatan. Pada awalnya, ia merupkan adiksi kepada internet yang menimpa anak-anak maupun orang dewasa di sana. Adiksi tersebut bahkan telah ada sejak tahun 1990-an (Ryall, 2013).

Istilah itu muncul dalam buku berjudul “Digital Dementia” karangan seorang ilmuan asal Jerman bernama  Manfred Spitzer pada tahun 2012. Buku tersebut memberikan peringatan kepada para orang tua agar tidak membolehkan anak-anak mereka berlarut-larut bermain dengan perangkat elektronik (Ibid).

Karena merupakan penyakit mental, digital dementia memengaruhi otak. Inilah yang dikhawatirkan oleh Spitzer dapat menyerang anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena mereka memiliki otak yang masih mengalami perkembangan dan belum matang. Berlarut-larut dengan bermain game, menonton film, dan chatting merupakan lampu merah bagi perkembangan otak anak.

Byun Gi-Won, seorang dokter asal Korea Selatan, mengatakan  “Penggunaan perangkat smartphone dan game secara berlebihan memperlambat perkembangan otak yang seimbang” (Ibid). Anak-anak harus diseimbangkan aktivitasnya dengan kegiatan yang menggerakkan anggota badan seperti olahraga.

Perlu diketahui bahwa digital dementia sangat mungkin menimpa orang dewasa. Kuncinya adalah penggunaan perangkat elektronik, terutama smartphone, yang tidak teratur sehingga melampaui batas.

Hal itu tentu saja dipengaruhi oleh kebutuhannya yang sangat bergantung pada perangkat elektronik. Kehidupannya didominasi oleh aktivitas di dunia maya daripada di dunia nyata. Komunikasi dengan orang-orang dekat maupun jauh ia lakukan via Messenger, Line, Whatsapp, dan lainnya. Olahraga? Rasanya sudah cukup bilamana puas bermain ML (Mobile Legend). Berita? Twitter dan Facebook sudah menyajikan!

Dengan demikian, otak sudah menjadi sasaran empuk digital dementia. Jessica Gwinn (2013) menyebutkan bahwa dampak digital dementia terhadap menurunnya fungsi kognitif terlihat sama dengan dampak yang biasanya diakibatkan oleh kecelakaan yang menimpa kepala atau penyakit psikiatris. Selain menurunnya fungsi kognitif, digital dementia juga mengurangi kemampuan menyimpan memori.

Apakah anda merasa mudah lupa? Ibu meminta anda untuk mematikan air di jam tertentu dan anda harus diingatkan kembali? Anda kesulitan menghafal nomor ponsel kedua orang tua maupun nomor anda sendiri? Demikianlah beberapa contoh dari efek digital dementia. Kemampuan kognitif dan menyimpan memori anda telah dirampas oleh kepintaran smarphone anda. Itulah salah satu akibat dari ketergantungan yang berlebih terhadap perangkat elektronik seperti smartphone.

Lantas, apakah ada cara untuk bisa mengembalikan otak anda seperti sedia kala?

Tentu saja, cara yang utama adalah dengan membatasi penggunaan perangkat elektronik. Kemudian, terdapat cara-cara untuk melatih otak sehingga dapat menangkal digital dementia dan meningkatkan kemampuan otak. Jim Kwik, CEO dari Kwik Learning, merupakan seseorang yang bergerak dalam urusan pelatihan otak. Ia memberikan beberapa solusi agar dapat meninigkatkan fungsi menyimpan memori dari otak.

Tony Bradley (2017) menceritakan salah satu alternatif solusi yang ditawarkan oleh Kwik. Ia merupakan sebuah teknik yang terdiri dari tiga langkah bernama “M.O.M.” Nama tersebut adalah singkatan dari motivation, observation, dan mechanics. Teknik ini diawali dengan apa yang membuat anda termotivasi untuk mengingat suatu hal. Berikan alasan yang kuat agar anda bersemangat untuk mengingatnya.

Pada langkah kedua yaitu observasi, anda diharuskan untuk fokus terhadap apa yang ingin disimpan (diingat). Jangan sampai anda mendengarkan materi dari dosen dan bersosial media pada waktu yang sama. Langkah yang terakhir mekanik, merujuk pada alat-alat tambahan yang dapat anda gunakan untuk meningkatkan fokus, melatih otak, dan membangun memori.

Jika anda pengguna smartphone, gunakanlah dengan bijak. Jangan sampai kemampuan kognitif dan menyimpan memori anda tergadaikan dengan perangkat elektronik hanya karena rasa malas yang menimpa diri anda. Usahakan membatasi penggunaan perangkat elektronik agar anda tidak banyak bergantung kepadanya.

Anda dapat menyediakan waktu khusus untuk membaca, berolahraga, atau bercengkerama dengan teman dan keluarga. Ingatlah bahwa mereka merupakan bagian yang nyata dalam hidup anda.

 

Rujukan    

Gwinn, Jessica. 2013. “Overuse of Technology Can Lead to ‘Digital Dementia’”. Alzheimers.net. Available from: https://www.alzheimers.net/overuse-of-technology-can-lead-to-digital-dementia/ [Accessed 30 June 2018].

Tony, Bradley. 2017. “Dealing with the Effects of Digital Dementia”. Forbes. Available from: https://www.forbes.com/sites/tonybradley/2017/06/19/dealing-with-the-effects-of-digital-dementia/ [Accessed 30 June 2018]

 Staff. 2017. “Digital Dementia: The Dark Side of Technology”. Fidalgo Island Health Center. Available from: http://fidalgoislandhealthcenter.com/digital-dementia-the-dark-side-of-technology/ [Accessed 30 June 2018].

Ryall, Julian. 2013. “Surge in ‘Digital Dementia’”. Telegraph. Available from: https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/southkorea/10138403/Surge-in-digital-dementia.html [Accessed 30 June 2018].

TENTANG PENULIS

A Ghulam Zaki adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi di FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

A. Ghulam Zaki

A. Ghulam Zaki adalah seorang mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post