Modernitas, Pendakwah Baru, dan Fatwa Internet serta Ancamannya Bagi Otoritas Keagamaan Tradisional (Bagian 2)

Modernitas, Pendakwah Baru, dan Fatwa Internet serta Ancamannya Bagi Otoritas Keagamaan Tradisional (Bagian 2)_DDJ_Berpijar
Modernitas, Pendakwah Baru, dan Fatwa Internet serta Ancamannya Bagi Otoritas Keagamaan Tradisional (Bagian 2)_DDJ_Berpijar
Ustadz Abdul Somad (Foto: Eramuslim)
Lebih jauh lagi, para pemuda muslim yang sangat menggandrungi para pendakwah tersebut bukan hanya terinspirasi untuk menjalankan ajaran dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun rajin membagi pengajian-pengajian di dunia maya.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Modernitas, Pendakwah Baru, dan Fatwa Internet serta Ancamannya Bagi Otoritas Keagamaan Tradisional“, saya menyoroti dilema keterkaitan antara modernitas dan agama yang kerap kali dianggap bertententangan, namun nyatanya malah terjadi keselarasan dua hal tersebut dalam satu identitas yang diemban kaum muda Islam di Indonesia.

Akrobat dua identitas yang kadang menyatu dan kadang kala bersifat hibrid tersebut tidak lepas dari jasa para pendakwah baru yang muncul via internet. Mereka lah yang menjadikan kenikmatan mengkonsumsi budaya trend menjadi terlegitimasi oleh dasar agama (Heryanto, 2018). Meski dalam hal-hal tertentu menolak sama sekali, misalnya riba, LGBT dan lain-lain.

Mereka adalah makhluk unik yang datang dari luar organisasi keagamaan arus utama, seperti NU, Muhammadiyah maupun MUI. Konsekuensi dari popularitas dan pengaruh mereka dalam kefasihan berbicara agama menjadikan mereka menjadi ancaman tersendiri bagi otoritas keagamaan, baik NU, Muhammadiyah, MUI dan organisasi keagamaan lainnya yang telah mapan sebelumnya, khususnya terkait kekuatan penerimaan fatwa keagamaan di kalangan pengguna internet masyarakat menengah perkotaan (Hosen, 2008).

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengemukakan sebuah tambahan argumen yang memperkuat bahwa difusi pengaruh agama melalui perkembangan teknologi internet, tentunya dengan agen para pendakwah baru, memiliki pengaruh yang sangat signifikan bagi kalangan pemuda urban. Bahkan, keterikatan dan kepatuhan mereka terhadap para ustaz Digital friendly melampaui ikatah-ikatan keluarga dan pendidikan formal yang mereka tempuh, termasuk pula melampaui organisasi keagamaan.

The Power of Ustaz Digital Friendly

Center for The Study of Religion and Culture (CRSCS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama sama dengan beberapa pihak, diantaranya PPIM UIN Jakarta dengan dukungan UNDP dan CONVEY melakukan penelitian yang kemudian hasilnya dibukukan dengan judul “Kaum Muda Muslim Milenial: Konservatisme, Hibridasi Identitas, dan Tantangan Radikalisme” (2018).

Penelitian tersebut dilaksanakan pada September 2017 hingga Januari 2018 yang melibatkan para pemuda-pemudi muslim dengan rentang umur 15-24 tahun yang tersebar di 18 Kabupaten di 14 provinsi di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Balikpapan, Banda Aceh, Makasar dan lain-lain. Para pemuda tersebut dianggap mewakili aktifis Islam atau yang berkecimpung dalam pengurus dari mulai rohis maupun Osis di sekolah menengah hingga Ormek (organisasi mahasiswa ekstra kampus) maupun Ormik (organisasi mahasiswa intra kampus) seperti BEM di kampus-kampus.

Salah satu hasil temuannya mengungkapkan bahwa ustaz paling dikenal oleh publik dan generasi muda adalah Aa Gym, Yusuf Mansur, (alm) Jefry al-Bukhory dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa nama Ustaz yang dikenal luas karena mereka viral di media sosial, sebut saja Hanan Attaki, Adi Hidayat, Abdul Somad, Khalid Basalamah, dan Felix Siaw.

Nama lain yang cukup dikenal masih merujuk pada pendakwah lokalitas yang rajin mengunggah pengajiannya di internet, seperti Evie Efendi dan Jujun Junaidi di Jawa Barat serta Salim A Fillah di Yogyakarta.

Ada beberapa alasan yang membuat para Ustaz Internet tersebut sangat hits di kalangan pemuda Muslim. Diantaranya, pertama. Kemudahan untuk mengakses dakwah mereka melalui internet dalam genggaman tangan.

Kedua, konten ceramah dan penampilan pendakwah lebih menarik serta dapat memahami psikologis anak muda dengan berbagai persoalannya, seperti tuntutan berprestasi, pacaran dan seterusnya. Penjelasan ini hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Ariel Heryanto (2018) yang saya kutip dalam tulisan sebelumnya.

Masih menurut penelitian tersebut, bahkan menurut beberapa informan dalam penelitian mengungkapkan para pendakwah internet tersebut bukan hanya menambah asupan materi keagamaan saja, tapi juga mampu mengubah sikap keagamaan.

Sebagaimana yang dialami Shekila Zahra, official admin Niqob Squad Jakarta, yang memutuskan bercadar setelah mendengar video ceramah Ustaz Kholid Basalamah di Youtobe yang menjelaskan karakter calon perempuan penghuni surga.

Lebih jauh lagi, para pemuda muslim yang sangat menggandrungi para pendakwah tersebut bukan hanya terinspirasi untuk menjalankan ajaran dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun rajin membagi pengajian-pengajian di dunia maya.

Pada akhir kesimpulannya dalam bab “Media Sosial dan Reduksi Pembelajaran Keagamaan”, penelitian tersebut menyatakan, pengetahuan yang didapat dari jagat media maya telah benar-benar memproduksi kesadaran dan perilaku bagi para pemuda.

Temuan lain berkaitan dengan hal tersebut adalah bagaimana kekuatan arus agama melalui internet telah benar-benar mereduksi peran keluarga dan sekolah formal dalam membentuk pemahaman pemuda muslim.

Hal terakhir yang diungkap di atas wajar mengingat secara praktek memang pendidikan orang tua benar-benar berlangsung ketika seorang masih kecil sebelum kemudian dititipkan kepada lembaga pendidikan.

Di sekolah pendidikan pun, yang notabennya bukan sekolah keagamaan maupun bukan dalam lingkup pesantren, komposisi materi keagamaan terasa sangat kurang sebagai pedoman dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern yang begitu cepat berlangsung. Kurikulum yang digunakan hanya bisa menyentuh wilayah permukaan dari apa yang dibutuhkan dari kehidupan mental modern para remaja.

Akhirnya, di sini kembali lagi, para ustaz internet menjadi semacam mentor kerohanian yang mengisi kehampaan akan kebutuhan jiwa anak muda dalam mengarungi kehidupan.

Temuan menarik yang saya kira patut untuk dikutip adalah tolok ukur popularitas mereka yang melampaui tokoh-tokoh organisasi Islam mainstream di Indonesia. Beberapa tokoh agamawan yang masih ada tidak terlalu banyak dibicarakan atau bahkan tidak dikenal oleh para remaja muslim.

Misalnya figur dari Muhammadiyah yakni Haedar Nashir maupun dari NU seperti Said Aqil Siradj tidak banyak disebut. Bahkan tokoh sekelas ketua MUI Kyai Ma’ruf Amien yang memiliki pengaruh sosial politik luar biasa tidak begitu dikenal. Dari pemuda NU lebih banyak mengenal sosok mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan seorang ulama kharismatik dari Rembang, yakni Kiai Musthafa Bisri (Gus Mus) yang sebenarnya tidak masuk kategori Ustaz viral.

Saya teringat perkataan salah satu pengamat teroris di salah satu stasiun televisi swasta yang menyatakan, berbagai kutukan bagi yang dilakukan MUI, NU maupun Muhammadiyah kepada aksi teror memang baik, namun kurang berdampak luas untuk mencegah bias informasi tentang kejadian teror agar tidak dianggap sebagai “pengalihan isu”. Ustaz-ustaz viral di Indonesia yang sebenarnya perlu ditunggu responnya kepada publik. Jika mereka mengatakan bahwa bom adalah pengalihan isu semata, di media sosial akan ramai mengikuti statement itu.

Pernyataan tersebut dapat dibenarkan mengingat hari ini para pendakwah milenial inilah yang lebih diikuti oleh para pengguna media sosial dibanding pemegang otoritas tradisional.

Hal demikian menandai sebuah massa dimana kebenaran ajaran agama, melalui perkembangan internet, telah menjadikan sifat dari kebenaran bersifat menyebar dan bisa digunakan siapa saja untuk bisa tampil ke permukaan, tidak lagi bersifat memusat terhadap otoritas tradisional.

TENTANG PENULIS

Dian Dwi Jayanto adalah Pemimpin Redaksi Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Dian Dwi Jayanto

Dian Dwi Jayanto adalah Komisaris Berpijar.co dan alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga. Kini menempuh studi S-2 Politik dan Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada.


Related Posts

Write a response to this post