Akankah Perancis Gagal (Lagi) di Moskow?: Deja Vu Kegagalan Bersejarah Napoleon

france-national-team-world cup2018_Berpijar_Faisal JA
france-national-team-world cup2018_Berpijar_Faisal JA
Tim Nasional Prancis di Piala Dunia 2018 (Foto: AP via The Telegraph)
Dua ratus enam tahun kemudian, Perancis datang lagi ke Moskow. Tidak dibawah komando Napoleon, tapi Didier Deschamps, kapten Perancis saat juara Piala Dunia 1998. Mimpi yang diusung pun sama: kuasai dunia. Bedanya, jika Napoleon melakukannya dengan berperang dan intrik politik, maka Deschamps akan memimpin Perancis menguasai dunia melalui sepak bola.

Akankah Perancis Gagal (Lagi) di Moskow?: Deja Vu Kegagalan Bersejarah Napoleon

Pada periode akhir abad 18 hingga awal abad 19, nama Napoleon Bonaparte begitu termasyhur. Ia adalah seorang figur berpengaruh di dunia saat itu. Ia punya reputasi mentereng berkat capaian kariernya di militer dan juga politik.

Ia dikenal sebagai seorang tentara yang cerdas, yang membuat karier militernya begitu moncer. Ia memperoleh kenaikan pangkat dengan cepat, dan di usia 24 tahun, ia sudah diangkat sebagai jenderal.

Karier militer yang moncer secara otomatis memuluskan karier politiknya. Di usia 30 tahun, ia pun berhasil merancang kudeta tak berdarah yang membubarkan dewan eksekutif Perancis pasca Revolusi, mengubah bentuk pemerintahan menjadi konsul dan mengangkat dirinya sendiri sebagai konsul pertama Republik Perancis. Popularitasnya yang sangat tinggi di kalangan rakyat Perancis memudahkannya untuk menobatkan dirinya sebagai Kaisar Perancis pada tahun 1804.

Kekuasaan  yang ia raih di usia yang sedemikian muda tidak lantas membuatnya cepat puas. Ia adalah seorang yang sangat ambisius. Ambisi berikutnya tidak main-main: menguasai daratan Eropa di bawah panji kekuasaan Perancis. Dengan menguasai Eropa, maka secara otomatis akan menjadikannya sebagai penguasa dunia, karena negara-negara Eropa saat itu memiliki banyak koloni di hampir seluruh penjuru dunia.

Monarki-monarki besar di daratan Eropa pun ia tundukkan dan ia paksa sebagai sekutu, seperti Prusia (yang dianggap sebagai cikal bakal negara Jerman modern), Austria, dan Rusia. Hanya tersisa Inggris sebagai satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak berhasil ia tundukkan, dan ia hanya mampu memblokade jalur perdagangan Inggris.

Ambisinya hampir terpenuhi, namun keputusannya mengeksekusi mati Louis Antoine de Bourbon, salah satu aristokrat yang tersisa pasca Revolusi Perancis, membuat Tsar Alexander I dari Rusia waspada. Ia pun berbalik melawan Napoleon, dan secara sepihak membatalkan kesepakatan blokade dagang dengan Inggris.

Napoleon pun marah, dan ia mengirimkan angkatan perangnya dalam jumlah besar untuk menginvasi Rusia pada 24 Juni 1812. Micheal Clodfelter dalam bukunya Warfare and Armed Conflicts: A Statistical Encyclopedia of Casualty and Other Figures, 1492-2015 (terbitan keempat, tahun 2017) mencatat sebanyak 680.000 pasukan dan staf angkatan perang dikirim oleh Napoleon untuk menginvasi Rusia, dan tercatat sebagai kekuatan perang terbesar saat itu,

Pada 14 September 1812, Napoleon tiba di Moskow hanya untuk menjumpai bahwa Moskow telah kosong lantaran pasukan Rusia mundur dan seluruh penduduk kota telah dievakuasi. Ternyata itu semua hanya jebakan. Esok pagi,  pasukan Rusia membakar Moskow dan menjadikan kota tersebut sebagai lautan api, dan markas besar tentara Perancis turut serta terbakar habis. Musim dingin Rusia yang begitu ganas dan kelaparan yang menerjang pasukannya, menyebabkan Napoleon menarik pasukan Perancis dari Moskow sebulan kemudian.

Di tengah perjalanan kembali ke Perancis, nyatanya pasukan Rusia telah menyiapkan serangan-serangan kejutan. Kelaparan, serta suhu dingin Rusia yang begitu ganas menyebabkan pasukan Perancis yang biasanya begitu perkasa menjadi loyo. Konon Perancis kehilangan lebih dari 500.000 pasukannya.

Kegagalan Napoleon menguasai Rusia menjadi titik balik kehidupannya. Prusia dan Austria pun berbalik melawan Perancis, dan kekalahan demi kekalahan dialami oleh pasukan Perancis. Perancis pun berbalik dikuasai oleh musuh, dan Napoleon pun diasingkan ke Elba. Ia berhasil kabur dan kembali ke kekuasaan, namun hanya untuk menerima kenyataan bahwa Perancis kalah di Pertempuran Waterloo. Inggris pun membuangnya ke Pulau Saint Helena, dan ia pun meninggal enam tahun kemudian di usia 51 tahun.

Penampilan Moncer versus Deja Vu Sejarah

Dua ratus enam tahun kemudian, Perancis datang lagi ke Moskow. Tidak dibawah komando Napoleon, tapi Didier Deschamps, kapten Perancis saat juara Piala Dunia 1998. Mimpi yang diusung pun sama: kuasai dunia. Bedanya, jika Napoleon melakukannya dengan berperang dan intrik politik, maka Deschamps akan memimpin Perancis menguasai dunia melalui sepak bola. Kali ini bukan Rusia sendiri yang akan menjadi batu sandungannya, namun juga datang dari rumpun bangsa Slavia, yakni Kroasia.

Timnas Perancis datang ke Rusia dengan status unggulan juara Piala Dunia 2018. Dengan skuat termuda kedua (rata-rata umur 26 tahun) di Piala Dunia 2018, skuat Perancis dapat disebut sebagai salah satu skuat yang kemampuannya merata di semua lini. Dari bawah mistar gawang hingga lini depan, selalu terdapat nama-nama mentereng. Pilihan line up hingga skuat cadangan, kualitasnya sama mewahnya.

Di bawah mistar gawang terdapat nama Hugo Lloris, kiper utama Tottenham Hotspurs, merangkap sebagai kapten. Lini belakang terdapat duet Raphael Varane-Samuel Umtiti, dua bek tengah yang merupakan pilihan utama di klub mereka masing-masing yang saling bersaing di Liga Spanyol (Varane di Real Madrid, Umtiti di Barcelona).

Di tengah terdapat nama N’Golo Kante, pemain terbaik Liga Inggris musim 2016/2017 dan pilihan utama Antonio Conte di Chelsea, serta Paul Pogba, yang walaupun sejak pindah ke Manchester United sebagai pemain termahal dunia (sebelum digeser Neymar) belum menampilkan penampilan terbaiknya di klub, namun nama besar dan skill individunya tidak boleh dilupakan begitu saja. Sedangkan di lini depan, ada nama Antoine Griezmann yang sering dikaitkan dengan Manchester United dan Barcelona, serta bintang muda Kylian Mbappe.

Skuat Perancis pun juga merata secara umur dan pengalaman. Lloris sebagai kapten merupakan pemain tertua dengan usia 32 tahun. Pogba, Griezmann, Kante merupakan pemain-pemain yang sedang menginjak usia keemasannya sebagai pesepakbola. Sedangkan Ousmane Dembele dan Kylian Mbappe adalah pemain Perancis yang terbilang masih sangat muda dengan usia masing-masing 21 tahun dan 19 tahun.

Walaupun lolos sebagai juara grup C, namun penampilan di fase grup dianggap oleh banyak pihak tidak maksimal. Akan tetapi, di babak gugur Perancis menunjukkan kemampuan sesungguhnya. Di fase perdelapan final, Argentina mereka kalahkan 4-3 setelah sempat tertinggal 1-2. Di fase perempat final, Uruguay yang di fase sebelumnya sukses menyingkirkan Portugal, mereka lumat dengan skor 2-0. Di semifinal, Belgia yang berstatus kuda hitam dengan komposisi pemain bintang dan sukses menyingkirkan Brasil di perempat final, mereka kalahkan dengan skor 1-0.

Dengan kemampuan yang mereka tunjukkan di babak gugur dengan mengalahkan tim-tim mentereng, di atas kertas Perancis dapat mengalahkan Kroasia. Bursa-bursa taruhan ternama pun menempatkan Perancis sebagai unggulan. Lagipula, ini adalah final Piala Dunia pertama Kroasia, dan dalam ranking FIFA, mereka pun hanya menempati ranking 20, sedangkan Perancis menempati ranking 7.

Secara komposisi pemain pun Perancis bisa dibilang lebih superior dibanding Kroasia. Kroasia boleh memiliki nama sekelas Luka Modric, Ivan Rakitic, Mario Mandzukic, dan Ivan Perisic. Namun tentu saja, komposisi skuat utama dan cadangan yang sama  mewahnya tak dimiliki oleh Kroasia.

Namun jika melihat keseruan Piala Dunia kali ini, dimana tim-tim besar banyak yang tersungkur di hadapan tim-tim kecil, rasanya membuat Perancis harus was-was. Penampilan Kroasia di fase grup pun terbilang superior. Mereka sukses melalui semua pertandingan di fase grup dengan kemenangan, bahkan Argentina saja mereka lumat tiga gol tanpa balas.

Di babak gugur, penampilan dan mental Kroasia benar-benar teruji. Babak gugur semuanya mereka lalui melalui di luar waktu normal yang menunjukkan betapa dahsyatnya ketahanan mereka. Di babak semifinal, walaupun tertinggal 0-1 dari Inggris, namun mereka menyerbu pertahanan Inggris tanpa henti, dan mereka sukses membalikkan kedudukan menjadi 2-1 lewat gol Ivan Perisic di menit 68 dan Mario Mandzukic di menit 109.

Satu lagi, sepertinya deja vu sejarah pun dapat menjadi batu sandungan bagi Perancis. Jerman yang datang ke Piala Dunia 2018 sebagai juara bertahan dan calon kuat juara, nyatanya harus angkat koper lebih awal setelah hanya menempati peringkat buncit di Grup F, bahkan di luar prediksi kalah dari Meksiko 0-1 dan Korea Selatan 0-2.  Banyak pihak yang beranggapan bahwa kegagalan Jerman di Rusia menjadi bukti deja vu sejarah, ketika pada Perang Dunia 2, Jerman pun juga gagal menguasai Rusia dalam Operasi Barbarossa.

Nah, sepertinya Perancis pun juga dihantui oleh deja vu kegagalan Napoleon menguasai Moskow. Apakah kemudian deja vu sejarah yang dialami Jerman terjadi juga pada Perancis di Stadion Luzhniki Moskow? Namun terlepas dari hantu deja vu sejarah, partai final Piala Dunia 2018 menarik untuk ditunggu para penikmat sepak bola. Tim dengan generasi emas di dalamnya berusaha menambah koleksi trofi Piala Dunia akan menghadapi tim yang berusaha mengukir sejarah sebagai negara baru peraih trofi Piala Dunia. Kita tunggu saja.

TENTANG PENULIS

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

BACA JUGA

About Author

Muhammad Faisal Javier Anwar

Muhammad Faisal Javier Anwar adalah seorang mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post