Relasi Tak Setara Antara Manusia dan Mesin dalam Film “True Skin” (Bagian 3-Habis)

Kemanusian makin hilang di masa cyborg. Orang menjadi makin apatis dengan dirinya. Pada akhirnya manusia tidak merasa membutuhkan orang lain. Hanya mesin-mesin itulah yang dibutuhkannya.

True Skin_AH Bas_Berpijar
True Skin_AH Bas_Berpijar
Kemanusian makin hilang di masa cyborg. Orang menjadi makin apatis dengan dirinya. Pada akhirnya manusia tidak merasa membutuhkan orang lain. Hanya mesin-mesin itulah yang dibutuhkannya.

Dilema-dilema

Telah sejak jaman dahulu, manusia (terutama para penguasa) berusaha untuk mencari cara hidup abadi. Dari sejak ilmu-ilmu kesehatan dan teknologi belum begitu maju, hasrat manusia untuk dapat abadi, terbebas dari segala macam penyakit, dan memiliki kekuatan lebih telah ada. Kita bisa melihat banyak kisah tentang para penguasa yang memerintahkan rakyatnya untuk mencarikan ramuan, air, atau benda apa pun itu yang dapat membuatnya abadi.

Manusia-manusia dalam film-film bertema cyborg juga mengalami fenomena yang sama. Ada orang-orang yang menginginkan keabadian. Orang-orang ini biasanya digambarkan dengan para pemilik modal yang memiliki kekayaan luar biasa namun penuh hasrat kekuasaan dan keabadian. Para pemilik modal ini lalu meminta ilmuwan-ilmuwan untuk mencarikan cara hidup abadi. Cyoborglah solusinya. Manusia-manusia ini lalu dicangkok untuk bisa hidup abadi dan bebas dari penyakit.

Inilah ketakutan terbesar dari para cyborg, ketakutan akan kematian dan penyakit.  Mereka seolah-olah merasa bahwa dengan bantuan mesin, maka kehidupan yang dilaluinya akan lebih mudah dan menyenangkan. Betapa tidak?! Manusia tidak akan merasakan kesakitan.

Ketika dahulu misalnya, seseorang yang kehilangan kaki karena suatu sebab tertentu, akan merasakan kehilangan kehidupannya. Dia harus menggunakan alat bantu berupa kursi roda maupun tongkat. Namun, pada era cyborg, manusia hanya tinggal membeli kaki baru yang dapat dia gunakan seperti kaki biasa.

Tidak ada ketakutan akan hidup cacat, penyakit, dan bahkan kematian. Manusia akhirnya merasa sangat membutuhkan mesin-mesin ini. Manusia pada akhirnya sangat tergantung pada penggunaan mesin-mesin ini. True Skin dengan gamblang menjelaskan persoalan ini. Dalam sebuah narasi lewat voice over, film ini menjelaskan :

"No one wants to be like them.
Entirely organic.
No one wants to get sick, and old, and die."

Namun, apa memang kehidupan macam ini yang ideal? Kehidupan yang jauh dari ketakutan akan mati, sakit, dan jadi tua? Rasa-rasanya sampai pada pemahaman ini, semuanya terdengar sangat ideal. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh manusia macam ini. Namun, manusia adalah manusia ketika dia memiliki kemanusiaan. Kemanusiaan menjadi syarat utama seorang manusia dalam disebut Human. Human mensyaratkan tidak hanya pada bentuk fisik dan fungsi saja, namun juga adanya kemanusiaan.

Film True Skin misalnya, menunjukkan beberapa adegan yang mencerminkan hilangnya kemanusiaan di masa depan. Pengemis dan gelandangan yang dibiarkan telantar di pinggir jalan, pengemis dan gelandangan yang cacat namun tidak mampu membeli mesin, berhubungan sex dengan mesin, hingga pemikiran yang telah diarahkan oleh mesin.

Kemanusian makin hilang di masa cyborg. Orang menjadi makin apatis dengan dirinya. Pada akhirnya manusia tidak merasa membutuhkan orang lain. Hanya mesin-mesin itulah yang dibutuhkannya.

Kehilangan kemanusiaan adalah ketakutan yang sungguh besar bagi manusia. Manusia akan tercerabut rohnya sebagai manusia apabila tidak memiliki kemanusiaan. Manusia akan tidak memiliki perbedaan dengan robot apabila beralih menjadi tidak manusiawi.

Dari sekian banyak dilema yang ada, hal ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan perusahaan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, perusahaan menjadi sangat sentral karena ialah yang mendanai dan mengatur penciptaan cyborgcyborg ini. Setelah teknologi ini dibuat oleh para ilmuwan, maka barang tersebut dijual ke masyarakat.

Masyarakat tentu membeli inovasi semacam ini. Namun lambat laun, akibat kemampuan dirinya yang tidak pernah digunakan karena bergantung pada mesin, akhirnya memiliki ketergantungan besar. Pada tahap inilah perusahaan memiliki pengaruh dan penguasaan yang kuat terhadap manusia. Manusia akhirnya dikendalikan oleh mesin-mesin ini.

Pengendalian yang ditunjukkan oleh film in misalnya, pada saat tokoh utama mengalami masalah, dia langsung diberi pilihan-pilihan lengkap dengan prosentase keberhasilannya. Manusia yang menggunakan tinggal memilih dari pilihan yang ada. Bisa dibayangkan bagaimana lemahnya manusia pada masa cyborg.

 

Penutup

Pada dasarnya, segala macam inovasi dan perkembangan teknologi adalah hal yang baik bagi manusia. Pekerjaan dan masalah-masalah yang ada dapat dipermudah penyelesaiaannya. Namun, apabila akibat dari teknologi tersebut adalah hilangnya kemanusiaan, maka hal ini tentu tidak baik bagi manusia.

Cyborg menjadi salah satu dilema tersebut. Mau tidak mau, arah untuk menuju kesana semakin nyata. Film-film sci-fi cyborg sebenarnya berusaha untuk mengingatkan hal-hal yang mungkin terjadi di masa itu. Oleh karenanya, seringkali film selalu digambarkan pada pola-pola yang sama. Peringatan, intinya seperti itu.

Cyborg haruslah dipandang hanya sekedar sebagai pembantu kehidupan. Pemikiran dan keputusan tetaplah manusia yang menentukan. Menyerahkan sepenuhnya pada mesin, termasuk pembuatan keputusan adalah hal yang tidak baik. Manusia bagaimana pun juga harusnya tetap ada di atas mesin. Manusialah yang mengendalikan mesin, tidak sebaliknya.

 

Rujukan

Hayles, Katherine. 1996. “The Life Cycle of Cyborgs: Writing the Posthuman”. In The Cyborg Handbook, Gray, Chris Hables (ed.). New York: Routledge.

Hayles, Katherine. 1999. How We Became Posthuman: Virtual Bodies in Cybernetics, Literature and Informatics. Chicago: The University of Chicago Press.

Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

TENTANG PENULIS

Agung Hari Baskoro adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Airlangga. Ia juga seorang pegiat sastra dan sinema

BACA JUGA

Write a response to this post