Sepak Bola dan Piala Dunia, Can subaltern speak in Football?

Sepak Bola dan Piala Dunia, Can subaltern speak in Football_Rizky Bangun Wibisiono_Berpijar
Sepak Bola dan Piala Dunia, Can subaltern speak in Football_Rizky Bangun Wibisiono_Berpijar
Pitch Invader yang menerobos masuk ke lapangan tempat dilangsungkannya pertandingan final Prancis vs Kroasia Piala Dunia 2018. (Foto: REUTERS/Carl Recine)
Pussy Riot coba menyampaikan pada dunia, bahwa dibalik kemegahan dan kesuksesan Piala Dunia di Russia ada fenomena yang harus diketahui dunia: Russia sedang tidak baik-baik saja.

Sepak bola dan piala dunia telah menjadi sebuah ritual yang mampu menyita perhatian setiap pasang mata di seluruh penjuru dunia. Tidak berlebihan kiranya apa yang dikatakan Antonio Gramsci bahwa, “Football is the Open-Air Kingdom of Human Loyalty”. Dunia telah membuat sepak bola berkembang dan mengubah dirinya menjadi lebih dari sekedar olahraga para kaum buruh pelabuhan, dimana tempat ia lahir di pinggiran pantai Inggris Raya.

Keterlibatan dan partisipasi Industri belakangan ini semakin merubah image sepak bola, yang sebelumnya hanya menjadi medium aktualisasi buruh untuk melepas penat, menjadi sebuah ruang global dan panggung besar bagi interaksi mutual antar negara beserta segala ide dan gagasannya.

Tidak heran ketika para bintang yang muncul atau bersinar di industri sepak bola, khususnya di benua biru, menjadi orang yang paling dikenal di dunia. Para bintang di jagat si kulit bundar juga kerap menjadi figur bagi program kampanye bagi sejumlah institusi internasional seperti UNESCO dan UNICEF bagi program-program kemanusiaan.

Begitu juga yang terjadi tahun ini, yaitu momentum piala dunia yang diselenggarakan dalam momentum 4 tahun sekali ini kembali kita nikmati di Rusia, baik secara langsung atau pun di layar kaca masing-masing.

Benua biru kembali menjadi tuan rumah setelah dalam dua edisi terakhir tropi emas ini di perjalankan dari Afrika Selatan dan Brazil. Russia yang ditunjuk sebagai tuan rumah kali ini sudah mempersiapkan segala hal untuk menyelenggarakan turnamen ini dengan baik, walaupun kita tahu pada tahun 2018 adalah tahun politik bagi Russia dengan segala polemik yang mereka hadapi.

Momentum ini bagi seluruh negara peserta piala dunia untuk menunjukkan bahwa sepak bola menjadi medium untuk momentum diplomatis ketika permasalahan politik dan ekonomi jarang mendudukan negara dalam posisi yang ideal. Namun, penulis merasa tulisan ini tidak akan menarik jika membahas isu-isu normatif dan cenderung mengada-ada dengan simbol berjabat tangan.

Menurut penulis, hingga saat ini sepak bola melalui perhelatan Piala Dunia masih memberi ruang bagi tampilnya ideologi non-mainstream yang mencoba untuk mengatakan sesuatu ketika kesempatan itu muncul. Seperti yang pernah di singgung oleh pemikir kritis asal India, Gayatri Spivak tentang “can subaltern speak?” dalam sebuah bukunya untuk menggugat identitas masyarakat pasca-kolonial yang selalu dikontruksi oleh negara jajahanya (counterfeit identities).

Setidaknya hingga saat ini kita melihat industri sepak bola telah menunjukkan fenomena yang luar biasa. Sekaligus untuk menggugat salah satu tesis dari Edward Said tentang orientalisme, khususnya ketika melihat subalternitas dari negara Asia melalui industrinya yang mampu menjadi pemilik resmi dari klub-klub yang ada di Eropa, serta bagaimana sepak terjang mereka dalam kompetisi ketika mampu menyingkirkan negara-negara raksasa dunia.

Paling tidak realitas ini memberikan ruang bagi negara sub-altern untuk “membalas” kegelisahan dan kesengsaraan mereka selama ini (meski hanya selama 90 menit).

Seperti yang terjadi di Piala Dunia ke-21 di Russia, ketika pertandingan di babak penyisihan Grup yang mempertemukan Swiss Vs Serbia menjadi perbincangan hangat publik ketika symbol symbol Albanian Eagle muncul dalam selebrasi para pemain Swiss. Sang pemain yaitu masing-masing Granit Xhaka dan Shakiri meletakkan symbol elang di dadanya ketika mengalahkan Serbia dengan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Swiss.

Hal ini merupakan bukti bahwa sepak bola menjadi medium bagi setiap ide dan gagasan yang ingin di tuangkan, karena panggung ini telah berubah menjadi lebih dari sekedar olahraga. Imigran Albania akhirnya mampu “membalas” perbuatan Serbia kepada mereka beberapa tahun silam dalam panggung sepak bola.

Bukan hanya Serbia yang dihajar di depan umum oleh para “subaltern” ini, bahkan Russia sang tuan rumah juga terkena sialnya. Di perhelatan Final yang mempertemukan Kroasia Vs Prancis, yang akhirnya dimenangkan oleh Prancis dengan skor akhir 4-2 beberapa waktu silam, menunjukkan bahwa “subaltern” juga bisa berbicara.

Ketika pertengahan babak pertama ada seorang pitch invader yang mencoba mengganggu jalannya pertandingan. Yang menarik adalah pitch invader ini seorang personil grup band punk Pussy Riot, yang mana melalui akun Twitternya mereka menjelaskan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Bagi yang sudah familiar dengan band ini memang hal biasa bagi mereka memproklamirkan diri sebagai band anti-pemerintah atau secara spesifik menjelaskan bahwa mereka Anti-Putin. Aksi ini mereka lakukan dalam rangka mengenang seorang seniman yang meninggal 11 tahun lalu bernama Dmitriy Prigov dengan karya fenomenalnya “Image of Policeman”.

Pussy Riot coba menyampaikan pada dunia, bahwa dibalik kemegahan dan kesuksesan Piala Dunia di Russia ada fenomena yang harus diketahui dunia: Russia sedang tidak baik-baik saja. Seorang pitch Invader dengan berpakaian polisi merupakan sebuah simbol yang coba mereka sampaikan di depan publik. Betapa seringnya Russia menahan rakyatnya dipenjara tanpa alasan, tidak adanya kompetisi politik di negara mereka, dan sekali lagi Pussy Riot merupakan subaltern yang bicara melalui medium sepak bola.

Sepakola dan Piala Dunia memberikan lanskap baru dimana dialog antar peradaban serta gagasan bisa terjadi dalam berbagai kesempatan. Kita tidak tahu sampai kapan dunia ini akan memberikan ruang untuk berbicara, hingga kita sadar sepak bola dan Piala Dunia menjadi satu-satunya ruang untuk melihat interaksi dari tiap entitas yang berbeda.

Salam olahraga.

TENTANG PENULIS

Rizky Bangun Wibisono adalah alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga.

BACA JUGA

About Author

Rizky Bangun Wibisono

Rizky Bangun Wibisono adalah alumni Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga.


Related Posts

Write a response to this post