Genre Thriller dan Horror yang Mengguncang Adrenalin Serta Tentang Film Hereditary

Para sutradara film thriller tidak akan mengizinkan alur cerita masuk dalam mistisisme khayal yang tidak logis. Horror, di lain sisi, masih akan memberikan Anda sentuhan mistisisme khayali yang diluar realitas.

Genre Thriller dan Horror yang Mengguncang Adrenalin Serta Tentang Film Hereditary_Brian Royce_Berpijar
Genre Thriller dan Horror yang Mengguncang Adrenalin Serta Tentang Film Hereditary_Brian Royce_Berpijar
Cuplikan teaser 'Hereditary' (Foto: Nylon)
Para sutradara film thriller tidak akan mengizinkan alur cerita masuk dalam mistisisme khayal yang tidak logis. Horror, di lain sisi, masih akan memberikan Anda sentuhan mistisisme khayali yang diluar realitas.

Jika saya mengajukan pertanyaan kepada Anda tentang dua genre film fiksi yang mengguncang adrenalin adalah yang bergenre thriller dan horor, kemungkinan besar sebagaian dari Anda akan mudah untuk menyetujuinya.

Tapi, jika saya mengatakan kepada Anda bahwa sebenarnya dua genre film yang tadi saya sebutkan adalah murni fakta yang berasal dari masa lalu manusia, yang kemudian diproduksi ulang dalam media seni visual, maka Anda akan mulai mengira saya adalah orang yang terjebak dalam dunia fiksi.

Sebelumnya perlu untuk memberikan pengertian singkat dan pembeda untuk memperjelas antara thriller dan horror. Thriller masih menggunakan akal sehat modern anda untuk menarik hasrat purba berupa kesepian, kejahatan, ketegangan dan kejutan. Para sutradara film thriller tidak akan mengizinkan alur cerita masuk dalam mistisisme khayal yang tidak logis. Horror, di lain sisi, masih akan memberikan Anda sentuhan mistisisme khayali yang diluar realitas. Kira-kira hanya di situ bedanya.

Lantas apa yang membuat saya berani untuk  mengatakan bahwa horror dan thriller adalah fakta? Sebenarnya yang saya maksud fakta adalah sejarah munculnya guncangan adrenalin berupa kejutan, ketegangan dan ancaman yang dialami manusia, jika kita bersepakat bahwa fakta adalah realitas yang menyejarah.

Dua genre film tadi tidak akan menarik untuk dilihat apalagi dengan membayar jika leluhur kita tidak pernah terlibat konflik dengan alam liar dan segala macam cobaan seleksi alamnya. Yang saya maksudkan di sini seperti berburu rusa dan diburu harimau atau beruang, perang dengan suku tetangga, kesepian tersesat di hutan belantara, kelaparan dan kedinginan dalam gua yang gelap, serta kanibalisme yang merajalela di masa lalu, gempa dan gunung meletus serta tsunami bertubi-tubi.

Berkat semua peristiwa di masa lalu itu lah kita mewarisi hasrat untuk ber-adrenalin ria sampai sekarang, yang sebenarnya itu semua perlu untuk waspada serta melindungi diri dan meneruskan keturunan, bahkan di saat tidak ada lagi semua serba perburuan dan ketakutan itu. Kita masih merindukan rasa ‘ndredegnya’ bahkan dengan rela membayarnya dengan menonton film.

Dan di sini jugalah jawaban mengapa para penonton, yang umumnya kalangan perempuan, selalu teriak-teriak riang (istilah psikologinya disebut “masokis”) dalam bioskop bersama teman-teman atau pacarnya, walaupun takut, tapi masih saja mengikuti update film-film thriller ataupun horor terbaru.

Ya, mereka masih punya ‘hasrat beradrenalin’ yang mengendap di otaknya yang diturunkan dari leluhurnya di masa lalu.

Mengapa manusia merindukan ‘hasrat beradrenalin’ jika sudah tidak ada cobaan purba, kan itu namanya mengada-ada? Ya memang mengada-ada, namun, meski jaman modern berganti rupa secanggih apa pun, dimana toilet bisa cebok secara otomatis, tetap saja semua hajat itu keluarnya dari pantat kita, bukan diwakili oleh toilet. Toilet milenium tadi hanya sarana berak berupa pengganti sungai dan hutan, bukan pengganti pantat.

Nah, sama halnya dengan film tadi, sebagai pengganti alam purba, kita yang sudah tiada, tapi tetap hasrat ndredeg nan mencekam tadi masih turun-temurun dalam otak kita, hanya saja sarananya bukan alam liar yang menakutkan mencekam dan memojokkan, tapi film horor dan thriller walaupun ditonton dalam bioskop ataupun kasur kosan yang nyaman.

Setelah kita memiliki modal pemikiran yang sama untuk memahami ‘hasrat beradrenalin’ tadi, maka film Hereditary, film yang baru tayang bulan kemarin, bisa kita kategorikan sebagai film horor yang malu-malu (jika munafik dianggap terlalu kasar).

Mengapa saya bilang malu-malu? Karena lebih banyak hanya melayani hasrat adrenalin yang bersifat realistis badaniah seperti kepala putus, memar, darah di sana-sini yang secara keseluruhan khas film thriller, terlebih lagi memanfaatkan penemuan biologis abad dua puluh dimana schizophrenia adalah gangguan mental yang bersifat turunan untuk mengencangkan dan merangkai sabuk logika dalam alur cerita.

Pendeknya, Hereditary adalah thriller yang dibungkus horor atau horor yang tidak mau dianggap semu atau palsu. Menurut saya, untuk yang menganggap Hereditary adalah hal baru, mungkin lebih tepatnya yang baru adalah teknik kamera dan editingnya, selain itu semuanya kuno dan sama saja.

TENTANG PENULIS

Brian Royce. Mahasiswa.

BACA JUGA

Write a response to this post